Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Malam semakin larut di kawasan pelabuhan tua yang sepi dan berangin dingin.
Suara ombak kecil berdebur pelan menghantam tiang-tiang dermaga kayu di luar gudang.
Arya duduk bersila di atas lantai kayu yang agak berdebu sambil memandangi sebatang lilin kecil yang menyala redup.
Ia menghembuskan napas panjang, merenungkan nasib sialnya yang terus-menerus dikejar oleh pasukan kerajaan.
"Duh, kalau begini terus cara kerjanya, aku bakal pensiun dini jadi tukang pijit sebelum umur tiga puluh tahun," gumam Arya pelan pada dirinya sendiri.
Vanya yang berdiri di dekat jendela reyot melirik sekilas ke arah pemuda itu dengan tatapan datar.
"Makanya jangan jadi manusia lemah yang hanya bisa mengeluh pada nasib buruk," sindir Vanya dingin.
Arya menoleh cepat lalu mendengus kesal mendengar ucapan tajam dari sang Ratu Iblis.
"Iya deh yang mantan penguasa kegelapan mah enak tinggal perintah dan ngomel doang," balas Arya sewot.
Vanya mendengus pelan, mengabaikan omelan Arya sambil melangkah mendekati pintu keluar gudang.
"Aku mau keluar sekarang untuk melakukan pengintaian di sekitar kota pelabuhan," kata Vanya serius.
Arya langsung menghentikan gerakannya, keningnya berkerut dalam penuh rasa cemas.
"Mau keluyuran malam-malam begini? Jangan cari gara-gara di wilayah orang lain," cegah Arya cepat.
Vanya menoleh dengan sebelah alis terangkat tinggi tanda meremehkan.
"Takut aku tertangkap? Jangan meremehkan kemampuan menyamar seorang Ratu Iblis," balas Vanya dingin.
"Bukannya takut kamu tertangkap, tapi kalau kamu buat keonaran lagi, kita berdua yang bakal kerepotan," ralat Arya.
Vanya mendesah sebal, merasa muak dengan ceramah panjang dari si tukang pijit.
"Sudahlah, jagalah tempat ini dengan benar dan jangan tidur mendengkur seperti babi hutan," ejek Vanya sebelum melompat keluar jendela.
Srrrt...
Bayangan tubuh Vanya melesat cepat menembus kegelapan malam tanpa suara sedikit pun.
Arya mendengus pelan melihat tingkah arogan wanita itu yang selalu pergi sesuka hatinya.
"Dasar ratu keras kepala, dibilangin malah makin menjadi-jadi," umpat Arya seorang diri di dalam gudang luas.
Ia kembali menatap lilin yang menyala redup, merasakan kesunyian malam yang mulai menusuk tulang.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi aktivitas pengintaian jarak jauh.]
[Perhatian: Host disarankan untuk merawat stamina tubuh demi menghadapi konflik esok hari.]
Suara dengungan khas sistem itu tiba-tiba berputar kencang di dalam kepala Arya tanpa aba-aba.
Arya memutar bola matanya malas mendengar notifikasi aneh yang terus muncul di saat tidak tepat.
"Sistem sialan, hobi banget nyuruh aku istirahat padahal hatiku lagi waswas begini," gerutu Arya kesal.
Ia merebahkan tubuhnya di atas tumpukan jaring ikan bekas yang dijadikan alas tidur darurat.
Kriet...
Suara angin malam berembus melewati celah-celah dinding gudang yang sudah mulai rapuh.
Arya memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa lelah yang menggelayuti sekujur tubuhnya.
Waktu berjalan lambat, jam demi jam berlalu dalam keheningan malam yang panjang di pelabuhan.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara derap langkah kaki ringan mendekati jendela gudang.
Tap... tap... tap...
Suara itu berhenti tepat di ambang jendela kayu yang terbuka.
Arya langsung melompat bangun dari tidurnya dengan jantung berdegup kencang bukan main.
"Siapa di sana?!" seru Arya waspada sambil mengambil sebatang kayu di dekatnya.
"Ini aku, jangan berteriak seperti orang bodoh," jawab suara dingin Vanya dari luar jendela.
Arya menghembuskan napas lega, lalu menurunkan kayu di tangannya ke lantai.
Vanya melompat masuk ke dalam gudang dengan gerakan anggun tanpa suara sedikit pun.
"Udah balik? Gimana situasi di kota pelabuhan sana?" tanya Arya langsung penasaran.
Vanya berjalan mendekati meja kecil tempat lilin menyala lalu duduk di atas peti kayu kosong.
"Situasinya tidak sedang baik-baik saja," jawab Vanya dengan wajah serius.
Arya mengerutkan keningnya dalam-dalam, merasakan firasat buruk mulai merayap di dadanya.
"Maksudmu? Apa pasukan istana sudah masuk ke wilayah kota pelabuhan ini?" selidik Arya cemas.
Vanya mengangguk pelan membenarkan dugaan yang diucapkan oleh pemuda di depannya itu.
"Benar, aku melihat puluhan pasukan bayangan elit berpatroli ketat di setiap sudut jalan utama," lapor Vanya.
"Sialan, mereka bergerak cepat sekali melintasi perbatasan," umpat Arya mengusap wajahnya kasar.
"Bukan cuma berpatroli, mereka juga menyebar poster buronan bergambar wajah kita berdua," lanjut Vanya.
Arya terbelalak kaget mendengar informasi penting yang dibawa oleh sang Ratu Iblis.
