Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 #Rasa kosong

Sinar matahari pagi menembus tirai kamar VVIP. Bening bergerak cepat namun sigap melipat baju-baju Kaivandra. dan memasukkannya ke dalam tas kain kecil. Wajahnya pucat, matanya sembap, namun ia sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak menetes di depan sang putra.

Di dalam kamar, Erika sedang membantu Kaivandra mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru muda. Bocah enam tahun itu tampak jauh lebih segar, binar cerianya telah kembali sepenuhnya.

Bening melangkah keluar dari kamar rawat, lalu memberikan isyarat pada Gibran yang sejak tadi berdiri kaku di koridor. Mereka berjalan beberapa langkah menjauh dari pintu, berdiri di sudut koridor yang sepi.

Gibran menatap Bening dingin, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana bahan mewahnya.

"Aku akan membawa Kaivandra pulang ke rumahku hari ini," ucap Gibran langsung pada intinya, tanpa basa-basi. "Kamu tidak punya alasan untuk menghalangiku, karena Kai sendiri yang sudah menyetujuinya."

Bening meremas kedua tangannya di depan dada, menatap Gibran dengan tatapan memohon. "Mas... tolong, jangan asingkan Kai dari lingkungannya yang dulu..."

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal sekolah atau keperluan Kai," potong Gibran cepat dengan nada penuh dominasi. "Aku akan mengurus seluruh kebutuhannya. Kalau perlu, minggu depan aku akan memindahkan sekolah Kai ke sekolah internasional terbaik di kota ini."

"Jangan!" sergah Bening cepat, matanya membelalak kaget. "Sekolah Kai yang sekarang sudah sangat bagus, Mas. Teman-temannya ada di sana dan dia sangat nyaman. Jangan tiba-tiba mengubah seluruh dunianya..."

"Aku ayahnya, Bening!" desis Gibran dengan rahang mengeras. "Aku memiliki hak penuh untuk mengambil keputusan terbaik bagi putraku sendiri! Aku hanya ingin menebus waktu enam tahun yang hilang... waktu yang terbuang sia-sia karena kamu menyembunyikannya dariku!"

Bening membeku, bibirnya gemetar menahan kepedihan yang dihantamkan kata-kata itu.

Gibran melirik raut wajah Bening yang hancur, namun bukannya luluh, pria itu justru melontarkan sindiran tajam. "Jangan memasang wajah sedih seperti itu di depanku, Bening. Aku tahu... jauh di dalam hatimu, kamu sebenarnya senang bukan? Tidak ada Kai yang merepotkanmu lagi, jadi kamu bisa bebas berhubungan dengan pria manapun yang kamu mau."

Deg.

Hati Bening serasa dihantam belati tumpul. Sungguh kejam tuduhan itu, namun Bening memilih menelan bulat-bulat rasa sakitnya demi keselamatan Kai.

Tak lama kemudian, pintu kamar rawat terbuka. Kaivan melangkah keluar dengan riang bersama Erika. "Papa! Kai sudah siap pulang!"

Aura dingin Gibran seketika menguap. Pria itu tersenyum hangat, berlutut menyamakan tingginya dengan sang putra. "Wah, jagoan Papa tampan sekali. Ayo, mau Papa gendong sampai ke mobil?"

Kaivan menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum polos. "Tidak, Papa... Kai mau jalan sendiri saja, Kai kan sudah sembuh!"

Bocah kecil itu dengan alami meraih dan menggandeng erat jemari besar Gibran. Bening dan Erika berjalan di belakang mereka dengan langkah berat. Berulang kali Erika mengusap pundak Bening, menyalurkan kekuatan pada sahabatnya yang sedang memikul beban teramat berat.

Mereka sampai di pelataran parkir rumah sakit. Toni sudah membukakan pintu belakang mobil sedan mewah milik Gibran. Gibran membimbing Kaivandra untuk masuk dan duduk di jok kulit yang empuk.

Saat pintu mobil hendak ditutup, Kaivandra menahan tepi jendela. Matanya menatap Bening yang berdiri mematung di luar.

"Mama..." panggil Kai pelan. "Mama nanti beneran nyusul Kai kan? Kalau pesanan kue Mama sudah selesai semua?"

