Indonesia
NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:183
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25. Hukuman Pengganti Kepergian. Kasih Sayang Wati.

Slamet segera pergi menemui Bu Guru Wati. Dia tidak ingin Wati menemui siswa yang saat sedang menjalani hukuman yang diberikan olehnya. Slamet tidak ingin Wati nantinya menghentikan hukuman para siswa, sehingga Wati harus mengajar dan waktu keberangkatan mereka ke Balai Kampung akan menjadi semakin lama dan mungkin terlambat ke Balai Kampung.

Wati saat ini berada dI ruang guru, menantikan waktu pelajaran berganti. Wati hanya duduk di atas kursi depan meja guru yang khusus disediakan untuknya. Sesekali Wati mengecek buku tugas dari siswa kelas dimana dirinya menjadi wali kelas.

Tak berapa lama Wati melihat Slamet guru olahraga yang sedang mengisi jam belajar bersama siswanya melintas menuju ruangan tempatnya berada saat ini.

Wati menduga saat ini adalah waktunya pergantian jam pelajaran, sebab Wati sudah cukup merasa bosan.

"Huft... " Wati menarik napas panjang dan hendak berdiri dari kursinya dan bergegas pergi, namun Slamet segera mencoba menghalanginya dengan mengatakan,

"Sebentar Bu Wati, Saya sedang memberikan hukuman kepada siswa saat ini. Mereka sudah melakukan kesalahan besar dan juga karena kita berdua akan pergi ke Balai Kampung sesuai pembicaraan kita tadi pagi." tutur Slamet panjang lebar menyela kepergian Wati dari tempat duduknya.

Wati merasa bingung akan kejadian yang baru saja di ceritakan oleh Slamet mengenai siswanya.

"Baiklah, Saya masih belum bisa mencerna, penjelasan Pak Slamet mengenai sIswa saya. Ada apa sebenarnya?" pinta Wati, penjelasan dari Slamet agar tIdak terjadi kesalah-fahaman di benak Wati.

Slamet pun menjelaskan bahwa siswanya berlaku tidak sopan dengan menentang apa yang dIrinya arahkan, sehingga harus diberikan hukuman berat. Juga siswanya sudah terpengaruh oleh Adun.

Slamet menambahkan berbagai bumbu dalam penjelasannya kepada Wati, berharap Wati dapat mempercayainya, sehingga hukuman para siswa dapat berlanjut.

Pada akhirnya tujuan Slamet adalah agar Wati tidak perlu memasuki kelasnya, sebab 15' menit lagi adalah pergantian jam pelajaran.

Wati merasa khawatir dengan apa yang telah siswanya perbuat, dirinya tidak ingin berpangku tangan saja atas kejadian ini. Rasa tanggung jawabNya sebagai wali kelas, memaksanya untuk pergi mencari tahu dan memberikan arahan kepada siswa yang kini dIbawah tanggung jawabnya.

Wati berdiri dan berjalan menuju halaman sekolah dimana para siswanya saat ini mendapatkan hukuman berupa memberikan hormat kepada bendera Merah-Putih, dibawah terik panas matahari yang mulai terasa menyengat sebab Kampung Surya Kencana memasuki musim kemarau.

Slamet merasa terkejut, sebab rencana yang sudah dipikirkannya terancam gagal. Hati Slamet bergejolak, namun dirinya tidak dapat menghalangi keinginan dari Wati guru yang selalu kukuh dengan pendiriannya itu. ***

Diladangnya seorang pria sedang sibuk membersihkan kebunnya. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Harjo, petani sukses yang kini menjadi panutan sebagian besar warga Kampung Surya Kencana.

Harjo sudah di ladangnya sejak pagi hari, namun di dalam hati dan pikirannya tidak terlalu betah berlama-lama di ladang yang awalnya ditanami padi itu.

Hari ini, Harjo seperti kesulitan berkonsentrasi. Sebagai contoh seharusnya Dia membawa cangkul sebab kebunnya sudah ditanami dengan jagung malahan dia membawa arit kecil dan cangkul mini untuk membersihkan padi.

Keringat Harjo bercucuran dengan derasnya, sebab alat yang dipergunakannya kurang tepat. Perasaan aneh dan bingung sedikit menghantuinya, seolah-olah menyuruhnya untuk pulang, namun ditahannya sebab merasa tanggung kalau sampai harus kembali dan mengambil alat yang lain kerumahnya.

Kesulitan mengolah tanah sangat terasa sekali saat ini, dikarenakan masalah tersebut. Lahan yang dikelolahnya jadi kurang maksimal. ***

Kembali ke keadaan di sekolah tempat Wati mengajar.

