Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Serangan di Balik Layar
Gagang pintu marmer itu terasa begitu dingin di bawah telapak tangan Helena, namun darah di dalam tubuhnya justru bergelora panas oleh sensasi kemenangan mutlak. Senyuman kejam merekah lebar di bibirnya.
Dalam hitungan detik, seluruh reputasi Clarissa yang baru saja terbangun akan hancur berkeping-keping di depan mata Kakek Silas dan seluruh keluarga besar Pratama.
"Clarissa! Berani sekali kau mempermalukan keluarga Pratama di tempat seperti ini...!"
Helena mendobrak pintu kayu jati nomor 808 itu hingga terhempas lebar ke dinding. Ia sengaja berteriak lantang agar suara histerisnya memancing kemarahan seisi ruangan.
Namun, belum sempat rombongan keluarga besar melangkah masuk, kilatan lampu kilat blitz yang menyilaukan tiba-tiba memenuhi lorong dan menyambar masuk ke dalam kamar. Puluhan kamera profesional mendadak membidik tanpa henti dari arah lif privat.
"Foto itu! Ambil dari sudut kiri!"
"Cepat lipat beritanya! Ini skandal besar keluarga Pratama malam ini!"
Sekelompok wartawan dan awak media yang bersenjata kamera profesional menerobos barisan pengawal hotel. Puluhan kilatan cahaya tanpa ampun menelanjangi pemandangan di atas ranjang king-size tersebut.
Kata-kata cacian yang sudah Helena siapkan di ujung lidahnya mendadak membeku. Tenggorokannya serasa tercekat, dan napasnya tertahan di dada.
Bukan Clarissa yang terbaring pasrah di atas ranjang itu.
Di bawah gulungan selimut sutra yang berantakan, sosok wanita yang sedang bergumul linglung dengan seorang pria asing bertato adalah Bibi Sarah.
Wajah wanita paruh baya itu memerah padam akibat pengaruh obat perangsang dosis tinggi, pakaian mewahnya terkoyak, dan matanya sayu kehilangan akal sehat.
"S-Sarah?!" jerit Paman Harun, suami Bibi Sarah histeris, melangkah maju dengan wajah syok luar biasa di tengah gempuran kilatan kamera awak media.
Kekacauan pecah seketika. Para paman dan bibi berteriak histeris mencoba menutupi wajah mereka dari kamera, sementara Kakek Silas berdiri membeku dengan wajah yang mendadak sangat gelap bagai awan badai.
Dominic mengepalkan tangannya, matanya menyipit tajam menatap skandal mengerikan yang kini berada di ujung tanduk publik.
Helena melangkah mundur satu titik, tubuhnya gemetar hebat.
Seluruh warna darah mendadak surut dari wajahnya, meninggalkannya pucat pasi bagai mayat. Matanya melotot liar, menatap bergantian antara Bibi Sarah, kilatan kamera wartawan, dan pria sewaan yang kini panik.
"T-Tidak... Ini tidak mungkin..." bisik Helena, suaranya bergetar hebat dalam kepanikan yang teramat sangat.
"Harusnya... harusnya Clarissa! Mengapa ada wartawan di sini?!"
"Ada apa ini? Mengapa ramai sekali di depan kamar?"
Sebuah suara lembut, lugu, dan penuh nada kebingungan bergaung dari arah belakang rombongan keluarga. Seluruh anggota keluarga Pratama, membalikkan badan secara serentak.
Clarissa berdiri di sana, sedikit terengah-engah sembari memegang sebuah tas kecil. Wajahnya polos tanpa dosa, matanya membelalak lebar melihat kerumunan orang, kilatan kamera, dan pemandangan kacau di dalam kamar.
Tidak ada raut kejahatan maupun dominasi dingin; ia memperagakan peran sebagai wanita terpukul dan ketakutan dengan begitu sempurna.
"K-Kakek? Dominic?" cicit Clarissa, menutup mulutnya dengan kedua tangan saat matanya menatap sosok Bibi Sarah di atas ranjang.
Wajahnya pucat seketika, air mata kepura-puraan mulai menggenang di sudut matanya yang lentik.
"Bibi Sarah... apa yang terjadi pada Bibi Sarah?!"
Helena menunjuk Clarissa dengan jari yang gemetar hebat, matanya hampir melompat keluar.
"Kau... bagaimana bisa kau ada di luar?! Kau yang melakukan ini, kan?!"
Clarissa mundur satu langkah ke belakang Dominic, menyembunyikan tubuhnya dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
"Helena... apa maksudmu? Aku baru saja kembali dari toilet di lantai atas karena tadi perutku terasa kurang nyaman... Mengapa kau menuduhku?"
Para wartawan yang sudah disewa rahasia oleh Tulus atas perintah Clarissa langsung mencatat setiap kata dan membidikkan kamera ke arah Helena yang tampak histeris dan mencurigakan.
Dominic melangkah maju, pasang badan melindungi istrinya sembari menatap Helena dengan aura membunuh yang pekat.
"Cukup, Helena! Jangan melimpahkan kegilaan ini pada Clarissa yang tidak tahu apa-apa!"
"Dia bohong, Dominic! Dia yang..."
Brak!
Kakek Silas mengetukkan tongkat naganya ke lantai marmer dengan dentum keras yang menggelegar, memotong histeria Helena.
Silas menatap ke arah wartawan dan skandal di dalam kamar dengan kemurkaan mutlak.
"Usir semua media ini dan amankan tempat ini sekarang juga!" seru Kakek Silas dengan suara menggelegar. Sang patriark lalu menatap Helena dengan tatapan dingin bagai es. "Dan kau, Helena... ikut aku ke ruangan pribadi. Penjelasanmu malam ini akan menentukan nasibmu!"
Helena tersungkur di lantai marmer yang dingin, menangis histeris saat para pengawal mulai mengusir awak media dan menyeret Bibi Sarah keluar. Rencana yang ia bangun dengan begitu rapi untuk menghancurkan Clarissa, kini justru berbalik melahap dirinya sendiri di bawah kilatan kamera publik.
Di balik pundak tegap Dominic yang melindunginya, Clarissa menyeka air mata kepura-puraannya. Saat menunduk kecil, sudut bibirnya menyunggingkan senyuman kemenangan yang teramat tipis dan dingin, sebuah kebenaran mematikan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
sangat menarik sekali