"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersadar
Aroma tajam bahan kimia antiseptik dan cairan infus menembus kesadaran Daren yang perlahan-lahan mengapung dari kegelapan.
Kelopak mata remaja lima belas tahun itu terasa sangat berat, seolah ditindih oleh lempengan timah. Ketika dia memaksanya terbuka, kilatan cahaya lampu neon putih di langit-langit menyengat matanya yang buram. Daren mengedipkan mata beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangannya yang masih berbayang-bayang.
Daren mencoba menggerakkan jemari tangannya. Rasa tebal dan kaku menyelimuti seluruh persendiannya. Begitu dia mencoba merubah posisi tubuhnya, rasa sakit tumpul berdenyut dari area dada dan punggungnya. Namun, rasa sakit itu berbeda dari yang biasa dia rasakan. Luka-lukanya tidak lagi terasa membakar atau membusuk seperti saat dia tergeletak di atas tanah perkebunan; sebaliknya, luka-luka itu terasa telah dibersihkan dan dibalut rapat dengan perban steril yang hangat.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu, Anak Muda. Hati dan tulang igamu baru saja ditata ulang."
Sebuah suara tenang bertertib masuk ke indera pendengaran Daren.
Daren memalingkan kepalanya dengan terkejut. Di samping ranjang tempatnya terbaring, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan jas putih medis tebal. Pria itu memegang papan data elektronik, menatap monitor tanda-tanda vital di atas kepala Daren dengan raut wajah tanpa ekspresi berlebihan.
Daren mendadak menegang. Keputusasaan dan rasa takut yang tertanam selama sepuluh tahun di rumah Deni dan Tia secara otomatis mengaktifkan naluri bertahannya. Daren mencoba menarik tubuhnya mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang besi, matanya melebar penuh kewaspadaan.
"Di... di mana aku?" suara Daren keluar sangat parau, hampir seperti gesekan kertas amplas di atas kayu. Tangannya yang dipasangi jarum infus bergetar hebat. "Siapa... siapa kau? Apakah Deni yang menyuruhmu menangkapku?"
Dr. Anthony melepas kacamata bacanya, lalu menaruhnya di saku jas. Dia menatap Daren tanpa pandangan meremehkan maupun belas kasihan yang berlebihan. Bagi sang dokter senior, Daren adalah sebuah keajaiban medis yang hidup.
"Tenangkan dirimu," ucap Dr. Anthony datar, menggerakkan tangannya ke bawah untuk memberi isyarat agar Daren mengendurkan otot-ototnya. "Orang bernama Deni itu tidak ada di sini. Kau berada di dalam Markas Utama Red Crows, di sektor medis bawah tanah."
Daren berkedip cepat. "Red... Crows?"
"Sebuah organisasi yang tidak pernah kau dengar di dunia atas yang terang," lanjut Dr. Anthony seraya memeriksa selang infus yang mengalirkan cairan nutrisi ke lengan Daren. "Salah satu kapten kami menemukanmu sekarat di bawah pohon dekat perkebunan pinggiran kota saat badai dua hari lalu. Jika kau penasaran, kau sudah koma selama empat puluh delapan jam. Organ dalammu hancur, punggungmu terinfeksi parah, dan kau mengalami demam yang sanggup merusak sel otak manusia biasa."
Daren terdiam. Dia memandangi tangannya sendiri. Kulitnya yang dulu kotor dan penuh noda tanah kini telah dibersihkan. Rasa dingin dari AC ruangan menyapu kulit wajahnya. Dia mengingat malam itu—malam di mana dia memutuskan untuk melompati pagar, berlari menembus hujan, dan bersiap untuk mati di bawah pohon.
Tapi dia tidak mati.
"Mengapa... mengapa kalian menolongku?" bisik Daren pelan. "Aku tidak punya uang. Aku tidak punya apa-apa untuk membayar kalian."
Dr. Anthony tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Dia berjalan ke arah panel komunikasi di dinding, menekan tombol interkom berwarna merah.
"Ini Anthony dari Sektor Medis," ucap sang dokter pada panel. "Laporkan pada Tuan Argus... pemuda itu telah sadar sepenuhnya."
Tidak sampai sepuluh menit setelah laporan dikirimkan, pintu geser otomatis ruang medis mendesis terbuka.
Dr. Anthony segera mengangguk hormat, lalu melangkah keluar ruangan tanpa mengeluarkannya sepatah kata pun. Dia memberikan privasi mutlak bagi pria yang baru saja melangkah masuk.
Daren menahan napasnya.
