Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Suara Mangkuk Pecah
Sejak malam itu, rumah megah keluarga Broto tak lagi pernah merasakan ketenangan yang wajar. Suasana bangunan berlantai dua itu berubah menjadi semakin mencekam, dingin, dan dikuasai oleh hawa kusam yang menyesakkan dada.
Setiap hari, rona matahari sore yang tenggelam bagaikan menyalakan sakelar teror ghaib yang merayap dari sudut-sudut paling gelap di rumah tersebut.
Galang memutuskan untuk tidak lagi tidur di kamarnya sendiri. Ia memindahkan kasur tipis ke lantai kamar anak-anak, mengunci pintu dari dalam, dan bersiap berjaga setiap kali kegelapan menyelimuti Kota Madiun.
Rian kini menjadi sosok yang teramat pendiam karena trauma. Pria muda berusia empat belas tahun itu hanya mengurung diri, matanya selalu membelalak ketakutan tiap kali mendengar derap langkah kaki atau pintu berderit.
Sementara Gilang, si bontot yang polos, makin erat menempel pada Galang, memeluk lengan kakak angkatnya seolah dunia di luar kamar mereka adalah jurang maut yang siap menelan.
Namun, perlindungan dinding kamar dan selot besi ternyata tak mampu menahan guncangan teror yang kian mengganas.
Tepat saat jarum jam dinding berdetik menyentuh angka 12 malam, pukul dua belas tepat di mana fajar mistis berganti, teror fisik yang sesungguhnya dimulai.
PRANGGG!
Suara pecahan keramik yang teramat nyaring dan tajam mendadak bergema keras dari arah dapur belakang. Bunyi itu begitu eksplosif, menyerupai selusin piring dan mangkuk porselen yang dihantamkan secara paksa ke atas lantai semen dengan tenaga raksasa.
Gilang mendadak terbangun seraya menjerit histeris, menyembunyikan wajahnya di bawah selimut. Rian yang terduduk di pojok kasur langsung gemetaran hebat, kedua tangannya menutup telinga rapat-rapat.
"Mas, suara itu lagi, Mas." Rian berbisik dengan napas terengah-engah, matanya membelalak ketakutan menatap pintu kamar yang bergetar pelan.
"Tetap di tempat tidur! Jangan ada yang keluar!" perintah Galang dengan suara berbisik namun tegas.
Galang menyambar senter besi dan pisau lipatnya. Ia memutar kunci pintu perlahan, melangkah keluar menuju koridor tengah yang gelap gulita.
Lampu-lampu rumah sengaja dimatikan oleh Pak Sapta setiap malam, menyisakan kegelapan yang hanya ditembus oleh pendar remang dari lampu jalanan di luar.
Bau amis kluwek berbaur dengan aroma tanah kuburan basah menyengat tajam di hidung Galang. Semakin ia mendekati dapur belakang, hawa udara mendadak merosot drastis, dingin yang menusuk hingga ke dalam sumsum tulang.
PRANGGG! PRANGGG!
Suara benturan porselen pecah kembali bergema mendadak dari area dapur. Disusul oleh getaran halus di atas permukaan lantai marble yang membuat telapak kaki Galang merasakan guncangan seperti gempa kecil lokal.
Galang mengarahkan sorot lampu senternya ke area dapur utama. Di sana, di atas meja racik kayu dan rak gantung, puluhan mangkuk porselen dan piring saji warung tertata rapi.
Tidak ada satu pun piring yang jatuh. Tidak ada pecahan keramik yang terhampar di atas lantai. Rak-rak piring itu berdiri kokoh dan utuh di tempatnya.
Suara pecahan yang sangat nyata itu adalah teror manifestasi ghaib, sebuah fenomena penagihan tumbal yang biasa menandai kehancuran sebuah perikatan pesugihan yang sedang menuntut darah.
DUNG ... DUNG ... DUNG.
Seketika, getaran lantai berubah menjadi ketukan kaku dan beruntun dari bawah ubin dapur. Bunyinya seperti ada jemari raksasa dari dalam tanah yang mengetuk-ngetuk fondasi rumah dari bawah, menuntut pintu untuk dibuka.
Galang melangkah pelan dengan senter gemetar di tangannya. Sorot cahaya senternya menyapu area kuali raksasa di pojok dapur.
Di samping kuali raksasa berwarna hitam legam itu, berdiri sesosok tubuh.
Galang membeku di tempatnya, menahan napas.
Itu adalah Bu Retno. Wanita itu mengenakan daster putih kusam yang terurai panjang. Ia berdiri mematung di tengah kegelapan dapur yang bergetar. Tangannya memegang sebuah mangkuk porselen tua peninggalan almarhum Pak Broto. Wajah Bu Retno pucat pasi bagaikan mayat yang sudah diawetkan, dan matanya yang putih melotot hampa menatap ke dalam kuali kosong.
"Ibu?" panggil Galang dengan suara parau.
Bu Retno tidak menoleh. Tiba-tiba, dengan gerakan kaku bagaikan boneka kayu yang digerakkan benang ghaib, Bu Retno mengangkat mangkuk porselen di tangannya tinggi-tinggi ke udara, lalu menghempaskannya keras-keras ke atas lantai beton di bawah kakinya.
PRANGGG!
Mangkuk itu hancur berkeping-keping. Serpihan keramik tajam memercik ke mana-mana, beberapa di antaranya melukai pergelangan kaki telanjang Bu Retno.
