Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Melodi Panggung dan Binar Mata Sang Ketua

Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga SMA Nusantara Jaya akhirnya tiba. Lapangan utama sekolah yang luas disulap menjadi area Festival Pentas Seni (Pensi) tahunan yang sangat megah. Panggung berukuran raksasa lengkap dengan pencahayaan lampu sorot (spotlight) warna-warni dan tata suara menggema menyedot perhatian ratusan pasang mata. Mulai dari siswa-siswi kelas 10 hingga 12, para guru, hingga alumni tampak memadati area penonton dengan antusiasme yang membumbung tinggi.

Namun, di balik riuhnya panggung utama, suasana di balik panggung (backstage) justru dipenuhi ketegangan yang amat membuncah. Para pengisi acara sibuk melakukan persiapan akhir ada yang merapikan kostum, memoles riasan, hingga mencoba instrumen musik dengan wajah cemas.

Di salah satu sudut tenda rias yang agak sepi, Aleena Putri duduk terpaku menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Ia mengenakan atasan denim kasual yang dipadukan dengan jaket oversized warna pastel, memberikan kesan santai namun tetap elegan. Gitar akustik cokelat kesayangannya gitar yang menjadi saksi bisu perjalanan latihan dan kebersamaannya dengan Rama sejak kelas 10 tersandar rapi di sebelah kursinya.

Meski jemari Alee kini sudah jauh lebih mahir dan lincah dalam menekan kunci-kunci gitar, getaran halus di telapak tangannya tak bisa dibohongi. Ini adalah kali pertama Alee memberanikan diri tampil solo akustik menyanyi sambil memetik gitar di hadapan publik seluas ini. Rasa percaya dirinya yang biasa meluap-luap mendadak menguap, tergantikan oleh gelombang demam panggung yang membuat perutnya mual.

"Aleea?"

Suara berat dan tenang yang sangat familier tiba-tiba memanggil namanya dari balik tirai pembatas tenda. Alee mendongak seketika, dan binar matanya langsung menemukan sosok Rama yang baru saja melangkah masuk. Cowok berkacamata itu mengenakan kemeja biru navy yang lengan bajunya digulung rapi hingga ke siku, lengkap dengan papan nama dan tali ID card panitia Pensi yang melingkar di lehernya.

"Rama!" seru Alee pelan. Raut panik dan tegang di wajahnya seketika mencair sebagian, berganti dengan binar lega yang amat sangat. "Lu kok bisa ke belakang panggung sih? Katanya tadi lu sibuk mengondisikan alur penonton di depan?"

Rama menyunggingkan senyum tipisnya yang selalu berhasil menenangkan suasana. Ia melangkah mendekat, lalu memposisikan tubuhnya berlutut di sebelah kursi Alee agar tinggi pandangan mata mereka sejajar.

"Tugas koordinasi lapangan sudah diambil alih Rendy dan Bima sebentar," ujar Rama lembut. Suaranya jernih menyelinap di antara riuhnya suara sound check dari luar. "Saya cuma mau memastikan Seksi Musik kelas kita ini nggak pingsan duluan sebelum naik ke atas panggung."

Alee menyenggol bahu Rama pelan dengan sikunya, tertawa tawar untuk menutup-nutupi rasa gugupnya yang masih membakar dada. "Dih, mengejek mulu Pak Ketua ini! Tapi jujur ya, Rama... jantung gue rasanya udah mau melompat keluar dari dada nih. Gimana kalau nanti jari gue mendadak kaku pas transisi kunci F? Gimana kalau genjrengan gue sumbang di depan ratusan orang? Bisa hancur reputasi gue!"

Rama menatap teliti pada jemari Alee yang meremas kuat tepi jaketnya. Tanpa ragu sedikit pun, Rama mengulurkan tangannya, memegang lembut telapak tangan Alee yang terasa agak dingin dan gemetaran. Sentuhan hangat jemari Rama yang tegap dan kokoh itu seketika mengirimkan arus ketenangan luar biasa ke seluruh tubuh Alee.

