Indonesia
NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Kepulangan yang Tidak Tenang

Turun dari Gunung Lima Jari jauh lebih sulit daripada mendaki. Zhou Han, meski masih hidup, tidak lagi mampu berjalan sendiri. Zhao Kai dan Ah Fu bergantian menggendongnya melewati jalur curam yang sama, sementara Xiao Hei dipapah oleh Yue Er karena tenaganya belum sepenuhnya pulih setelah menstabilkan Formasi Penjara Awan semalam.

Ketika mereka akhirnya tiba di kaki gunung, pasukan pengawal kerajaan yang menunggu langsung bersiaga begitu melihat kondisi rombongan yang babak belur. Zhou Chen segera memerintahkan agar Zhou Han diperiksa oleh tabib pasukan dan diikat dengan rantai ringan bukan untuk menyiksa, melainkan untuk memastikan ia tetap dalam pengawasan selama perjalanan pulang.

"Perlakukan dia dengan layak," kata Zhou Chen kepada Kapten pengganti Kapten Wei yang telah gugur mengkhianati mereka. "Ia tahanan penting, bukan sekadar buronan biasa. Nyawanya lebih berharga hidup daripada mati."

Perjalanan pulang direncanakan memakan waktu empat hari, mengikuti jalur utama yang lebih aman dan lebih mudah diawasi dibanding jalur belakang gunung, namun sejak hari pertama, Zhou Chen tidak bisa menghilangkan firasat buruk yang terus mengganjal.

"Zhou Yan tahu Zhou Han masih hidup," katanya kepada Zhou Ming saat mereka berjalan berdampingan di belakang rombongan. "Ia pasti akan mencoba membungkamnya sebelum sampai ke istana."

"Aku sudah memikirkan hal yang sama," jawab Zhou Ming, wajahnya tegang. "Tetapi kita tidak tahu dari arah mana serangan akan datang, atau kekuatan macam apa yang akan ia kirim kali ini. Setelah kegagalan Kapten Wei dan penjaga di rumah distrik lama, ia mungkin sudah belajar untuk tidak lagi meremehkan kita."

Zhou Chen menoleh ke arah tandu sederhana tempat Zhou Han dibaringkan, matanya masih setengah terpejam, wajahnya pucat namun stabil. "Justru itu yang membuatku semakin waspada. Ia bisa mengirim sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar bandit bayaran."

________________________________________

Kewaspadaan itu terbukti benar pada malam kedua.

Perkemahan mereka didirikan di tepi sebuah ngarai sempit, tempat yang dipilih Zhao Kai karena hanya memiliki satu jalur masuk yang mudah dijaga. Namun menjelang tengah malam, Yue Er—yang bertugas jaga pertama tiba-tiba berdiri tegang, busurnya sudah terangkat siap menembak.

"Ada sesuatu di atas tebing," bisiknya kepada Zhao Kai yang segera terbangun. "Bukan orang, terlalu senyap, terlalu ringan."

Zhou Chen, yang juga terjaga mendengar ketegangan dalam suara Yue Er, segera mengarahkan Mata Dewa ke arah tebing di atas mereka.

Sasaran terdeteksi. Bukan manusia. Makhluk berbulu hitam, ukuran sedang, bergerak dalam kelompok. Analisis lebih lanjut: burung gagak terlatih, membawa jarum beracun kecil terikat di kaki. Pola serangan: menjatuhkan jarum secara serentak dari ketinggian ke area perkemahan.

"Burung!" seru Zhou Chen mendadak, suaranya cukup keras untuk membangunkan seluruh perkemahan. "Mereka membawa jarum beracun lindungi Zhou Han dan orang-orang yang belum bangun!"

Zhao Kai segera bergerak, menarik kain tenda tebal untuk menutupi tandu Zhou Han sementara Ah Fu membangunkan sisa pasukan yang masih tertidur. Yue Er melepaskan panah demi panah ke arah gerombolan bayangan hitam yang mulai turun dari langit malam, dia berhasil menjatuhkan beberapa ekor sebelum mereka sempat menjatuhkan barang yang mereka bawa. Namun jumlahnya terlalu banyak, puluhan jarum kecil berjatuhan seperti hujan gelap di tengah perkemahan.

Xiao Hei, meski tubuhnya masih lelah, melompat maju dengan sisa tenaga yang ia miliki, mengayunkan pedangnya dalam gerakan lebar untuk menepis sebanyak mungkin jarum yang mengarah ke tenda-tenda pasukan. Beberapa jarum menggores lengannya, dan ia meringis menahan rasa panas yang segera menjalar dari lukanya.