Darah segar berwarna merah pekat merembes keluar dari kulit kaki wanita itu, membasahi lantai beton. Namun, Bu Retno tidak bereaksi apa-apa. Ia tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun. Bahkan hanya sekadar meringis. Wajahnya tetap datar, kaku, dan beku.
"Kurang," ucap Bu Retno dari bibirnya yang menghitam.
Suaranya terdengar bukan seperti suara manusia, melainkan gema berlapis yang datang dari dasar sumur tua.
"Mangkuknya masih kosong, dagingnya kurang satu."
"Ibu! Apa yang Ibu lakukan? Sadar, Bu!" Galang menerjang maju, mencengkeram kedua bahu ibunya dan menggoncangkannya dengan keras.
"Lihat kaki Ibu berdarah! Ibu sedang dirasuki iblis itu! Nyebut, Bu! Istighfar, ya Allah!"
Ibu perlahan menolehkan kepalanya. Gerakan lehernya terdengar berderit halus, kaku dan tak alami. Mata kusamnya menatap lurus ke dalam iris mata Galang.
"Bukan mangkuk ini yang pecah, Galang." Bu Retno berbicara dengan tatapan gila yang dingin. "Tapi silsilah rumah ini yang sedang pecah. Satu lagi, tinggal satu lagi."
Sebelum Galang sempat membalas, sebuah tawa pelan yang dingin mengalun dari balik pintu kamar utama.
Pak Sapta melangkah keluar dari kegelapan koridor. Pria itu mengenakan jubah tidur hitam, berdiri menyandarkan tubuhnya pada tongkat berkepala naga. Kacamata emasnya berkilat terkena sorot dari senter Galang.
"Setiap jam 12 malam, mangkuk pesugihan itu meminta bagiannya, Galang," kata Pak Sapta dengan nada tenang yang teramat kejam. "Suara pecahan yang kamu dengar adalah bunyi mangkuk takdir yang retak. Jika mangkuk itu tidak segera diisi dengan darah yang tepat, maka getarannya akan meruntuhkan seluruh rumah ini beserta isinya."
Pak Sapta berjalan mendekati Bu Retno, menyentuh pundak wanita itu pelan. Seketika, tubuh Bu Retno terhuyung lunglai, seolah-olah kesadarannya yang ditarik ghaib baru saja dikembalikan secara paksa. Wanita itu berkedip bingung, menatap kakinya yang berdarah dan pecahan mangkuk di lantai tanpa mengerti apa yang baru saja terjadi.
"Kakiku," ringis Bu Retno kaku, rasa sakit baru merayapi sarafnya.
"Tidak apa-apa, Bu," ucap Pak Sapta lembut, namun matanya yang tajam tetap terkunci menatap Galang. "Ini hanya sedikit gangguan dari sisa-sisa energi ghaib. Panggil Rian besok pagi, suruh dia ikut Saya ke lokasi pembangunan cabang di Ngawi. Ada doa keselamatan yang harus dia saksikan di sana."
"JANGAN HARAP!" sergah Galang, menutupi tubuh ibunya dan mengacungkan pisau lipatnya lurus-lurus ke arah dada Pak Sapta.
"Rian tidak akan ke mana pun! Jika kamu berani menyentuhnya, aku bersumpah akan membunuhmu malam ini juga!"
Pak Sapta menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman penuh penghinaan atas ancaman anak manusia yang tak berdaya di hadapan perikatan ghaib.
"Kamu tidak bisa melawan takdir yang sudah ditandatangani oleh ayahmu sendiri, Galang," kata Pak Sapta seraya berbalik kaku. "Jam 12 malam besok, mangkuk itu tidak akan berbunyi pecah lagi. Karena isinya, sudah mendapatkan daging yang dicarinya."
Pak Sapta menuntun Bu Retno yang berjalan pincang kembali ke dalam kamar utama, meninggalkan Galang sendirian di dapur yang dingin dan berbau amis darah.
Galang berlutut di lantai yang basah oleh darah ibunya dan pecahan mangkuk porselen yang tajam.
Jam dinding tua di ruang tengah masih terus berdetik nyaring. Suara piring pecah di alam ghaib mungkin telah mereda untuk malam ini, namun pesan dari teror malam itu teramat jelas. Terus memenuhi pikiran Galang.
wajar para kerabat pada nolak bantuin kalo taruhan nya nyawa dan keluarga mrk.
Serius Galang akan menantang datangnya malam Jumat kliwon?
Serius Galang pasrah saja....
Kenapa pakk kyai tidak membantu Galang, yang belum dewasa untuk menyelesaikan ini sendiri.
Galang harus menyaksikan sisa saudaranya diambil gilirannya menjadi tumbal.
come on, Galang !
jangan diam saja .
Do something to save your little brother "Gilang".
masih kecil tapi diliputi ketakutan karena gangguan ghaib.
mau kamu menangis darah,
Buu Broto ga akan sadar dengan ucapan dan tindakannya, Galang .....
Dia dalam pengaruh ghaib Mbah Mangu.
Apakah pesugihan yang diambil bapakmu tidak bisa diputuskan ???
Dan tetapp harus dituntaskan dengan mengambil 2 nyawa yang tersisa , yaitu Rian dan Gilang ????
Mereka masih kecil
Tapi nyawa mereka sudah digadai oleh pesugihan yang dianut bapaknya sendiri.
Tinggal giliran Rian ..... Dan selanjutnya Gilang.
🥺🥺