Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Berbelanja
Elena melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul lewat tengah malam. Ia menghela napas panjang
Memikirkan foto yang di kirimkan anggotanya membuat pikirannya buntu. Akhirnya, ia memutuskan untuk beristirahat.
Setelah menghapus riasan, dan berganti pakaian, Elena membaringkan tubuhnya di ranjang dan mulai memejamkan mata.
Tapi, beberapa saat kemudian, napasnya mulai berubah. Keningnya berkerut dan tangannya mencengkeram selimut dengan kuat.
Di dalam tidurnya, Elena kecil melihat api, asap hitam mengepul memenuhi udara, suara tembakan yang terdengar bertubi-tubi dari kejauhan dan, jeritan orang-orang bercampur dengan suara benda-benda yang runtuh.
Elena berlari tanpa tahu harus ke mana. Kakinya terasa berat. Napasnya tersengal-sengal, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya.
"DADDY!" teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Dia berbalik dan melihat rumah yang dulu menjadi tempatnya berlindung kini berubah menjadi lautan api.
"DADDY!"
Elena kembali berlari. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat ayahnya tergeletak di lantai dengan darah mengalir dari tubuhnya.
"DADDY!"
Elena hendak mendekat, tapi seorang pria berlari ke arahnya.
"Jangan kesana!"
Pria itu berlutut dan menarik Elena ke dalam pelukannya.
Elena menangis sejadi-jadinya. "Uncle, selamatkan Daddy!"
Pria itu terdiam. Tatapannya beralih ke arah tubuh kedua orang tua Elena. Ada kesedihan mendalam di matanya, tetapi dia tahu tidak ada waktu untuk menangis.
"Kita harus pergi."
Elena menggeleng. "Tidak!"
Pria itu berdiri dan menarik Elena. "Ayo, pergi! Jangan melihat ke belakang."
"Aku tidak mau pergi, Uncle." Elana terus meronta. "Aku mau Mommy dan Daddy!"
Pria itu membawa Elena ke dalam gendongannya dan, terus berlari menjauh dari tempat itu.
Elena hanya bisa menangis, menoleh ke belakang, menatap api yang semakin besar.
Pria itu membawa Elena keluar melalui pintu belakang. Tapi, baru beberapa langkah, suara tembakan kembali terdengar.
Ia langsung menundukkan tubuhnya, melindungi Elena dengan tubuhnya sendiri. Beberapa detik kemudian, dia kembali berlari.
"Elena, tutup matamu!"
"Aku takut..."
"Jangan melihat ke belakang."
Tapi, Elena tetap melihat tempat yang pernah menjadi rumahnya terbakar bersama keluarganya dan orang-orang di sana.
"TIDAK!"
Elena terbangun dengan napas tersengal. Matanya terbuka lebar. Dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya. Tangannya masih mencengkeram selimut dengan erat.
Elena memejamkan mata sejenak. "Mimpi yang sama," gumamnya.
***
Pagi perlahan menyelimuti dunia. Cahaya matahari menerobos celah tirai, menerangi ruangan dengan semburat keemasan. Udara terasa sejuk, sementara suara burung terdengar samar dari kejauhan.
Elena sudah bangun sejak tadi.
Setelah membaca pesan dari anggotanya semalam, Elena tidak bisa menghilangkan rasa gelisah yang terus mengusik pikirannya.
Bagaimana bisa The Raven tidak terlibat? Padahal, Ia sangat yakin Victor Bianchi memiliki hubungan dengan kehancuran Black Rose.
Itu sebabnya, dia mengikuti ujian menjadi pelayan di keluarga Bianchi. Dan, mencari tahu siapa saja yang terlibat dalam kehancuran Black Rose.
Namun, ternyata nama organisasi The Raven tidak tercantum dalam perjanjian tersebut. Dan, hal itu membuat ia berpikir, mungkin ada sesuatu yang belum ia ketahui.
Mungkin saja, seseorang sengaja menyembunyikan keterlibatan The Raven.
Atau lebih buruk lagi, ada rencana lain yang berjalan di balik perjanjian tersebut.