Sesosok pria berbadan tinggi besar melangkah masuk seorang diri. Mantel hitam panjang berdada lebar yang dikenakannya melambai tipis mengiringi langkah kakinya yang konstan. Setiap pijakan sepatu pria itu di atas lantai keramik menghasilkan bunyi ketukan mantap yang seolah menggetarkan dada Daren. Aura dominasi, kekuasaan, dan bahaya murni yang terpancar dari pria itu begitu pekat hingga membuat udara di ruang medis terasa mendadak berat.
Pria itu berhenti di samping ranjang. Dia menatap Daren dengan mata hitamnya yang dalam dan tajam—sebuah tatapan yang seolah mampu menguliti seluruh rahasia di dalam jiwa Daren.
Daren merapatkan giginya, menahan dorongan instingtif untuk menundukkan kepala. Selama sepuluh tahun, dia dipaksa menunduk di hadapan Deni dan Tia. Namun malam ini, meski tubuhnya bergetar menghadapi tekanan fisik pria asing di depannya, Daren memaksa matanya untuk membalas tatapan tersebut.
Argus memperhatikan tatapan mata Daren. Tidak ada rasa takut murahan di sana; yang ada hanyalah kewaspadaan hewan liar yang terluka dan bara api yang belum padam.
"Siapa nama lengkapmu?" suara Argus rendah, tebal, dan bergema pelan di dalam ruangan.
"Daren..." jawab Daren parau, mempertahankan pandangannya. "Hanya Daren."
Argus mengangguk tipis. Dia menarik sebuah kursi besi di dekat meja medis, lalu duduk di samping ranjang Daren. Pria penguasa bawah tanah itu menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di atas paha.
"Deni, Tia, dan anak mereka yang bernama Dion," sebut Argus datar, mengeja nama-nama itu satu per satu. "Tiga orang yang mengurungmu di gudang bawah tangga, menjadikanmu pelayan tanpa upah, menyiksamu selama sepuluh tahun, dan membiarkanmu hampir mati karena vas porselen yang pecah."
Mata Daren melebar. Dadanya kencang naik turun. "Bagaimana... bagaimana kau tahu?"
"Di dunia bawah tanah Kota Atlas, tidak ada hal yang bisa disembunyikan dariku jika aku ingin mengetahuinya," jawab Argus dingin. "Aku tahu seberapa parah luka di punggungmu, aku tahu kapan terakhir kali kau diberi makan sebelum kabur, dan aku tahu betapa tidak berharganya hidupmu di mata keluarga itu."
Kata-kata Argus menusuk tepat di bagian paling dalam dari luka batin Daren. Rasa panas yang membakar kembali merayap dari dadanya menuju tenggorokannya. Mengingat wajah Deni yang tertawa saat mengayunkan gesper, wajah Tia yang jijik menatapnya, dan senyuman picik Dion yang berhasil memfitnahnya... jari-jari Daren meremas kain sprei tempat tidurnya hingga kencang.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur, Daren," Argus memajukan tubuhnya sedikit. Tatapannya semakin mengunci manakala dia bertanya, "Apakah kau memiliki dendam?"
Pertanyaan itu berputar di dalam kepala Daren.
Dendam?
Daren memejamkan matanya sejenak. Di balik kegelapan kelopak matanya, dia melihat kembali bayangan sepuluh tahun hidupnya. Rasa dingin lantai semen gudang, bau darahnya sendiri yang diperas habis-habisan, rasa sakit saat menyikat lantai dalam keadaan demam... semua rasa hina dan tertindas itu membakar ingatan jiwanya.
Daren membuka matanya kembali. Kali ini, tidak ada lagi kebingungan di matanya. Hanya ada kepekatan yang sangat murni.
"Aku membenci mereka..." jawab Daren. Suaranya tidak lagi bergetar. Kalimat itu keluar dingin dan tegas. "Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin mereka berlutut dan memohon ampun atas setiap tetes darah yang mereka peras dari tubuhku."
Sebuah senyuman sangat tipis terukir di sudut bibir Argus. Jawaban itu adalah persis apa yang ingin dia dengar.
"Keinginan yang bagus," kata Argus pelan. "Tapi kebencian tanpa kekuatan hanyalah teriakan tidak berguna dari seekor anjing yang terikat. Jika kau kembali ke rumah itu sekarang, Deni hanya perlu memanggil dua orang pengawal untuk mematahkan lehermu dan membuang mayatmu ke sungai."
Daren mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dia tahu Argus mengatakan kebenaran yang pahit. Dia lemah. Dia tidak punya uang, tidak punya senjata, dan tidak punya kekuatan fisik untuk membalas dendam.
"Lalu... mengapa kau menanyakan ini padaku?" tanya Daren, matanya menatap lurus pada Argus. "Apa yang kau inginkan dariku?"
