Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Pembantai Dewa

Sang Pembantai Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sarmadi

BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.

👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9 penghianatan xifeng fanyun dan yunlan.

"Ambil rute sebelah kiri," pimpin Yefan seraya meneliti peta di tangannya.

"Sebentar lagi kita akan sampai," gumam Yunlan.

"Hm, benar," sahut Xifeng dan Fanyun.

Masing-masing melemparkan tatapan berbinar penuh kegembiraan, seolah mengabaikan deretan luka yang menghiasi tubuh mereka akibat pertarungan melawan binatang-binatang buas di sepanjang perjalanan.

Tak terasa, enam hari telah berlalu.

"Itu di depan! Cepat bersembunyi!" bisik Xifeng mendadak.

Keempatnya, termasuk Yefan, segera bergerak cepat dan merapat ke balik lereng gunung yang luas.

Kini mereka dikelilingi jajaran gunung menjulang tinggi yang dipenuhi vegetasi liar. Tepat di hadapan mereka menganga sebuah gua raksasa yang diselimuti aura kelam dan mencekam.

Di tengah gua, terbentang sebuah kolam berdiameter sepuluh kaki dengan permukaan air berwarna hitam pekat, seolah-olah menampung kegelapan itu sendiri.

Tepat di pusat kolam, sebatang Teratai Hitam Tujuh Daun mengapung dengan anggun.

teratai hitam tujuh daun itu memancarkan energi sepiritual murni yang begitu segar. Meski jarak mereka masih cukup jauh, energi sepiritual yang terbawa angin saja sudah cukup membuat stamina Yefan, Yunlan, Xifeng, dan Fanyun terasa kembali pulih.

Namun, perhatian mereka segera terpatri pada ancaman di tepi kolam.

Seekor Tupai Berekor Tiga tengah tertidur dengan mata terpejam, sambil menyerap energi spiritual yang terpancar dari teratai tersebut demi memicu evolusi kecerdasannya.

Teratai hitam tujuh daun semacam ini memang menjadi rebutan utama para binatang buas di Hutan Belantara Timur.

"Sepertinya kecerdasan tupai itu sudah mulai terbentuk, meski belum sempurna," bisik Yunlan, mengingat kembali catatan dari buku yang pernah dibacanya di desa.

"Informasi dari Kepala Desa mengenai tupai yang belum berakal rupanya sudah usang," timpal Fanyun dengan raut ragu.

"Lalu, apa rencana kita?" tanya mereka bertiga serempak, mengarahkan pandangan penuh harap kepada Yefan.

Yefan tak bergeming sejenak.

Pikirannya berputar cepat, menyusun berbagai kemungkinan dan mencari taktik dengan tingkat keberhasilan tertinggi.

"Yefan, kami harap kamu tidak memasukkan ke dalam hati soal perselisihan kita kemarin," ujar Xifeng memecah keheningan. "Kami sempat menyalahkanmu, meski kami tidak tahu pasti alasanmu membebaskan musuh. Tapi bagaimanapun juga, Teratai Hitam Tujuh Daun ini adalah satu-satunya harapan kami bertiga untuk melangkah ke jalan kultivasi. Kami mohon bantuan maksimalmu."

"Benar, Yefan," sahut Yunlan. "Kelak setelah kami menjadi kultivator sejati, kami bertiga yang akan melindungimu—meski kamu sendiri tidak bisa berkultivasi."

Yefan hanya mengulas senyum tipis.

Sikap kawan-kawannya ini tak pernah berubah sejak dulu.

Suka menyalahkan, lalu meminta maaf, kemudian kembali berteman seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

"Baiklah. Aku yang akan memancing tupai itu keluar. Tugas kalian hanya satu: ambil teratai itu secepat mungkin."

Lagipula, sekalipun mereka tidak meminta bantuannya, Yefan tetap akan mengambil teratai hitam tujuh daun tersebut demi Kepala Desa.

Namun, usul Yefan justru membuat ketiganya terperanjat.

"Yefan, itu terlalu berbahaya! Kita berada di perbatasan area dalam hutan. Jangan bertindak nekat, apalagi tupai itu sedikit lagi akan memiliki kecerdasan sempurna!" cegah mereka dengan raut cemas.

"Tak perlu cemas. Aku sudah punya perhitunganku sendiri," jawab Yefan tenang seraya mencengkeram busur tulang yang tersampir di bahunya.

