Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Keheningan di dalam toko itu langsung pecah berkeping-keping digantikan oleh teriakan histeris para pengunjung pasar.

Cahaya hijau bening dari dalam batu kotor itu memantul jelas di wajah semua orang yang berkerumun.

Glek.

Suara orang menelan ludah terdengar jelas dari berbagai sudut ruangan yang mendadak terasa panas ini.

"Itu Giok Sutra Es Hijau Kaisar! Ya Tuhan, aku baru pertama kali melihat warna sepekat itu seumur hidupku!" teriak seorang pria tua berpakaian antik dari kerumunan.

Pria tua itu langsung menerobos maju sambil mengeluarkan kaca pembesar kecil dari saku kemejanya.

Ia menempelkan wajahnya nyaris menyentuh batu yang baru terbelah sebagian itu dengan napas memburu.

"Tanpa cacat! Tidak ada retakan sama sekali di bagian dalamnya!" seru pria tua itu dengan suara bergetar hebat.

Penonton yang memadati pintu toko langsung berdesakan maju hingga membuat etalase kaca bergetar.

Brak!

Petugas pemotong batu mundur beberapa langkah hingga menabrak rak di belakangnya saking terkejutnya.

Tangannya yang memegang pisau pemotong masih gemetar hebat menyadari ia baru saja membelah harta karun.

[Analisis material lanjutan selesai.]

[Tingkat kejernihan air pada giok mencapai 99 persen. Kepadatan warna sempurna.]

[Nilai jual terendah di pasar gelap: Tiga miliar rupiah. Nilai lelang resmi: Bisa mencapai empat miliar rupiah.]

Gibran hanya tersenyum tipis mendengar notifikasi sistem yang berdengung nyaman di dalam kepalanya.

Ia menatap lurus ke arah bos toko yang kini sedang meremas rambut tipisnya sendiri dengan wajah pucat pasi.

Bos toko buncit itu tiba-tiba melompat maju dan berusaha merampas batu giok tersebut dari meja mesin potong.

Tap!

Tangan Gibran bergerak jauh lebih cepat menahan pergelangan tangan bos toko itu dengan cengkeraman keras.

"Mau apa kau, Bos? Batu ini sudah sah menjadi milikku setelah aku membayarnya," ucap Gibran dengan nada sangat dingin.

Bos toko itu memaksakan tawa sumbang dengan keringat dingin yang mengucur deras membasahi kerahnya.

"Adik Gibran, ini pasti ada kesalahpahaman. Batu ini sebenarnya belum aku jual kepadamu," kilah bos toko itu dengan suara panik.

"Uang lima puluh ribu yang kamu berikan tadi belum aku masukkan ke dalam laci kasir."

"Jadi secara teknis batu ini masih milik tokoku, tolong kembalikan sekarang juga!" paksa pria buncit itu sambil mencoba menarik tangannya.

Kerumunan penonton langsung menyoraki bos toko itu dengan suara cemoohan yang sangat keras.

"Huuu! Bos macam apa kau ini? Berani berjudi tapi tidak berani menanggung kerugian lelang!" teriak salah satu pengunjung pasar.

"Benar sekali, tadi kau sendiri yang bilang menyuruh dia mengambil batu sisa selokan itu!" sahut penonton lainnya tidak terima.

Gibran melepaskan cengkeraman tangannya lalu menunjuk uang lima puluh ribu miliknya yang tergeletak di atas etalase.

"Kau sendiri yang menyuruhku mengambilnya seharga lima puluh ribu, dan transaksi jual beli lisan di pasar giok ini adalah hukum mutlak."

"Jika kau berani merampasnya kembali, aku akan memanggil keamanan pasar dan menghancurkan reputasi tokomu hari ini juga," ancam Gibran tanpa berkedip.

Bos toko itu langsung lemas dan jatuh terduduk di lantai tokonya sendiri.

Kerugian melepas giok senilai miliaran rupiah dengan harga lima puluh ribu membuat jantungnya serasa mau copot.

Gibran lalu memalingkan wajahnya menatap Rio dan Siska yang sedari tadi hanya mematung seperti orang bodoh.

"Bagaimana, Tuan Muda Rio? Apakah batu pengganjal mejaku ini cukup memuaskan matamu?" sindir Gibran dengan suara lantang.

Wajah Rio langsung memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa hingga urat lehernya menonjol keluar.

Ia baru saja memamerkan batu seharga seratus juta di depan Gibran.

Namun mantan pacar miskin kekasihnya ini malah mendapatkan giok hijau kaisar yang nilainya puluhan kali lipat lebih mahal.

"Jangan sombong dulu kau, gembel! Itu cuma kebetulan murni karena kau sedang beruntung saja!" balas Rio dengan suara berteriak untuk menutupi rasa malunya.

