Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Cerai Di Malam Pertama

Janji Cerai Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5. Wanita itu lagi tak ada henti

Beberapa rekan sesama anak koas sempat melirik ke arah Rosa, berbisik-bisik kagum pada penampilannya yang mencolok. Rosa tersenyum penuh kemenangan begitu melihat Fitri mendekat.

"Hai, Dokter Fitri," sapa Rosa dengan nada manis yang melengking buatan. "Lagi sibuk ya? Kasihan banget, mukanya lelah begitu seperti belum mandi dua hari."

Fitri menghentikan langkahnya, menatap Rosa dengan raut dingin. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi agar tidak terpancing di depan publik rumah sakit. "Rosa, ini lingkungan kerja. Kalau kamu tidak punya kepentingan medis, sebaiknya kamu pergi. Kenapa juga selalu ke rumah sakit sih"

Rosa terkekeh pelan, melangkah maju dua tindak hingga aroma parfum mewahnya yang menyengat menyeruak masuk ke indra penciuman Fitri. "Galak banget sih. Aku ke sini cuma mau menyampaikan pesan dari Adam, kok. Kasihan kan kamu, suamimu sendiri malas kirim pesan langsung ke kamu."

Rosa merogoh tas kulit mahalnya, lalu mengeluarkan sebuah paper bag kecil berlogo merek pakaian ternama. Ia menyodorkannya ke hadapan Fitri dengan tatapan mengejek.

"Ini ada sedikit baju baru dari aku. Adam kemarin mengeluh ke aku, katanya malu kalau harus jalan bareng kamu karena pakaianmu yang itu-itu saja. Jadi, sebagai wanita yang penyayang, aku belikan ini supaya kamu gak terlalu kelihatan seperti pembantu di rumah," tutur Rosa tanpa rasa dosa.

Darah Fitri serasa mendidih. Beberapa staf dan pasien yang lewat sempat menengok ke arah mereka karena mendengar ucapan bernada merendahkan itu. Tangan Fitri mengepal erat di dalam saku jas dokternya, namun ia tetap berdiri tegak, membalas tatapan Rosa tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Terima kasih atas perhatianmu yang berlebihan, Rosa," sahut Fitri dengan suara tenang, namun setiap katanya penuh penekanan. "Tapi aku tidak butuh belas kasihan dari wanita yang bahkan tidak punya keberanian untuk menampakkan diri di depan ibu mertuaku. Aku juga tidak butuh pakai dandan menor seperti kamu. Sudah lah kembalikan saja kepada mas Adam atau pakai saja untuk mu. Aku donasikan itu"

Wajah Rosa yang tadinya dipenuhi senyum percaya diri seketika berubah tegang. Matanya menajam. "Kamu..."

"Ingat satu hal," potong Fitri cepat sebelum Rosa sempat membalas. "Barang branded dan pakaian mahal yang kamu banggakan itu dibeli pakai uang Adam, uang yang seharusnya juga dipakai untuk biaya pengobatan ibunya. Kalau kamu memang wanita berkelas seperti yang kamu pamerkan, harusnya kamu malu menerima barang-barang itu dari pria yang ibunya sedang terbaring sakit di rumah."

Rosa menelan ludah, bibirnya gemetar menahan amarah. Maksud hatinya datang untuk mempermalukan Fitri di tempat kerja, tetapi ia justru tertembak balik oleh ucapan telak wanita yang selama ini ia anggap lemah tersebut.

"Jangan merasa sok suci ya, Fitri!" bisik Rosa tajam, menunjuk dada Fitri dengan jarinya yang berkutek merah. "Satu tahun itu sebentar. Begitu surat cerai itu ditandatangani, kamu cuma akan jadi masa lalu yang dibuang Adam tanpa sisa!"

Fitri menyunggingkan senyum tipis, begitu tipis hingga hampir tak terlihat. "Kita lihat saja nanti, Rosa. Siapa yang sebenarnya akan dibuang. Jangan repot-repot ke rumah sakit lagi. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajah mu. Lagi pula, pesan dari mas Adam itu tidak penting."

Tanpa membuang waktu lagi, Fitri berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Rosa yang berdiri mematung dengan wajah merah padam karena menahan malu dan emosi.