Saat jemari Yefan menyentuh permukaan busur tersebut, ikatan garis keturunan mendadak terpicu.

WUUUUM!

Busur tulang itu memancarkan aura tajam yang menggetarkan udara. Tekanan yang terpancar bahkan setara dengan tekanan seorang kultivator Ranah Pemurnian Qi tahap awal, membuat Yunlan, Xifeng, dan Fanyun tersentak kagum.

"Ini... apakah ini pusaka peninggalan ayahmu?" tanya Xifeng takjub.

"Ya," jawab Yefan singkat.

"Luar biasa, Kawan! Kalau begitu, mari kita jalankan rencana ini. Yefan, jangan memaksakan diri," peringat Fanyun.

Mereka tahu betul bahaya besar di balik penggunaan pusaka milik ayah Yefan tanpa adanya qi.

"Tenang saja, Fanyun. Jika kondisi memburuk, kami bertiga akan menerobos untuk menyelamatkan Yefan," timpal Yunlan.

Yefan mengangguk.

Kemudian, dengan langkah perlahan dan terukur, ia keluar dari persembunyian. Ia memanfaatkan batang-batang pohon raksasa untuk menyelinap mendekati sang tupai tanpa membangunkan binatang buas tersebut.

Setelah berada dalam jarak tembak, Yefan menarik tali busur tulangnya secara perlahan.

WUUUM!

Seketika, gejolak aura dahsyat meledak dari busur tersebut, menciptakan tekanan kuat yang membuat pepohonan di sekitarnya merunduk.

"Uhuk!"

Yefan serta-merta memuntahkan seteguk darah kental.

Esensi darahnya mulai disedot secara paksa oleh busur tersebut.

Ia menggertakkan gigi, menahan rasa sakit luar biasa yang menjalar dan membakar pembuluh darahnya. Dengan susah payah, ia terus menarik tali busur hingga melengkung sempurna.

Namun, gejolak aura yang terlampau kuat itu akhirnya membangunkan Tupai Berekor Tiga dari tidur nya.

"Ciiittt! Ciiittt!"

Tupai itu mencicit murka.

Ketiga ekornya melambai liar saat menyadari keberadaan seorang manusia yang tengah mengarahkan busur maut kepadanya.

Tanpa ragu, Yefan melepaskan tarikan jarinya.

WUS!

Anak panah gaib melesat membelah udara dengan kecepatan ekstrem.

Tupai tersebut mencicit makin histeris saat menyadari serangan dahsyat itu mengarah tepat ke kepalanya.

WUS!

Mengandalkan refleks dan kelincahan alaminya, sang tupai berusaha menghindar pada detik-detik terakhir.

BOOM!

Serangan Yefan gagal meremukkan kepalanya.

Namun, anak panah gaib itu tetap menembus perut sang tupai hingga tubuhnya terlempar keras dan menghantam dinding gua.

DUARR!

Dinding batu runtuh seketika, mengubur sebagian tubuh monster tersebut.

"Ciiittt! Ciiittt!"

Dengan isi perut yang terburai dan tubuh berlumuran darah, tupai itu meraung lemah sembari berusaha merayap keluar dari reruntuhan.

Mata merah menyala miliknya terkunci penuh dendam pada Yefan, yang saat itu tengah terbatuk-batuk hebat.

Yefan tidak menyangka efek penyerapan darah dari busurnya akan separah ini.

Tubuhnya gemetaran hebat bahkan hanya untuk sekadar berdiri tegak.

Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan berlari menjauh untuk memancing monster tersebut pergi.

"Ciiittt! Ciiittt!"

Sang tupai melesat mengejar Yefan dengan jeritan melengking yang memekakkan telinga.

Gawat, dia sedang memanggil kawanannya! batin Yefan seraya menggertakkan gigi.

Ia sadar, jeritan tupai tersebut merupakan sinyal darurat bagi kelompoknya.

Melihat fokus tupai telah teralih sepenuhnya kepada Yefan, Fanyun, Yunlan, dan Xifeng bergerak secepat kilat menerobos ke dalam gua.

Mereka tahu waktu yang tersisa sangat terbatas.

BYUR! BYUR!

Menggunakan senjata masing-masing, mereka membelah permukaan kolam hitam dengan cekatan hingga akhirnya Teratai Hitam Tujuh Daun berhasil dipetik dengan sempurna.

