Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Di sudut ruangan yang dihiasi tempelan kertas warna-warni, suasana kelas mendadak hening ketika Bu Ratna, guru kelas mereka, memegang tumpukan buku tugas di atas mejanya.
Sementara itu, Raya terus menatap Alisya dari meja samping, mata mungilnya menyipit sinis.
Sejak pagi, ibunya, Ranti, selalu mewanti-wantinya untuk tidak mau kalah dari Alisya.
"Mama bilang aku harus lebih pintar dari Alisya," kata Raya membatin seraya menggoyang-goyangkan kakinya dengan angkuh.
"Baiklah Anak-anak, tugas yang kemarin menggambar dan mewarnai sudah Ibu nilai, dan beberapa dari kalian ada yang dapat bintang lima!" kata Bu Guru ramah, menyapa seluruh isi kelas dengan senyuman hangat.
Anak-anak kelas langsung riuh gembira. Ada yang bertepuk tangan, ada pula yang melompat-lompat kecil di kursinya.
"Aku pasti dapat bintang lima!" kata Raya penuh percaya diri, membusungkan dadanya dan melirik penuh kemenangan ke arah Alisya.
Alisya yang duduk diam hanya meletakkan kedua tangan mungilnya di atas meja. Wajahnya polos dan tenang, tak terpengaruh oleh tatapan tajam Raya.
"Nama yang dapat bintang lima adalah..." Bu Guru membuka buku tugas satu per satu. "...Gio, Mira, dan Raya!" lanjut Bu Guru bernada ceria.
"Horeee!" seru Raya melompat dari kursinya. Ia memegang bukunya yang berstiker bintang lima warna emas, lalu berbalik menatap Alisya.
Raya tersenyum sinis ke arah Alisya, sengaja memamerkan stiker bintang di bukunya.
Tapi Alisya tetap senyum melihat Bu Guru, menyambut pencapaian teman-temannya tanpa rasa iri sedikit pun.
"Yes, aku dapat bintang lima! Alisya mana bisa gitu!" kata Raya dengan bangganya menatap Alisya dari mejanya. "Palingan Alisya cuma dapat bintang tiga!"
Alisya hanya menunduk pelan, meremas ujung bajunya. "Alisya sudah berusaha kok..." bisiknya sangat lirih pada dirinya sendiri.
Bu Guru kemudian berjalan mengelilingi kelas untuk membagikan sisa buku anak-anak yang lain.
"Anak-anak, semuanya sudah dapat bukunya?" tanya Bu Guru berdiri di depan kelas setelah membagikan tumpukan terakhir.
"Sudahhh, Buuu!" jawab anak-anak yang lain kompak sambil memegang buku mereka masing-masing.
Alisya clingukan melihat meja kayunya yang masih kosong. Ia mengacungkan jari telunjuknya pelan.
"Saya belum, Bu," kata Alisya mengangkat tangannya, suaranya terdengar polos dan penuh kebingungan.
Raya yang melihat meja Alisya masih kosong langsung menepuk meja dan tertawa keras.
"Ha ha ha, jangan bilang kamu nggak ngumpulin tugas!" kata Raya memprovokasi, membuat beberapa anak di sekitarnya ikut menoleh ke arah Alisya.
"Aku kumpulin kok," kata Alisya dengan wajah cemberut dan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kemarin sore aku serahkan langsung ke meja Bu Guru..."
"Terus mana bukumu? Atau jangan-jangan tugasmu salah semua dan jelek banget, makanya bukunya nggak dikasih sama Bu Guru!" celetuk Raya dengan puas, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kasihan deh, nggak dapat bintang!"
Teman-teman sekelas mulai berbisik-bisik, membuat bibir mungil Alisya makin melengkung ke bawah menahan malu dan sedih.
"Stttttt! Diam anak-anak, jangan mengejek teman ya," kata Bu Guru menenangkan kelas seraya menatap Raya dengan tegas.
Sementara Raya tersenyum senang dan melipat tangan di dada, merasa di atas angin melihat Alisya yang hampir menangis karena bukunya tidak ada.
Raya sudah membayangkan betapa bahagianya sang mama jika tahu Alisya dipermalukan di kelas.
Bu Guru mengambil sebuah buku gambar bersampul merah dari balik meja utamanya, lalu tersenyum sangat manis menatap Alisya.