Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngidam Sate Madura

Hari-hari itu berjalan begitu datar seperti hari-hari sebelumnya, meski Ainun dan Sagara memang masih tinggal di bawah atap yang sama.

Bagi Ainun, keadaan itu justru lebih baik. Namun ka hanya perlu menjalani hari-harinya sambil menunggu waktu yang dijanjikan Liona.

Sementara itu, rahasia yang tumbuh di dalam rahimnya masih tersimpan rapat.

Belum ada seorang pun yang mengetahuinya.

Ainun bertekad akan terus menyembunyikan kehamilan itu sampai hari perpisahannya dengan Sagara benar-benar tiba.

‘Mereka nggak boleh tahu. Cukup aku dan anak ini saja yang menjaganya.’

Malam itu, suasana rumah telah tenggelam dalam keheningan.

Lampu-lampu utama dimatikan. Hanya cahaya redup dari lampu taman yang menyelinap masuk melalui celah jendela.

Ainun membuka pintu kamarnya perlahan.

Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada siapa pun yang masih terjaga.

Perlahan ia melangkah keluar.

Setiap pijakan dibuat seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara.

Beberapa saat kemudian, ia berhasil mencapai pintu utama. Tangannya memutar gagang pintu dengan hati-hati.

Klik.

Pintu terbuka tanpa suara.

Ainun mengembuskan napas lega, lalu segera melangkah keluar rumah.

Begitu pintu kembali tertutup, ia mempercepat langkahnya menuju gerbang.

“Akhirnya,” gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.

Tatapannya menyapu jalan yang mulai lengang.

“Sekarang tinggal cari tukang sate.”

Ia mengerutkan kening. “Tapi... di mana, ya?”

Beberapa detik kemudian, Ainun terkekeh pelan pada dirinya sendiri.

“Jalan saja, deh. Siapa tahu ketemu.”

Tanpa berpikir panjang, ia mulai menyusuri jalan yang diterangi lampu-lampu jalan.

Sesekali ia menoleh ke belakang.

‘Jangan sampai Mas Sagara atau siapa pun tahu aku keluar malam-malam karena sedang ngidam.’

Langkahnya tetap ringan meski rasa waswas sesekali menyelinap di dada.

Tak lama kemudian, matanya menangkap kepulan asap dari sebuah gerobak yang berdiri di tepi jalan.

Sepasang matanya langsung berbinar.

“Itu dia... sate Madura.”

Senyum di wajahnya semakin lebar. Refleks, telapak tangannya mengusap lembut perutnya yang masih rata.

“Nak,” bisiknya lirih, “akhirnya kita ketemu juga.”

Tatapannya kembali mengarah ke gerobak itu.

“Untung saja nggak jauh dari rumah.”

Dengan langkah yang sedikit lebih cepat, Ainun menghampiri gerobak sate tersebut.

Begitu tiba di depan gerobak, aroma daging yang dibakar di atas bara langsung menyambut penciuman Ainun. Asap tipis mengepul bersama wangi bumbu kacang dan kecap yang berpadu dengan harum daging sate.

Perut Ainun kembali bergejolak. Tanpa sadar, ia menelan ludah.

“Bang,” panggilnya sambil menghampiri gerobak, “masih ada sate?”

Penjual sate yang sedang membolak-balik daging di atas bara menoleh, lalu tersenyum ramah.

“Masih, Neng. Masih banyak.”

Wajah Ainun langsung berbinar. “Bang, saya pesan tiga porsi, ya?”

Penjual itu terkekeh kecil.

“Tiga porsi?” Ia mengangkat alis. “Dimakan di sini atau dibungkus, Neng?”

Ainun ikut terkekeh pelan.

“Saya lagi ngidam,” jawabnya sambil mengusap pelan perutnya yang masih rata. “Jadi dimakan di sini.”

“Siap, Neng. Tunggu sebentar.”

Ainun mengangguk, lalu berjalan menuju bangku kayu yang berada di depan gerobak.

Ia duduk sambil mengembuskan napas lega.

Tak sampai beberapa menit, penjual sate datang membawa tiga piring sate lengkap dengan siraman bumbu kacang yang masih mengepul hangat.

Piring-piring itu diletakkan satu per satu di hadapan Ainun.

“Nah, sudah siap, Neng.”

Aroma sate yang semakin kuat membuat sudut bibir Ainun terangkat lebar.