"Kau pikir kau bisa keluar dari pasar ini dengan aman membawa barang semahal itu, hah?" ancam Rio sambil melangkah maju mendekati Gibran.

Siska buru-buru menarik lengan kemeja Rio dengan wajah panik bercampur rakus.

Mata wanita materialistis itu tidak bisa lepas dari kilauan hijau memikat yang memancar dari atas meja potong.

"Rio, giok itu sangat langka. Ayahmu pasti akan sangat bangga jika kamu bisa membawa giok hijau kaisar itu pulang," bisik Siska pelan namun masih bisa terdengar oleh Gibran.

Mendengar bisikan pacarnya, senyum licik dan arogan kembali menghiasi wajah Rio.

Pria berpenampilan necis itu merapikan kerah kemejanya lalu menatap Gibran dengan dagu terangkat tinggi.

"Hei gembel, dengarkan baik-baik. Aku akui kau sedang beruntung hari ini mendapat batu bagus."

"Tapi orang miskin sepertimu tidak akan punya koneksi untuk menjual batu mentah ini dengan harga pantas di luar sana."

Rio mengeluarkan buku cek dari saku jasnya dengan gerakan lambat dan sengaja dilebih-lebihkan.

"Aku akan membelinya darimu seharga seratus juta rupiah. Itu uang yang tidak akan pernah bisa kau kumpulkan seumur hidupmu mencangkul di desa."

"Anggap saja aku sedang beramal kepada orang miskin yang baru saja dibuang oleh pacarnya," ucap Rio sambil menyeringai penuh kemenangan.

Kerumunan penonton kembali terdiam mendengar penawaran yang sangat tidak masuk akal itu.

Seratus juta untuk giok hijau kaisar seukuran kepalan tangan orang dewasa adalah perampokan di siang bolong.

Siska ikut melangkah maju dan menatap Gibran dengan tatapan membujuk yang terlihat sangat menjijikkan di mata Gibran.

"Gibran, terima saja uangnya. Seratus juta itu sangat banyak untukmu."

"Dengan uang itu kamu bisa memperbaiki rumah tuamu di desa dan hidup tenang. Jangan serakah dan mencoba melawan orang kaya seperti Rio," bujuk Siska dengan suara sok lembut.

Gibran menatap sepasang kekasih di depannya itu dengan pandangan seolah melihat dua ekor kecoak kotor.

Ia tidak marah, ia justru tertawa lepas hingga bahunya berguncang pelan.

Hahahaha!

Tawa Gibran menggema di dalam toko, membuat wajah Rio kembali menegang karena merasa diremehkan.

"Seratus juta? Kau mau menipu anak kecil atau kau memang benar-benar sebodoh itu dalam menilai batu, Tuan Muda Rio?" ejek Gibran telak.

Gibran mengambil batu gioknya dari meja potong dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah lampu toko.

"Pria tua di sana tadi sudah mengatakannya dengan jelas. Ini adalah hijau kaisar tanpa cacat."

"Bahkan orang buta pun tahu bahwa batu ini bernilai setidaknya tiga miliar rupiah di pasar loak batu!" teriak Gibran ke arah wajah Rio.

Mata Siska terbelalak sangat lebar hingga bola matanya nyaris keluar dari kelopaknya.

"Tiga... Tiga miliar? Tidak mungkin batu kotor itu bernilai tiga miliar!" teriak Siska histeris memegangi kepalanya sendiri.

Bayangan bahwa mantan pacar miskin yang baru saja ia buang beberapa jam lalu kini menjadi miliarder dadakan membuat kewarasan Siska nyaris putus.

Wajah Rio kini benar-benar menjadi sangat gelap dan menakutkan.

Harga dirinya sebagai tuan muda kaya raya baru saja diinjak-injak sampai rata dengan tanah oleh seorang kuli panggul terminal.

"Jaga ucapanmu, kampungan! Aku memberimu jalan keluar yang baik tapi kau menolaknya dengan kasar!" bentak Rio sambil menunjuk tepat ke depan hidung Gibran.

"Bos! Tutup pintu rolling door tokomu sekarang juga!" perintah Rio tiba-tiba dengan suara menggelegar.

Bos toko buncit yang tadinya sedang lemas di lantai langsung melompat bangun mendengar perintah Rio.

Pria buncit itu melihat peluang emas untuk merampas kembali batu itu jika ia bekerja sama dengan tuan muda Rio.

"Kalian berdua penjaga, cepat tutup pintu besi depan! Jangan biarkan gembel ini kabur membawa properti milik tokoku!" teriak bos toko kepada dua anak buahnya yang bertubuh kekar.

Srek srek srek. Brak!

Pintu rolling door besi di bagian depan toko diturunkan dengan cepat dan dikunci dari dalam, mengurung Gibran bersama Rio, Siska, bos toko, dan dua penjaga kekar.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!