Argus berdiri dari kursinya. Pria itu merapikan lipatan mantel hitamnya dengan gerakan anggun namun mengintimidasi.
"Aku melihat sesuatu pada dirimu saat kau tergeletak di perkebunan itu," ujar Argus, suaranya dipenuhi otoritas yang tak terbantahkan. "Kau memiliki dorongan bertahan hidup yang tidak wajar. Kau merangkak keluar dari nerakamu sendiri ketika tubuhmu seharusnya sudah mati secara medis."
Argus melangkah mendekati pintu keluar, lalu membalikkan badannya sedikit.
"Aku akan memberimu pilihan, Daren. Kau bisa sembuh dalam beberapa hari, lalu keluar dari markas ini sebagai warga biasa yang kelaparan di jalanan, hidup bersembunyi dari keluarga Deni selamanya. Atau..." Argus berhenti sejenak, tatapannya membakar. "...kau tinggal di sini. Aku sendiri yang akan melatihmu. Aku akan menempamu menjadi pemuda yang kuat, mengajarimu cara membunuh, cara menguasai kegelapan, dan cara mengambil apa pun yang kau inginkan dari dunia ini."
Daren terpaku di ranjangnya. Jantungnya berdegup kencang memukul rongga dadanya. Pelatihan? Kekuatan untuk membalas dendam? Kesempatan untuk tidak lagi menjadi mangsa yang diinjak-injak?
"Berapa harga yang harus kubayar untuk itu?" tanya Daren pelan.
"Jiwamu," jawab Argus pendek. "Kau akan menjadi milik Red Crows. Kau akan menjadi senjataku."
Daren menatap pria besar di depannya. Tidak ada keraguan sedikit pun yang tersisa di dalam benaknya. Dunia telah menghancurkannya saat dia menjadi orang baik yang penurut. Jika dia harus menjual jiwanya pada kegelapan untuk menjadi cukup kuat agar tidak ada lagi yang bisa menginjaknya, maka dia akan melakukannya tanpa berkedip.
"Aku menerima penawaranmu," kata Daren tegas.
Argus menyunggingkan senyum dominannya. "Sembuhkan luka-lukamu dulu, Senjata baruku. Nerakamu yang sebenarnya... baru akan dimulai setelah kau bisa berdiri."
Sementara itu, di pelataran depan Markas Utama Red Crows.
Suasana malam di luar area bawah tanah terasa sangat kontras. Pelataran luas berbatu kerikil hitam itu dikelilingi oleh benteng beton tinggi dengan menara pengawas dan lampu sorot yang berputar konstan. Di salah satu sudut pelataran, terdapat sebuah area bersantai beratap kanopi tempat para perwira eksekutif beristirahat.
Mike duduk bersandar di kursi santai berbahan kulit sintetis. Jas hitamnya dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Di tangan kanannya, Mike menggoyang-goyangkan sebuah gelas kristal berisi wine merah pekat berkualitas tinggi. Matanya yang dingin menatap hampa ke arah helipad di tengah pelataran, menikmati kesunyian malam pasca-bentrokan.
Di sekitarnya, beberapa anggota elit Red Crows sedang duduk berbincang pelan sembari membersihkan komponen senjata api mereka.
VRRRROOOOMMM!
Raungan mesin mobil sport bersilinder besar mendadak memecahkan ketenangan pelataran. Sebuah mobil convertible berwarna merah menyala meluncur kencang menembus pintu gerbang utama, melakukan drift tajam hingga menimbulkan suara decitan ban yang memekikkan telinga sebelum berhenti tepat di depan area kanopi.
Pintu mobil terbuka secara dramatis. Sesosok pria muda melangkah keluar dengan gaya yang terkesan sangat pamer. Pria itu mengenakan kemeja bermotif mencolok yang kancing atasnya dibuka lebar, dipadukan dengan jaket kulit mahal dan kacamata hitam—meski malam hari sedang gulita.
Lukas—salah satu Kapten Eksekutif Red Crows yang bertanggung jawab atas operasi luar kota. Dia terkenal dengan kemampuannya yang sangat mematikan dalam pertarungan jarak dekat, namun sifatnya luar biasa tengil, arogan, dan cerewet.
Lukas melempar kunci mobilnya pada seorang penjaga dengan acuh, lalu melangkah lebar menuju tempat Mike duduk. Sebuah senyuman jahil terukir lebar di wajahnya.
"Ahhh! Udara Markas Utama memang selalu berbau amis dan membosankan!" seru Lukas dengan suara keras sengaja menarik perhatian. Dia menghampiri meja Mike, lalu tanpa permisi menyambar botol wine mahal milik Mike dan menuangkannya ke gelas kosong di atas meja.