Di sisi lain, Yefan masih bertarung mempertaruhkan nyawanya demi menghindari terkaman sang tupai.

Ia mengombinasikan Teknik Pemblokir dan Teknik Bayangan yang baru saja ia tiru dari Yulin Zou.

Setiap kali yefan berniat kembali menggunakan busurnya, gerakan cepat sang tupai selalu memotong ruang geraknya.

membuat yefan menggertakkan gigi, akan kecepatan lawan nya

Sesekali, pandangan Yefan melirik ke mulut gua, menantikan keberhasilan rekan-rekannya.

WUS! WUS!

Tak lama kemudian, tiga sosok melompat keluar dari dalam gua sembari menggenggam erat Teratai Hitam Tujuh Daun.

Menyadari dirinya telah dijebak dan harta karunnya dicuri, Tupai Berekor Tiga meraung murka.

Ia mengabaikan Yefan dan menyeret tubuhnya yang beredelan, melesat menuju Xifeng, Fanyun, dan Yunlan demi merebut kembali harta teratai hitam tujuh daun.

Melihat ketiga rekannya telah mengamankan teratai dan menyadari adanya celah waktu, Yefan mengabaikan keselamatan dirinya.

Ia kembali menarik tali busur tulang hingga batas maksimal.

Kali ini, ia berniat mengakhiri pertempuran sebelum kawanan tupai lain tiba.

BOOM!

Aura mengerikan kembali meledak dari busur Yefan, terkunci lurus ke arah kepala sang tupai.

WUS!

Anak panah emas yang terkondensasi dari esensi darah yefan melesat.

Kali ini, sang monster tak lagi memiliki kesempatan untuk menghindar.

BOOM!

Kepala Tupai Berekor Tiga hancur berkeping-keping.

Xifeng, Fanyun, dan Yunlan mendesah lega melihat ancaman itu akhirnya berakhir.

Meski berada di ambang kematian, monster yang telah memiliki kecerdasan tersebut tetap terlalu berbahaya bagi mereka jika Yefan tidak menggunakan busurnya.

Kondisi Yefan sendiri sangat kritis.

Ia berkali-kali memuntahkan darah segar akibat esensi tubuhnya yang terkuras habis. Namun, dengan tubuh bertumpu pada sisa tenaga, ia tetap melangkah tertatih-tatih mendekati ketiga rekannya.

Tepat saat itu—

Gelombang aura mencekam mendadak terpancar dari hutan bagian pedalaman.

Disusul teriakan yang bersahut-sahutan dari segala penjuru.

"Ciiit... ciiittt!"

"Bala bantuan tupai-tupai itu akan segera datang!" seru Xifeng panik seraya menatap sekeliling.

"Ia bisa merasakan. Jumlah mereka sangat banyak!" Fanyun berkeringat dingin.

Menghadapi satu tupai saja mereka hampir tidak mampu. Apalagi jika harus berhadapan dengan segerombolan.

Yefan yang menyadari bahaya tersebut memaksa tubuhnya berlari lebih cepat menghampiri mereka.

Namun, begitu Yefan sampai di hadapan ketiga rekannya—

Xifeng, Fanyun, dan Yunlan justru bergerak secara mendadak!

SRET!

Cambuk Yunlan melesat cepat dan membelit tubuh Yefan hingga terkunci.

Sebelum Yefan sempat bereaksi—

SRET!

Pedang Xifeng menusuk telak dadanya hingga menembus punggung.

BERS!

Pada saat bersamaan, kapak Fanyun menghantam perut Yefan, merusak organ dalamnya.

"Uhuk!"

Yefan memuntahkan darah yang bercampur pecahan organ.

Tatapan matanya dipenuhi guncangan dan ketidakpercayaan yang mendalam.

"Kalian... mengapa... melakukan ini padaku?" bisik Yefan terbata-bata.

Xifeng menyunggingkan senyum dingin yang terasa begitu asing.

"Hehe... baiklah. Karena kamu sebentar lagi akan mati, akan kubuat kamu mati dengan tenang."

"Yefan, kami sangat membencimu karena kamu membebaskan bawahan Yulin Zou! Kamu bahkan memberikan cakar besi gorila itu kepada mereka! Kamu pasti punya niat busuk terhadap kami!" lanjut Xifeng dengan tatapan dingin. "Gara-gara tindakan bodohmu, kami sekarang terancam diburu oleh Keluarga Yujin!"

