Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Terapi Yang Ekstrem
Hawa dingin langsung menyergap wajah Bayu saat dia menutup pintu ruang VIP tersebut rapat-rapat.
Ruangan itu seharusnya berada pada suhu normal, namun udara di dalamnya terasa seperti di dalam lemari pendingin.
Napas Bayu menghasilkan uap putih tipis yang melayang di udara setiap kali dia membuang napas.
Di atas ranjang pasien di tengah ruangan, Aurel Aditama terbaring meringkuk dengan tubuh bergetar sangat hebat.
Gadis cantik pewaris keluarga militer itu terlihat sangat menyedihkan.
Bibirnya yang mungil kini berwarna kebiruan, dan kulit seputih porselennya memucat layaknya mayat.
Tiga lapis selimut wol tebal yang menutupi tubuhnya sama sekali tidak mampu menahan hawa es yang memancar dari dalam pembuluh darahnya.
Bayu berjalan perlahan mendekati ranjang, tatapan matanya sedingin es saat menganalisis kondisi gadis itu.
'Meridian Yin Es Ekstremnya sudah pecah, racun dinginnya sedang membekukan jantungnya detik ini juga,' batin Bayu menilai situasi.
Bayu mulai melepaskan kancing kemeja hitamnya satu per satu dengan gerakan tenang.
Dia membuang kemeja mahal itu sembarangan ke lantai, mengekspos dada bidang dan otot perutnya yang terbentuk sempurna.
Bersamaan dengan itu, giok hijau di telapak tangan kanannya mulai memancarkan cahaya redup.
Suhu tubuh Bayu melonjak drastis, memancarkan hawa panas energi Yang murni layaknya tungku api yang menyala di tengah badai salju.
Bayu berdiri di samping ranjang, lalu menarik paksa ketiga selimut tebal yang menutupi tubuh Aurel dan melemparnya ke sudut ruangan.
"A-apa yang kau lakukan? Aku... aku kedinginan," rintih Aurel dengan suara bergetar dan gigi yang gemeretak.
Gadis itu hanya mengenakan gaun tidur berbahan sutra tipis berwarna putih yang ujungnya sudah mulai membeku dan kaku.
Mata Aurel yang sayu menatap Bayu dengan sisa-sisa kesombongan dan amarah seorang putri jenderal yang tidak pernah dibantah seumur hidupnya.
"Kain murahan ini hanya akan menghalangi aliran energiku, Tuan Putri," ucap Bayu dengan suara rendah yang menggema di ruangan sepi itu.
Sret!
Tanpa meminta izin, tangan Bayu bergerak cepat merobek gaun sutra tipis itu dari bagian kerah turun ke bawah hingga hancur terbelah dua.
Seluruh tubuh indah Aurel kini terekspos tanpa sehelai benangpun, namun kulitnya terasa sedingin balok es.
Aurel berniat menjerit marah dan menampar pemuda kurang ajar itu, namun tangannya bahkan tidak memiliki tenaga untuk diangkat.
Bayu langsung naik ke atas ranjang, mengangkangi pinggul gadis tersebut, dan menempelkan kedua telapak tangannya ke atas perut datar Aurel.
Sshhh!
Suara uap air mendesis terdengar keras saat telapak tangan Bayu yang membara bersentuhan dengan kulit Aurel yang membeku.
Aurel tersentak sangat keras, punggungnya melengkung refleks menantang udara.
"Ahhh..."
Sebuah desahan panjang meluncur dari bibir biru Aurel, matanya seketika melebar karena terkejut.
Rasa panas yang luar biasa nikmat menyengat kulit perutnya, menembus langsung ke aliran darahnya yang membeku.
Itu adalah kehangatan pertama yang pernah dia rasakan sejak rasa sakit ini menyiksanya bertahun-tahun lalu.
Hawa panas dari tangan Bayu membuat sisa-sisa es di kulit gadis itu mulai mencair, berubah menjadi bulir-bulir air yang membasahi tubuh mereka berdua.
"Tolong... jangan berhenti... di sini juga dingin," racau Aurel tanpa sadar, membuang seluruh gengsi dan harga dirinya demi kehangatan tersebut.
Tangan gadis yang tadinya ingin menampar Bayu kini justru terangkat dan melingkar erat di leher pemuda itu.
