**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Gugup
Malam setelah pengakuan itu, lampu dapur unit 8A tetap menyala sampai lewat tengah malam.
Keira bisa melihat garis cahayanya dari bawah pintu 8B. Ia berdiri di koridor dua kali, ingin mengetuk, lalu kembali masuk sebelum tangannya terangkat.
Reynard benar-benar memberinya ruang.
Pagi berikutnya, sarapan sudah ada di meja Keira: nasi hangat, telur, dan sayur tumis dalam wadah tertutup. Tidak ada Reynard yang duduk menunggu komentar, hanya selembar kertas.
Ada kelas pagi. Jangan berangkat dengan perut kosong.
Keira membawa wadah itu ke kampus, tetapi baru memakannya ketika sudah dingin.
Selama tiga hari, ia pulang lebih larut dengan alasan mengejar makalah di perpustakaan. Kenyataannya, setelah membaca dua halaman, Keira hanya berjalan mengitari kampus tanpa tujuan. Ia duduk di dekat taman, pindah ke kantin, lalu kembali ke gedung perkuliahan seperti orang yang lupa jalan pulang.
Setiap sudut membawa ingatan tentang Reynard. Tempat ia menunggu saat hujan. Tangga tempat laki-laki itu pernah membawakan tasnya. Aula tempat ia menyebut seseorang sebagai penyemangat diam-diam.
Sekarang Keira tahu semua itu tentang dirinya.
Di depan lapangan basket, beberapa mahasiswa berteriak menyemangati teman mereka. Keira teringat pengakuan Reynard tentang latihan bertahun-tahun agar tumbuh kuat. Ia membayangkan anak SMP yang memaksa diri bangun pagi hanya karena mendengar satu percakapan orang lain.
Bagian dirinya merasa tindakan itu berlebihan. Bagian lain ingin memeluk Reynard dan berkata ia tidak perlu mengubah seluruh hidup demi siapa pun.
Namun apakah ia berhak mengatakan itu setelah menikmati hasilnya? Keira selalu memakan masakannya, berlindung di belakang tubuhnya, dan mencari laki-laki itu setiap kali bahaya datang. Ia menerima semua bentuk perhatian tanpa pernah bertanya berapa banyak usaha yang tersembunyi di dalamnya.
Rasa bersalah membuat langkahnya semakin lambat.
Pada sore kedua, Nana menelepon karena curiga melihat tiga unggahan Keira tentang kopi dalam sehari.
"Kamu sedang ada masalah?"
"Nggak."
"Kalau nggak ada masalah, kamu nggak akan minum kopi tiga gelas dan mengunggah semuanya seperti iklan kedai. Cerita."
Keira duduk di bangku dekat lapangan. "Ada seseorang yang mengaku suka kepadaku."
"Jonathan?"
"Bukan."
"Kevin?"
"Bukan juga. Kenapa daftar kandidatmu panjang sekali?"
"Karena kamu cantik dan terlalu nggak peka." Nana berhenti sejenak. "Kamu menolaknya?"
"Aku minta waktu."
"Berarti kamu suka."
"Kesimpulanmu ngawur."
"Waktu dia mengaku, jantungmu berdetak biasa atau sempat kehilangan satu ketukan?"
Keira membisu.
Nana tertawa puas dari seberang. "Nah. Kalau sampai kamu ingat detaknya, ada peluang besar."
"Masalahnya rumit. Dia lebih muda. Masih mahasiswa. Dan kalau sahabatku tahu, aku mungkin akan dikirim ke Brasil sebagai hukuman."
"Sahabatmu mengenalnya?"
Keira segera sadar hampir keceplosan. "Anggap saja begitu."
"Kei, kamu nggak sedang memilih calon presiden. Kamu cuma perlu jujur apakah bersamanya membuatmu bahagia. Masalah lain dibicarakan setelah itu."
Setelah telepon ditutup, Keira tetap duduk sampai lampu taman menyala. Ia mencoba menyusun daftar alasan untuk menolak.
Reynard tiga tahun lebih muda.
Ia baru masuk kuliah, sedangkan Keira segera memikirkan magang dan dunia kerja.
Vanessa mungkin merasa dikhianati.
Orang-orang mungkin menganggap Keira memanfaatkan kedekatan keluarga.
Namun setiap alasan terdengar seperti suara orang lain, bukan keinginannya sendiri.
Keira pulang hampir pukul sembilan. Pintu 8A tertutup rapat. Tidak ada pertanyaan tentang keberadaannya, hanya pesan bahwa makan malam sudah ditaruh di unitnya.
Hari ketiga berjalan sama. Reynard berangkat lebih pagi dan pulang tanpa mengetuk. Sesekali mereka berpapasan di koridor.
"Sudah makan?" tanyanya.
"Sudah."
"Bagus. Istirahat."
Lalu ia masuk ke unitnya, menyimpan semua pertanyaan di balik pintu.
Sikap itu seharusnya melegakan Keira. Sebaliknya, ia mulai merindukan laki-laki yang biasa mengganggunya saat belajar dan mencuri kentang goreng dari piringnya.
Ia bahkan sengaja memasak kentang goreng terlalu banyak, lalu baru sadar tidak ada tangan yang akan mengambilnya. Keira meletakkan separuh di wadah kecil dan berdiri di depan 8A. Dari dalam terdengar suara ketikan laptop.
Tangannya sudah terangkat ketika keberaniannya menghilang. Ia meninggalkan wadah itu di depan pintu tanpa catatan.
Lima menit kemudian, sebuah pesan muncul.
Reynard: Terima kasih.
Hanya dua kata, tetapi Keira membaca keduanya berkali-kali.
Malam ketiga, Keira menemukan makan malam masih hangat di atas meja. Sebuah catatan baru diletakkan di bawah sendok.
Apa pun keputusanmu nanti, kamu tetap harus makan tepat waktu.
Tulisan Reynard tetap rapi. Tidak ada tuntutan, bahkan tidak ada namanya di ujung kertas.
Keira duduk dan menatap catatan itu sampai huruf-hurufnya kabur. Ia menekan bibir agar tidak menangis karena hal sesederhana semangkuk sup.
Setelah makan, ia membuka galeri ponselnya. Foto-foto beberapa tahun terakhir memenuhi layar: acara sekolah bersama Vanessa, ulang tahun keluarga Hartono, pertemuan singkat ketika Reynard masih kurus dan canggung, lalu foto terbaru di NATIYA Coffee.
Ia berhenti pada satu foto lama. Vanessa tertawa di depan kamera. Keira berdiri di sampingnya, sedangkan jauh di belakang, Reynard yang masih berseragam sekolah tidak melihat lensa.
Laki-laki itu melihat Keira.
Keira memperbesar foto sampai gambarnya pecah. Tatapan Reynard muda begitu mudah dibaca sekarang setelah ia mengetahui kebenarannya.
Jarinya menyentuh wajah kecil di layar.
"Jadi sejak waktu itu kamu sudah..."
Keira tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun untuk pertama kali dalam tiga hari, jawabannya tidak lagi terasa sejauh sebelumnya.