Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 # Merahasiakan dari sahabat
Queena membawa Arlo menuju kamarnya yang ada di lantai atas, mulai hari itu kamar Queena juga menjadi kamar Arlo. Putri sulung papa Rega tersebut terlihat kesusahan menaiki tangga karena gaunnya yang berat.
“Mama hebat banget bisa tahan pakai ini dari sore sampai hampir tengah malam,” gumam Queena yang sudah merasa pegal dan capek memakai gaun pengantin yang dulu pernah di pakai mama Rhea.
Arlo terkekeh mendengar Queena bergumam, dia juga melihat Queena kesusahan saat naik tangga. Kedua tangannya sibuk mengangkat kedua sisi gaun agar dia lebih mudah berjalan menaiki tangga.
“Makanya, kalau butuh bantuan itu bilang. Jangan diam saja,” celetuk Arlo, dia mengangkat gaun Queena bagian belakang.
Queena menoleh. “Harusnya kamu peka,” jawab Queena.
“Ini apa namanya, Queen?” balas Arlo.
“Dari tadi kek. Udah pegel banget tahu,” gerutu Queena. “Arloo!!” pekik Queena yang tiba-tiba tubuhnya melayang karena Arlo menggendongnya ala bridal
“Berisik banget ini nyonya satu. Tidak di bantu salah, di gendong protes. Maunya apa sih?” gerutu Arlo, dia menaiki tangga dan menuju kamar mereka. Arlo membuka pintu kamar dengan kakinya dan melakukan hal sama saat menutup pintu kamar.
“Berisik tapi di nikahin juga,” balas Queena.
“Terpaksa,” Arlo menatap Queena, senyum jahil terbit dari kedua sudut bibirnya.
Queena mendadak merinding saat melihat senyum dari pemuda yang kini menjadi suaminya tersebut, rasa-rasanya dia cukup akrab dengan senyum tersebut. “Turunin!” pinta Queena.
“Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?” Arlo tersenyum smirk.
“Aku teriak nih,” ancam Queena.
“Teriak saja. Papa sama mama tidak mungkin ke mari,” jawab Arlo.
Queena menghela napas, benar juga ucapan Arlo. Sekarang ini mereka berdua sudah halal, yang ada mama dan papanya akan berpikir yang aneh-aneh jika dia berteriak.
“Please! Bajuku berat banget,” Queena menampilkan ekspresi memelas.
“Kali ini kamu selamat, Queen.” Arlo akhirnya menurunkan Queena dari gendongannya, tadinya Arlo masih ingin menjahili istrinya tersebut. Namun urung dia lakukan karena Arlo juga ingin istirahat sebentar, sebelum dia nanti pergi karena ada yang harus dia selesaikan.
“Terimakasih,” Queena bergegas masuk ke dalam walk in closet untuk mengambil baju, dia lantas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu Arlo sudah melepaskan jas dan melemparnya ke sofa. Setelah itu dia menghempaskan dirinya keatas tempat tidur untuk istirahat sejenak.
Setengah jam kemudian Queena keluar dari kamar mandi, dia sudah selesai membersihkan diri dan sudah berganti baju. Queena menghampiri Arlo yang ternyata sudah memejamkan mata.
“Dia beneran tidur atau tidak, sih?” monolog Queena.
“Pingsan,” sahut Arlo yang membuat Queena terkejut. “Ngagetin orang mulu,” gerutu Queena.
Arlo membuka matanya, dia bangun dan duduk diatas tempat tidur.
“Ganti baju dulu, Arlo. Baru istirahat,” Queena memberikan baju untuk Arlo.
Arlo mengerutkan dahinya. “Itu bajuku, Queen?”
“Tentu saja baju kamu. Memangnya baju siapa lagi?”
“Bukan begitu, Queen. Itu baju sejak kapan ada di sini?” bingung Arlo.
“Tahu-tahu sudah ada di sana!” tunjuk Queena kearah walk in closet. “Mungkin mi-mom yang bawa koper kamu ke mari,” lanjut Queena, pasalnya di dalam walk in closet ada satu koper dan semua isinya adalah baju-baju Arlo.
Queena sendiri tidak tahu sejak kapan koper itu ada di sana, padahal semalam belum ada.
“Mandi sana! Biar itu muka tidak jelek-jelek amat,” ledek Queena.
“Jelek? Penglihatan kamu tidak yang beres itu, ganteng begini. Kamu sendiri yang bilang fansku banyak,” Arlo meraih baju yang di berikan Queena.
Queena hanya mengangkat kedua bahunya, dia tidak lagi membalas. Arlo juga memilih untuk bergegas membersihkan diri, pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi setelah Queena mengambilkan peralatan mandi untuk dirinya.