"Aku baru saja menyelesaikan pembantaian kecil di luar kota, dan tebak apa yang kudengar saat memasuki gerbang?" Lukas duduk bertolak pinggang di atas meja kayu tepat di depan Mike, menatap rekannya itu dengan wajah menggebu-gebu. "Kapten Mike kita yang terkenal berdarah dingin, tidak punya hati, dan kaku seperti papan patri... baru saja memungut seekor anak anjing sekarat dari semak-semak?"
Beberapa anggota di sekitar mereka terkekeh pelan, namun segera menunduk saat Mike melirik mereka.
Mike tidak mengalihkan pandangannya dari gelasnya. Dia menyesap wine merahnya secara perlahan, menikmati rasa pahit-manis yang menyapu lidahnya.
"Kau bising sekali, Lukas," sahut Mike dingin tanpa nada emosi sedikit pun. "Tugasmu di Sektor Utara sudah selesai?"
"Sudah, dong! Semua bandit kroco di sana sudah kubuat jadi pakan ikan di pelabuhan," jawab Lukas seraya melambai-lambaikan tangannya meremehkan. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Mike, senyum tengilnya makin melebar.
"Tapi mari bicara tentang pilihan hidupmu yang aneh ini, Mike! Maksudku, ayolah! Kau membawa bocah tak dikenal masuk ke ruang medis Sektor Zero? Kau tahu kan aturan Argus seperti apa? Kau ini makin tua makin aneh ya? Apa kau mendadak punya naluri keibuan, huh?" Lukas tertawa terbahak-bahak, menepuk paha pribadinya dengan gembira karena berhasil mengolok-olok Mike.
Lukas melanjutkan celotehannya tanpa henti. "Kudengar dari Joe, bocah itu cuma babu kaburan yang digebuki majikannya gara-gara vas bunga? Hahaha! Astaga! Kita ini organisasi mafia paling takuti di Kota Atlas, Mike! Bukan tempat penampungan anak telantar!"
Mike menghela napas pelan. Dia sudah sangat terbiasa dengan tabiat Lukas yang super tengil dan bermulut besar ini. Di antara para eksekutif Red Crows, Lukas memang tipe orang yang tidak bisa diam semenit pun jika ada bahan untuk meracay. Namun di balik sifat menyebalkan itu, Mike tahu Lukas adalah salah satu petarung paling mematikan yang dimiliki Argus.
Mike meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan bunyi ketukan halus. Dia menatap Lukas secara datar melalui sudut matanya.
"Anak anjing yang kupungut itu..." ucap Mike pelan, suaranya mengandung nada dingin yang menusuk. "...baru saja diterima langsung oleh Tuan Argus sebagai murid pribadinya."
Tawa Lukas mendadak terhenti di tenggorokannya. Tangan yang sedang memegang gelas wine membeku di udara. Kacamata hitam yang bertengger di hidungnya meluncur turun sedikit, memperlihatkan matanya yang membatu karena terkejut.
"Tua... Tuan Argus?" ulang Lukas, suaranya mendadak turun dua oktaf. "Maksudmu... Argus melatih bocah babu itu secara pribadi? Kau tidak sedang membual denganku, kan?"
Mike kembali mengambil gelasnya, menyesapnya sekali lagi dengan sangat santai.
"Program CROW-0," tambah Mike pendek, menikmati perubahan ekspresi di wajah tengil rekannya itu. "Tuan Argus sendiri yang akan menempanya."
Lukas terdiam selama beberapa detik—sebuah rekor langka bagi seorang Lukas. Senyum mengejek di wajahnya perlahan menguap, berganti dengan kilatan rasa penasaran yang mendalam. Di organisasi Red Crows, tidak ada seorang pun yang pernah dilatih secara langsung oleh Argus sejak lima tahun terakhir. Program CROW-0 adalah legenda perkelahian neraka yang hanya disiapkan untuk menciptakan monster bertarung murni.
Lukas menyandarkan punggungnya kembali, menyeringai tipis seraya membetulkan kacamata hitamnya.
"Babu yang dilatih langsung oleh sang Pemimpin Utama..." gumam Lukas pelan, sudut bibirnya terangkat penuh ketertarikan yang bahaya. "Menarik. Tampaknya dunia bawah tanah Kota Atlas akan kedatangan sesuatu yang sangat gila sebentar lagi."
Mike hanya menatap lurus ke arah kegelapan malam tanpa membalas. Di dalam hatinya, dia tahu... benih dendam yang diselamatkannya dari bawah pohon malam itu, kini telah ditanam di tanah paling subur di dunia bawah tanah. Dan ketika benih itu tumbuh nanti, seluruh Kota Atlas akan merasakan guncangannya.