“Mau pakai nasi sekalian, Neng?” tanya penjual itu.

Ainun menggeleng cepat. “Enggak usah, Bang.”

Tangannya segera meraih satu tusuk sate.

“Bismillah.”

Perlahan, ia menggigit potongan daging pertama.

Begitu daging itu masuk ke dalam mulutnya, matanya langsung terpejam sesaat. Rasa gurih, manis, dan sedikit aroma bakaran memenuhi lidahnya.

“Hmm... enak sekali,” gumamnya pelan.

Senyumnya semakin lebar.

‘Kalau nggak dituruti, nanti anakku malah ngiler.’

Tanpa menunggu lama, ia mengambil tusuk berikutnya.

Satu tusuk habis.

Disusul tusuk kedua.

Lalu tusuk ketiga.

Ainun terus menikmati sate itu dengan lahap. Sesekali pipinya menggembung karena terlalu semangat mengunyah, sementara jemarinya sudah kembali meraih tusuk sate berikutnya.

Melihat cara makan Ainun, penjual sate itu hanya tersenyum geli sambil kembali membakar pesanan pelanggan lain.

Sementara Ainun terus menyantap sate kesukaannya dengan wajah yang dipenuhi kepuasan, seolah seluruh rasa lelah dan penat yang selama ini mengendap perlahan menghilang bersama setiap suapan.

. . .

Tak butuh waktu lama.

Tiga piring sate yang tadi penuh kini hanya menyisakan tusuk-tusuk bambu berserakan dan sedikit bumbu kacang di dasar piring.

Ainun menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap perutnya pelan.

“Huft... akhirnya kenyang.”

Senyum puas terukir di wajahnya. Ia mengangkat tangan kecil ke arah penjual sate.

“Bang, bayar.”

Penjual sate menghampiri sambil membawa buku catatan kecil.

“Siap, Neng.” Ia menghitung sejenak. “Totalnya enam puluh sembilan ribu.”

“Sebentar, Bang.”

Ainun tersenyum kecil, lalu merogoh saku gamisnya. Tangannya mencari ke sisi kanan.

Kosong.

Ia berpindah ke sisi kiri. Tetap tidak ada.

Keningnya langsung berkerut. “Loh...”

Tangannya kembali meraba seluruh kantong pakaian yang dikenakannya.

Tak ada.

“Jadi nggak bayarnya, Neng?” tanya penjual sate mulai penasaran.

Ainun tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan.

“T-tunggu sebentar, Bang.”

‘Ya Allah... aku taruh di mana, ya?’

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengingat sebelum keluar rumah.

Beberapa detik kemudian, matanya langsung membelalak. Telapak tangannya refleks menepuk dahi.

‘Astaghfirullah... dompetku masih di atas meja kamar.’

Raut wajah Ainun langsung berubah canggung. Ia menoleh kepada penjual sate sambil mengulas senyum tipis.

“Bang,” ucapnya hati-hati, “boleh kasbon dulu nggak?”

Penjual sate langsung menggeleng.

“Halah, bilang saja mau makan gratis, Neng. Nggak bisa.”

Ainun buru-buru melambaikan tangan.

“Bukan begitu, Bang. Saya janji besok malam saya bayar.”

Penjual sate kembali menggeleng tegas.

“Uang jualan ini buat modal lagi, Neng. Kalau kurang, saya bisa rugi.”

“Tapi rumah saya dekat dari sini.”

“Ya tetap nggak bisa.”

Ainun menggigit bibir bawahnya. “Kalau begitu saya pulang sebentar, nanti balik lagi.”

Penjual sate menyilangkan tangan di depan dada.

“Nggak bisa. Bayar dulu baru boleh pergi. Nanti kalau sudah pulang terus nggak balik lagi gimana?”

“Saya benar-benar bakal balik.”

“Maaf, Neng. Saya sudah sering dibohongi orang.”

Ainun mengembuskan napas panjang.

‘Ya Allah... kenapa aku bisa lupa bawa dompet, sih?’

Ia menundukkan kepala, memutar otak mencari jalan keluar.

“Terus gimana?” tanyanya lirih. “Saya keluarnya diam-diam dari rumah.”

“Wah, saya nggak tahu urusan itu.” Penjual sate menggeleng. “Pokoknya harus bayar.”

