Indonesia
NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Lampu gantung di sudut kamar Mahika memancarkan cahaya kekuningan yang temaram. Di atas tempat tidur sempit tempatnya tumbuh dewasa, Mahika masih berbaring miring, memeluk lututnya sendiri. Suara denting sendok dan gelak tawa renyah yang bersumber dari ruang makan menerobos masuk melalui celah bawah pintu kamarnya yang terkunci.

​Jam dinding kayu berbentuk bundar di atas meja belajar menunjukkan pukul sembilan malam lewat sepuluh menit. Gisella baru saja pulang.

​Mahika menghembuskan napas pelan, mengalihkan pandangannya mengitari setiap sudut kamar kecil itu. Dinding kamar ini dicat dengan warna cream beige yang hangat, menggunakan cat berbahan dasar air yang tak berbau tajam cat mahal yang dibeli Mahika dua tahun lalu dari komisi proyek desain pertamanya. Keramik lantainya yang mengilap, lemari pakaian tiga pintu berbahan HPL minimalis, hingga AC setengah PK yang berdesing halus di atas kepalanya, semuanya berdiri di sana atas nama keringat Kalea Mahika.

​Jika ada yang bertanya tentang bakti anak di rumah ini, Mahika tidak perlu bersuara. Setiap sudut rumah Pak Bambang adalah saksinya.

​Sejak lulus kuliah dan diterima bekerja di Aura Fashion, Mahika hampir tak pernah menyentuh gajinya untuk kesenangan pribadi. Ia tak pernah membeli tas-tas bermerek, tak pernah mengoleksi sepatu mahal, atau sekadar berlibur ke luar kota di akhir pekan seperti anak-anak muda seusianya.

​Setiap kali rekeningnya terisi di awal bulan, uang itu langsung terbagi otomatis ke dalam amplop-amplop kebutuhan rumah: melunasi sisa cicilan renovasi atap rumah yang hampir roboh, mengganti pagar depan yang berkarat, membeli kulkas dua pintu untuk ibunya, hingga membayar tagihan listrik bulanan. Rumah tua yang dulu kusam dan lembap kini menjelma menjadi hunian yang asri, cantik, dan nyaman semuanya berkat uang jerih payah Mahika.

​Namun, apa yang didapatkannya sebagai balasan?

​Kasih sayang Bu Maya tetap tertuju utuh pada Gisella, anak sulung yang secara finansial justru paling minim berkontribusi. Gisel, yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta dengan gaji pas-pasan, selalu menghabiskan uangnya untuk pakaian trendi, perawatan wajah bertarif fantastis, dan nongkrong di kafe-kafe mahal bersama teman-temannya. Gisel tak pernah dipaksa memikirkan tagihan rumah. Jika uang gaji Gisel habis di pertengahan bulan, Bu Maya akan dengan senang hati memberi uang tambahan tanpa banyak tanya.

​Perlakuan pilih kasih yang teramat mencolok itulah yang akhirnya mendorong Mahika mengambil keputusan besar dua tahun lalu: menyewa sebuah kamar kos sederhana di dekat kantornya. Walau rumah orang tuanya kini sudah sangat nyaman berkat uangnya sendiri, Mahika memilih pergi dan tinggal di kos demi menjaga satu hal yang paling berharga dalam hidupnya kewarasan jiwa.

​Tok! Tok! Tok!

​Ketukan di pintu kamar memutus pusaran kenangan pahit di kepala Mahika.

​"Mahika? Sudah tidur belum?" suara Bu Maya terdengar dari balik pintu. "Gisel sudah pulang ini. Ayo keluar dulu, kita tentukan menu kateringnya."

​Mahika memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kembali sisa-sisa kesabarannya yang kian menipis. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang, merapikan pasmina krem yang melilit kepalanya, lalu melangkah membukakan pintu.

​Bu Maya berdiri di ambang pintu dengan wajah berseri-seri raut wajah yang sangat berbeda dibanding saat berhadapan dengan Mahika satu jam yang lalu.

​"Ayo ke ruang makan. Kakakmu sudah lapar, sekalian kita bahas," kata Bu Maya singkat sebelum berbalik melangkah duluan.

