Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolong dia...
Aku terbangun, cairan infus, dan selang oksigen menempel di hidungku.
“Aku dimana” kataku.
Kulihat di sisiku ada Dokter Yuki yang tertidur.
Kupandangi jam dinding pukul 5 pagi.
Dokter Yuki akhirnya terbangun,
“Sudah bangun…” katanya.
“Baru saja,” jawabku
“Kenapa aku disini” aku berbaring di ranjang pasien.
“Kamu lupa?” kata dokter Yuki.
Aku ingat sebagian, tapi bagian akhir tidak.
“Kecelakaan mobil, mobilmu di tabrak truk container” kata dokter Yuki.
Aku duduk, melihat sekujur tubuhku baik-baik saja, satupun tidak ada kurang.
Aku gemetar.
Dokter Yuki memelukku dan kubiarkan, “Sudah tidak apa-apa, yang penting kamu selamat. Nanti kita lanjutkan pemeriksaan lagi” katanya sambil mengusap kepalaku.
“Jangan kabari keluargaku, mereka pasti cemas” pintaku.
“Tidak, tidak ada yang mengabari” kata dokter Yuki.
“Bagaimana aku bisa sampai rumah sakit” kataku
“Ambulance yang membawamu ke sini” katanya.
“Oh, terima kasih sudah menolongku” kataku.
“Tidak masalah…jangan di pikirkan dulu, istirahatlah” katanya.
Perawat masuk ke ruangan, memeriksa infus memberiku vitamin.
“Aku keluar sebentar” kata dokter Yuki.
Aku mengangguk.
“dokter Mayanza apa anda merasa baik-baik saja? Semalam aku melihat mobil dokter hancur parah. Kami tidak menyangka dokter bisa selamat tanpa luka apapun” kata perawat.
“aku baik-baik saja, bagaimana dengan barang-barangku yang di mobil” kataku.
“dokter Yuki sepertinya sudah mengurusnya dengan polisi” kata Perawat.
“Siapa yang bertanggung jawab perawatanku sekarang” tanyaku.
“dokter Yuki juga” jawabnya.
Dokter Yuki datang membawa segelas kopi dengan gelas kertas, barang-barang belanjaan dari mall dan tasku.
“Aku semalam terpaksa menyimpan barang ini di lokerku” katanya menyerahkan barangku.
“Oh, iya terimakasih” aku mengambilnya.
“Bisa bantu aku ke kamar mandi” kataku dengan perawat.
“Boleh, mari saya bantu” kata perawat.
Aku mencuci muka, luka di jariku belum sembuh, memeriksa seluruh tubuhku tidak luka sedikitpun.
Hanya kepalaku sakit akibat terbentur, tidak berbekas luka atau lebam.
Aku mengingat lagi setelah hantaman kuat dari samping adalah bayangan hitam membuat mobilku terpental, aku keluar mobil merangkak, dan yang kulihat Raja Yuko menebaskan pedangnya.
**
“Tenang aku sudah baik-baik saja” kataku video call.
Aku baru saja mematikan telepon dari Ayah dan Ibu, mereka mendengar beritaku dari televisi.
Kecelakaanku viral di jalan raya, mobilku hancur, seharusnya aku sudah tidak bernyawa.
Infus dan oksigen sudah terlepas, aku mengurus administrasi rawat inapku.
Semua orang di Rumah Sakit memandangku heran.
Selamat dari musibah mematikan.
“Ini kamarnya dok..” kata bagian Administrasi menyerahkan kunci kamar Asrama.
Aku diberi istirahat satu minggu, tunggu kondisiku stabil.
Padahal aku sangat stabil baru boleh berkerja.
Aku takut mencemaskan orang banyak, barang-barangku sudah di kirim dari rumah dan dari rumah kakek.
Aku masukan koper ke dalam kamar yang lumayan luas untukku sendiri, tersedia kamar mandi sendiri, satu sofa, tv, meja kerja sekaligus meja makan, dapur kecil lengkap dengan kompor.
Pintuku yang masih terbuka diketuk.
“dok…” kataku, dokter Yuki datang membawa sekantong buah jeruk di plastik transparan.
Pasti dia juga yang membantuku mendapatkan kamar asrama.
“bagaimana, apa yang perlu dibantu” tanyanya sambil melihat koperku.
“tidak ada, semua sudah beres” kataku tersenyum.
“baik, kalau begitu istirahat saja, hubungi aku kalau perlu bantuan. Kamarku 2 kamar dari sini,” aku dan dokter Yuki menengok ke pintu.
Aku melihat pintu kamar ketiga yang terbuka lebar.
“Baiklah..” aku tersenyum, “terima kasih” kataku.
“Jangan sungkan” jawabnya.
Lalu dokter Yuki meninggalkan aku sendirian di kamar.