Ainun hanya bisa terdiam. Rasa malu mulai menjalar ke seluruh wajahnya.

‘Kalau begini... masa harus cuci piring?’

“Berapa semuanya?”

Suara berat itu terdengar dari belakangnya.

Tubuh Ainun langsung menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat.

‘Suara itu...’

Perlahan, ia mendongakkan kepala. Matanya langsung membulat.

Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Sagara berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Tatapannya yang dingin tertuju lurus kepadanya.

“Mas...?” bisik Ainun pelan.

Wajahnya seketika memerah, antara terkejut dan malu karena pria itu melihat seluruh kejadian yang baru saja terjadi.

“Wanita ini istri saya,” ucap Sagara datar. Tatapannya beralih kepada penjual sate. “Berapa semuanya?”

Penjual sate yang semula memasang wajah curiga langsung mengulas senyum canggung.

“Enam puluh sembilan ribu saja, Mas.”

Tanpa banyak bicara, Sagara mengeluarkan dompet dari saku celananya.

Ia menarik selembar uang pecahan seratus ribu rupiah, lalu menyodorkannya kepada penjual sate.

“Ambil kembaliannya, Mas,” ucap penjual sate sambil merogoh laci kecil di gerobak.

“Tidak usah,” sahut Sagara singkat. “Untuk Bapak saja.”

Wajah penjual sate langsung berbinar.

“Wah, terima kasih banyak, Mas.”

Sagara sama sekali tidak menanggapi ucapan itu. Ia berbalik begitu saja, lalu melangkah meninggalkan gerobak.

Ainun masih berdiri mematung. Tatapannya mengikuti punggung pria itu yang semakin menjauh.

Perlahan, ia menundukkan kepala. Bibir bawahnya tergigit pelan.

‘Mas Sagara... apa dia diam-diam mengikutiku?’

“AINUN!”

Suara Sagara menggema di tengah jalan yang mulai lengang.

Ainun refleks mengangkat kepala.

“Pulang sekarang,” ujar Sagara tanpa menoleh. “Atau saya kunci pintunya dari dalam.”

Ainun tersadar.

“I-iya.”

Ia segera berpamitan kepada penjual sate, lalu bergegas menyusul langkah Sagara.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, keduanya berjalan berdampingan dalam diam.

Beberapa kali Ainun melirik pria di sampingnya.

Rasa penasaran akhirnya mengalahkan keraguannya.

“Mas Sagara,” panggilnya pelan.

Sagara tidak menoleh.

“Apa?”

“Mas tahu aku ada di sana dari mana?”

Jawaban yang diterimanya justru terdengar dingin.

“Itu bukan urusanmu.”

Ainun mengembuskan napas pelan.

‘Padahal aku cuma bertanya.’

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan rumah.

Sagara membuka pintu, lalu masuk lebih dulu.

Ainun mengikuti dari belakang.

Saat pria itu hendak menaiki anak tangga, Ainun memberanikan diri membuka suara.

“Mas...”

Langkah Sagara berhenti sejenak.

“Aku akan mengganti uang sate tadi.”

Sagara menoleh sekilas.

“Tentu saja harus,” ucapnya datar. “Supaya kamu tahu diri.”

Kalimat itu kembali menusuk dada Ainun.

Namun, ia hanya mengangguk pelan.

“Iya.”

Tak ingin memperpanjang percakapan, Ainun berbalik dan melangkah menuju kamarnya.

. . .

Begitu pintu kamar tertutup, Ainun langsung menghampiri meja kecil di samping tempat tidurnya.

Tatapannya jatuh pada dompet yang tergeletak begitu saja di atas meja.

Ia memungutnya, lalu mengembuskan napas panjang.

“Gara-gara ketinggalan...”

Kling.

Suara notifikasi membuat lamunannya buyar.

Pandangannya beralih ke ponsel yang berada tepat di samping dompet.

Layar yang sempat meredup kembali menyala.

Ainun meraih ponsel itu, lalu membuka pesan yang baru masuk.

{Ainun, aku sudah tiba di Indonesia. Siang besok kita bertemu di kafe.}

Mata Ainun langsung berbinar.

“Mbak Liona...”

Senyum tipis perlahan menghiasi wajahnya.

Tanpa membalas pesan itu, Ainun mengunci kembali layar ponselnya, lalu meletakkannya di atas meja.

‘Sebentar lagi kita bebas, Nak.’

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!