Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.
Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.
Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.
Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Kehancuran Liona (prt. 2)
Dari ruang persiapan, langkah Liona perlahan membawa dirinya menuju ballroom tempat seluruh tamu telah menunggu.
Gaun putih yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti setiap langkah. Delapan bridesmaid yang sebelumnya ia minta kepada Sagara berjalan beberapa langkah di belakangnya, mengenakan gaun yang telah dipilih khusus untuk mendampingi sang pengantin.
Semakin mendekati ballroom, suara percakapan dan riuh para tamu terdengar semakin jelas.
Liona menarik napas dalam-dalam.
Tangannya merapikan sedikit bagian gaun sebelum berhenti tepat di depan pintu besar ballroom.
Pintu itu perlahan terbuka.
Cahaya dari dalam ruangan langsung menyambutnya.
Liona mengangkat dagu, lalu melangkah masuk bersama delapan bridesmaid di belakangnya.
Dalam sekejap, puluhan kamera mengarah kepadanya.
Jepretan kamera terdengar bertubi-tubi.
Cahaya lampu kilat menyilaukan pandangannya, tetapi Liona tetap mempertahankan senyum di wajahnya.
‘Akhirnya... aku menjadi Nyonya Sagara.’
Langkahnya terus bergerak maju.
Namun, setelah beberapa meter, senyumnya perlahan memudar.
Di ujung ruangan, tidak ada sosok Sagara.
Yang terlihat hanya seorang penghulu yang duduk di balik meja, ditemani beberapa perlengkapan untuk prosesi akad.
Liona mengerutkan kening.
‘Di mana Mas Sagara?’
Ia tetap berjalan, meskipun langkahnya mulai melambat. Pandangan Liona menyapu seluruh ruangan.
Tidak ada.
Sagara tidak terlihat di mana pun.
Jemarinya mulai menggenggam buket bunga lebih erat.
Baru saja Liona hendak kembali melangkah, tiba-tiba seluruh lampu di ballroom padam.
Gelap.
Liona tersentak. Langkahnya seketika berhenti.
Beberapa bridesmaid di belakangnya terdengar bergerak gelisah.
Suasana yang semula dipenuhi suara kamera dan percakapan mendadak berubah menjadi riuh oleh bisik-bisik para tamu.
“Ada apa?”
“Kenapa lampunya mati?”
“Ini bagian dari acara?”
Liona menelan ludah. Matanya berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan.
Tangannya mencengkeram buket semakin erat.
“Kenapa bisa padam?” tanyanya dengan suara yang mulai terdengar gugup.
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara bisikan dan langkah kaki yang terdengar samar dari berbagai penjuru ruangan.
Liona hanya menatap tanpa memahami apa yang sedang ditampilkan.
Kemudian terdengar suara seseorang dari antara para tamu.
“Eh, lihat! Apa itu?”
“Ya ampun...”
“Menjijikkan.”
Bisikan mulai terdengar dari berbagai penjuru ruangan.
Kening Liona berkerut. Ia perlahan membalikkan tubuh menghadap layar.
Begitu melihat video yang terpampang jelas di sana, tubuhnya seketika menegang.
Matanya membulat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya seakan dipenuhi suara debarannya sendiri.
“Enggak...” bisiknya. Liona menggeleng kecil.
“Siapa yang melakukan ini?!”
Suara bisik-bisik semakin ramai.
“S-siapa yang berani melakukan ini?!” teriak Liona. “Cepat matikan!”
Namun, bukannya layar itu padam, video di layar proyektor terus berjalan.
Liona mundur satu langkah.
“Jangan… jangan di rekam.”
Tiba-tiba—
Byurrr!
Kumpulan kertas berhamburan dari atas. Lembaran-lembaran itu melayang di udara sebelum jatuh memenuhi lantai ballroom.
Beberapa tamu segera membungkuk mengambilnya.
Liona membeku. Matanya mengikuti salah satu lembaran yang jatuh tepat di dekat kakinya.
Tangannya gemetar ketika ia membungkuk dan mengambilnya.
Awalnya ia hanya melihat bagian belakang kertas tersebut. Namun, ketika membaliknya, napasnya seakan tertahan.
Sebuah foto tercetak jelas di sana.
Foto dirinya bersama seorang manajer perusahaan yang pernah berjanji akan membantunya menjadi model internasional.
Liona menatap foto itu tanpa berkedip. Wajahnya semakin pucat. Tangannya mulai gemetar.
‘Bagaimana foto ini bisa ada di sini?’
Ia segera mengangkat wajah. Tatapannya kembali menyapu para tamu.
Satu per satu orang mulai membicarakannya.
Beberapa bahkan mengangkat ponsel untuk memotret lembaran-lembaran yang berserakan di lantai.
Kamera yang sebelumnya ditujukan untuk mengabadikan pernikahannya kini justru mengarah kepadanya.
Kilatan lampu kembali berulang kali menyambar.
“Jangan!” Liona meremas foto di tangannya.
“Jangan lihat!” teriaknya. “Itu semua editan!”
Namun, suara tawa kecil dan bisikan justru semakin terdengar.
“Editan?”
“Kalau editan, kenapa jumlahnya sebanyak itu?”