"Wah, gawat darurat kalau begitu, identitas kita pasti bakal langsung dikenali warga lokal," ucap Arya panik.
Vanya mendengus dingin melihat kepanikan yang melanda wajah sang tukang pijit.
"Kenapa harus panik? Bukankah lebih baik kita habisi saja semua pasukan itu sekarang juga?" usul Vanya kejam.
"Jangan gila! Kalau kita menyerang duluan, seluruh tentara kota bakal mengepung gudang ini," bantah Arya tegas.
Vanya mengepalkan tangannya kesal, merasa strategi Arya terlalu penakut untuk ukuran seorang pejuang.
"Lalu apa rencana bodohmu selanjutnya? Mau bersembunyi di sini sampai mati kelaparan?" sindir Vanya tajam.
Arya terdiam sejenak, memutar otaknya keras-keras mencari jalan keluar dari situasi pelik ini.
"Kita harus pindah sebelum pagi datang, cari kapal penyelundup yang mau membawa kita ke pulau seberang," putus Arya.
Vanya mengangkat sebelah alisnya mendengar usulan nekat dari mulut pemuda di depannya.
"Kapal penyelundup? Apa kamu yakin ada kapten kapal yang mau membawa buronan istana?" tanya Vanya meragukan.
"Mau tidak mau kita harus mencobanya, daripada tertangkap basah di sini," jawab Arya mantap.
Vanya menghela napas pasrah, menyadari bahwa mereka memang tidak punya pilihan lain yang lebih baik.
"Baiklah, terserah pada rencana anehmu itu, kapan kita akan bergerak ke dermaga?" tanya Vanya.
"Kita tunggu sampai tengah malam nanti saat penjagaan dermaga mulai mengantuk," jawab Arya melirik jam.
Sambil menunggu waktu keberangkatan, suasana di dalam gudang pelabuhan kembali terasa hening.
Arya membereskan tas usangnya, memastikan semua botol minyak pijit herbal tersimpan aman di dalam.
Vanya memperhatikan setiap gerak-gerik Arya dengan tatapan mata merahnya yang menyala lembut.
"Arya," panggil Vanya memecah keheningan malam di antara mereka berdua.
Arya menoleh sekilas ke arah Vanya dengan sebelah alis terangkat tinggi tanda tanya.
"Ada apa? Tiba-tiba manggil namaku dengan nada serius begitu," jawab Arya penasaran.
Vanya terdiam sejenak, ragu-ragu sejenak sebelum mengeluarkan kalimat dari mulutnya.
"Kenapa kamu terus mempertaruhkan nyawamu untuk menolong dan melindungiku selama ini?" tanya Vanya lirih.
Arya tertegun sejenak mendengar pertanyaan mendalam yang tak terduga dari sang Ratu Iblis.
Ia tersenyum tipis, lalu duduk di atas peti kayu berhadapan langsung dengan Vanya.
"Bukannya aku mau jadi pahlawan kesiangan, tapi takdir kita sudah terikat gara-gara sistem sialan itu," jawab Arya jujur.
Vanya mengerjap kaget, menatap lurus ke dalam mata Arya tanpa berkedip sedikit pun.
"Terikat sistem? Hanya itu alasannya?" tanya Vanya memastikan kembali ucapan pemuda itu.
"Bukan cuma itu, lama-kelamaan aku sadar kalau kamu nggak seburuk yang dibicarakan orang-orang di luar sana," lanjut Arya.
Wajah Vanya seketika berubah merah padam mendengar pengakuan blak-blakan dari sang tukang pijit.
Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan rasa salah tingkah yang luar biasa.
"B-Banyak bicara! Siapa juga yang peduli dengan pendapatmu tentang diriku!" sangkal Vanya gugup.
Arya tertawa kecil melihat tingkah salah tingkah dari Ratu Iblis yang biasanya sangat dingin dan angkuh.
"Iya deh yang gengsi mau ngakuin kalau kita ini sudah jadi partner pelarian yang kompak," goda Arya.
Vanya mendelik tajam ke arah Arya sambil memunculkan kilat merah di matanya.
"Awas ya kalau kamu meledekku lagi, kucincang mulutmu jadi makanan ikan!" ancam Vanya galak.
"Ampun, Yang Mulia Ratu, saya cuma ngomong fakta," balas Arya cengengesan tanpa rasa takut.
[Peringatan Sistem: Tingkat kedekatan emosional Host dan Target mencapai titik puncak harmonis.]
[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +20 poin sistem total menjadi 135 poin.]
Suara dengungan khas sistem itu berputar singkat di dalam kepala Arya tanpa mengganggu suasana.
Arya mengabaikan notifikasi tersebut dan kembali menatap jam tua di dinding gudang.
"Nah, waktu tengah malam sudah tiba, saatnya kita bergerak ke dermaga kapal penyelundup," ajak Arya.
Vanya berdiri dari duduknya, merapikan jubah hitamnya dengan gerakan anggun penuh percaya diri.
"Ayo kita pergi, tunjukkan jalan menuju kapal penyelundup itu, Arya," perintah Vanya siap.
Mereka berdua berjalan keluar meninggalkan gudang pelabuhan menuju dermaga gelap di tepi laut.
Angin malam berembus kencang membawa aroma air asin yang pekat menusuk hidung mereka berdua.
Arya dan Vanya melangkah hati-hati dalam kegelapan, memulai babak baru pelarian mereka malam ini.