​Mahika mengikuti dari belakang dengan langkah pelan. Di ruang makan yang kini sudah terang benderang dan menggunakan set meja makan kayu jati yang juga dibeli dari uang bonus desain Mahika tahun lalu terdapat Gisella yang sedang duduk santai.

​Gisella mengenakan blus merah muda berbahan sutra sintetis dengan riasan wajah yang masih segar. Di samping meja, tergeletak dua kantong belanjaan dari pusat perbelanjaan ternama.

​"Eh, Mahika," sapa Gisel santai tanpa ada rasa bersalah karena membuat orang seisi rumah menunggu hingga pukul sembilan malam. Ia meraih cangkir teh hangatnya. "Sini duduk. Ibu bilang kamu mau minta persetujuan menu katering ya?"

​Mahika duduk di kursi berseberangan dengan kakaknya. Pak Bambang duduk di ujung meja, tampak memegang cangkir kopi hitamnya dengan serba salah.

​"Ini lho, Sel," Bu Maya menyodorkan brosur katering yang sudah ia tandai dengan pena. "Ibu sama Mahika tadi bingung mau ambil paket yang mana. Kata Ibu, lebih baik kamu yang pilih. Biar menunya sesuai sama selera keluarga kita."

​Gisel mengambil brosur itu dengan gaya anggunnya. Jemarinya yang ber-kutek merah mengusap lembaran kertas glossy tersebut.

​"Hmm... kalau menurut Gisel ya, Bu," ucap Gisel dengan nada sok tahu, "menu gubuk hidangan yang ada es krim zupa soup sama lada hitam itu udah terlalu pasaran. Jelek kalau difoto nanti. Tamu-tamu teman kantor Gisel kan orang-orang berkelas, masa dikasih hidangan gitu?"

​Dada Mahika berdesir tajam. "Itu menu pilihan favorit di vendor kateringnya, Kak. Dan mayoritas tamu yang datang nanti kan teman-teman kantor Mahika sama Reno."

​Gisel melirik Mahika dengan sudut matanya, tersenyum tipis bernada meremehkan. "Ya tapi kan tamu Ibu sama Bapak juga banyak, Mahika.

Teman-teman Gisel juga bakal datang. Jangan cuma mikirin diri sendiri dong."

​Gisel kemudian menunjuk beberapa baris di brosur. "Ibu, Gisel mau gubuk hidangannya diganti sama Sate Tangkar Premium, Sushi Stall, sama Creamy Mushroom Soup. Terus menu utamanya diganti pakai Ayam Goreng Mentega sama Udang Asam Manis."

​Mahika terbelalak kaget. Ia menatap menu-menu yang ditunjuk Gisel.

​Semua orang di rumah ini tahu persis bahwa Mahika memiliki alergi parah terhadap udang dan makanan laut bersumber cangkang. Setiap kali melahap udang, kulitnya akan bentol-bentol gatal dan tenggorokannya membengkak. Sementara itu, Mahika juga sangat membenci aroma olahan mentega yang gurih pekat karena membuatnya mual.

​Sebaliknya, Udang Asam Manis dan Sate Tangkar adalah makanan favorit Gisella.

​"Kak..." suara Mahika bergetar, menahan rasa ketidakadilan yang luar biasa menekan dadanya. "Kak Gisel kan tahu sendiri... Mahika alergi udang. Mahika juga enggak bisa makan makanan yang pakai mentega banyak."

​Gisel mengibaskan tangannya santai. "Ya ampun, Mahika, gitu aja dipermasalahkan! Kan kamu bisa makan nasi gorengnya atau olahan daging yang lain! Lagipula pas acara pernikahan nanti, pengantin kan sibuk di pelaminan, mana sempat makan banyak-banyak?"

​"Tapi ini acara pernikahan Mahika, Kak!" tegur Mahika, kali ini suaranya meninggi. Matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi. "Masa di pesta pernikahan Mahika sendiri, hidangan utamanya justru makanan yang membuat pengantinnya alergi dan mual? Kenapa semua menunya harus makanan kesukaan Kak Gisel?"

​"Lho, kok kamu ngatur-ngatur sih?" sahut Gisel, raut wajahnya mendadak cemberut dan bernada ketus. "Gisel kan cuma ngasih saran yang terbaik! Biar terkesan mewah di mata tamu! Lagian Ibu yang minta Gisel buat milih!"

