Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: "Gelang Ini Cocok Untukmu"

Lima hari setelah demamku turun, Damar datang ke tempat Mbak Laras membawa sebuah kotak.

Aku berada di sana untuk mengembalikan baju pinjaman dan membantu menyusun daftar tamu. Seharusnya aku pulang sebelum sore, tetapi hujan menahan kendaraan di jalan. Ketika bel berbunyi, tubuhku langsung tahu siapa yang berdiri di balik pintu.

Sebelum itu, kami sempat duduk berdua di lantai ruang tamu. Kartu-kartu nama keluarga tersebar di sekitar laptop. Mbak Laras mencoret dua nama kerabat yang tak bisa datang, lalu menyodorkan sebungkus biskuit kepadaku.

"Ayah bilang kamu belum mau pulang ke rumah," katanya.

"Aku pulang kalau Ibu sudah nggak marah."

"Ibu menyesal. Cuma gengsi mengaku."

"Pipiku yang ditampar, tapi aku juga yang harus memahami gengsinya."

Mbak Laras menunduk. "Aku sudah bicara keras sama Ibu."

Aku menatapnya. "Mbak membelaku?"

"Aku nggak selalu tahu harus bagaimana, Sekar. Tapi bukan berarti aku nggak sayang." Ia memutar cincin di jarinya. "Setelah menikah nanti, aku mau bantu kamu cari tempat tinggal. Bukan supaya kamu melayaniku. Supaya kamu bisa punya ruang sendiri."

Dadaku melunak meski tak sepenuhnya. "Aku sedang menunggu hasil wawancara. Kalau diterima, aku akan bayar sendiri."

"Baik. Anggap bantuan dariku pilihan cadangan."

Ia tidak memaksa. Untuk beberapa menit, aku hampir mengatakan bahwa masalah terbesar kami bukan Ibu. Aku hampir membuka catatan di ponsel, menunjukkan daftar kebetulan, dan bertanya apakah ia mengenali parfum Damar pada malam hujan.

Namun cincin itu berkilau di antara jemarinya. Wajahnya tampak lelah sekaligus bahagia saat membicarakan undangan.

Aku menunda lagi.

Mbak Laras menyambutnya dengan senyum. "Mas bilang ada rapat sampai malam."

"Selesai lebih cepat."

Damar masuk dan meletakkan keranjang buah di meja. Hadiah resmi untuk orang yang baru sembuh, lengkap dengan kartu bertuliskan nama Mbak Laras sebagai pengirim bersama.

"Terima kasih," kataku tanpa menatapnya.

"Kondisimu?"

"Sudah baik."

"Masih sakit kepala?"

Jari yang memegang pulpen mengencang. "Nggak."

Mbak Laras tidak menyadari apa pun. Ia sibuk menunjukkan daftar keluarga yang belum memberi kepastian. Damar duduk di seberangnya dan memberi jawaban singkat. Aku memilih kursi dekat pintu balkon, cukup jauh untuk pergi jika perlu.

Selama hampir dua puluh menit, Damar sama sekali tidak mengajakku bicara. Aku mulai meragukan kewaspadaanku sendiri. Mungkin ia benar-benar datang untuk Mbak Laras. Mungkin semua yang kucatat adalah pola yang kubentuk karena takut.

Lalu Mbak Laras bangkit. "Aku buatkan teh. Sekar, mau?"

"Nggak."

Jawabanku terlalu cepat. Ia mengira aku masih trauma pada rasa mual dan hanya mengangguk.

Begitu pintu dapur tertutup, Damar mengeluarkan kotak kecil dari saku dalam jas.

"Apa itu?"

"Tanganmu."

"Apa?"

"Berikan."

Aku berdiri. "Nggak."

Damar juga bangkit. Ia membuka kotak tersebut. Di atas kain hitam terbaring gelang batu giok dengan pengait emas, halus dan dingin dalam cahaya sore.

"Saya melihatnya di Surabaya," katanya. "Warnanya cocok dengan kulitmu."

"Berikan ke Mbak Laras."

"Ini bukan untuk Laras."

Suara air mengalir dari dapur. Jarak kami hanya beberapa langkah, tetapi aku merasa terjebak seperti di dalam mobil.

"Mas bawa pulang."

"Tidak."

Ia mendekat. Aku bergerak menuju balkon, lalu sadar pintunya terkunci. Damar tidak terburu-buru. Ia hanya berdiri di depanku dan menunggu seolah penolakanku adalah kebiasaan yang akan habis sendiri.

