Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episo 24. Kejutan sederhana di pantai dengan adanya lampu di pinggir tepi pantai

Liburan masih tersisa beberapa hari, dan sore itu Arga mengajakku pergi ke pantai — tempat yang sepi, jauh dari keramaian wisatawan, tempat di mana angin laut berhembus lembut membelai wajah, dan suara deburan ombak terdengar begitu menenangkan, seakan irama alam yang menyambut kedatangan kami. Matahari mulai turun perlahan, mewarnai langit dengan perpaduan jingga, ungu, dan merah muda yang begitu indah, seolah langit pun sedang merayakan kebersamaan kami.

"Kita berjalan ke tepi sana ya," ajak Arga lembut, tangannya menggenggam tanganku erat namun tetap lembut. Ia menuntunku berjalan di atas pasir putih yang halus, langkah kami beriringan meninggalkan jejak yang perlahan terhapus oleh air ombak yang menyapu pantai. Suasana begitu sunyi, hanya ada kami berdua, angin, dan suara laut.

Saat kami sampai di sebuah tempat yang agak tersembunyi di balik deretan pohon kelapa, langkahku tiba-tiba terhenti. Mataku membelalak tak percaya, jantungku berdebar kencang melihat apa yang ada di hadapanku. Di sepanjang tepi pantai, di atas pasir yang lembut, berjajar lampu-lampu kecil berwarna keemasan yang tertanam di pinggir air — berkelap-kelip lembut, memantulkan cahayanya ke permukaan air yang tenang. Cahayanya tak terang menyilaukan, justru lembut dan hangat, menciptakan garis cahaya yang memanjang mengikuti lekuk pantai, seakan jalan bercahaya yang menuju ke tempat yang penuh keajaiban.

Di tengah-tengah deretan lampu itu, terdapat tikar anyaman yang tertata rapi, di atasnya ada dua cangkir teh hangat dan camilan sederhana. Sederhana sekali, namun begitu indah dan begitu bermakna.

"Kak..." suaraku tercekat, mataku tak lepas dari pemandangan di depanku. "Ini... kau yang menyiapkannya?"

Arga tersenyum lembut, menatapku dengan tatapan yang penuh kasih sayang. "Aku datang lebih awal sore tadi. Aku ingin memberikan sesuatu yang sederhana, namun yang bisa kau ingat selamanya. Cahaya lampu ini... seperti harapan. Meskipun kecil, ia tetap bersinar, meski di tengah kegelapan malam. Dan seperti lampu-lampu ini, cintaku padamu pun begitu — sederhana, namun selalu menyala, tak pernah padam apa pun yang terjadi."

Ia menuntunku duduk di sana, di antara cahaya lembut dan suara ombak. Langit kini mulai gelap, dan lampu-lampu kecil itu justru semakin bersinar, menciptakan suasana yang begitu magis dan damai. Cahayanya memantul di wajahnya, membuatnya terlihat begitu lembut dan begitu dekat. Angin laut berhembus pelan, menerbangkan helai rambutku ke wajah, dan Arga dengan lembut menyisihkannya ke belakang telingaku.

"Lihatlah ke depan, Lisna..." bisiknya pelan sambil menunjuk ke arah laut yang gelap namun berkilau pantulan cahaya lampu di pinggir pantai. "Setiap ombak yang datang itu seperti tantangan yang akan kita hadapi. Namun lihatlah... cahaya di pinggir ini tak pernah padam meski disapu air. Begitu juga kita. Akan ada banyak hal yang datang dan pergi, tapi ikatan kita harus tetap bersinar seperti lampu-lampu ini — tetap ada, tetap hangat, dan tetap menjadi penunjuk jalan satu sama lain."

Aku menatapnya lekat-lekat, air mata bahagia menggenang di pelupuk mataku. "Kak... ini kejutan terindah yang pernah ada. Sederhana, tapi begitu berkesan. Aku takkan pernah bisa melupakannya seumur hidupku."

"Karena hal yang paling berkesan bukanlah hal yang paling mewah," jawabnya lembut sambil menggenggam tanganku di atas pasir hangat. "Melainkan hal yang dibuat dengan hati. Dan semua ini... kubuat khusus untukmu, Lisna. Hanya untukmu."

Kami duduk berdampingan berjam-jam, menatap cahaya lampu yang berkelap-kelip di tepi pantai, mendengarkan suara ombak yang berirama. Tak perlu banyak kata, karena kehadirannya di sampingku sudah cukup mengatakan segalanya. Cahaya lampu itu bukan sekadar hiasan — ia adalah simbol dari cinta kami. Sederhana, tak pamer, namun menyala dengan tulus, memberikan kehangatan di tempat yang sepi, dan menjadi saksi bisu bahwa di sini, di pantai ini, dua hati berjanji untuk selalu bersinar satu sama lain.

Saat kami beranjak pulang, aku menoleh sekali lagi ke belakang. Lampu-lampu itu masih menyala indah di tepi pantai, tampak semakin cantik di bawah sinar rembulan yang baru muncul. Dan sejak saat itu, setiap kali aku melihat cahaya kecil yang berkelap-kelip di kegelapan, aku pasti akan teringat pantai itu, malam itu, dan pria yang memberiku kejutan sederhana namun paling berkesan dalam hidupku — Arga, yang mencintaiku dengan cara yang paling tulus dan paling indah.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!