Queena menatap Arlo dari belakang, gadis itu menghela napas. Pernikahan seperti apa yang akan kita jalani ke depan, Arlo? Bisakah kita berdamai dan menjalani semua dengan baik-baik saja?
***
Queena sedang membaca jurnal saat Arlo sudah selesai membersihkan diri, pemuda itu tidak langsung menghampiri istri yang hanya beda usia beberapa bulan dengannya tersebut. Arlo menuju meja rias Queena. “Ini baru beli?” tanya Arlo saat melihat produk-produk yang biasa dia gunakan dari ujung rambut hingga kaki.
Queena meletakkan tabletnya, dia melihat suaminya yang berdiri di depan kaca rias. “Tidak tahu siapa yang beli, entah mama atau mi-mom. Bi Uyun yang taruh, dia bilang barang yang biasa kamu pakai.”
Arlo tampak berpikir saat mendengar jawaban Queena. “Aneh banget. Kamu tidak merasa ada yang janggal, Queen?”
“Apanya?” polos Queena bertanya pada Arlo.
“Ya aneh. Masa kamu tidak sadar? Dari semua rangkaian dan printilan acara pernikahan kita, seperti sudah di rancang dari jauh-jauh hari. Bahkan barang-barangku sudah ada di sini,”
“Kamu lupa siapa mi-mom? Juga mama sama aunty Almira,” Queena mengingatkan Arlo.
Pemuda itu mengangguk, dia lantas kembali bersiap. Setelah menyemprotkan parfum, Arlo mengambil ponselnya. “Aku pergi sebentar,” pamitnya pada Queena.
Queena mengulurkan tangannya pada Arlo.
“Apa?”
“Ck … tangan,” jawab Queena.
Arlo masih bingung, dia justru membalik dan melihat telapak tanggannya sendiri. “Tanganku baik-baik saja,” ucapnya.
Queena menghela napas sambil menepuk keningnya. “Bukan itu maksudku. Sini!” dia lantas berjalan diatas tempat tidur menggunakan lututnya menghampiri Arlo. Begitupun Arlo yang mendekat ke tepian tempat tidur menghampiri Queena.
“Aku tidak mau jadi istri durhaka. Meskipun kita nikah terpaksa,” Queena meraih tangan Arlo dan menci um punggung tangan suaminya.
Arlo tersenyum nyaris tak terlihat, dia menepuk puncak kepala Queena yang masih mengenakan hijab bergo warna hitam. “Kita bicara setelah aku kembali. Ada banyak hal yang harus kita diskusikan,” ucap Arlo diangguki Queena.
Ada banyak hal yang harus keduanya diskusikan, terlebih mereka memutuskan untuk menyembunyikan pernikahan. Setelah Arlo pergi, Queena kembali melanjutkan membaca Jurnal.
Drrt … Drrt
Intan mengubah icon dan nama grup
Queena melihat sejenak notifikasi yang masuk ke ponselnya.
Ciwi-ciwi pengendali Bakteri dan Virus
(Intan cute) permisi, hello! Neng @Queena imoet kenapa bolos hari ini?
(Rayemoet) iya nih bu ketu @Queena imoet, kemana saja anda? Bisa-bisanya menghilang tanpa kabar, Prof. Lucas nanyain.
(Queena imoet) sorry-sorry, guys. Aku dan Dean harus ikut datang ke nikahan anak circlenya papa sama mama, lupa bawa ponsel.
Ada apa Prof. Lucas nyari aku?
(Rayemoet) nanya sudah sampai mana progress?
(Intan cute) bukan cuma Prof. Lucas yang nyari kamu neng. Itu anak-anak cewe Teknik juga nyari kamu.
(Queena imoet) Progress 80% @Rayemoet.
@Intan cute, pasti mereka mau tanya soal Arlo.
(Intan cute) aa Arlo 🥰🥰
(Rayemoet) Arlo lagi-Arlo lagi, padahal bukan hanya dia yang ganteng di kampus ini. Heran kenapa pada tergi la-gi la sama Arlo.
(Queena imoet) 🤷🏻♀️🤷🏻♀️
Queena menatap grup room chatnya dengan dua sahabatnya tersebut, dia menghela napas. “Maaf, guys. Aku tidak bermaksud untuk merahasiakan ini, semoga kalian mengerti posisiku saat ini. Aku ingin fokus dan segera menyelesaikan kuliah. Menjadi orang yang di kenal sebagai sahabat kecil Arlo saja, mereka sudah mengejarku. Apalagi kalau tahu aku istri Arlo,” monolog Queena.