Bening berlutut di ambang pintu mobil, menatap wajah polos putranya. Rasanya seluruh oksigen di sekitarnya menguap habis. Dengan jemari gemetar, Bening mengusap pipi lembut Kai, lalu memeluk dan mencium kening serta kedua pipi putra kecilnya dengan sangat lama.

"Iya, sayang... Mama pasti akan menyusul Kai," bisik Bening dengan suara serak yang ditahannya sekuat tenaga. "Kai jangan nakal ya di rumah Papa... Ingat semua pesannya Mama, harus sopan, tidak boleh manja..."

"Iya, Mama! Kai ingat!" sahut Kai mantap.

Bening melepaskan pelukannya perlahan. Pandangannya beradu dengan Gibran yang duduk di sebelah Kai. Interaksi di antara mereka berdua teramat dingin, tak ada sepatah kata pun perpisahan yang terucap di antara mantan suami istri itu. Gibran hanya memberi isyarat pada supir untuk mulai menjalankan mobil.

Pintu mobil tertutup rapat. Mobil mewah itu perlahan bergerak menjauhi area rumah sakit.

Begitu mobil melaju dan menghilang di belokan jalan raya, kedua kaki Bening seketika terasa lemas luar biasa. Tubuhnya merosot ke lantai pelataran parkir jika saja Erika tidak dengan sigap menahan tubuhnya. Bening meremas dadanya, menangis tanpa suara. Ini adalah kali pertama dalam enam tahun hidupnya dia harus terpisah dari jantung hatinya.

"Ini yang terbaik, Er..." bisik Bening dalam isakannya di pelukan Erika. "Aku yakin... aku pasti tetap bisa menemui Kaivandra..."

"Iya, Ning... Kamu harus kuat," hibur Erika penuh haru.

Bening menatap ke arah jalanan kosong dengan mata sembap penuh kecemasan. "Tapi Er... aku sungguh sangat cemas. Bagaimana reaksi Pak Wira saat bertemu Kai nanti? Semoga... semoga dia benar-benar menerima Kai dengan baik, tidak menyakiti dan membencinya seperti dia membenciku..."

***

Mobil mewah Gibran membelah jalanan kota hingga akhirnya memasuki gerbang besi tempa yang menjulang tinggi. Mobil berhenti tepat di depan tangga pualam Kediaman Utama Aditama, sebuah bangunan megah bak istana yang berdiri kokoh dan dingin.

Gibran membukakan pintu untuk Kaivan. Bocah kecil itu melangkah keluar, matanya membelalak lebar mendongak menatap kemegahan bangunan di depannya.

"Wah... Rumah Papa besar sekali!" seru Kai takjub.

Di depan pintu utama, belasan pelayan dan pengawal rumah tangga berbaris rapi membungkuk hormat. Dan di tengah-tengah mereka, sosok pria paruh baya bersetelan elegan melangkah turun dengan penuh wibawa, Wira Aditama.

Mata pria tua itu seketika berbinar terang begitu pandangannya jatuh pada Kaivan. Di matanya, Kaivan benar-benar perwujudan sempurna dari Gibran sewaktu kecil, garis wajahnya, matanya, hingga cara berdirinya.

"Selamat datang... cucu Kakek!" seru Wira dengan suara yang dibuat begitu hangat dan penyayang.

Kaivandra, yang sejak kecil selalu diajari sopan santun dan etika oleh Bening, tidak tampak takut. Bocah itu tersenyum sopan, melangkah mendekati Wira, lalu mengulurkan tangan kecilnya untuk menyalami dan mencium punggung tangan pria tua itu.

"Halo, Kakek... Nama saya Kaivandra Saputra," ucap Kai dengan nada suara yang nyaring dan teratur.

Hati Wira bersorak gembira, takjub melihat kesopanan anak yang baru pertama kali ditemuinya ini. "Ya ampun... Pintar sekali cucu Aditama ini! Ayo, nak... Ayo masuk, Kakek sudah menyiapkan banyak hal untukmu!"

