kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Begitu melangkah melewati pintu ruang kuliah, Nina melupakan sejenak kerumitan dan ancaman di rumah Faris. Di ruangan beraroma kertas sketsa dan cat ini, fokusnya kembali utuh. Ia duduk di barisan tengah, menyerap setiap materi tentang dasar-dasar desain dan komposisi warna dengan sangat cepat. Bakat alaminya yang digembleng lewat latihan mandiri di desa kini makin terasah. Nina belajar dengan tekun, membuktikan pada dirinya sendiri bahwa mimpi menjadi seorang desainer bukan sekadar pelarian.
Beberapa jam berlalu hingga kelas berakhir. Saat melangkah keluar ruangan, perut Nina mendadak berbunyi nyaring. Roti kecil yang ia makan tadi pagi sudah tak berjejak. Mengabaikan rasa sungkan, ia melangkah menuju kantin kampus yang megah.
Kantin itu lebih menyerupai kafe mewah dengan deretan stan makanan modern. Begitu Nina melangkah masuk, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah. Tatapan-tatapan menilai dan merendahkan langsung tertuju padanya. Mahasiswa lain yang mengenakan pakaian bermerek dari atas sampai bawah memandang hijab sederhana dan kemeja polos Nina dengan senyum sinis yang terang-terangan.
Tak jauh dari stan minuman, Hazel sedang berkumpul bersama gengnya. Salah satu temannya menyikut lengan Hazel sambil menunjuk ke arah Nina.
"Zel, itu bukannya cewek yang tadi pagi diturunin sama kakakmu, si Hadin? Saudara jauhmu dari desa, ya?" tanya temannya dengan nada ejekan yang kental.
Hazel melirik Nina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan jijik, lalu tertawa hambar. "Ih, amit-amit! Ya bukanlah! Muka kampungan kaya gitu mana cocok jadi saudara gue? Palingan cuma anak pembantu baru di rumah yang minta tebengan sama Kak Hadin. Malu-maluin banget gaya pakaiannya, kayak orang udik nyasar."
Gelak tawa langsung pecah di meja Hazel. Mereka sengaja berbicara cukup keras agar terdengar oleh mahasiswa lain di sekitarnya.
Nina mendengar setiap kata hinaan itu dengan jelas. Langkah kakinya sempat berhenti sejenak. Jemarinya yang menggenggam tali tas ransel mengencang, menahan dorongan kuat untuk membungkam mulut Hazel saat itu juga. Namun, Nina menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Wajahnya kembali polos dan menunduk, pura-pura terintimidasi dan malu. Ia berjalan gontai menuju salah satu stan makanan, membiarkan orang-orang menganggapnya sebagai gadis desa yang malang dan tak berdaya.
"Tertawalah sesuka kalian hari ini," batin Nina dingin sembari memesan makanannya. "Kalian cuma menilai dari kulit luar, tanpa tahu siapa yang sebenarnya sedang memegang kendali."
Nina melangkah mendekati kasir, mengabaikan bisik-bisik yang masih berseliweran di sekitarnya. Dengan penuh ketenangan yang dibuat-buat, ia memesan satu porsi roti panggang dan segelas jus alpukat untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Saat kasir menyebutkan nominal pembayaran dan menunjuk layar pemindai QRIS serta mesin EDC kartu, Nina merogoh saku tasnya. Sebenarnya, di dalam dompet dan rekeningnya tersimpan saldo yang lebih dari cukup, uang saku melimpah pemberian Paman Juan yang menginginkan keponakannya tak pernah kekurangan di kota orang. Namun, Nina tahu betul aturan mainnya. Mengeluarkan kartu bermerek atau memamerkan transaksi digital hanya akan merusak citra gadis desa miskin yang sedang ia bangun rapat-rapat.
Ia menarik beberapa lembar uang kertas lusuh bernominal kecil, menatanya perlahan, lalu menyerahkannya pada kasir dengan tangan yang sedikit gemetar pura-pura canggung.
"Ganti uang pas ya, Mbak... Pakai cash saja," bisik Nina pelan, memasang wajah polos dan agak ragu.
