Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Panggung Uji
Panggung Uji Sekte Awan Putih berbentuk lingkaran besar dari batu putih mengkilap, dikelilingi tribun bertingkat yang pagi itu telah penuh sesak oleh murid-murid dari berbagai angkatan—kabar tentang duel antara murid dalam baru dan Han Zhengyu, salah satu bintang sekte, telah menyebar ke seluruh penjuru semalaman.
Di barisan tetua, lima sosok yang kemarin menguji Lin Mu di Altar Pengujian Meridian duduk berjajar, termasuk seorang pria tua berjubah biru tua dengan pedang panjang tersampir di punggungnya—Tetua Pedang Xuan Bo, mentor pribadi Han Zhengyu, wajahnya penuh percaya diri bahwa muridnya akan memberikan pelajaran berharga bagi pendatang baru yang terlalu cepat naik pangkat.
Lin Mu melangkah ke tengah panggung, pecahan Penakluk Fajar tergenggam di tangannya, menyongsong Han Zhengyu yang sudah berdiri di seberang dengan pedang panjang berkilau perak, senyum percaya diri terukir jelas di wajahnya.
"Kuharap kau tidur nyenyak semalam," Han Zhengyu berkata sambil mencabut pedangnya perlahan, "karena setelah ini, kau akan membutuhkan waktu lama untuk pulih."
"Kita lihat saja," Lin Mu menjawab tenang.
Juri pertandingan—seorang murid senior netral yang dipercaya sekte—mengangkat tangannya tinggi, lalu menurunkannya cepat sebagai tanda dimulainya duel.
Han Zhengyu tidak membuang waktu, melesat maju dengan Jurus Pedang Awan Bergulung, teknik andalan sekte yang mengalir seperti gelombang tak terputus, setiap tebasan menyambung mulus ke tebasan berikutnya tanpa celah. Kualitas tekniknya jauh lebih halus dibanding Zhao Feng maupun bandit-bandit kasar yang pernah Lin Mu hadapi sebelumnya—jelas hasil didikan seorang tetua pedang berpengalaman.
Lin Mu mundur beberapa langkah, membiarkan dirinya membaca ritme serangan itu terlebih dahulu, mengingat kembali ribuan pertarungan pedang yang pernah ia jalani sebagai Ye Xuan. Jurus Awan Bergulung memang indah dan efisien, namun memiliki satu kelemahan klasik yang jarang disadari penggunanya sendiri—setiap transisi antar gerakan bergantung pada momentum yang sama, membuat pola serangannya, betapapun cepatnya, pada dasarnya bisa diprediksi setelah cukup lama diamati.
Pada tebasan ketujuh, Lin Mu akhirnya bergerak maju alih-alih mundur, mengejutkan Han Zhengyu yang tak menyangka lawannya akan memilih masuk ke dalam jangkauan serangan alih-alih terus bertahan.
Pecahan Penakluk Fajar menyentuh sisi pedang Han Zhengyu tepat di titik transisi antar gerakan, mengalihkan arah tebasan itu hanya dengan sedikit tenaga namun perhitungan yang sempurna—bukan menahan kekuatan penuh lawan, melainkan mengarahkannya meleset dari sasaran.
Han Zhengyu terhuyung sedikit karena momentumnya sendiri yang teralihkan, cukup lama bagi Lin Mu untuk melangkah masuk lebih dalam, menyentuhkan ujung pecahan pedangnya ke titik nadi di leher lawannya—gerakan yang jika dilakukan dengan niat membunuh, sudah cukup untuk mengakhiri pertarungan seketika.
"Kau kalah," Lin Mu berkata tenang, tanpa nada mengejek sedikit pun.
Tribun terdiam sesaat sebelum meledak menjadi keriuhan—sebagian besar tak percaya duel yang diperkirakan berlangsung sengit itu berakhir hanya dalam waktu kurang dari semenit.
Han Zhengyu berdiri kaku, wajahnya memerah campuran malu dan tak percaya, namun berbeda dari Zhao Feng yang dulu masih berusaha berkilah, ia justru menghela napas panjang, lalu menurunkan pedangnya perlahan.
"Aku... menyerah," ucapnya, meski suaranya masih dipenuhi keterkejutan. "Aku bahkan tidak sempat memahami apa yang baru saja terjadi."
"Kau mengandalkan momentum jurusmu terlalu bergantung pada pola yang sama," Lin Mu berkata, melangkah mundur memberi jarak hormat. "Jurus Awan Bergulung adalah teknik hebat, tapi seindah apa pun sebuah jurus, ia tetap bisa dibaca jika penggunanya tidak menyisipkan variasi tak terduga di antara transisinya."
Han Zhengyu menatapnya dengan ekspresi yang berubah drastis—dari kesombongan menjadi rasa hormat yang tulus, jenis penghormatan yang hanya bisa tumbuh dari kekalahan yang benar-benar mengajarkan sesuatu.
"Aku salah menilaimu," katanya, membungkuk singkat, cukup mengejutkan mengingat reputasinya yang jarang mengakui kesalahan di depan umum. "Kupikir kau hanya beruntung mendapat perhatian tetua. Ternyata aku yang terlalu sombong untuk melihat kenyataan."
Di tribun tetua, Xuan Bo bangkit dari duduknya, wajahnya dipenuhi keterkejutan yang jauh lebih dalam dari sekadar kekalahan muridnya. Ia telah melatih pedang selama puluhan tahun, dan analisis yang baru saja diucapkan Lin Mu tentang kelemahan Jurus Awan Bergulung—kelemahan yang bahkan ia sendiri baru menyadarinya sekarang setelah didengar dari mulut seorang pemuda—bukanlah sesuatu yang bisa dipahami hanya lewat bakat alami semata.
Ia melangkah turun dari tribun, mendekati Lin Mu yang baru saja membungkuk hormat pada seluruh dewan tetua.
"Siapa yang mengajarimu memahami kelemahan sebuah jurus sedalam itu hanya dari mengamatinya sekali?" Xuan Bo bertanya langsung, suaranya penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.
"Pengalaman panjang, Tetua," Lin Mu menjawab hati-hati, memilih kata-kata yang tak sepenuhnya berbohong namun juga tak mengungkap terlalu banyak.
Xuan Bo menatapnya lama, matanya yang tajam seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi jauh di balik wajah muda itu. "Pengalaman panjang," ulangnya pelan, nada suaranya menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya namun memilih untuk tidak memaksa lebih jauh di depan umum. "Baiklah. Mulai besok, datanglah ke Aula Pedang setiap pagi. Aku ingin melatihmu secara pribadi."
Bisik-bisik takjub kembali menyebar di antara para murid yang menyaksikan. Bimbingan pribadi dari Tetua Pedang Xuan Bo adalah kehormatan yang bahkan Han Zhengyu sendiri, murid kesayangannya selama ini, baru mendapatkannya setelah bertahun-tahun pengabdian.
"Sebuah kehormatan, Tetua," Lin Mu menjawab, membungkuk dalam-dalam, menyembunyikan kepuasan tersendiri di balik ketenangannya. Bimbingan langsung dari seorang tetua pedang berarti akses lebih besar ke sumber daya sekte, pengetahuan lebih luas tentang dunia kultivasi yang lebih besar—dan mungkin, jika beruntung, petunjuk-petunjuk baru tentang identitas sesungguhnya dari Tujuh Bayangan yang telah lama ia cari.
semngat thor/Determined/