kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
"Syaratnya... nikahi saya sekarang juga," tegas Nina dengan suara bergetar namun matanya menatap lurus ke arah Jafar.
Tawa renyah yang amat dingin langsung menyembur dari balik masker hitam Jafar. Suara tawanya bergema di seluruh sudut penthouse yang remang-remang, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol sepanjang hidupnya.
"Menikah?" bisik Jafar dengan nada penuh celaan. Sepasang matanya berkilat tajam, menyipit berbahaya. "Aku tidak suka pernikahan. Aku tidak akan pernah menikah! Pernikahan itu cuma ikatan memuakkan. Semua wanita itu sama... racun yang dibungkus kepura-puraan."
Nina perlahan menghapus sisa air mata di pipinya. Otaknya bekerja kilat dalam hitungan detik. Sebagai seseorang dengan gemblengan militer dari Paman Juan, ia refleks mengukur kekuatan lawan. Postur tubuh Jafar yang tinggi , tegap, dan berotot di balik jas mewahnya menunjukkan pria itu bukan lawan yang sembarangan dalam pertarungan jarak dekat. Apalagi Nina saat ini tidak membawa senjata apa pun, sementara anak buah Jafar mengepung ruangan. Nyalinya sempat menciut sejenak, namun membayangkan ayahnya mati konyol di depan matanya akan merusak seluruh skenario balas dendamnya.
Nina memberanikan diri. Ia melangkah satu tapak ke depan, memasang raut penuh keteguhan.
"Saya tidak minta pernikahan resmi secara hukum negara," sela Nina dengan suara yang dinaikkan satu nada. "Tidak perlu pesta atau surat-surat. Setidaknya pernikahan ini sah menurut agama saya. Hanya itu syarat saya."
Jafar terdiam. Alis tebalnya bertaut di balik masker. Otak liciknya mulai berhitung. Bagi Jafar, pernikahan resmi di mata hukum adalah perangkap yang memuakkan, tetapi janji lisan atau nikah siri tanpa kekuatan hukum negara? Itu sama sekali bukan masalah baginya. Itu tak ubahnya sebuah permainan agar gadis lugu ini merasa aman dan mau menyerahkan dirinya secara sukarela.
Tatapan tajam Jafar beralih menghujam sosok Faris yang masih berlutut di lantai.
"Kamu dengar itu, Faris?" desis Jafar berat. "Nikahkan kami sekarang juga di hadapan saksi-saksinya, maka seluruh utangmu lunas dan kamu bebas pergi dari sini."
"Tidak, Nak! Jangan!" Faris menggelengkan kepala secara histeris, air mata bercampur darah menetes dari sudut matanya. "Jangan korbankan dirimu demi ayahmu yang jahat ini! Biarkan Ayah yang mati... maafkan Ayah karena ayah telah membawamu kesini!"
Mendengar penolakan itu, raut wajah Jafar berubah gelap. Tanpa membuang waktu, ia menarik kembali pistol hitamnya, mengarahkan moncong dingin itu tepat ke kening Faris dengan jari siap menarik pelatuk.
"JANGANN!" jerit Nina histeris, menyergap maju satu langkah untuk menahan gerakan Jafar.
Nina menatap Faris dengan binar mata penuh derita yang dibuat amat meyakinkan. "Ayah... Nina tidak masalah. Tolong lakukan saja... demi keselamatan Ayah!"
Faris menatap Nina dengan pandangan hancur. Dengan bibir gemetar dan napas tersengal, akhirnya Faris menganggukkan kepalanya pasrah.
"B-baiklah..." desah Faris pelan.
Namun, di detik ketika Faris menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk berpura-pura menangis, sebuah senyum tipis, sangat tipis dan penuh rasa puas terukir samar di sudut bibirnya yang berdarah tanpa ada satu orang pun di ruangan itu yang menyadarinya. Faris merasa lega luar biasa, rencananya berhasil. Utang puluhan miliarnya lunas, perusahaannya selamat, dan ia tak perlu kehilangan nyawa malam ini.
"Dako, panggil ustaz ke sini. Sekarang," perintah Jafar dingin sembari menyarungkan kembali pistolnya.
Dako segera berlari dan mencari ustadz....ia tidak tahu dimana tempatnya, karena sudah puluhan tahun tidak pernah berinteraksi dengan yang namanya ustadz, sampai akhirnya ia menemukannya atas bantuan warga di perkampungan kumuh yang tersembunyi di balik kemewahan kita jakarta.
Ijab kabul sederhana nan mencekam itu pun akhirnya dilaksanakan di tengah remang-remang ruangan. Di bawah ancaman dan rasa takut yang melingkupi penthouse, Faris mengusap darah di bibirnya dan menjabat tangan Jafar. Dengan suara bergetar, Faris merelakan putri kandungnya dinikahi secara siri oleh pria paling kejam di kota itu.
"Saya terima nikahnya Nina binti Faris..." ucap Jafar dengan nada berat dan tegas, mengesahkan ikatan ghaib yang kini membelenggu hidup Nina.