"Dengar saya ya, Alee," ucap Rama pelan namun teramat mantap. Pandangan matanya menatap lurus, terkunci tepat pada manik mata Alee dari balik kaca bening kacamatanya. "Kamu sudah latihan berbulan-bulan. Saya sendiri yang jadi saksi seberapa keras usaha kamu mengasah petikan gitar itu setiap sore habis pulang sekolah. Kamu itu hebat, Alee. Nanti di panggung, mainkan saja lagunya seperti biasa pas kamu lagi latihan di depan saya."

Alee terpaku diam, merasakan kehangatan yang merambat perlahan dari genggaman tangan Rama. "Tapi... kalau gue mendadak blank atau gugup pas lihat lautan orang di depan panggung gimana?"

Rama tersenyum sangat manis sebuah senyuman tulus dan hangat yang selalu berhasil melelehkan pertahanan gengsi Alee.

"Kalau kamu merasa gugup atau lupa nadanya, kamu jangan lihat ke arah kerumunan penonton," bisik Rama sangat lembut. "Kamu cukup lihat ke arah sudut kiri samping panggung. Saya bakal berdiri di sana sepanjang kamu tampil. Bayangkan saja kamu lagi latihan gitar berdua sama saya di kelas belakang."

Blush!

Rona merah muda langsung merebak cepat di kedua pipi Alee. Perhatian kecil dan kalimat pendorong dari Rama bagaikan obat penawar paling ampuh yang melenyapkan seluruh rasa takutnya dalam sekejap. Debaran jantung Alee yang semula berpacu panik kini berganti menjadi debaran penuh kehangatan yang manis.

"Panggilan untuk penampil nomor urut lima, Aleea Putri dari kelas 11 MIPA 1, bersiap di tangga samping panggung!" suara koordinator acara terdengar menggelegar dari pengeras suara internal.

Rama melepaskan genggaman tangannya dengan pelan, lalu berdiri tegak. Ia menyambar gitar akustik cokelat milik Alee, merapikan posisi strap-nya, lalu menyerahkannya ke tangan Alee dengan penuh kebanggaan dan rasa percaya.

"Semangat ya, Alee. Show them what you've got."

---

Ketika pembawa acara menyebutkan nama Aleena Putri, gemuruh sorak-sorai riuh langsung bergema memecah udara dari area penonton. Di barisan paling depan, Nara, Rendy, Bima, dan bahkan Kak Maya yang menyempatkan hadir dari rumah berteriak heboh menyuarakan dukungan, mengangkat papan nama kecil buatan tangan mereka.

Alee melangkah ke tengah panggung dengan gitar tersendang di bahunya. Ia mengatur posisi tinggi mikrofon, menghela napas panjang, lalu duduk di atas kursi kayu tinggi yang telah disediakan di pusat panggung. Lampu sorot (spotlight) putih terang mendadak menembak lurus ke arahnya, membuat pemandangan kerumunan penonton di bawah sana tampak agak buram dan remang-remang.

Rasa demam panggung sempat kembali menyergap dada Alee saat jemari kanannya menyentuh senar-senar gitar. Udara dingin dari panggung seolah membekukan gerakannya sejenak.

Namun, mengingat pesan Rama beberapa menit lalu di tenda rias, Alee dengan cepat menyapu pandangannya ke arah sudut kiri samping panggung.

Di sana, di antara gulungan kabel dan tiang penyangga panggung yang remang-remang, berdiri Ramaditya. Rama berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada, menatap Alee dengan raut bangga yang tak tersembunyi. Rama menyunggingkan senyum tipisnya, lalu mengangguk kecil memberikan kode kepercayaannya yang penuh. Binar mata di balik kaca bening itu seolah menyampaikan pesan tanpa suara "Kamu pasti bisa, Alee".

Alee mengulas senyum lebar yang penuh percaya diri, membuang seluruh rasa ragunya ke udara. Jemari lentiknya mulai memetik senar gitar, membuka pertunjukan dengan melodi akustik yang jernih.

Jreng...

