Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANGAT NYA SENJA DAN ANCAMAN DI BALIK KABUT
Kepergian Arthur meninggalkan keheningan yang menenangkan di sekitar gubuk kayu. Sisa-sisa aura bertarung dan bau sangit sihir petir yang sempat meletup di luar pagar perlahan sirnah, tergantikan oleh aroma harum bunga liar dan aroma tanah basah yang disiram embun pagi.
Kayy mengulurkan tangan, meraih cangkir teh Alya yang sudah dingin, lalu berjalan santai menuju dapur kecil di samping gubuk. Alya mengekor dari belakang. Gaun sederhananya berdesir pelan mengikuti langkah kakinya. Pandangan mata sang mantan Saintess tak pernah lepas dari punggung pria yang kini sibuk menyeduh ulang air di atas tungku batu.
"Kayy..." panggil Alya lembut.
"Hmm?" Kayy merespons tanpa menoleh, tangannya cekatan memetik beberapa lembar daun teh herbal segar yang baru saja ia ambil dari vas dekat jendela.
"Apa kamu... sama sekali tidak menyesal?"
Kayy menghentikan gerakannya sejenak. Ia memutar tubuhnya, menatap Alya dengan pandangan bertanya. "Menyesal untuk apa?"
"Hidup bersamaku di tempat terpencil ini," bisik Alya pelan. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sedikit menunduk. "Dulu kamu bisa hidup tenang tanpa perlu berurusan dengan Pahlawan Kerajaan, sihir Raja Iblis, atau masalah-masalah kerumitan dunia luar. Tapi karena keberadaanku, tempat sembunyimu yang damai ini hampir saja terseret konflik besar."
Kayy menghela napas pendek. Ia melepas celemek kusamnya, menaruhnya di atas meja kayu, lalu melangkah mendekati Alya. Tanpa berkata-kata, Kayy meraih kedua tangan istrinya. Jemari Kayy yang hangat dan sedikit kasar karena terbiasa memegang gagang cangkul menggenggam jemari Alya yang halus dengan begitu erat.
"Alya, dengarkan aku," kata Kayy. Suaranya rendah, hangat, dan dipenuhi ketenangan yang selalu sanggup meruntuhkan segala kegelisahan di dada Alya. "Gubuk ini memang tempat sembunyiku. Tapi tempat ini baru terasa seperti 'rumah' setelah kamu ada di sini. Kalaupun dunia luar berniat mengganggu kedamaian kita... ya, tinggal kupastikan mereka tidak bisa melangkah melewati pagar depan. Itu saja."
Alya mendongak, menatap mata hitam murni milik suaminya. Tidak ada kebohongan, tidak ada keraguan, dan tidak ada ketakutan sedikit pun di sana. Pria ini benar-benar tidak peduli seberapa kuat Raja Iblis atau seberapa megahnya Kerajaan. Bagi Kayy, seluruh benua ini bisa hancur asal kebun dan istrinya tetap aman.
Sebuah senyuman tipis memahat wajah cantik Alya. Rasa hangat meledak di dalam dadanya, menyapu bersih sisa-sisa kecemasan yang sempat membayangi pikirannya.
"Kamu ini... benar-benar suami yang aneh," gumam Alya terkekeh pelan.
"Aneh-aneh begini juga suamimu," balaskan Kayy menyeringai tipis.
Kayy menarik lembut pinggang Alya, memangkas jarak di antara mereka. Alya tidak menolak; ia justru menyandarkan kedua tangannya di dada bidang Kayy, membiarkan tubuhnya larut dalam pelukan hangat pria tersebut. Cahaya matahari sore yang berwarna keemasan menerobos masuk lewat celah jendela kayu, membiaskan bayangan indah mereka berdua di atas lantai gubuk.
Kayy mengusap lembut pipi Alya dengan ibu jarinya, menatap bibir ranum istrinya yang sedikit terbuka.
Alya memejamkan mata perlahan, menyambut embusan napas Kayy yang mendekat.