“Jangan-jangan memang benar...”
Liona menggeleng cepat. “Semuanya palsu!”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah pintu masuk.
“Kata siapa editan, hm?”
Suara itu begitu dikenalnya. Tubuh Liona seketika membeku. Perlahan, ia menoleh.
Di ambang pintu ballroom, berdiri seorang pria.
Sagara.
Tidak mengenakan pakaian pengantin. Pria itu hanya memakai jaket kulit berwarna gelap. Wajahnya tampak tenang, tetapi tatapannya membuat Liona sulit bernapas.
“Mas Sagara...” lirihnya.
Untuk sesaat, Liona hanya berdiri terpaku.
Kemudian ia segera berjalan menghampiri pria itu.
Gaunnya nyaris tersandung karena langkahnya terlalu tergesa.
Begitu sampai di hadapan Sagara, Liona langsung meraih tangannya.
“Mas...” suaranya bergetar. “Foto dan rekaman itu editan. Mas tahu, kan?”
Sagara hanya menatapnya.
Liona menggenggam tangan pria itu semakin erat.
“Tolong, Mas. Katakan kepada mereka kalau semuanya palsu.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Minta mereka membubarkan diri. Jangan biarkan mereka melihat foto-foto itu.”
Sagara masih diam.
Liona menelan ludah. “Mas... aku mohon.”
Di tengah riuhnya suara para tamu serta permohonan dari Liona, Sagara tetap berdiri di tempatnya.
Tatapan pria itu tidak bergeser dari Liona yang masih mencengkeram lengannya. Wajah wanita itu dipenuhi kepanikan, sementara jemarinya terus bergetar.
Sagara menundukkan pandangan pada tangan tersebut.
Kemudian, perlahan, tatapannya terangkat kembali.
Ada sesuatu yang sudah lama ia tahan di dalam dirinya. Dan hari ini, ia tidak lagi berniat menyembunyikannya.
Tatapannya menajam.
“Seandainya saja kamu tidak melepaskan Ainun,” ucap Sagara dengan suara rendah, “aku tidak akan berbuat senekat ini kepadamu, Liona.”
“A-apa maksudnya?”
Sagara tersenyum miring.n“Bukankah seharusnya kamu sudah tahu risiko atas perbuatanmu?”
Liona menggeleng.
Sagara menarik lengannya dari genggaman wanita itu.
“Orang yang aku suka sebenarnya bukan kamu. Kamu hanya boneka.”
Liona membeku.
“Dan orang yang selalu aku inginkan...” Sagara berhenti sejenak, tatapannya semakin dingin. “Juga bukan kamu, tetapi Ainun.”
Perlahan, jemari Liona yang tadi mencengkeram lengannya terlepas.
“Nggak mungkin...” bisiknya.
Sagara hanya menatapnya tanpa sedikit pun rasa iba.
“Kenapa kamu pikir aku mengiyakan semua permintaan gila mu?” tanyanya.
Liona menggeleng cepat. “Mas... Katakan, ini semua prank, kan…”
“Tidak Liona, ini semua bagian dari rencanaku.”
Sagara melirik layar besar yang masih menampilkan foto-foto Liona.
“Memperlihatkan dirimu yang sebenarnya kepada semua orang. Bahwa bertapa menjijikan dirimu.”
Wajah Liona semakin pucat.
“Kamu...” Suaranya bergetar. “Kamu sengaja melakukan semua ini?”
“Ya.”
Satu jawaban singkat itu membuat tubuh Liona seakan kehilangan tenaga.
“SAGARA!”
Suara menggelegar dari belakang membuat Sagara menoleh.
Bastian, Ayahnya berdiri tidak jauh dari altar. Wajah pria itu mengeras ketika melihat kekacauan yang terjadi di seluruh ballroom.
Sagara hanya menatap ayahnya sekilas.
Tanpa berniat menjelaskan apa pun, ia berbalik dan meninggalkan altar.
“Pak Sagara!”
Sagara menoleh kepada Liam yang segera menghampirinya.
“Cari tahu keberadaan Ainun,” perintahnya tegas.
“B-baik, Pak.”
Sagara kembali melangkah. Namun, suara Ayahnya terdengar lagi dari belakang.
“Sagara, berhenti!”
Namun, Sagara tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan meninggalkan ballroom tanpa berniat menoleh, seolah keributan yang baru saja terjadi bukan lagi urusannya.
Beberapa langkah kemudian, Sagara akhirnya melirik sekilas ke arah Liam yang berjalan mengikutinya.
“Saat tiba di mobil, ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu, Liam,” ucapnya tanpa menghentikan langkah.
“Baik, Pak Sagara.”
Mereka terus berjalan melewati lorong menuju pintu keluar gedung. Suara tangisan, teriakan, dan bisikan para tamu perlahan terdengar semakin samar di belakang mereka.
Sagara tidak peduli. Ia mengembuskan napas panjang. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulitnya, lalu melangkah menuju area parkir.
Bahkan hari pernikahan yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru bagi LiOna telah berubah menjadi sebuah kehancuran.
Dan Sagara tidak peduli. Dan setelah semua ini selesai, ia harus menemukan wanita itu.
Apa pun caranya.