JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: JALUR MERAH
Keheningan kembali merayap di dalam ruangan klinik darurat setelah perdebatan kecil itu berakhir dengan kepasrahan Nasya. Eksan masih memejamkan matanya, menikmati sisa-sisa kehangatan dari kain basah yang diusapkan Nasya ke wajahnya. Namun, genggaman tangannya di pergelangan tangan gadis itu sama sekali tidak melonggar. Baginya, kontak fisik sekecil apa pun adalah bukti nyata bahwa pusat hidupnya tidak pergi menjauh.
Suara deru mesin mobil van terdengar berhenti di depan bengkel, disusul oleh suara pintu besi yang digeser perlahan. Tidak lama kemudian, langkah kaki Rangga yang tergesa-gesa terdengar mendekati ruang perawatan. Pintu kayu diketuk dua kali sebelum akhirnya Rangga melangkah masuk ke dalam.
Di kedua tangannya, Rangga membawa sebuah tas olahraga hitam berukuran sedang dan sebuah kantong plastik berisi beberapa perlengkapan darurat. Ia meletakkan tas tersebut di atas meja semen di sudut ruangan, lalu menatap Eksan yang kini kembali membuka mata elangnya.
"Ini semua pakaian bersih dari loker pribadimu, Bos. Aku juga membawakan beberapa potong pakaian baru yang dibeli anak-anak di minimarket depan jalan untuk Nasya, karena kaus milikmu pasti terlalu besar untuk tubuhnya," kata Rangga sembari membuka ritsleting tas hitam tersebut.
Eksan melirik isi tas itu dengan tatapan datar, lalu mengangguk pelan. "Bagus. Tinggalkan kami sendiri, Rangga. Jaga pintu depan dan pastikan Dokter Surya tidak masuk sampai aku memanggilnya."
"Siap, Bos," jawab Rangga patuh. Sebelum keluar, ia sempat melirik Nasya dengan tatapan iba yang tersamarkan, seolah tahu bahwa gadis sekolah itu kini benar-benar telah masuk ke dalam sangkar emas yang tidak akan pernah bisa dibuka lagi.
Setelah pintu kembali tertutup rapat dan terkunci dari dalam, Eksan perlahan melepaskan pegangan tangannya di pergelangan tangan Nasya. Ia menggunakan siku kanannya untuk sedikit menopang tubuhnya, mencoba bersandar pada bantalan ranjang rumah sakit darurat tersebut meski otot-otot perut kirinya langsung menegang tegang akibat jahitan yang masih baru.
"Eksan, jangan banyak bergerak dulu!" seru Nasya panik, refleks mengulurkan kedua tangannya untuk menahan pundak kekar Eksan agar tidak memaksakan diri.
"Aku tidak selemah itu, Nasya," balas Eksan dengan suara rendah yang berat, napasnya sedikit memburu menahan perih, menatap seragam sekolah putih milik Nasya yang kini telah mengering dan berubah warna menjadi merah tua kecokelatan akibat lumuran darahnya sendiri selama pertempuran tadi. "Ganti pakaianmu sekarang. Aku tidak suka melihat darahku mengering di tubuhmu seperti itu."
Nasya menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menatap tas hitam di sudut ruangan, lalu beralih menatap Eksan dengan binar mata yang dipenuhi keraguan. "aku akan menggantinya di kamar mandi luar..."
"Tidak," potong Eksan cepat tanpa bantahan sedikit pun dalam nadanya "Kau ganti pakaianmu di dalam ruangan ini. Tepat di depanku."
Mendengar perintah langsung tersebut, wajah Nasya seketika memerah sempurna. Rasa panik dan malu mendadak menyerang seluruh kesadarannya, mengalahkan rasa takut yang sejak tadi. "Tapi Eksan... kau... kau ada di sini! Aku tidak bisa mengganti pakaian di depan seorang pria!"
pandangan Eksan melihat tajam. Dengan Aura protektifnya yang ekstrem mendadak kembali memancar kuat, menekan seluruh udara di dalam ruangan itu hingga terasa begitu menyesakkan dada. Ia mencengkeram tepi ranjang dengan tangan kanannya yang kekar, menatap Nasya dengan intensitas yang luar biasa tajam.