Setelah kata Sah bergema pelan dari para saksi, Faris dibiarkan berdiri. Dengan tubuh penuh lebam, ia melirik Nina sebentar, menampilkan raut penyesalan palsu, sebelum akhirnya melangkah cepat keluar dari penthouse, meninggalkan Nina sendirian di dalam sarang serigala.
Pintu penthouse tertutup rapat dengan bunyi click yang mengunci otomatis.
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat sunyi dan mencekam. Jafar membalikkan badannya perlahan, berdiri tegap membelakangi pendar lampu kota dari jendela kaca. Sepasang matanya yang tajam menembus kegelapan, menatap lurus ke arah Nina yang kini berdiri mematung sendirian di tengah ruangan dengan gaun indahnya.
"Sekarang," suara Jafar terdengar sangat pelan namun berhawa menekan, "kamu sudah resmi jadi milikku, Gadis Desa."
"Iya Tuan...." balas Nina bergetar takut.
"Persiapkan dirimu....malam ini, kamu harus melayani ku" seru Jafar menatap tajam Nina yang wajahnya kini pucat pasi.
____
Faris melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya dengan pincang. Tubuhnya memang terasa remuk redam dan sudut bibirnya masih berdarah, tetapi di balik rasa sakit fisik itu, dadanya bergemuruh oleh kelegaan yang luar biasa. Beban utang puluhan miliar yang selama ini membayangi hidupnya mendadak lenyap begitu saja.
Suara langkah kaki yang terseret di ruang tamu membuat Anggun, Hazel, dan Hadin yang sedang bersantai di sofa langsung berdiri terkejut.
"Papi?!" jerit Anggun histeris saat melihat wajah suaminya penuh lebam kebiruan. "Ya ampun, Faris! Kamu kenapa?! Siapa yang bikin kamu babak belur begini?!"
Hazel menutupi mulutnya dengan ekspresi kaget, sementara Hadin menyipitkan mata, melangkah mendekat dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Faris ambruk di sofa empuk, memegang dadanya yang nyeri sambil terkekeh pelan, sebuah tawa puas yang terasa gila di tengah kondisi tubuhnya yang mengenaskan.
"Utang kita... lunas," bisik Faris dengan suara parau namun sarat akan kemenangan.
Anggun membelalakkan mata. "Maksudmu... Tuan Jafar?"
Faris merogoh saku jasnya yang agak robek dengan tangan gemetar, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal berstempel resmi dan meletakkannya di atas meja kaca. Sebuah cek tunai bernilai fantastis.
"Bukan cuma utang puluhan miliar kita yang dianggap lunas..." Faris tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang ternoda darah. "Dako bahkan menyerahkan cek senilai 5 miliar ini sebagai bonus tambahan dari Tuan Jafar."
"LIMA MILIAR?!" Hazel berteriak girang, langsung menyambar cek tersebut tanpa memedulikan rasa sakit papa tirinya. Matanya berbinar melihat deretan angka nol di kertas itu. "Wah, Pa! Ini beneran?! Aku bisa beli tas keluaran terbaru yang kemarin! Asik banget!"
Anggun mengelus dadanya yang naik turun, rasa cemasnya sirna seketika digantikan oleh binar keserakahan. "Lalu... si Nina? Dia beneran ditinggal di sana?"
"Iya," sahut Faris, mengangguk puas. "Mulai malam ini, anak desa itu resmi jadi milik Tuan Jafar."
Berbeda dengan ibu dan adiknya yang bersorak gembira, wajah Hadin mendadak berubah keruh. Tangan pria itu mengepal rapat di balik saku celananya. Ada rasa kecewa dan tidak senang yang membakar dadanya, ia merasa ditikung sebelum sempat merintis niat busuknya untuk menikmati kepolosan adik tirinya itu.
"Kenapa Papa cepat banget menyerahkan Nina ke Tuan Jafar?" sembur Hadin dengan nada tidak suka yang coba ia sembunyikan. "Harusnya Papa bicarain dulu sama Hadin!"
Faris melirik putra tirinya itu lalu tertawa kecil, mengibaskan tangan dengan santai seolah memaklumi kekesalan Hadin.
"Kamu nggak usah khawatir, Hadin," ujar Faris tenang, menyandarkan kepalanya yang pening ke sandaran sofa. "Dako sendiri yang bilang, Tuan Jafar cuma menjadikan Nina sebagai pemuas nafsu sementara. Setelah dia bosan dan puas, Nina cuma bakal dibuang seperti sampah. Dan ketika saat itu tiba, Nina otomatis bakal kembali lagi ke rumah ini. Kamu bisa lakukan apa pun yang kamu mau sama dia nanti."
Mendengar penjelasan sang ayah, raut wajah keruh Hadin perlahan sirna. Sebuah senyum tipis dan licik terukir di bibirnya.
"Jadi cuma sementara..." gumam Hadin pelan, matanya berkilat penuh hasrat liar. "Kalau begitu, aku bakal sabar menunggu gadis desa itu dibuang dan kembali ke rumah ini."
Sementara di sudut ruangan, Anggun dan Hazel sudah sibuk merencanakan bagaimana mereka akan menghabiskan uang 5 miliar tersebut, sama sekali tidak peduli pada nasib Nina yang kini terperangkap sendirian di sarang pria paling berbahaya di kota itu.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