Ophelia Elizhabet de Ceolum adalah seorang biarawati cantik yang tinggal di Grand Temple of Olympus, kuil terbesar sekaligus pusat kekuasaan agama di Kekaisaran Celestia. Ia selalu mengenakan cadar putih untuk menyembunyikan wajahnya yang luar biasa indah, rambut pirang keemasan, dan mata biru jernih. Namun, Ophelia memiliki rahasia aneh: ia dapat melihat layar misterius berisi percakapan para dewa dan dewi. Awalnya ia mengira dirinya gila, sampai para dewa mulai berebut memberinya berkah. Ketika Saintess resmi terpilih dan konspirasi kuil dimulai, Ophelia perlahan menyadari bahwa dirinya adalah Saintess sejati. Sayangnya, para dewa ternyata jauh lebih merepotkan daripada manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Grand Pope's Arrival
Kata-kata Raphael Elias Montclair mengantung di udara dingin taman belakang Grand Temple of Olympus. Bisikan angin pagi yang melintasi dedaunan pohon mawar seolah tertahan, menciptakan keheningan mencekam yang menusuk hingga ke tulang.
Ophelia Elizhabet de Ceolum mematung. Di balik cadar putih yang menutupi wajahnya, sepasang mata birunya melebar. Pengakuan sang Agung Paus bahwa ia mampu merasakan getaran ilahi yang meriah di sekitar Ophelia adalah sebuah ancaman nyata. Pria di hadapannya bukan sekadar bangsawan atau ksatria suci biasa; Raphael adalah puncak otoritas spiritual kekaisaran, sosok yang memegang kunci komunikasi langsung dengan Olympus.
Paus ini... apakah dia bisa mengetahui segalanya hanya dari fluktuasi mana? batin Ophelia. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya di balik lipatan jubah putihnya yang tebal.
Sebelum Ophelia sempat menyusun kebohongan atau alasan rasional untuk melarikan diri, suara denting nyaring khas sistem ilahi meledak di tengah pandangannya. Layar keemasan melayang yang tadinya mulai meredup kini kembali berkedip-kedip liar dengan warna merah menyala.
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
CRITICAL EMERGENCY: Grand Pope's Perception Triggered!
Perception Accuracy: 94.7%
Divine Anomaly Level: CRITICAL
Sanity Level: 12% (Extreme Collapse)
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GOD OF WAR: SIALAN! Pria suci berambut pucat itu menyadari keberadaan kita! Senyumannya sungguh membuatku ingin melemparkan tombak suci tepat ke wajahnya!]
[GODDESS OF BEAUTY: Asterion, diamlah! Jika kamu terus memancarkan aura membunuhmu lewat sistem, Raphael akan makin mencurigai Ophelia! Lihat, anak itu bahkan tidak berani bernapas!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Secara teoritis, bakat Insight milik Raphael bekerja berdasarkan resonansi jiwa. Semakin banyak dewa yang memfokuskan perhatian pada Ophelia, semakin tinggi frekuensi gelombang ilahi yang terpancar dari tubuhnya.]
[GODDESS OF LOVE: KYAAAAA! Tapi bukankah ini sangat romantis?! Sang Paus termuda yang begitu sempurna dan dingin... secara perlahan tertarik pada rahasia sang Biarawati bercadar! Ini adalah trope penyingkapan rahasia suci yang paling mendebarkan!]
[GOD OF FORTUNE: Aku buka taruhan baru! 200 keping emas bahwa Raphael akan menyuruh Ophelia membuka cadarnya dalam waktu tiga menit ke depan!]
[GODDESS OF WISDOM: Bisakah kalian semua berhenti menambah beban pikiran Ophelia?! Matikan transmisi kalian sekarang jika tidak ingin identitas Saintess ini terbongkar!]
[UNKNOWN GOD: ...Don't scare her.]