"Aku harus membicarakannya langsung dengan Uncle," gumam Elena.
"Tapi, bagaimana caranya?"
Sejak ia menyebut nama Mawar, penjagaan di kediaman Bianchi diperketat. Ia tidak bisa keluar masuk rumah sesuka hati.
Elena menghembuskan napas panjang. "Aku harus mencari cara," gumamnya.
Dia menuruni anak tangga, melihat situasi di lantai bawah. Dan, di saat bersamaan, ia melihat beberapa pelayan bersiap pergi membeli berbagai kebutuhan dapur.
Elena menaikkan sudut bibirnya lalu menghampiri mereka.
"Kalian mau kemana?" tanya Elena.
Para pelayan membungkuk. "Kami hendak pergi berbelanja, nona."
"Aku ikut," ujar Elena.
Kepala pelayan yang sedang memeriksa daftar belanja langsung menggeleng.
"Nona Elena, tidak perlu ikut. Kami bisa mengurusnya."
"Tapi, aku ingin ikut, tuan," ucap Elena.
Kepala pelayan membungkuk dalam. "Walaupun, anda pernah berada di bawah bimbingan saya, tapi sekarang sudah berbeda. Mohon, jangan panggil saya dengan sebutan itu lagi."
"Kalau begitu, ijinkan aku ikut." Elena menyilangkan tangan di depan dada. "Aku sudah terlalu lama berada di rumah ini."
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa membawa Nona tanpa izin Tuan Leon."
Elena menggeleng cepat. "Justru, Leon memintaku melakukan apapun agar aku tidak bosan."
Kepala pelayan tampak serba salah. Namun, Elena tidak berhenti mendesak.
Setelah beberapa kali menolak dan melihat Elena tetap bersikeras, akhirnya kepala pelayan menyerah.
"Baiklah. Tapi, Nona harus tetap bersama kami."
Elena tersenyum tipis. "Tenang saja. Aku akan memakai baju biasa agar tidak mencolok."
Elena berbalik, kembali ke kamarnya. Dia membuka kopernya yang menyimpan baju lama. Lalu, ia mengambil satu dan memakainya. Tapi, sebelum ia benar-benar pergi, ia mengambil sesuatu di kopernya dan memasukkannya dalam tas.
Baru setelahnya, ia keluar dari kamar, menemui pelayan yang sudah menunggunya.
"Ayo, berangkat!"
Kepala pelayan membungkuk. Ia membukakan pintu mobil untuk Elena, di susul Pelayan yang lain.
Kepala pelayan menatap bodyguard yang duduk di depan. "Tolong, jaga nona Elena."
"Baik, tuan."
Lalu, Kepala pelayan membungkuk pada Elena. "Hati-hati, Nona."
Tidak lama kemudian, mobil meninggalkan kediaman Bianchi.
Di dalam mobil ada Elena, dua pelayan, dan tiga bodyguard yang ditugaskan mengawal mereka.
Sepanjang perjalanan, Elena terlihat tenang. Tapi, diam-diam jarinya bergerak di atas layar ponsel, mengirim pesan singkat pada anggotanya.
"Aku keluar. Siapkan tempat, kita perlu bicara."
Beberapa menit kemudian, mobil berbelok melewati jalan yang lebih sepi. Dan, tidak lama kemudian, sebuah kendaraan muncul dari depan dan melintang di tengah jalan.
Sopir menginjak rem, membuat mobil berhenti mendadak.
"Ada apa?" tanya salah satu pelayan dengan panik.
"Ada yang menghalangi jalan." Para bodyguard mulai waspada. Mereka memegang erat senjata yang mereka bawa.
Sementara, Elena hanya diam. Tatapannya justru berubah tajam.
"Tetap didalam. Jangan keluar!" ucap salah satu bodyguard.
Tapi, belum sempat pintu mobil terbuka, Elena bergerak cepat mengambil sesuatu dari tasnya lalu, menyemprotkan gas tidur sambil menutup hidungnya.
Dalam hitungan detik, tubuh mereka ambruk tidak sadarkan diri.
"Tidur yang nyenyak, ya," ucap Elena.
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