Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Ibu Tiri
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.

Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.

Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.

yuk ikuti kelanjutannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.12 Aturan main

Leon melangkah hendak melewati ruang keluarga dan melintasi Luna dan Emily yang masih bercanda itu.

Luna menoleh dan memberi hormat pada Leon "Selamat malam Tuan," sapa Luna.

"Hm," Leon menoleh pada Luna dengan menjawab singkat.

Emily yang masih terbawa suasana bahagia segera berlari menghampiri Leon sambil membawa kertas gambar hasil karyanya tadi.

"Papa...! lihat ini, Emily tadi di ajari mewarnai sama mami Luna. Bagus gak?" Emily tersenyum lebar mendongakkan kepalanya berusaha menatap Leon yang tinggi menjulang di hadapannya itu.

Leon menundukkan kepalanya dan menatap kertas gambar yang ada di tangan Emily kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa pada Emily. Senyum lebar Emily langsung menciut dia mengira Leon tidak suka dengan hasil karyanya itu.

"Papa capek, papa mau ke atas dulu," ucap Leon datar yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Emily yang masih berdiri di tempatnya.

Luna yang melihat hal itu, buru-buru berjalan menghampiri Emily, Emily yang melihat Luna menghampirinya langsung menghambur memeluk pinggang Luna sambil menangis "Papa tidak suka gambar Emily, mami Luna..." ucapnya sedih.

Luna berjongkok menghadap Emily menghapus airmata yang mulai turun di pipi lembut anak itu "Tidak sayang, bukannya papa tidak suka gambar Emily, hanya saja papa masih capek baru pulang kerja jadi mungkin dia masih tidak sempat melihat dengan jelas gambar hasil karya Emily..." Luna mencoba menenangkan hati Emily.

"Tapi papa mesti begitu mami Luna, papa tidak pernah memuji karya Emily," ucap Emily masih terisak.

Luna mengusap lembut rambut keriting Emily dengan sayang "Emily jangan bersedih, nanti mami Luna akan bawa gambar Emily ini ke papa ya, biar papanya Emily melihat betapa indahnya gambar hasil karya Emily ini," ucap Luna lembut membuat Emily menghentikan tangisannya.

"Iya mami Luna," ucap Emily mencoba meredam tangisannya.

"Nah gitu dong, jangan menangis lagi ya..mana gambarnya," Luna mengangkat tangan kanannya di depan Emily dan Emily kemudian menyodorkan kertas gambar hasil karyanya itu pada Luna.

"Emily tunggu di sini ya, mami Luna mau ke lantai atas menemui papa," Luna menggendong Emily dan mendudukkannya di sofa ruang tengah.

Kemudian Luna melangkah menuju ke tangga lantai dua, Luna berjalan menaiki tangga lantai dua itu dengan perasaan sedikit ragu tapi demi Emily dia harus lakukan ini.

Luna menghentikan langkahnya saat tiba di depan pintu kamar utama, Leon sedang berada di dalam kamar itu. Dengan perasaan sedikit ragu Luna mencoba mengetuk pintu kamar itu "Tok,tok,tok...Tuan, saya boleh masuk," ucap Luna memberanikan diri.

Leon yang sudah mandi dan sedang duduk-duduk di sofa bad yang terletak di dalam kamar utama itu menoleh ke arah pintu kamarnya sambil memberi perintah "Masuk!" ucap Leon tegas.

Dengan perlahan Luna masuk ke dalam kamar itu dan melihat ke sekeliling mencari keberadaan Leon di dalam kamar itu dan setelah mengetahui Leon yang sedang duduk di sofa sambil melihat keluar jendela itu Luna melangkah perlahan mendekati Leon.

"Ada apa?" tanya Leon sambil melirik Luna sesaat lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah jendela besar kamar utama itu.

"Maaf Tuan, saya hanya sekedar memberitahu Tuan kalau Emily saat ini sedih sekali karena respon Tuan pada hasil karyanya biasa saja tadi,"'ucap Luna yang masih berdiri di samping sofa itu.

Leon menoleh pada Luna sambil mengerutkan kedua alisnya, Dia melihat tangan kanan Luna yang menenteng kertas gambar punya Emily.

"Lantas, aku harus bagaimana? Biasanya juga aku seperti itu, aku tidak mau dia menjadi anak yang haus akan pujian yang bisa saja nanti akan menjatuhkan dirinya," ucap Leon menatap lurus ke arah Luna.

"Tuan, Emily itu masih kecil dia masih butuh apresiasi dari setiap pencapaian yang sudah di buatnya, jadi setidaknya kita harus memberikan apresiasi untuk setiap pencapaiannya sekecil apapun itu dan lagi Tuan sudah merusak mood baiknya hari ini, Dari tadi dia sudah bergembira dan bersuka cita tapi tiba-tiba Tuan membuatnya bersedih, saya hanya sekedar memberikan saran pada Tuan, kalau saya di anggap sudah lancang saya minta maaf tapi ini semua demi kebaikan mental Emily," Luna menatap Leon mencoba memberanikan diri untuk tidak takut pada setiap tatapan dingin mafia itu.

"Berikan kertas gambar itu padaku," Leon mengulurkan tangannya pada Luna.