"Fitri.. kamu kenal siapa dia? Wangi sekali sampai buat pusing" Tanya Fany rekan seperjuangan nya juga.

"Tidak.. dia hanya bertanya di mana rumah sakit jiwa yang sebenarnya." Jawab ku.

"Benarkah? Tidak ku sangka, cantik cantik gila juga"

Aku hanya tersenyum melihat respon fany lalu ku lanjutkan berjalan ke ruang perawatan untuk bekerja.

**

Malam telah larut ketika Fitri melangkah masuk ke dalam rumah. Jas koasnya sudah tersimpan rapi di dalam tas, dan penampilannya terlihat sangat lesu setelah menjalani masa jaga di bangsal anak. Matanya terasa berat, sementara pundaknya kaku akibat menahan beban lelah seharian penuh.

Setelah pulang, jangankan disambut kehangatan, suasana rumah malam itu terasa sangat tegang dan mencekam.

Adam duduk di ruang tengah dengan menyilangkan kaki. Wajahnya merah padam, sementara matanya menatap tajam ke arah Fitri begitu pintu depan terkunci. Di atas meja kaca di depannya, sebuah cangkir kopi sudah dingin, seolah menunjukkan betapa lamanya pria itu menunggu kedatangan sang istri.

"Baru pulang kamu?" tegur Adam dengan nada suara yang sangat dingin dan menusuk.

Fitri menghentikan langkahnya, menghela napas pelan sebelum menoleh ke arah suaminya. "Iya, Mas. Tadi ada pasien darurat di bangsal, jadi aku harus bantu tindakan dulu sebelum bisa operan shif."

Adam tertawa sinis, berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Fitri dengan langkah lebar. "Pasien darurat? Atau kamu memang sengaja keluyuran di rumah sakit cuma buat cari masalah?"

Fitri mengerutkan dahi, bingung dengan arah pembicaraan Adam. "Maksud Mas Adam apa? Aku di rumah sakit kerja, Mas. Aku menjalankan kewajibanku sebagai koas."

"Jangan pura-pura polos, Fitri!" bentak Adam, menunjuk wajah Fitri dengan telunjuknya. "Tadi siang kamu ketemu Rosa kan di lorong poliklinik? Apa yang sudah kamu katakan sama dia sampai dia menangis dan telepon aku sambil gemetaran?"

Fitri menahan gejolak emosi di dadanya. Ia mengepalkan tangan di balik gamis sederhananya, mencoba tetap tenang meski hatinya dihantam kekecewaan yang teramat sangat. Sekali lagi, Adam lebih memilih mempercayai aduan palsu dari selingkuhannya daripada menanyakan kebenaran pada istrinya sendiri.

"Aku gak katakan apa-apa yang di luar batas, Mas," jawab Fitri pelan namun tegas. "Rosa yang menghampiri aku duluan. Dia datang buat pamer barang-barang mahal dan merendahkan penampilanku di depan rekan-rekan koas yang lain. Lagi pula kenapa dia repot repot setiap hari ke rumah sakit coba?" Ujar Fitri lagi.

"Bohong!" potong Adam cepat tanpa mau mendengar penjelasan lebih lanjut. "Rosa itu wanita baik-baik. Dia cuma berniat baik mau memberikan kamu baju baru karena kasihan melihat penampilan kamu yang kumal! Tapi kamu malah menghina dia, dituduh wanita yang gak punya malu dan manfaatin uang aku!"

Fitri menyunggingkan senyum getir. Ada rasa sakit yang luar biasa saat melihat pria yang merupakan cinta pertamanya begitu buta membela wanita lain. "Lalu apa ucapanku itu salah, Mas? Coba pikir saja. Mas kan laki-laki seharusnya pandai berfikir secara logika"

Adam tertegun sejenak, tak menyangka Fitri akan menjawab sejujur dan setajam itu.

"Kamu!.."Ujar Adam tak mampu berkata-kata.

Fitri melangkah satu tindak mendekati Adam, menatap lurus ke dalam mata suaminya tanpa rasa takut. "Uang yang Mas pakai buat belikan Rosa tas dan baju mahal puluhan juta itu, apa Mas ingat kalau Ibu di kamar butuh obat-obatan yang harganya tidak murah? Mas selalu mengeluh kalau biaya berobat Ibu mahal, tapi di luar sana Mas menghambur-hamburkan uang buat memanjakan Rosa."