Aurel menarik tubuh Bayu agar semakin merapat padanya, mencari gesekan kulit yang bisa meredakan siksaan hawa dingin di tubuhnya.
Bayu menyeringai, menatap wajah cantik yang kini mulai memerah karena gairah yang dipicu oleh hawa panasnya.
"Kau sangat rakus untuk ukuran gadis yang baru pertama kali disentuh seorang pria," bisik Bayu tepat di bibir gadis itu.
Bayu menundukkan wajahnya dan langsung mengkokop bibir dingin Aurel dengan ciuman yang sangat kasar dan dominan.
Slurp!
Suara kecapan basah terdengar jelas saat bibir mereka saling membelit dan menghisap satu sama lain.
Lidah Bayu menerobos masuk dengan paksa, menyapu seluruh rongga mulut Aurel dan mentransfer energi chi panas langsung melalui napas mereka.
Mmmhhh!
Aurel mengerang tertahan di sela-sela ciuman itu, tangannya meremas rambut belakang Bayu dengan putus asa.
Gadis itu membalas hisapan lidah Bayu dengan sangat liar, seolah dia sedang menghisap sari kehidupan dari mulut pemuda tersebut.
Slurp... chup...
Suara air liur yang saling bertukar terus mendominasi keheningan ruang VIP itu, meningkatkan ketegangan sensual di antara mereka berdua hingga ke titik puncak.
Tangan Bayu tidak tinggal diam di atas perut gadis itu.
Satu tangannya bergerak naik, meremas gundukan lemak Aurel yang sebelumnya sedingin es namun kini mulai terasa hangat dan lembut di bawah telapak tangannya.
Jari jempol Bayu memberikan tekanan ritmis pada puncak dada gadis itu, memicu jeritan nikmat yang tertahan di tenggorokan Aurel.
Enghh...
Tangan Bayu yang lain meluncur turun menyusuri paha mulus Aurel, lalu memisahkan kedua kaki gadis itu lebar-lebar tanpa perlawanan.
Jari panjang Bayu menyentuh pusat kewanitaan Aurel yang ternyata sudah sepenuhnya becek.
Area rahasia itu kini kebanjiran oleh cairan gairah yang sangat hangat, merespons dominasi dan pesona mutlak dari energi Bayu.
Bayu melepaskan ciumannya secara perlahan, membiarkan benang saliva tipis terputus di udara.
Napas mereka berdua saling memburu, dada mereka naik turun dengan cepat.
Suhu ruangan yang tadinya seperti lemari es kini telah berubah menjadi sepanas ruang sauna akibat benturan energi Yin dan Yang.
"Es di bagian luarmu sudah mencair, Tuan Putri."
"Tapi akar penyakitmu ada di bagian paling dalam dari tubuhmu," bisik Bayu dengan tatapan mematikan yang mengunci jiwa gadis itu.
Aurel menatap Bayu dengan mata yang sudah sepenuhnya berkabut oleh hasrat, wajahnya kini merah padam dan dipenuhi keringat.
"Masukkan naga apimu ke dalam sana, Bayu... kumohon."
"Hancurkan esnya... aku sudah tidak tahan lagi," isak Aurel memohon, pinggulnya tanpa sadar menggesek-gesek mencari pelepas dahaga dari siksaan ini.
Putri jenderal yang selalu dihormati oleh para prajurit itu kini hanya menjadi seorang wanita rapuh yang mengemis kenikmatan pada tabib dewanya.
Bayu memposisikan dirinya tepat di pusat tubuh Aurel, memfokuskan seluruh sisa energi penyembuh dari giok hijaunya.
"Tahan suaramu kalau kau tidak ingin kakekmu jantungan di luar sana," ancam Bayu dengan senyum menyeringai.
Dalam satu hentakan kuat, Bayu menembus pertahanan terakhir gadis itu, menyatukan tubuh mereka secara sempurna.
"Aaaakhhh..!!!"
Aurel menjerit keras, kuku-kukunya menancap sangat dalam di punggung tegap Bayu.
Rasa sakit sesaat akibat robeknya selaput sucinya seketika tergantikan oleh gelombang panas luar biasa yang meledak bagaikan semburan naga api di dalam rahimnya.