Ophelia rasanya ingin menjerit sekencang-kencangnya. Kalian yang membuat situasi ini makin parah, wahai para dewa yang terhormat! amuknya dalam hati. Kalau saja para dewa bisa menahan diri untuk tidak "menonton"-nya secara simultan seperti sedang menyaksikan pertunjukan sirkus, Raphael pasti tidak akan merasakan gelombang energi misterius ini.
Di dunia nyata, Raphael masih berdiri anggun. Sepasang mata amber-nya yang hangat terus menatap lurus ke arah cadar putih Ophelia. Pria itu mengikis jarak di antara mereka, melangkah pelan hingga bayangannya yang jangkung menutupi tubuh Ophelia.
"Mengapa engkau gemetar, Biarawati?" tanya Raphael dengan nada suara yang begitu lembut, namun menyimpan dominasi yang tak terbantahkan. "Apakah kehadiran seorang Paus membuatmu merasa takut?"
Ophelia segera mengatur napasnya, memaksa tubuhnya untuk tidak mundur. Ia membungkuk perlahan, menunjukkan penghormatan setinggi-tingginya.
"Hamba memohon ampun, Yang Mulia," sahut Ophelia, mengusahakan agar intonasi suaranya terdengar datar dan tenang. "Hamba hanyalah orang awam yang merasa terhormat sekaligus tidak layak berada di hadapan wakil para dewa. Mengenai getaran ilahi yang Anda maksud... hamba sama sekali tidak memiliki kemampuan sihir atau berkah khusus untuk memahaminya."
Raphael tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya, jari-jarinya yang panjang dan terawat mendekati tepi kain cadar putih yang menutupi pelipis Ophelia.
Aksi tersebut seketika membuat udara di pelataran taman belakang membeku.
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
WARNING: Physical Contact Imminent!
Entity: Grand Pope Raphael Elias Montclair
Divine Rage Level: 99.9%
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GODDESS OF BEAUTY: JANGANKAN MENYENTUH CADARNYA! TANGAN KOTOR MORTAL TIDAK BOLEH MENYENTUH MAHKOTA KEINDAHAN OPHELIA!]
[GOD OF WAR: AKU AKAN MENGIRIMKAN PETIR DARI SURGA SEKARANG JUGA!]
[UNKNOWN GOD: ...Hand off.]
Tepat sebelum ujung jari Raphael menyentuh kain cadar Ophelia, sebuah gelombang dingin yang sangat pekat mendadak berembus dari arah lorong taman. Bunga-bunga mawar yang mekar di sekitar mereka seketika tertutup lapisan es tipis yang berkilau.
Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat.
"Tampaknya Agung Paus sedang sangat senggang pagi ini hingga memiliki waktu untuk menginterogasi seorang biarawati di tempat yang sepi seperti ini."
Suara itu dingin, tegas, dan dipenuhi dengan otoritas yang sanggup membekukan niat siapa pun.
Ophelia menoleh sedikit dan melihat sosok Adrian Theodore Everhart—Grand Duke of Northern Empire yang dijuluki The Duke of Eternal Winter. Pria bertubuh tinggi besar itu berjalan mendekat dengan langkah anggun. Rambut perak keabu-abuannya berkilau tertimpa cahaya matahari, sementara mata birunya yang sedingin es menatap tajam ke arah tangan Raphael yang masih melayang di udara.
Raphael menarik kembali tangannya dengan sangat tenang. Senyuman ramahnya tidak pudar sedikit pun saat ia berbalik menghadapi sang Grand Duke.
"Ah, Grand Duke Everhart," sapa Raphael lembut. "Saya tidak menyangka Anda akan berjalan-jalan di taman kuil sepagi ini. Bukankah rapat dewan bangsawan mengenai perbatasan utara baru akan dimulai satu jam lagi?"
Adrian menghentikan langkahnya di samping Ophelia. Udara di sekitarnya terasa begitu dingin hingga Ophelia bisa melihat embun nafasnya sendiri. Sang Grand Duke melirik ke arah Ophelia sejenak melalui sudut matanya, memastikan kondisi gadis bercadar itu, sebelum kembali menatap sang Paus.
