Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik Sang Iblis
Farhan baru saja pulang ke rumahnya. Ia langsung memasuki kamar, dan masih mengenakan jaket yang tadi di pakai oleh Kasih barusan.
Anehnya, ia tak ingin membukanya, dan membawanya untuk tidur. Sepertinya ia tak ingin jika aroma tubuh sang gadis yang melekat di jaketnya hilang begitu saja.
Farhan berbaring di tepian ranjang. Ia mencoba memejamkan kedua matanya, menghadirkan bayangan wajah Kasih yang sudah membuatnya merasa begitu tenang.
Wuuussh!
Tiba-tiba saja...
"Tuan... Itu jaket udah bau, lebih baik di cuci dulu..." Kuntilanak Biru tiba-tiba muncul di meja nakas, duduk dengan kaki disilangkan.
"Hah!" Farhan tersentak kaget. Lalu mendengkus dengan kesal.
"Dasar setan! Kalau nongol itu, minimal kasih aba-aba, jangan buat kaget orang! Hampir lepas jantung gue!" omelnya dengan kesal, sembari memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Jangan gitu, Tuan... Meskipun kita ini demit, tapi kita ini bukan setan. Mana ada setan secantik diriku," tukas Kuntilanak Biru dengan cepat. Ia duduk dengan menyilangkan kedua kakinya.
Farhan menoleh ke arah Kuntilanak Biru, yang mana sosok itu seolah tidak merasa bersalah, karena sudah membuat kaget dirinya. "Sudah, pergi... Aku mau istirahat..."
"Cieeee... Yang lagi kasmaran," tiba-tiba Kuntilanak Kuning muncul dan ikut nimbrung.
Farhan membuka matanya, dan dengan kesal langsung meraih guling, lalu melemparkannya ke arah dua Kuntilanak yang sudah mengganggu istirahatnya.
Wuuuussh!
Dengan sigap, keduanya melesat pergi dan menghilang.
Farhan mengacak rambutnya dengan kasar. Sedangkan napasnya masih terasa ngos-ngosan. Akibat ribut dengan dua demit barusan.
"Dasar demit rese..." umpatnya dengan nada kesal.
Kreetak!
Lampu mendadak padam. Kamarnya gelap gulita, dan anehnya, hanya padam di kamarnya saja, sedangkan ruangan lain terlihat aman-aman saja.
WUUUSH!
Angin bertiup dari lubang ventilasi. Bau kemenyan dan juga anyir darah terendus diindera penciumannya.
Semntara itu, dari pojok kamar, terdengar suara tongkat kayu yang diketok sebanyak tiga kali di atas lantai keramik kamar.
TOK...!
TOK...!
TOK...!
Farhan tersentak kaget. Ia langsung duduk. Memasang telinganya dengan tajam.
"Siapa?" tanyanya dengan bulu kuduk yang meremang.
Suara serak terdengar mengusiknya.
"Kau... berani-beraninya kau ikut campur dengan urusanku."
BLAAAR!
Lampu tiba-tiba menyala sendiri. Ruangan kembali terang.
Di kursi sudut ruangan, terlihat Mbah Jati sedang duduk sembari menggenggam tongkatnya dengan cukup erat. Jubahnya yang berwarna hitam, tampak me juntai si lantai kamar. Mata putih sampai seluruhnya.
Sedangkan di pangkuannya, terlihat kalajengking yang sebesar induk kucing sedang menatapnya dengan bola mata yang bersinar.
Farhan beranjak bangkit. "Lah? Kok marahnya ke saya? Saya kan hanya nolongin saja. Demi jiwa kemanusiaan..."
Mbah Jati yang mendengarnya langsung menggeram. "Karena kau... Karena kau lindungi perempuan kutukan itu!" Mbah Jati penuh amarah. "Saya ingatkan... Jika kau ikut campur dan mencoba mendekatinya, maka aku akan membunuhmu..." ancamnya.
Kalajengking di pangkuannya mendesia.
Ssssstttsss!
Ekornya mengacung ke arah Farhan.
Farhan tersentak kaget. Lalu mundur selangkah. "Mau apa?"
Mbah Jati bangkit dan melesat menghampirinya. "Kau penghalang. Tumbal keempat harusnya sudah Kasih setoran ke saya. Tapi sekarang... kau."
Dia mengangkat tongkat.
DUG!
Lantai kamar retak. asap hitam mengepul dari retakan tersebut. Lalu asap tersebut membentuk bayangan wajah Kasih.
Farhan membeliakkan kedua matanya. "JANGAN SENTUH DIA!"
Mbah Jati tersenyum menyeringai. "Kalau gitu, rasakan."
WUUUSH!
Asap hitam menyambar ke arah Farhan.