​Bu Maya langsung menyela, menatap Mahika dengan pandangan menyalahkan. "Mahika! Cukup! Kenapa kamu malah membentak Kakakmu?"

​"Mahika enggak membentak, Bu! Mahika cuma minta hak Mahika!" sahut Mahika, air matanya menetes deras membasahi pipinya. "Mahika yang kerja keras cari uang buat bayar katering ini, Bu! Tiga puluh juta murni dari uang simpanan Mahika! Tapi kenapa untuk makanan yang mau Mahika makan di hari pernikahan Mahika sendiri, Mahika harus tersiksa gara-gara alergi?"

​"Kamu ini selalu saja perhitungan soal uang!" semprot Bu Maya tanpa rasa empati sedikit pun. "Tiap sebentar bawa-bawa uang! Kamu merasa paling hebat di rumah ini cuma gara-gara bisa bayar katering? Ibu ini yang melahirkan kamu, Mahika!"

​"Bukan begitu, Bu..." bisik Mahika terisak.

​"Gisel itu Kakakmu!" potong Bu Maya keras, suaranya memenuhi ruang makan. "Dia itu sudah cukup mengalah melihat adiknya mau menikah duluan! Perasaan Kakakmu itu lagi sensitif! Apa salahnya kamu mengalah sedikit lagi? Cuma masalah makanan! Kamu kan bisa makan hidangan yang lain, atau nanti Ibu suruh orang katering masakkan mi khusus buat kamu."

​Mengalah lagi.

Mengalah demi menjaga perasaan Kakakmu.

​Kata-kata itu menghantam kesadaran Mahika bagai gada besi. Rasanya begitu menyakitkan hingga membuat dadanya sesak dan sulit bernapas.

​Mahika menatap ibunya yang terus membela Gisel, lalu beralih menatap Gisel yang kini tersenyum tipis dengan pandangan menang. Di sudut meja, Pak Bambang hanya menunduk dalam-dalam, tak berani menentang keputusan istrinya.

​Di dalam rumah yang ia pugar menggunakan keringat dan air matanya sendiri ini, Mahika sadar... ia hanyalah seorang asing. Seorang mesin pencetak uang yang kehadirannya hanya dibutuhkan saat tagihan datang, namun perasaannya dianggap sampah ketika ia meminta sedikit keadilan.

​Rasa lelah yang teramat sangat merayap melingkupi seluruh jiwa Mahika. Penolakan demi penolakan, perlakuan pilih kasih selama puluhan tahun, kini mengristal menjadi sebuah kepasrahan yang teramat dingin.

​Mahika mengusap air matanya dengan telapak tangan. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, mencoba menghentikan getaran di dadanya.

​"Ya sudah," kata Mahika. Suaranya kali ini begitu tenang, sangat tenang hingga terasa ganjil di udara ruang makan yang tegang. "Pakai saja semua menu pilihan Kak Gisel."

​Bu Maya tertegun sejenak melihat perubahan sikap Mahika yang mendadak dipenuhi kepasrahan, namun wanita paruh baya itu dengan cepat menetralkan raut wajahnya. "Nah, gitu dong dari tadi. Jangan bikin suasana rumah jadi panas cuma gara-gara masalah sepele."

​"Iya, lagian pilihan Gisel kan pasti dipuji sama tamu-tamu nanti," tambah Gisel jumawa.

​Mahika tidak membalas. Ia berdiri dari kursinya, merapikan letak pakaiannya tanpa menatap satu pun wajah manusia di ruang makan itu.

​"Mahika mau balik ke kosan malam ini," ucap Mahika datar.

​Pak Bambang langsung mendongak, matanya menatap Mahika dengan khawatir. "Malam-malam begini, Nak? Ini sudah jam setengah sepuluh. Besok pagi saja pulangnya."

​"Enggak, Pak. Mahika mau tidur di kosan aja. Besok pagi ada draf desain yang harus Mahika kirim pagi-pagi ke klien," balas Mahika halus, namun sarat akan penolakan yang tegas.