"Aku akan panggil Mbak Laras."

"Panggil."

Tantangannya membuat tenggorokanku kering. Jika Mbak Laras datang, Damar mungkin tersenyum dan berkata gelang itu hadiah keluarga. Aku akan terlihat panik lagi. Ia selalu meninggalkan jalan keluar yang hanya bisa kupakai dengan harga kehilangan kepercayaan semua orang.

"Kenapa aku?" tanyaku.

"Karena gelang ini cocok untukmu."

Ia mengatakannya seperti jawaban lengkap.

Damar meraih pergelangan tanganku. Aku berusaha menarik diri, tetapi pengait gelang sudah terbuka. Batu dingin menyentuh kulit.

"Lepaskan."

"Diam sebentar."

Kata itu memecah sesuatu di kepalaku.

Kilat. Kasur turun. Telapak yang menahan. Suara yang sama.

Aku mendorong dadanya. Damar mundur setengah langkah, tetapi genggamannya belum lepas.

"Mas yang masuk ke kamarku malam itu?"

Pertanyaan keluar sebagai bisikan.

Matanya menatap lurus ke mataku. Tidak terkejut. Tidak bingung.

"Malam yang mana?"

"Jangan pura-pura."

"Kalau kamu ingin menuduh saya, ucapkan dengan jelas."

Aku membuka mulut. Suara cangkir beradu dari dapur membuatku menoleh. Saat itulah Damar mengunci pengait gelang.

Klik.

Batu giok melingkari pergelanganku.

"Lepaskan sekarang."

Ia menekan ibu jari tepat di atas denyut nadiku. "Simpan."

"Aku akan buang."

"Kamu tidak akan membuangnya."

Keyakinannya membuat perutku mual.

Langkah Mbak Laras mendekat. Aku menarik lengan baju menutupi gelang. Damar langsung melepaskan tangan dan kembali ke kursinya.

"Kenapa berdiri?" tanya Mbak Laras sambil membawa nampan.

"Aku mau pulang."

"Hujannya masih besar."

"Aku pesan taksi."

Mbak Laras menaruh cangkir. "Tunggu reda sedikit."

"Biarkan," kata Damar. "Sekar pasti punya urusan."

Ia menyebut namaku sambil mengangkat teh, tenang, seolah gelang yang tersembunyi di balik lengan bukan miliknya.

Aku memesan kendaraan. Sepanjang menunggu, tangan kiri kusimpan di bawah meja. Batu giok terasa semakin berat setiap detik. Mbak Laras bercerita tentang keluarga Damar di Surabaya dan tak menyadari calon suaminya baru saja menandai adiknya dengan perhiasan.

Ketika taksi datang, aku berpamitan terlalu cepat. Damar tidak menatapku lagi sampai pintu lift hampir tertutup.

Baru saat itu pandangannya turun ke pergelangan yang kusembunyikan.

Di dalam kendaraan, aku mencoba membuka pengait. Kuku patah, kulit memerah, tetapi gelang tidak lepas. Pengemudi bertanya apakah aku butuh bantuan. Aku bilang tidak dan memasukkan tangan ke dalam tas.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar. Dengan ujung penjepit rambut, akhirnya pengait itu terbuka. Gelang jatuh ke atas meja dengan bunyi kecil.

Aku hampir membuangnya ke selokan.

Namun kata-kata Bu Lina muncul di kepala: kalau ada yang perlu diperiksa. Catatan peristiwa. Bukti yang tidak boleh menguap.

Aku memotret gelang dari beberapa sudut, menyimpan foto di surel, lalu membungkusnya dengan saputangan. Benda itu kumasukkan ke dalam kotak paling belakang lemari untuk sementara.

Pada catatan, kutulis jam Damar datang, berapa lama Mbak Laras berada di dapur, dan kalimat yang ia ucapkan. Aku juga memotret bekas tekanan di nadiku dengan gelang diletakkan di sampingnya sebagai pembanding. Bukan laporan polisi. Belum. Hanya cara untuk memastikan besok pagi aku tidak meyakinkan diri bahwa semua ini terlalu kecil untuk dianggap nyata.

Foto dan catatan itu kukirim ke dua alamat surel yang berbeda, sebagai cadangan jika ponselku hilang lagi.

Di kulitku tertinggal lingkaran merah tipis.

Gelangnya sudah kulepas, tetapi kalimat Damar tetap melilit.

Gelang ini cocok untukmu.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!