"Aku tidak peduli, Nasya," ucap Eksan dengan nada suara yang rendah namun sarat akan getaran intimidasi mutlak. "Sudah kubilang, di luar sana tidak aman. Jika kau keluar dari pintu itu bahkan hanya untuk ke kamar mandi, aku tidak bisa menjamin sisa-sisa musuh atau mata-mata lain tidak sedang mengincar dari celah ventilasi. Di dalam ruangan ini, di bawah pengawasanku, adalah satu-satunya tempat paling aman untukmu malam ini."
Eksan, lalu menyipitkan mata elangnya, mengunci pandangan Nasya hingga gadis itu tertunduk gemetar. "Lagipula, kau adalah milikku. Seluruh tubuhmu, jiwamu, dan helai napas adalah hak seorang Eksan Prasetya. Tidak ada satu pun hal dari dirimu yang harus kau sembunyikan dariku."
Nasya meremas ujung seragam sekolahnya dengan jemari yang bergetar hebat. Eksan yang tidak masuk akal ini benar-benar membuatnya merasa terikat tanpa daya. Namun, melihat sorot mata Eksan yang begitu teguh dan dipenuhi kegilaan protektif, ia tahu bahwa berdebat hanya akan membuang waktu dan menguras tenaga pemuda yang sedang terluka parah itu.
Dengan langkah yang sangat pelan dan berat, Nasya berjalan menuju meja semen di sudut ruangan. Ia membuka kantong plastik yang dibawa Rangga, mengambil sebuah kaus oblong hitam polos berukuran longgar dan celana kain training panjang yang masih baru. Tubuhnya bergetar saat ia membalikkan badannya membelakangi Eksan, mencoba mencari sedikit sudut ruangan yang sempit itu.
Eksan tidak memalingkan wajahnya pada saat itu. Matanya tetap terbuka lebar, mengawasi setiap gerak-gerik mungil Nasya dengan tatapan penuh kepemilikan yang nyata. Baginya, melihat Nasya mengganti pakaian di depannya bukan tentang nafsu liar jalanan, melainkan tentang penegasan kuasa sebuah bukti bahwa gadis itu kini telah sepenuhnya tunduk dan berada di bawah kendali perlindungannya.
Nasya membuka kancing seragam sekolahnya satu per satu dengan tangan yang gemetar hebat. Setiap kali kain seragam putih bernoda darah itu terlepas dari kulitnya, angin dingin dari pendingin ruangan klinik darurat terasa menusuk pori-porinya. Dengan gerakan secepat yang ia bisa, ia langsung menyandangkan kaus oblong hitam besar itu ke tubuh mungilnya, menutupi seluruh tubuh bagian atasnya sebelum Eksan bisa melihat lebih jauh.
Setelah mengenakan celana panjangnya, Nasya menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan. Ia berbalik dan kembali berjalan mendekati ranjang Eksan dengan kepala yang tertunduk dalam, tidak berani menatap langsung sepasang mata elang yang sedari tadi melihat setiap gerakannya. Kaus hitam yang longgar itu tampak tenggelam di tubuh Nasya, membuatnya terlihat begitu kontras dengan aura kegelapan yang mengelilingi tempat tersebut.
Eksan memperhatikan penampilan baru Nasya dengan sebuah seringai tipis yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya yang terluka. Ada rasa puas yang luar biasa pekat di dalam dadanya saat melihat gadis itu kini berbalut pakaian hitam warna khas Black Cobra.
"Kemari," perintah Eksan pelan sembari menepuk sisi ranjangnya yang kosong.
Nasya menurut tanpa suara. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan Eksan kembali meraih tangan mungilnya dan mengunci jemari mereka bersama-sama. pegangan tangan Eksan kali ini terasa lebih hangat dan protektif, tidak lagi sekeras sebelumnya namun tetap memancarkan kekuatan kepemilikan yang tidak terbantahkan.
"Mulai besok, jalur merah di kota ini akan berubah, Nasya," bisik Eksan dengan suara rendah yang berat, matanya menatap lurus ke depan menembus dinding klinik. "White Tiger sudah tamat, dan Black Cobra adalah penguasa tunggal atas aspal jalanan ini. Dan kau... akan berdiri di puncak tertinggi bersamaku, aman dari setiap ancaman bajingan mana pun."
Nasya tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya perlahan di lengan kekar Eksan yang dipenuhi tato mawar berdarah, menerima sepenuhnya takdir baru bahwa kebebasannya telah dirampas oleh sang penguasa berandal jalanan demi sebuah perlindungan yang mengerikan.