Wati kini berdiri dihadapan para siswanya. Tatapannya sedikit tajam, tangannya sedikit terkepal. Emosi sedikit menyelimuti pikirannya ditambah cuaca panas terik matahari yang terasa menyengat.

"Mengapa kalian melakukan kesalahan seperti ini? Ibu selalu mengajarkan hal yang baik, agar kalian selalu menghormati ajaran para Guru di sekolah kita, siapa pun itu, tanpa terkecuali. Namun kalian semua sudah membuat Ibu merasa gagal dan malu. Karena kalian sudah tidak mau mengikuti arahan dari Bapak Guru kalian, Pak Slamet." Ucap Wati kepada siswanya terdengar begitu penuh perasaan kecewa.

Ucapan Wati meresap kedalam hati sIswanya, mereka semua tertunduk malu dan merasa bersalah, sehingga tidak ada seorang siswa pun yang mengeluarkan suara. Mereka seperti itu, sebab selama ini Wati adalah guru yang penuh perhatian dan jarang sekali marah. Hari ini berbeda, Wati marah sekali.

Souleh siswa yang sering memberikan jawaban nyeleneh, saja terdiam. Naina yang selalu memberikan jawaban dengan sopan pun terdiam seribu bahasa, tak terkecuali Emil dan siswa lainnya.

"Mengapa kalian seperti ini? Apakah pengajaran dari saya sudah tidak mau kalian ikuti dan pedomani? Atau apakah kalian sudah tidak menginginkan saya sebagai wali kelas kalian?" tanya Wati, dengan wajah yang terlihat sangat serius.

Kepala Wati saat ini terasa pusing bukan hanya dikarenakan kelakuan siswanya, namun juga karena cuaca panas yang menerpa tubuh dan terutama bagian kepalanya.

Tiba-tiba seorang siswa wanita memberikan jawabannya. Siswa itu adalah Naina.

"Tidak... Bu!!! Saya mewakili teman-teman meminta maaf kepada ibu, kami tidak akan mengulangi kesalahan ini. Kami Masih membutuhkan Ibu sebagai wali kelas kami." tutur Naina yang terasa menyayat hati, sebab suara Naina terdengar bergetar dan terasa sangat memendam perasaan sedihnya.

Walaupun kurang serempak terdengar suara para siswa menyetujui pendapat Naina.

Souleh juga yang sudah kelihatan berkeringat sekali, sebab keringat bak jagung sudah membasahi tubuhnya akibat hukuman berlari keliling lapangan yang telah dilakukannya sebanyak 2 kali itu, pun berkata.

"Benar... Bu!!! Saya pribadi juga merasa sangat bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini." ungkap Souleh.

Mendengar perkataan para siswa, Wati merasa lebih lega dan karena waktu saat ini sudah memasuki jam pelajarannya, Wati meminta para siswa untuk menyelesaikan hukumannya dan segera berganti pakaian merah dengan atasan atau kemeja putih seragam sekolah mereka.

Para siswa bergerak menuju kamar mandi dan sebagian menuju ruang kelas mereka, sebab kalau semua siswa berganti pakaian di kamar mandi, maka akan memakan waktu yang lebih lama.

Wati pergi terlebih dahulu menuju ruangan guru, sebab kepalanya mulai terasa pusing, sehingga dirinya tidak menyadari keberadaan seorang siswa lain yang bukan siswanya.

Wati segera menemui Kepala Sekolah Dasar tempatnya mengajar untuk melaporkan, bahwa hukuman untuk siswa sudah berakhir, sehingga siswa sudah diberikan izin olehnya memasuki ruangan kelasnya.

Seorang guru di sekolah itu, merasa gagal semua yang direncanakannya untuk menghukum siswa agar Wati tidak perlu masuk ke dalam kelas untuk mengajarkan, agar mereka mempercepat kepergian mereka ke Balai Kampung.

Ternyata Wati juga meminta izin Kepala Sekolah untuk pergi ke Balai Kampung, seperti yang diminta oleh Kepala Kampung.

Kepala Sekolah memberikan izin, bahkan kalau Wati ingin berangkat saat ini juga, namun Wati meminta izin berangkat ke Balai Kampung sebelum jam makan siang yang artinya Wati tetap dapat masuk ke ruangan kelasnya dan menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu.

Akankah Wati dan Slamet tiba tepat waktu di Balai Kampung?

Bagaimana kisah selanjutnya?

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!