Wira menggandeng jemari kecil Kai dengan penuh kasih sayang yang tampak begitu nyata. Pria tua itu bersikap seolah-olah dialah sosok kakek terbaik di dunia, padahal dialah dalang kebusukan dan fitnah keji di balik terusirnya Bening Azalea dari kehidupan Gibran tujuh tahun lalu.

Gibran berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memperhatikan interaksi hangat antara ayah dan putranya. Sebuah sunggingan senyum tipis sempat terbit di bibir Gibran.

Namun, entah mengapa, di tengah kemegahan rumahnya dan kehangatan sambutan ayahnya, dada Gibran mendadak dihantam oleh sebuah rasa kekosongan yang aneh dan hampa.

Ada sesuatu yang kurang. Pikirannya melayang membayangkan jika saja Bening berdiri di sampingnya saat ini, menyambut kepulangan anak mereka bersama... mungkin suasana ini akan terasa utuh dan lengkap.

Namun, hanya dalam hitungan detik, bayangan tentang perselingkuhan Bening di kamar hotel tujuh tahun lalu kembali berputar di kepalanya. Gibran mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dia menggelengkan kepala, mengusir jauh-jauh bayangan Bening dari pikirannya.

Hati Gibran kembali membeku dan mengeras. 'Tidak... wanita pengkhianat itu tidak pantas berada di istana ini.'

1
sunaryati jarum
Sudah ada jagoan tidak perlu malam pertama,masih banyak malam/Drool//Drool//Drool/
sunaryati jarum
Selamat sudah sah
sunaryati jarum
Kalian bakal terseret Rama dan Astari
Lisa
Happy wedding Gibran & Bening..bahagia selalu ya..
Ariany Sudjana
congrats yah Gibran dan bening, tetap waspada yah
sunaryati jarum
Emak kira Kai dan ibunya diberi pengawalan yang ketat, ternyata tidak.untung Kai cerdas dan pemberani,serta ingat nasehat ibunya
sunaryati jarum
Astaga kirain ulah Astari, ternyata ulah dokter.Dokter Arfan seharusnya kamu senang Bening bahagia dan Kai memiliki orang tua utuh yang saling mencintai
sunaryati jarum
Semoga segera Kai segera diketemukan
sunaryati jarum
Memangnya berhasil, Gibran tidak bodoh dia memiliki pengawal berlapis untuk istri dan putranya.Jika kau lakukan rencana busukmu bukan Gibran yang hancur tapi kalian sendiri
Ariany Sudjana
skak mat, kamu keceplosan ngomong rencana jahat kamu sendiri Arfan? Gibran masih ada yang harus ditangkap tuh, Astari dan suaminya, suruh Toni bertindak, supaya Astari dan Rama masuk penjara sekalian
Ariany Sudjana
katanya Gibran CEO, punya anak buah, masa ga bisa menemukan keberadaan pelaku penculikan kaivandra?
bening juga bodoh, percaya sekali sama Arfan, padahal hatinya iri dan dengki
Lisa
Ternyata dokter Arfan ini jahat juga mau merebut Bening..Gibran kamu harus selidiki siapa dalang di balik kasus itu.
Lisa
Cpt Gibran tolong Kai..bisa kambuh tuh alerginya..
Ariany Sudjana
Gibran ini bodoh, sudah tahu situasi belum aman,kok percaya sekali sama orang lain, katanya punya anak buah yang bisa di andalkan, kok kecolongan sih
sunaryati jarum
Apa bukan orang tua kandungnya Gibran? Atau dulu ada trauma dengan orang tidak punya?
Ariany Sudjana
dasar Rama bodoh, percaya sekali dengan omongan pelacur murahan yang ga tahu diri dan serakah .... semoga rencana jahat mereka bisa dipatahkan Gibran
Lisa
Moga aj Gibran mengetahui rencana jahatnya Rama..
Ariany Sudjana
betul sekali, kamu harus tegas bening, menurut kamu berteman, tapi beda dengan Arfan, ybs berharap jadi suami kamu
Ariany Sudjana
harusnya bening tegas, bicara sama Gibran, posisi Arfan itu teman atau apa, supaya Gibran tidak salah paham
Anto D Cotto
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!