Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Tanpa Pemberitahuan

Mobil Emma berhenti di depan Alexander Corporation menjelang sore.

Sebelum turun, Emma memastikan dua kotak kecil di dalam tasnya masih aman.

Satu kotak berisi jam tangan mewah yang dibeli Lord Ashcroft dari luar negeri beberapa hari lalu.

Hadiah untuk Ralph.

Sementara satu kotak lainnya berisi sesuatu yang jauh lebih cantik.

Sebuah liontin mutiara.

Hadiah untuk dirinya.

Atau setidaknya...

Begitulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Namun sebenarnya ia sudah tahu untuk siapa benda itu akan diberikan.

Untuk Ella.

Suatu hari nanti, setelah pertukaran ini berakhir dan mereka kembali menjalani kehidupan masing-masing, Emma akan menyerahkan liontin itu kepada saudari kembarnya.

Ella yang berhak memilikinya.

Bukan dirinya.

Emma memasukkan kembali kotak kecil itu ke dalam tas.

"Jangan sampai hilang."

Ia turun dari mobil.

Seperti kunjungannya sebelumnya, Emma tidak memberi tahu siapa pun bahwa ia akan datang.

Ia berjalan melewati lobi dengan langkah percaya diri.

Para pegawai yang mengenalinya segera memberi salam.

"Selamat sore, Lady Alexander."

Emma hanya mengangguk.

Ia langsung menuju lift.

Pintu lift terbuka di lantai eksekutif.

Emma keluar sambil membawa tas kecilnya.

Ia sudah tahu letak ruang CEO.

Namun baru beberapa langkah menuju ruangan Ralph...

Emma berhenti.

Pintu ruang CEO terbuka sedikit.

Dari celah pintu, ia melihat Christina berdiri di hadapan Ralph.

Sekretaris itu sedang memegang saputangan putih.

Tangannya sibuk membersihkan noda kopi di jas Ralph.

Ralph berdiri diam.

"Nodanya cukup jelas," ujar Christina pelan.

"Aku bisa membersihkannya sendiri."

"Jangan, Tuan Ralph."

Christina mendekat sedikit.

"Aku akan mengurusnya."

Emma menyipitkan mata.

Pemandangan itu langsung mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka.

Cara Christina memandang Ralph.

Cara wanita itu berbicara.

Serta sikapnya yang terlihat terlalu perhatian kepada atasannya.

Emma memang tidak mengenal Christina cukup lama.

Namun ia bukan wanita bodoh.

Ia bisa membaca tatapan seseorang.

Dan sejak kemarin, Emma sudah menangkap sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Christina menyukai Ralph.

Setidaknya...

Itulah kesimpulan Emma.

Padahal pria itu adalah suami Ella.

Suami saudari kembarnya.

Entah kenapa, kemarahan kecil langsung muncul di dadanya.

Emma mengetuk pintu.

Tok.

Ralph dan Christina sama-sama menoleh.

Keduanya terlihat terkejut.

"Emma?"

Ralph bahkan tampak kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

Bukan karena ia merasa bersalah.

Tidak ada yang ia lakukan.

Ia hanya benar-benar tidak menyangka istrinya akan muncul lagi di kantornya tanpa pemberitahuan.

Christina buru-buru menurunkan tangannya.

"Lady Alexander..."

Emma tidak menjawab.

Ia membuka pintu dan masuk.

Kemudian berjalan melewati keduanya dengan tenang.

Tanpa bertanya apa pun.

Tanpa menunjukkan kemarahan secara terang-terangan.

Ia meletakkan tasnya di atas sofa.

Lalu duduk.

Menyilangkan kaki.

Dan menatap keduanya.

Hening.

Christina menjadi semakin gugup.

Ralph pun berdiri dengan ekspresi sedikit kaku.

Emma menatap jas suaminya.

Kemudian menatap saputangan di tangan Christina.

Lalu kembali menatap wajah Ralph.

"Pemandangan yang sangat menarik.Apa hal ini sering terjadi?"

Hanya satu kata.

Christina langsung merasa perlu menjelaskan.

"Lady Alexander, tadi kopi tidak sengaja.."

"Aku tidak bertanya padamu nona Christina."

Nada Emma datar.

Christina terdiam.

Emma menyandarkan tubuhnya ke sofa.

Tatapannya masih tertuju kepada sekretaris Ralph.

"Kalau sudah selesai, kau bisa keluar."

Christina membeku.

Ia menoleh kepada Ralph.

Ralph justru memandang Emma.

Tidak marah.

Tidak pula membela Christina.

Ia hanya tampak bingung dengan kedatangan istrinya yang tiba-tiba.

"Christina."

Suara Ralph akhirnya terdengar.

"Kai bisa keluar sekarang."

"Baik, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf atas kecerobohan saya tadi Tuan."

Christina menundukkan kepala.

Sebelum pergi, ia sempat melirik Emma.

Tatapan mereka bertemu.

Emma tidak berkedip.

Christina akhirnya keluar dan menutup pintu.

Klik.

Kini hanya Ralph dan Emma yang tersisa.

Ralph menatap istrinya.

"Kau datang tanpa memberi tahu ku lagi."

Emma mengangkat bahu.

"Memangnya harus?"

"Biasanya kau tidak datang ke sini."

Emma tersenyum tipis.

"Sepertinya kau lupa."

Ia menunjuk dirinya sendiri.

"Aku sekarang memang sering datang."

Ralph tidak bisa membantah.

Emma lalu mengeluarkan kotak kecil dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.

"Lord Ashcroft menitipkan ini."