Melodi lagu yang lembut dan penuh perasaan mengalun merdu memenuhi seluruh sudut lapangan sekolah. Transisi dari kunci C, Am, hingga perpindahan ke kunci F yang dulu sering membuat jemari Alee kapalan dan putus asa, kini mengalir dengan sangat mulus, bersih, dan tanpa cacat sedikit pun. Suara vokal Alee yang hangat dan berkarakter menyatu sempurna dengan setiap petikan gitarnya.

Seluruh penonton terpukau mendengarnya. Mereka mulai melambaikan tangan dan mengayunkan tubuh mengikuti alur irama lagu. Namun bagi Alee, lautan penonton itu seolah memudar. Di bawah binar lampu panggung dan riuhnya tepuk tangan, fokus matanya secara berkala selalu kembali menatap satu titik di samping panggung pada sosok cowok berkacamata yang tak pernah mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Alee sejak nada pertama dibunyikan.

Di bait terakhir lagu, Alee memetik senar penutup dengan nada harmoni yang sangat jernih dan manis.

Clap! Clap! Clap!

Gemuruh tepuk tangan, siulan gembira, dan teriakan kagum penonton meledak seketika begitu nada terakhir usai. Alee berdiri dari kursinya, membungkukkan badan memberi hormat ke arah penonton dengan senyum kebahagiaan yang meluap-luap. Dan saat ia menoleh kembali ke samping panggung, ia melihat Rama bertepuk tangan paling keras, menyunggingkan senyum paling lebar dan paling tulus yang pernah Alee lihat dari cowok itu.

---

Usai tampil dan merapikan alat musiknya di belakang panggung, Alee melangkah turun menuju area samping panggung yang agak sepi dari lalu lalang panitia. Langkahnya terhenti saat mendapati Rama sudah berdiri menyambutnya di sana sambil membawa satu botol air mineral dingin.

"Gimana, Pak Ketua? Suara kaleng rombeng gue tadi merusak telinga penonton nggak?" goda Alee dengan raut wajah penuh kemenangan, berusaha menutupi rasa lega dan bahagianya yang membuncah.

Rama terkekeh pelan seraya menyerahkan botol air mineral tersebut. "Sama sekali enggak, Alee. Penampilan kamu benar-benar luar biasa indah. Bahkan tadi pas kamu main, saya dengar banyak anak-anak dari kelas lain yang terpesona sama petikan gitar kamu."

Alee menerima botol itu, meminumnya beberapa teguk, lalu menatap Rama dari jarak dekat. "Tapi... lu tahu nggak, alasan utama gue bisa tampil selancar dan seberani itu tadi kenapa?"

Rama mengaitkan kedua alisnya samar, menatap Alee penasaran. "Kenapa?"

Alee memiringkan kepalanya sedikit, menatap manik mata Rama dengan binar jahil yang berpadu dengan ketulusan mendalam. "Gara-gara gue nurutin saran lu. Sepanjang lagu, gue cuma fokus melihat ke arah samping panggung sebelah kiri. Gue bayangin kita cuma lagi duduk berdua di kelas belakang seperti biasa."

Rama terpaku diam selama beberapa detik. Rona hangat merambat tipis di wajah tenang sang Ketua Kelas. Untuk pertama kalinya, seorang Ramaditya yang selalu terkontrol, tenang, dan rasional tampak sedikit salah tingkah di hadapan Aleena.

"Berarti..." bisik Rama pelan, melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah Alee hingga jarak mereka terkikis. "...posisi saya di samping panggung tadi benar-benar berguna ya buat kamu?"

Alee tertawa renyah, menggeleng pelan dengan mata berbinar. "Bukan cuma berguna, Rama. Tapi kehadiran lu di sana itu yang bikin gue merasa aman dan percaya diri."

Rama menatap Alee dengan pandangan yang teramat dalam dan penuh kehangatan. Di balik riuh dan meriahnya alunan musik Pensi yang masih membahana dari panggung utama, di sudut remang samping panggung itu, sebuah harmoni baru telah tercipta dengan sangat indah. Bukan lagi sekadar hubungan antara Ketua Kelas dan murid latihan gitar, melainkan sebuah ikatan perasaan manis yang kini sudah tidak malu-malu lagi untuk terpancar terang di antara mereka berdua.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!