Pintu kututup sebentar lagi malam.
**
“Dok, aku dijemput saudara, beberapa hari mungkin tidak balik ke Asrama" SMS ku ke dokter Yuki.
Handphone kumatikan.
Aku berangkat ke Dunia Zink.
Ku rapalkan mantra, hologram membentuk lingkaran membuka gerbang menuju tempat lain.
Istana malam ini sangat tenang, awan bertabur bintang, aku berjalan di lorong istana.
Langkahku terhenti melihat pengawal yang datang ke arahku.
“Raja Yuko dimana” aku bertanya.
“Raja Yuko pergi mencari Tabib Swanzi” kata Pengawal.
“Pergi kemana?” tanyaku, tapi Pengawal menggeleng kepala.
Aku menemui Putri Rena.
Putri Rena baru selesai makan malam.
“Maaf menggangu makan malam Putri” kataku
“Kapan kau datang Mayanza? Raja Yuko menunggu kedatanganmu beberapa hari ini” kata Putri Rena.
“Aku sibuk di duniaku” kataku.
Padahal aku terakhir mengacuhkan Raja Yuko yang datang memeriksakan diri.
“Kemana Raja Yuko” kataku.
“Dia berangkat ke Danau Orang Mati” kata Putri Rena.
“Apakah ada peperangan di sana lagi?” tanyaku.
“Aku tidak tau, yang jelas dia pasti mendapat mimpi” kata Putri Rena.
“Baiklah…aku akan menyusul kesana” kataku.
“Bolehkah aku mengambil gelang yang kutitipkan padamu?” tanyaku pada Putri Rena.
Putri Rena tersenyum mengambil gelang itu dan menyerahkannya ke tanganku.
“Kau membawa kuda?” tanyanya.
Aku menggeleng kepala.
“Pinjam saja kudaku” katanya lagi.
Aku hanya mengangguk, berjalan sendiri ke samping istana membuka gerbang emas menuju ke Danau Orang Mati.
Raja Yuko tidak ada di sini, dia dimana, tanyaku dalam hati, aku berjalan pelan namun waspada.
Gerakan kakiku seperti di ikuti dari belakang, aku berbalik tidak ada orang.
Pemandangan sekeliling danau terang karena cahaya kunang-kunang.
Tidak ada seorangpun disini, jejak Raja Yuko pun tidak ada.
Tapi aku rasa aku sedang di ikuti dari belakang, aku berbalik badan.
Raja Yuko menatapku menodongkan pisau kecilnya ke leherku.
“Jangan bergerak” katanya berbisik, aku ikut tidak bergerak, dia memotong sesuatu dari samping leherku, serbuk keluar tangan sebelahnya menutup hidungku.
Aku melihat bunga beracun itu jatuh terkulai di tanah, kami berlari ternyata tidak ada jalan lari, dikepung akar gantung yang menjulang membentuk anyaman semakin bergerak rapat, Raja Yuko mengeluarkan pedangnya menebas akar itu tapi tumbuh lagi berulang dan bunga beracun semakin banyak mengeluarkan serbuknya.
Aku menepuk tangan ke tanah, tanah bergetar dan runtuh.
Aku membuka gerbang memegang tangan Raja Yuko kembali ke Istana.
“Kenapa membawaku kesini! " Raja Yuko marah.
“Tempat itu runtuh, mana mungkin kita bertahan disana” ucapku
Raja Yuko pergi meninggalkanku dengan kereta di ikuti Pengawal.
“Kenapa hanya berdiri disini saja” katanya Raja Yuko di atas kudanya.
Pengawal menarik satu kuda, kami semua berkuda cepat di bawah langit berbintang.
**
Sudah pagi, dari atas tebing kami memandang Goa Zin Runtuh.
Kuburan leluhur hancur.
Hancur dalam semalam.
Semua yang ikut terkejut, aku hanya diam.
Tidak berani mengaku.
Kami turun, ke hutan yang gelap.
Sinar matahari tertutup daun pohon hutan sangat rimbun.
Pengawal menyalakan obor, Kuda Raja Yuko yang tertinggal tadi malam masih terikat di tempatnya.
Aku turun dari kuda.
Melihat kehancuran yang kulakukan semalam.
Melangkah ke depan, Goa hancur menjadi tanah.
Kami melangkah mendekat, jarak Danau Orang mati menjadi lebih dekat.
Hanya tempat yang runtuh menjadi lebih terang karena cahaya.
Raja Yuko tiba-tiba melompat berlari cepat kedepan di ikuti pengawal.
Swanzi terbaring di tanah dekat Danau Orang Mati.
Aku mendekat,
Swanzi masih bernafas, mengenggam Teratai Emas.
“Tolong dia…” Kata Raja Yuko padaku.
**
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...