Ralph melihat kotak tersebut.

"Untukku?"

"Iya."

Ralph mengambilnya.

Namun sebelum membukanya, tatapannya kembali tertuju pada Emma.

"Kau sudah selesai makan siang?"

Emma mengangguk.

"Baru saja selesai."

Ralph memperhatikan wajah istrinya.

Ada sesuatu yang berbeda.

Emma tampak lebih diam daripada biasanya.

Lebih tegang.

Seolah baru saja menghadapi sesuatu yang menguras emosinya.

Namun sebelum Ralph sempat bertanya...

Emma lebih dulu berkata,

"Dan sebelum kau bertanya..."

Tatapannya berubah tajam.

"...aku baik-baik saja."

Ralph terdiam.

Kemudian pandangannya tanpa sadar jatuh ke arah pintu tempat Christina baru saja keluar.

Lalu kembali kepada Emma.

"Kau marah karena Christina?"

Emma mengangkat alis.

"Aku?"

"Iya."

"Aku tidak marah."

Ralph menatapnya beberapa detik.

Emma membalas tatapannya.

"Jangan salah paham."

"Aku hanya tidak suka melihat seseorang terlalu dekat dengan suamiku."

Ralph terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Namun entah mengapa...

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ruangan CEO kembali sunyi.

Ralph masih berdiri di depan meja, sementara Emma duduk di sofa dengan wajah yang berusaha tetap tenang.

Beberapa detik mereka hanya saling memandang.

Kemudian Ralph tersenyum tipis.

"Jadi..."

Emma mengerutkan kening.

"Apa?"

Ralph melangkah mendekat.

"Apa kau sudah mulai menyukaiku, Ella?"

Emma langsung membeku.

"Apa?"

Ralph berhenti tepat di hadapannya.

"Kau bilang kau tidak suka melihat wanita lain terlalu dekat denganku."

"Itu bukan berarti aku menyukaimu."

"Benarkah?"

"Sangat jelas Tuan Ralph yang terhormat. Sebaiknya kau menjaga harga diri istrimu sendiri."

Ralph menundukkan tubuh sedikit agar wajah mereka sejajar.

"Kalau begitu..."

"...kenapa kau terlihat sangat emosional?"

Emma langsung merasa wajahnya panas.

"Aku tidak cemburu."

Ralph tersenyum.

"Terlihat seperti itu."

"Aku hanya.."

Emma terdiam.

Ia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya.

"Karena kau adalah suami saudari kembarku."

Kalimat itu tentu tidak boleh keluar.

Ralph semakin menikmati kebisuannya.

"Jadi kau sama sekali belum menyukaiku?"

"Tidak."

"Sedikit pun?"

"Tidak."

"Sama sekali?"

Emma menatapnya tajam.

"Tidak!"

Ralph terkekeh pelan.

Entah mengapa melihat istrinya yang biasanya begitu keras kepala berubah gugup hanya karena beberapa kalimat darinya terasa menyenangkan.

Ia mendekat sedikit lagi.

"Sayang sekali."

Emma semakin memerah.

"Kenapa?"

"Padahal aku mulai menyukai versi dirimu yang sekarang. Karna aku merasa lebih tertantang."

Jantung Emma berdegup keras.

Ia segera berdiri dari sofa agar jarak mereka kembali jauh.

"Jangan menggodaku dengan ucapan murahan seperti itu."

Ralph tersenyum.

"Kenapa?"

"Karena terdengar menyebalkan."

"Menurutku tidak."

Emma mengambil tasnya.

Ia berusaha mengalihkan pandangan.

Wajahnya masih panas.

Dalam hati ia terus meyakinkan dirinya sendiri.

"Aku tidak menyukainya."

"Sama sekali tidak."

Ia hanya kesal.

Itu saja.

Kesal karena ada wanita lain yang berani mendekati suami saudari kembarnya.

Kesal karena Christina bersikap terlalu perhatian kepada Ralph.

Tidak lebih.

Setidaknya...

Itulah yang Emma yakini.

Sementara Ralph hanya memperhatikan wajah istrinya yang memerah.

Untuk pertama kalinya dalam hampir lima tahun pernikahan mereka...

Ia sudah mulai menikmati melihat Ella kehilangan kendali.

Dan semakin Emma berusaha menyangkal...

Semakin Ralph ingin menggodanya.

1
RAYA
🤭🤭🤭
putmelyana
awwww gak suka bgt baca chapter yg ini😍
RAYA
makasi🤗🤗
putmelyana
semangat thor
RAYA
butuh kipas kayaknya🤭🤭
putmelyana
kiw kiw ada yg panas niyeeee🤣
RAYA
terima kasih kak🤗🤗 tungguin next nya ya
putmelyana
next Thor ceritanya bagus bgt 😍
putmelyana
next Thor ceritanya
RAYA: ditunggu ya🤗🤗
total 1 replies
putmelyana
next Thor ceritanya makin seruuuuu
putmelyana
dihhh gak tau mau
putmelyana
woilah cerita paling aku sukai update trus thor😍
RAYA: makasi kk🤗🤗
total 1 replies
RAYA
🤭🤭🤭
Sriza Juniarti
jadi deg deg an....
Sriza Juniarti
lanjut kk..seruuu
RAYA: ditunggu ya kak 🤗🤗
total 1 replies
RAYA
ditunggu ya kak makasi udah setia membaca cerita nya😍😍
putmelyana
update setiap hari Thor
RAYA
pasti kk terima kasih sudah terus ngikutin🙏🙏
putmelyana
up setiap hari Thor
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!