Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Bau mesiu masih melekat di rambut Victoria ketika Dante menyeretnya, bersama anak-anak, menyusuri lorong-lorong bawah tanah kediaman itu. Para petugas pembersihan dan keamanan berlarian ke sana kemari, menghapus jejak serangan Enzo, tapi bagi Dante, dinding-dinding itu tak lagi terbuat dari marmer, melainkan dari kaca yang siap pecah.
"Dante, berhenti. Enzo sudah pergi. Kita aman," kata Victoria, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.
Tangannya masih gemetar akibat tembakan yang ia lepaskan di garasi tadi.
Dante tak menjawab. Matanya merah berselaput darah dan rahangnya begitu menegang hingga giginya seakan akan retak. Ini bukan lagi pria yang berterima kasih padanya karena menyelamatkan nyawanya beberapa menit lalu; ini seekor binatang terluka yang berusaha menyembunyikan anak-anaknya di gua terdalam.
Turun ke Bunker
Mereka tiba di sebuah pintu baja diperkuat di ujung lorong tanpa jendela. Dante menempelkan tangannya pada pemindai biometrik dan mengetikkan kode dua belas digit. Dengan desisan hidraulik, pintu itu terbuka, memperlihatkan sebuah ruang yang merupakan definisi paling nyata dari sangkar emas: bunker berkeamanan maksimum.
"Masuk," perintah Dante. Suaranya datar, tanpa kehangatan yang mulai ia bangun belakangan ini.
"Di sini? Dante, anak-anak butuh udara, mereka perlu mencerna apa yang baru terjadi," bantah Victoria, memandang ke dalam ruangan yang penuh layar, ransum darurat, dan ranjang rumah sakit.
"Di sini tak ada sudut buta. Di sini tak ada penembak jitu. Di sini tak ada yang bisa mengkhianati mereka," balasnya, mendorong mereka pelan-pelan masuk. "Enzo hanyalah permulaan. Kalau dia bisa sejauh ini, itu karena ada seseorang yang membukakan pintu untuknya. Sampai aku menemukan siapa orang itu, inilah satu-satunya tempat di dunia ini yang aku yakin tak akan membuat kalian mati."
Dante menutup pintu di belakang mereka, tapi tetap tinggal di dalam beberapa menit, mondar-mandir seperti singa dalam kurungan. Ia memeriksa kamera-kamera keamanan di layar sentuh, menggumamkan nama-nama anak buahnya sendiri, membuang satu per satu kesetiaan yang dulu tak pernah ia ragukan.
"Papa, kenapa Papa mengurung kami?" tanya Cristo, mendekati konsol-konsol itu. Anak itu tidak takut pada bunkernya, melainkan pada tatapan ayahnya.
Dante berlutut di hadapannya, tapi tak memeluknya. Kedua tangannya, yang berlumur darah kering, mengepal erat.
"Karena dunia adalah tempat yang gelap, Cristo. Dan hanya Papa yang punya kunci untuk menahan kegelapan itu di luar sana. Mamamu percaya kita bisa hidup seperti orang normal, tapi hari ini kamu lihat sendiri itu tidak benar. Keluarga Moretti tak punya teman, hanya musuh yang menunggu saat kita lemah."
León mengamati dari sebuah sudut. Tatapannya tak lagi memancarkan kekaguman, melainkan penilaian yang cermat. Ia melihat paranoia pada bahu Dante yang membungkuk, dan ia paham bahwa rasa takut adalah penyakit yang lebih berbahaya daripada peluru Enzo.
"Kalau Papa mengurung kami supaya kami tidak kenapa-kenapa, lalu siapa yang akan melindungi kami dari Papa?" tanya León dengan kejernihan yang menghantam Dante seperti sebuah godam.
Dante bangkit, tak sanggup menahan tatapan pewarisnya. Ia melangkah ke arah pintu keluar.
"Dante, jangan lakukan ini," Victoria memohon, berdiri menghalangi pintu. "Jangan jadikan kami tahananmu lagi. Kita baru saja menemukan jalan untuk kembali satu sama lain. Kalau kau mengunci pintu itu dari luar, kau akan membunuh sedikit yang masih tersisa di antara kita."
Dante menatapnya dengan keputusasaan yang menyayat hati. Selama sedetik, Victoria melihat anak kecil dalam foto itu, anak yang menginginkan perahu kayu, menjerit minta tolong di balik mata sang Capo. Tapi bayangan Lorenzo lebih kuat.
"Aku lebih memilih kau membenciku dalam keadaan hidup daripada mencintaiku di dalam peti mati, Victoria."
Dante keluar dan pintu itu tertutup dengan gemuruh logam yang bergema di jiwa Victoria. Bunyi gerendel otomatis menyegel nasibnya.
Keheningan Bunker
Victoria membiarkan dirinya merosot menyandar ke pintu dingin itu. Di dalam bunker, udara tersaring dan sempurna, tapi terasa pengap. Si kembar duduk di lantai beton yang mengkilap.
Cristo mulai bekerja di salah satu terminal bunker, bukan untuk bermain, melainkan mencari jalan keluar lewat sistem digital. León duduk mengawasi pintu yang terkunci, punggungnya tegak, mengambil peran penjaga yang seharusnya bukan tanggung jawab anak seusianya.
"Mama," ujar León, tanpa mengalihkan pandangan dari lempeng baja itu, "Papa tidak takut pada Enzo. Papa takut kalau kita menyadari bahwa kita tidak butuh dia untuk bertahan hidup."
Victoria memandang kedua anaknya. Bunker itu dirancang untuk melindungi mereka dari dunia luar, tapi ia menyadari bahwa ancaman yang sesungguhnya adalah pikiran Dante sendiri, yang tenggelam ke dalam jurang kendali yang sama seperti yang dulu diciptakan oleh ayahnya, Lorenzo.
Dante duduk di ruang kerjanya, dikelilingi monitor yang menampilkan keluarganya terkurung dalam bunker. Ia memiliki kuasa mutlak, ia memiliki keamanan yang total, tapi sementara ia menyaksikan Victoria menangis melalui lensa sebuah kamera, ia menyadari bahwa dalam obsesinya untuk menyelamatkan mereka, ia baru saja membangun kuburan bagi pernikahannya sendiri.