​Tanpa menunggu izin dari ibunya, Mahika berjalan menuju kamarnya. Ia mengambil tas tangan dan tas kerjanya, lalu kembali keluar menuju pintu depan. Pak Bambang bergegas berdiri, mengikuti langkah anak sekundernya hingga ke teras rumah.

​"Mahika... maafkan Bapak ya, Nak," bisik Pak Bambang serak saat Mahika sedang memakai sepatunya di teras yang temaram. Tangannya yang keriput mengusap bahu Mahika dengan lembut. "Bapak tahu kamu sakit hati..."

​Mahika mendongak, menatap ayahnya. Ada rasa kasihan pada ayahnya yang selalu lemah di hadapan ibunya, namun rasa sakit di hatinya terlalu besar untuk diabaikan.

​"Enggak apa-apa, Pak," sahut Mahika tersenyum tipis sebuah senyuman paling sedih yang pernah dilihat Pak Bambang. "Mahika sudah biasa mengalah kok. Dari dulu kan memang begitu."

​"Hati-hati di jalan ya, Nak. Biar Bapak carikan taksi online-nya," tawar Pak Bambang pelan.

​"Enggak usah, Pak. Mahika sudah pesan dari dalam tadi. Mobilnya sudah sampai di depan lorong," tolak Mahika halus.

​Ia mencium tangan ayahnya, lalu berbalik melangkah menembus kegelapan malam menuju jalan utama.

​Di dalam taksi yang membawanya membelah jalanan kota yang mulai lengang, Mahika menyandarkan kepalanya di jendela kaca yang dingin. Air matanya kembali menetes perlahan tanpa suara.

​Ia merogoh ponselnya, menatap foto rumah impian bersertifikat atas namanya yang baru saja dibeli bersama Reno. Tempat yang akan menjadi perlindungannya dari seluruh ketidakadilan dunia.

"Satu bulan lagi, Mahika..." bisik jiwanya yang rapuh di tengah kesunyian malam. "Tinggal tiga puluh hari lagi kamu bebas."

​Namun Mahika tidak pernah menduga, bahwa di balik penyerahan dirinya malam ini, takdir sedang merajut pengkhianatan yang jauh lebih kejam di belakang punggungnya.

1
sutiasih kasih
gmn rasanya... klean jdi gembel😅😅
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
Ernaaaaa
makasih Thor
merry
jdi gelandangan dech klian
merry
bisa gk hdp tnp mahika dan kluarga mu reno dan untuk cari krj susah nama mu dh terkenal 🤭🤭🤭🤭
sutiasih kasih
smpe sana.... rumah udh di jual😂😂😂😂😂😂
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
Lee Mba Young
selamat menikmati jd gembel
Mundri Astuti
mang dah bener ma pas ya, si Reno ma keluarga si sel ..sel..
Mundri Astuti
owh ortunya Reno org ada toh, tapi ko anaknya dompleng mahika yak🤔
sutiasih kasih: knaoa mndompleng mahika yg dri kalangan biasa....
mmbingungkn🤔🤔🤔
total 2 replies
Lee Mba Young
tanpa harta selamat mnikmati
Mundri Astuti
mang bisa tuh anak kesayangannya bangun atap aja, jangan bangun rumah dah
sutiasih kasih
di bangun lgi dunk rumah yg sdh runtuh.....
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
Tining Revi
bukanya mahika berhijab thor. kok "puji Tuhan"
merry
pdhl tdi mau bongkar ditmpt mrk resepsi dihotel tau ya mrk cm resepsi di tanah kosong dan mahika lewat live ig buat mrk maluu 🤭🤭🤭🤭se kanoha pd tau lhh
Mundri Astuti
sekali tepok ....jatuh semua .... gayanya mahika kereeennnn....Badas....😂😂😂
sutiasih kasih
tamatlah sudah riwayat para pmbohong & penghianat......
😂😂😂😂😂😂
Heni Setiyaningsih
Mahika,,,,,,, KEREN!! gk perlu teriak teriak cuma tunjukkan hasil dari kerja kamu, siapa itu Reno dan klrg toxic, hempaskan😂😂
Agunk Setyawan
bacanya deg"an banget🤣
Humay Uum
dtunggu bomy KK Thor 💪💪💪💪
falea sezi
kelamaan bertele tele 🤣
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!