Luna menyodorkan kertas gambar itu pada Leon "Tunggu aku di ruang makan," ucap Leon datar.

"Baik Tuan, saya permisi," Luna melangkah keluar dari kamar utama dan berjalan menuruni tangga lantai atas itu menuju ke lantai satu menemui Emily yang sedang menunggunya tadi.

Emily langsung beranjak dari sofa ruang tengah itu saat dia melihat Luna datang menghampirinya "Mami Luna, mami Luna tidak di marahi sama papa?" tanya Emily dengan raut wajah penuh kekhawatiran, sepertinya dia tahu sekali karakter papanya itu.

Luna tersenyum pada Emily dan berjongkok memegang kedua lengan Emily "Papa Emily tidak marah sama mami Luna kok, papanya Emily itu orangnya baik kok sayang," ucap Luna pada Emily.

Emily diam dan tidak berkata apa-apa lagi lantas Luna mengajak Emily ke ruang makan menunggu Leon untuk makan malam " Yuk sayang kita ke ruang makan," ajak Luna pada Emily.

"Enggak, Emily gak mau makan bareng sama papa, papa jahat," ucap Emily dengan raut wajah yang kesal.

"Ehhh....gak boleh ngomong begitu sayang...papanya Emily itu gak jahat dia sayang sama Emily, cuma karena papa laki-laki jadi tidak selembut perempuan cara menyayanginya..." Luna mengusap lembut rambut Emily.

Terdengar langkah kaki Leon berjalan ke arah meja makan tempat Luna dan Emily duduk di sana.

Leon mengambil tempat duduk di tengah-tengah sementara Luna dan Emily duduk bersebelahan di hadapan Leon.

Leon mengangkat kertas gambar milik Emily dan berkata " Emily, gambar kamu ini bagus sekali, papa suka melihatnya, besok papa mau lihat gambar-gambar kamu yang lain ya," ucap Leon membuat Luna tersenyum lega.

Emily yang masih anak-anak itu langsung tersenyum lebar mendengar pujian dari papanya yang selama ini hampir tidak pernah diucapkan padanya, kekesalan Emily pada Leon yang tadi sore menguap begitu saja berganti perasaan gembira karena pujian yang di lontarkan Leon barusan.

"Iya papa," ucap Emily tersenyum senang menatap Leon.

...----------------...

Setelah Emily tertidur lelap di kamarnya, Leon memanggil Luna ke ruang kerjanya. Suasana hangat yang sempat tercipta di ruang keluarga seketika menguap, berganti dengan aura intimidatif dan serius dari sang pimpinan mafia.

"Ada apa Tuan?" tanya Luna saat sudah masuk ke dalam ruang kerja Leon.

"Duduk," perintah Leon datar.

Luna kemudian duduk di kursi yang ada di seberang meja kerja Leon, kini mereka sudah duduk berhadapan terpisah oleh meja kerja yang ada di depan Leon.

Leon menyodorkan selembar kertas lampiran baru yang berisi poin-poin penegasan kontrak. Pria itu menyadari adanya perubahan atmosfer di mansion dan respon emosionalnya sendiri saat melihat interaksi Luna dan Emily, sehingga ia merasa perlu memasang benteng pertahanan.

Luna melihat lembaran kertas itu dan dengan wajah kebingungan dia bertanya pada Leon "Apa ini Tuan?" tanyanya.

Dengan tatapan tajam dan suara yang sangat dingin, Leon menekankan syarat paling krusial, tidak boleh ada perasaan cinta di antara mereka. Leon menegaskan bahwa kebaikan dan kehangatan yang ditunjukkan Luna hanya berlaku untuk Emily, bukan untuk memikat hatinya.

Leon memperjelas batasan fisik dan privasi. Luna dilarang mencampuri urusan bisnis gelapnya, tidak boleh bertanya tentang masa lalunya, dan wajib menjaga jarak profesional saat mereka berada di area pribadi tanpa kehadiran Emily.

Bukannya gentar atau tersinggung, Luna justru menyambut syarat itu dengan tenang. Luna menegaskan bahwa ia berada di mansion tersebut murni demi keselamatan dirinya dan kebahagiaan Emily, bukan untuk mencari cinta dari seorang pria dingin seperti Leon.

"Baik Tuan, saya mengerti dan saya berjanji untuk tidak jatuh cinta pada Tuan karena tujuan utama saya di sini adalah untuk mencari keselamatan diri saya dan menjadi pengasuh yang baik untuk Emily," ucap Luna dengan tenang membuat hati Leon sedikit ciut.

"Bagus," ucap Leon dengan tegas.

Kesepakatan tercapai dan kertas lampiran ditandatangani. Namun, saat tatapan mata mereka beradu di bawah remang lampu ruang kerja, ada ketegangan aneh yang tercipta sebuah indikasi bahwa benteng yang mereka bangun justru akan makin sulit dipertahankan. Luna buru-buru mengalihkan pandangannya dari Leon dan begitu juga halnya dengan Leon.

"Saya permisi keluar Tuan," tanpa menunggu jawaban dari Leon, Luna pun akhirnya keluar dari ruang kerja itu.

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
kuy double up kk 🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!