Ciuman itu mendarat dengan lembut dan penuh kehangatan. Tidak ada ketergesaan, hanya ungkapan rasa cinta yang mendalam dan saling memiliki di antara dua jiwa yang telah menemukan kedamaian satu sama lain. Rasa manis dan harum teh herbal terasa begitu nyata. Kayy mempererat pelukannya pada pinggang Alya, seolah menegaskan bahwa seluruh dunia di luar sana tak akan pernah bisa menyentuh wanita di dalam pelukannya ini.
Ketika tautan bibir mereka perlahan terlepas, Alya menyandarkan dahi dan hidungnya di dada Kayy. Napasnya sedikit memburu, dengan rona merah alami menyebar indah di kedua pipinya.
"Tehnya... nanti keburu dingin lagi, Sayang," bisik Alya manja, suaranya hampir menyerupai bisikan angin sore.
Kayy tertawa kecil, membelai rambut pirang keemasan Alya yang lembut. "Kalau dingin, ya tinggal kubuatkan lagi. Kita punya seluruh waktu di dunia ini."
Sementara kedamaian dan kehangatan menyelimuti gubuk kecil di pinggir hutan, beberapa puluh mil ke arah timur—di dalam sebuah markas rahasia yang tersembunyi di balik benteng batu Ibukota Kerajaan—suasana bertolak belakang sedang terjadi.
Di dalam ruangan bawah tanah yang minim cahaya, sebuah meja bundar dari batu hitam dikelilingi oleh lima sosok bertopeng emas. Mereka adalah para eksekutif dari Shadow Vanguard, organisasi intelijen dan eksekutor rahasia milik petinggi Kerajaan.
Di tengah meja, sebuah kristal sihir pemantau memancarkan rekaman bayangan yang samar.
"Apakah laporan ini sudah dikonfirmasi?" tanya sebuah suara berat dari balik topeng emas berukir naga.
"Sudah, Tuan Komandan," sahut sosok bertopeng di sebelahnya. "Detektor intisari sihir kita di perbatasan barat daya menangkap gelombang energi Holy Light milik Sang Pahlawan, Arthur. Namun, yang lebih mengejutkan... detektor itu juga merefleksikan sisa-sisa energi Saintess yang seharusnya sudah musnah tiga tahun lalu."
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat dingin dan menegang.
"Lady Alya masih hidup?" tanya Komandan dengan nada tak percaya. "Bagaimana bisa? Ledakan intisari mana waktu itu seharusnya menghancurkan seluruh struktur jiwanya!"
"Kami mendeteksi jejak posisinya di pinggiran Hutan Kelam. Beliau tampaknya hidup bersembunyi di sebuah gubuk terpencil bersama seorang warga sipil biasa," terang eksekutif itu lagi sambil menunjukkan peta wilayah. "Tetapi ada hal aneh. Pahlawan Arthur terlihat meninggalkan area itu dalam kondisi bugar sepenuhnya, padahal sebelumnya dilaporkan sekarat akibat gempuran sihir Raja Iblis."
Komandan bertopeng naga mengetukkan jarinya di atas meja batu dengan irama teratur. Matanya memancarkan keserakahan yang teramat sangat di balik celah topengnya.
"Sempurna..." gumam sang Komandan dengan nada licik. "Raja Iblis semakin mendesak pertahanan barat. Jika kita bisa menangkap kembali Lady Alya dan mengekstrak intisari Saintess-nya secara paksa, kita bisa menciptakan senjata sihir pemusnah tingkat Divine untuk mengakhiri perang ini—sekaligus menguasai Kerajaan."
"Bagaimana dengan pria sipil yang tinggal bersamanya, Tuan?"
Komandan itu tertawa meremehkan. Suara tawanya bergema dingin di dinding batu yang lembab.
"Pria sipil biasa? Singkirkan saja seperti memijak serangga. Kirimkan Tim Pemburu Bayangan tingkat empat besok lusa. Bawa Lady Alya kembali hidup-hidup, dan ratakan gubuk itu tanpa menyisakan bukti apa pun."
"Baik, Tuan!"
Tanpa mereka sadari sedikit pun, rencana angkuh yang disusun di dalam kegelapan itu bukan sekadar misi penculikan biasa. Mereka tidak sedang menuju gubuk seorang petani lemah... melainkan sedang berjalan dengan mata tertutup menuju jurang kepunahan mereka sendiri.