"Fitri! Jaga mulutmu!" suara Adam meninggi, gema bentakannya memenuhi ruangan. "Uang itu hasil kerja keras aku! Aku berhak menggunakannya untuk siapa pun yang aku mau! Kamu gak punya hak buat mengatur atau menghakimi aku!"

"Aku memang tidak punya hak mengatur uang Mas Adam," sahut Fitri tenang, walau matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi ingat janji Mas sendiri saat menyodorkan surat perjanjian cerai itu. Mas minta aku menjaga nama baik keluarga. Tapi yang bikin malu keluarga ini bukan penampilanku yang sederhana, Mas... melainkan kelakuan Mas sendiri yang terang-terangan memanjakan wanita lain di saat Ibu sedang terbaring sakit."

Kata-kata Fitri bagaikan tamparan keras yang menghantam harga diri Adam. Pria itu mematung dengan bibir terkatup rapat, tak sanggup menyusun kalimat balik.

"Huh buat naik darah saja" gumam Fitri.

~Bersambung~

1
sunaryati jarum
Rasain Adam,kau kan sudah diberi kenikmatan selangkah Rosa jadi nikmati 😂😂
sunaryati jarum
Makin tidak tahu malu, Adam.Lihat dulu kelakuan kamu gimana pada Fitri, Adam,? Sekarang kau mengemis padanya.Segera resmikan kalian dr Danu dan dr Fitri agar dr Danu punya hak dan kewajiban melindungi kamu dan Aiden dengan penuh.Sepertinya Adam mulai tidak waras, kalian harus waspada, jangan sampai Adam berbuat nekat.
sunaryati jarum
Tidak sadar diri Adam,itu hanya akan menggali kuburan kamu sendiri.Kamu lihat dari jauh saja.Apa yang kau rasakan itu dulu juga dirasakan oleh Fitri.Ingat saat kamu selalu memberikan perhatian pada Rosa.Bagaimana kabar Rosa,ya.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
sunaryati jarum
Tidak akan menang, sampai uangmu habis Adam.Selembar tes DNA yang kau gunakan sebagai senjata tidak akan mempan.Anak di bawah umur akan ada di bawah hak asuhnya apalagi riwayat Aiden dari kandungan sampai dua tahun ini tidak ada andil dari kamu, apalagi pekerjaan kami yang tidak akan mungkin bisa merawat Aiden.Sadar diri Adam!!
sunaryati jarum
Silahkan tes DNA toh tidak merubah apapun, seharusnya kamu terima kenyataan itu akibat kesombongan dan pengabaian,serta pengkhianatan kamu pada Fitri dan mendiang ibumu
sunaryati jarum
Adam tingkahmu menunjukkan rasa tidak bersalah, malah merasa jadi korban,lebih dewasa' dari dr Fitri tapi malah labil dan plin-plan
sunaryati jarum
Sekali , Fitri kamu jangan mau diajak balikan / rujuk sama Adam.Dia ingat kamu karena ekspektasinya pada Roda tidak sesuai harapan.Jika dia bahagia sama tidak akan ingat kamu.Kamu wanita berharga bukan barang,jika mau dipakai dicari sudah tidak dipakai dibuang.Emak suka cerita ini,tapi jika kamu rujuk sama Adam,emak berhenti mengikuti kisahmu
sunaryati jarum
Jangan sampai balikan ke Adam, berikan jodoh lain, jika Adam tahu ada anaknya jangan sampai ada perebutan hak asuh anak yang dimenangkan Adam
sunaryati jarum
Makan tuh Penyedalan, itulah jika mengabaikan amanah ALMH ibumu
sunaryati jarum
Ternyata banyak yang melindunginya ,Adam
sunaryati jarum
syukurin tuh makan sampah
sunaryati jarum
Baru mampir
Lee Mba Young
aku suka Fitri teges banget. 👍. keren
Lee Mba Young
bagus Fitri. jng smp kalah.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.
aku
aq salah baca ato apa. ahr bab sbelumnya bukane udh diusir, rosa bw koper gt ya 🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!