"Xiao Hei, jangan paksakan diri!" seru Zhou Chen, namun terlambat Xiao Hei sudah roboh berlutut, tubuhnya gemetar menahan racun yang mulai bekerja.

Paman Guo, yang ikut dalam rombongan pulang untuk membantu perawatan, segera berlari mendekat dengan kotak obat kecil di tangannya. "Racun jarum gagak—hamba pernah melihatnya dulu. Bukan racun mematikan, tetapi melumpuhkan otot selama beberapa jam kalau tidak segera ditangani!"

Ia segera menyuntikkan penawar sederhana dari bekal yang selalu ia bawa, sebuah kebiasaan berjaga-jaga yang kini kembali terbukti menyelamatkan nyawa.

Serangan burung gagak itu akhirnya mereda setelah Yue Er berhasil menjatuhkan lebih dari separuh kawanannya, sementara sisanya terbang menjauh ke dalam kegelapan malam entah karena kehabisan muatan, atau karena memang hanya diperintahkan untuk satu gelombang serangan saja.

Ketika pagi tiba, Zhou Chen memeriksa kondisi seluruh rombongan. Beberapa pengawal terluka ringan, Xiao Hei masih lemas akibat racun meski sudah membaik berkat penawar Paman Guo, dan yang paling penting Zhou Han tetap hidup, terlindung berkat tindakan cepat Zhao Kai.

"Ini bukan upaya membunuh Zhou Han secara langsung," gumam Zhou Ming, memeriksa salah satu jarum yang berhasil diambil tanpa terkena racunnya. "Kalau memang itu tujuannya, mereka pasti mengarahkan serangan langsung ke tandunya, bukan menyebar ke seluruh perkemahan."

"Lalu apa tujuannya?" tanya Zhou Chen.

"Mengacaukan," jawab Zhou Ming pelan. "Menciptakan kekacauan, melemahkan kita, membuat kita ragu dan lelah sebelum serangan yang sesungguhnya datang, ini baru peringatan."

Zhou Chen menatap ke arah cakrawala timur, tempat matahari mulai terbit di balik pegunungan yang baru saja mereka tinggalkan. Firasatnya mengatakan bahwa peringatan Zhou Ming benar dan bahwa perjalanan dua hari yang tersisa menuju ibu kota masih menyimpan bahaya yang jauh lebih besar.

Di tengah perjalanan pada hari ketiga, saat rombongan berhenti sejenak untuk beristirahat, Zhou Han yang kini sudah cukup pulih untuk duduk tegak meski tetap dalam rantai ringan memanggil Zhou Chen mendekat.

"Kakak," katanya pelan, suaranya masih lemah namun jelas. "Aku ingin memberitahumu sesuatu, sebelum kita sampai ke istana dan aku mungkin tidak lagi punya kesempatan berbicara bebas."

Zhou Chen duduk di hadapannya, waspada namun juga penasaran. "Katakan."

"Nyonya Zhou Yan tidak beroperasi sendirian di dalam istana," kata Zhou Han, matanya menatap lurus ke depan seolah mengingat sesuatu yang berat untuk diucapkan. "Ada seseorang lain, jauh lebih dekat dengan ayahanda daripada yang pernah kalian curigai, seseorang yang selama ini membantu menyembunyikan jejak nyonya dari mata dan telinga istana."

"Siapa?"

Zhou Han menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak pernah tahu namanya secara pasti. Nyonya sangat berhati-hati soal itu, bahkan kepadaku. Yang aku tahu hanyalah, orang itu memiliki akses langsung ke ruang pribadi ayahanda sendiri."

Kata-kata itu menghantam Zhou Chen lebih keras daripada serangan burung gagak semalam. Jika benar ada pengkhianat di lingkaran terdekat Raja sendiri, maka bahkan setelah mereka kembali ke istana dengan bukti dan saksi hidup, ancaman sesungguhnya mungkin masih bersembunyi tepat di jantung kekuasaan tertinggi Kerajaan Zhou.

Ia menatap ke arah ibu kota yang masih tersembunyi di balik cakrawala, dan untuk pertama kalinya sejak perburuan ini dimulai, ia menyadari bahwa kemenangan menangkap Zhou Han mungkin hanya membuka pintu menuju bahaya yang jauh lebih dekat dan lebih mengkhianati dari yang pernah ia bayangkan.

1
irawan muhdi
lanjut Thor 👍
irawan muhdi
mantap perbanyak upnya 👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!