Aksi itu tak luput dari perhatian sekelompok mahasiswa laki-laki yang berdiri di dekat antrean. Melihat Nina menghitung lembaran uang tunai di era yang hampir semuanya serba digital, tawa bernada ejekan kembali pecah dari meja mereka.
"Buset, zaman sekarang masih ada yang bayar roti pakai cash lecek?, untung cantik..." tawa salah satu dari mereka, cukup keras hingga terdengar ke beberapa meja. "Hari gini nggak punya m-banking atau QRIS? Udik banget, asli!"
"Mungkin di desanya belum ada sinyal, Bro! Hahaha!" timpal temannya yang lain sembari menggeleng-geleng heran.
Mendengar tawa itu, Hazel di mejanya makin mengumbar senyum cemooh, merasa menang karena adik tirinya benar-benar terlihat seperti orang udik yang memalukan.
Nina menerima piring roti dan jus alpukatnya dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Di balik gerakan tubuhnya yang seolah-olah malu dan terintimidasi oleh derak tawa laki-laki itu, jemari Nina justru mengepal tenang. Ia berjalan menuju meja pojok yang sepi, menikmati roti panggangnya dengan sangat tenang.
"Tertawailah uang cash ini sepuas kalian," batin Nina dingin sembari menyeruput jus alpukatnya. "Kalian tidak tahu, uang dingin dari Paman Juan ini bisa membeli harga diri kalian dalam sekejap jika aku mau.".
____
Sementara itu, di kamar utama yang luas dan mewah, ketegangan lain tengah terjadi. Faris berdiri di dekat jendela besar, menatap keluar dengan pikiran yang kalut. Pintu kamar terkunci rapat, menyembunyikan percakapan rahasia yang bisa menghancurkan masa depan putri kandungnya.
Anggun melangkah mendekati suaminya. Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi senyum manis kini sirna, berganti dengan raut menuntut yang dingin dan tidak sabaran.
"Faris, tunggu apa lagi?" desis Anggun sembari menyilangkan tangan di dada. "Kamu harus cepat temui Tuan Jafar dan serahkan anakmu itu! Jangan buang-buang waktu!"
Faris menghela napas berat, jemarinya memijat pelipis yang berdenyut nyeri. Di balik sifatnya yang gila harta, ada sedikit rasa kasihan yang tersisa di lubuk hatinya untuk Nina, putri kandung yang baru saja ia temui setelah belasan tahun ia telantarkan.
"Anggun, apa tidak ada cara lain?" suara Faris terdengar ragu. "Jafar itu baru berusia 29 tahun, tapi reputasinya mengerikan. Dia terkenal sangat kejam, dingin, dan paling benci dengan perempuan sejak masalah keluarganya dulu. Kalau Nina diserahkan padanya, hidup anak itu bisa hancur."
Anggun tertawa sinis, menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya. "Kasihan? Kamu mendadak punya rasa kasihan setelah belasan tahun membuangnya? Sadar, Faris! Perusahaan kita itu sudah di ujung tanduk! Hutang kita pada perusahaan Jafar sudah menumpuk miliaran rupiah!"
Anggun melangkah makin dekat, mencengkeram lengan Faris dengan tatapan tajam. "Jafar memang anti perempuan, tapi dia butuh pendamping formal untuk menutupi desakan keluarganya. Ini kesempatan emas! Serahkan Nina padanya sebagai jaminan atau pelunasan hutang. Entah Jafar mau menyiksanya atau menjadikannya pajangan, yang penting perusahaan kita selamat dan kita tidak jatuh miskin!"
Faris mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kata-kata Anggun menusuk tepat di titik lemahnya, ketakutan akan kemiskinan. Kebenaran bahwa Jafar adalah sosok monster yang sangat membenci wanita tak lagi mampu menahan keserakahannya.
"Baiklah..." bisik Faris akhirnya, menyerah pada ambisinya sendiri. "Besok aku akan menghubungi pihak Jafar dan menawarkan Nina."
Faris memutuskan untuk mengorbankan darah dagingnya sendiri demi menyelamatkan hartanya, tanpa menyadari bahwa keputusan itu akan menyeret Nina masuk ke dalam kehidupan sosok pria paling berbahaya di kota itu.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