"Rapat dewan bisa menunggu," ujar Adrian datar. "Namun, melihat Agung Paus tampak menyudutkan seorang biarawati yang sedang menjalankan tugasnya di area kuil... adalah pemandangan yang cukup tidak biasa."
"Saya tidak menyudutkannya, Grand Duke," jawab Raphael dengan nada tenang yang sempurna. "Saya hanya merasakan ada sesuatu yang sangat unik dari jiwa Biarawati ini. Sesuatu yang sangat dekat dengan kehendak Olympus."
Ophelia merasa kepalanya makin berdenyut hebat. Kedatangan Adrian bukannya meredakan situasi, melainkan menambah minyak ke dalam kobaran api. Kini ia terjebak di antara Grand Pope yang penuh intrik dan Grand Duke yang dingin seperti es.
Layar emas di atas kepalanya mendadak meledak dengan deretan teks berwarna keemasan yang makin tidak terkendali.
[GODDESS OF LOVE: OHOOOO! GRAND DUKE DARI UTARA TIBA UNTUK MENYELAMATKAN SANG PRINCESS! INI BENAR-BENAR ENTRANCE YANG SANGAT MEMUKAU!]
[GOD OF WAR: Pria es itu setidaknya lebih bisa diterima daripada si Paus bermuka dua ini! Aku mendukung Adrian untuk membawa Ophelia keluar dari sana!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Fluktuasi suhu di sekitar taman telah turun sebesar 8,4 derajat Celsius akibat pelepasan mana pasif dari Grand Duke Everhart.]
[UNKNOWN GOD: ...Good timing.]
Ophelia memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari celah untuk keluar dari lingkaran setan ini. Jika ia terus berada di antara kedua pria berpengaruh ini, seluruh kuil akan makin yakin bahwa ada yang tidak beres dengannya.
"Hamba memohon maaf yang sebesar-besarnya, Yang Mulia Paus, Grand Duke Everhart," potong Ophelia dengan nada suara serendah mungkin, menarik perhatian kedua pria itu kembali kepadanya. Ophelia membungkuk dalam-dalam. "Tugas kebersihan hamba di perpustakaan bawah tanah belum terselesaikan. Jika tidak ada perintah khusus mengenai keagamaan, hamba mohon izin untuk mengundurkan diri."
Tanpa menunggu persetujuan dari salah satu dari mereka, Ophelia memutar tubuhnya dan melangkah pergi dengan gerakan yang sangat anggun namun cepat, meninggalkan sang Paus dan sang Grand Duke yang saling melempar pandangan penuh arti di tengah taman yang membeku.
Ophelia terus berjalan menyusuri lorong batu, mengabaikan layar sistem ilahi yang masih memuntahkan komentar-komentar absurd di atas kepalanya. Ia memegang dadanya yang berdetak kencang, menyadari bahwa kehidupannya yang tenang sebagai biarawati figuran telah resmi berakhir.
kak fresh tea terima kasih Karna menerima pendapat saya dan memberikan jawapan... maaf kalau sekira nya pendapat saya agak terburu-buru dalam berpendapat pada karya kakak... semangat kak berkarya nya aku akan selalu mendukung karya kakak yang ini dan mengusahakan untuk sampai pada end cerita🤗🤗
waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh 🤗🤗 semangat 😁✊
cerita dan gendre Kakak bagus dan unik tapi cerita nya agak berbelit dan ada beberapa episod yang hampir mirip dari segi cerita dan dialog hanya beda karakter saja dan setelah baca dari eps 1 sampai 40 aku belum menemukan inti dari cerita nya awal dari ceritanya juga sulit aku fahami tidak ada keterangan atau penjelasan lebih kenapa Ophelia yang di pilih para dewa mungkin pendapat ku ini agak terburu-buru Karna baru 40 eps sekarang inti dari cerita nya juga belum keluar tapi sebagai pembaca aku hanya mengutarakan pendapat aku saja kepada kakak penulis aku enjoy juga kok dengan cerita nya😁😁 semangat kakak penulis😁✊
semangat thor up nya 🤗🤗🤗