Ia berhenti sejenak, lalu menyeringai.

"Meski kami tidak takut."

"Dan yang kedua..." Yunlan melangkah maju dengan tatapan tanpa belas kasihan. "Kami hanya memanfaatkanmu demi mendapatkan Teratai Hitam Tujuh Daun ini."

Ia mengangkat teratai hitam tujuh daun di tangannya.

"Sekarang setelah harta ini berada di tangan kami, kamu sudah tidak berguna lagi."

Tatapan Yunlan semakin dingin.

"Sudah saatnya kamu berkorban menjadi tumbal agar kami bisa meloloskan diri dari kawanan tupai ini!"

"Hahaha!"

Tawa Fanyun meledak kejam.

"Orang tanpa masa depan seperti dirimu yang bahkan tidak memiliki dantian seharusnya merasa terhormat bisa menjadi batu pijakan bagi kami yang kelak akan menjadi kultivator agung!"

"Hahaha!"

Yefan terdiam membisu di tengah genangan darahnya sendiri.

Ia sadar, penjelasan apa pun mengenai cakar gorila tidak akan ada gunanya.

Semua itu hanyalah topeng pembenaran.

Sejak awal, mereka memang hanya memanfaatkan kesetiaannya.

Dan ketika krisis tiba, nyawanya dijadikan tumbal tanpa sedikit pun keraguan.

"Uhuk!"

Yefan kembali memuntahkan darah.

"Selamat tinggal di alam baka, Yefan," seringai mereka bertiga.

WUS! WUS!

Tanpa penyesalan sedikit pun, ketiganya melesat pergi, meninggalkan Yefan yang tergeletak sekarat sebagai umpan untuk menarik perhatian kawanan tupai.

"Hahaha..."

Yefan tertawa getir sembari menatap langit.

Betapa konyolnya dirinya karena mempercayai persahabatan ini.

Pantas saja mereka menerima diri nya sebagai teman meski ia tidak memiliki dantian.

"Ciiittt! Ciiittt! Ciiittt!"

Gerombolan Tupai Berekor Tiga akhirnya mengepung lokasi tersebut.

Mendapati jasad rekan mereka yang hancur serta Yefan yang terbaring berlumuran darah, kawanan monster itu memancarkan niat membunuh yang amat pekat.

Mereka bergerak perlahan mendekat.

Siap melumat habis tubuh Yefan.

bersambung.

1
Ed Troivan
plagiat kau
Rozer Cros: diam Diam diam, 🥹
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
bikin yefan jadi alkemis tingkat tinggi yang mana kaisar tianming sendiri harus berlutut dan memberi hormat bikin nanti yefan bantai klan yujin dan hancurkan kaisar itu beserta keluarganya kaisar itu
Fajar Fathur rizky
cepat bikin yefan bantai jendral
Rozer Cros
mksh kk ketitik nya.
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏
intsomi: itu buzzer,jangan di liat komenannya,abaikan saja
total 5 replies
Ed Troivan
Author plagiat, ngga bakal ditamatin
Ed Troivan
Pasti ini karya plagiatmu lagi author tolol, kau bisa-bisanya menerjemahkannya lalu kau ubah nama tokoh-tokohnya makanya nggak kau lanjut novel Sang Penakluk... 👍
Rozer Cros: terima kasih kk udah dukung karya ini meski tidak sebaik yang lain. semoga sehat selalu kk
total 1 replies
Ed Troivan
kok rantaul
Ed Troivan: nggak bertanggung jawab lu Thor
total 4 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Fajar Fathur rizky
nanti bikin yefan bantai keluarga yunjin dengan cara paling kejam dan sadis
Fajar Fathur rizky
cepat bantai yanfeng bikin ranah kultivasi yefan langsung naik ke ranah yang lebih tinggi dari ranah yanfeng
Farhan Sadewa
gereget BNR lihat tingkah laku Yulin zou ini 🤭
Ed Troivan: Author tolol
total 1 replies
Farhan Sadewa
membuat penassran
Farhan Sadewa
penuh misteri👍
Ed Troivan: penuh misteri🤣 author gak jelas. palingan ilang lagi nanti karena nggak bisa plagitin lagi
total 1 replies
Farhan Sadewa
penasarn
Farhan Sadewa
jadi penasaran🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!