Wuuuuss!
Sekelebat bayangan melesat melindungi Farhan.
Taaak!
Sebuah hantaman keras mengenai wajah Mbah Jati, hingga menciptakan luka lebam di bagian tulang pipi.
Mbah Jati terpental dan menabrak dinding. Dinding kamar tampak gosong membentuk tubuh tua.
Mbah Jati mengerang kesakitan. Lalu menatap lawannya. "Hah! Kau...!" suaranya serak dan penuh keterkejutan, saat melihat siapa yang sudah melindungi Farhan.
Akan tetapi, ia tersenyum. Giginya tampak runcing dan gusinya menghitam. "Bagus. Aku suka tantangan." suara seraknya terdengar cemprang.
Mendadak Mbah Jati menghilang. Asap hitam menghisap pria tua itu keluar melalui celah jendela.
Sedangkan jaket di kenakannya, ada bercak hitam. Seperti darah. Tapi terasa dingin.
Farhan menatap bingung siapa yang sudah menyelamatkannya.
"Ma—mama....?"
Wanita yang tak lain adalah Nawang Wulan menoleh ke arah puteranya.
"Tidurlah... Esok ada yang akan kita bicarakan," ucapnya pada sang putera. Lalu keluar dari kamar.
"Hah!" Farhan tersentak kaget. "Darimana mama masuk? Bukannya pintu di kunci dari dalam?" ucapnya dengan nada kebingungan.
Sementara itu, iblis Kalajengking menatap Mbah Jati. "Gimana, Mbah?" matanya menatap merah. "Apakah perlu aku yang membunuh Farhan? Kita butuh tumbal empat lagi, untuk membuat kembali menjadi kuat dan bangkit."
Mbah Jati menggeleng pelan. "Dia terlalu kuat. Ada pelindung. Perempuan itu..." jawab Mbah Jati setengah putus asa.
Kalajengking Merah merayap ke pundaknya. "Lalu, apa yang akan kita lakukan?"
"Kalau gak bisa melalui dia... Maka kita akan mencari tumbal lewat orang terdekatnya." jawabnya dengan senyum seringai.
Mbah Jati mengedarkan pandangannya ke arah kantor. "Riko. Anak itu gampang dirasuki." tunjuknya ke arah seorang staf keuangan yang baru keluar dari kantor, dan ia sedang bekerja lembur.
Pemuda itu memasuki mobilnya, dan ia terlihat kelelahan.
Ia melemparkan tasnya begitu saja ke atas jok mobil. Lalu bersiap untuk menyetir.
Tiba-tiba saja ua merasakan kepalanya sangat pusing. Dengan cepat ia memijat kepalanya yang terasa berdenyut, dan penglihatannya mendadak kabur.
Di kepalanya ia mendengar sebuah bisikan. "Kasih itu milikmu. Dia cantik... Ambil sekarang."
Suara itu terdengar jelas ditelinganya.
Riko yang siang tadi sempat bertemu Kasih dan mengagumi kecantikannya, langsung melongo. "Hah? Apa?" gumamnya. Ia seolah sedang berbicara dengan orang lain.
Tangannya gemetar. Niat buruk tiba-tiba muncul dalam fikirannya.
TOK!
TOK!
Kali ini, pintu mobilnya di ketuk. Terlihat bayangan hitam yang berada di luar, membuat Riko membeliakkan kedua matanya.
"SIAPA?!" tanyanya dengan nada gemetar. Mendadak ia berkeringat dingin.
Tetapi bayangan itu tiba-tiba menghilang.
Sedangkan iblis Kalajengking kembali berbisik di dalam kepalanya. "Pergi ke mess. Kasih sendirian. Kamu akan mendapatkan kehangatan malam ini,"
Suara itu terus saja mendesaknya, dan bahkan bayangan wajah Kasih hadir di pelupuk matanya.
Otaknya langsung bekerja. Membayangkan Kasih tanpa sehelai benangpun.
"Apa yang ku pikirkan? Tidak mungkin aku mengganggunya. Sebab yang ku lihat, Farhan menyukai gadis itu..." gumamnya.
Ia tampak ragu. Tetapi bisikan dikepalanya terus mendesak. "Cepat, sebelum kau menyesal... " suara itu kembali hadir.
Dan tiba-tiba saja, rudalnya mendadak bangkit, dan memaksanya untuk segera menemui Kasih.
"Apaan ini?" ia kebingungan. Dan tanpa terduga, mesin mobilnya hidup sendiri, dan tangannya memegang setir untuk segera menuju ke mess tempat Kasih saat ini sedang tidur sendirian.
Tubuhnya sebesar rumah pihak pengembang? 🤭
Ohya Kak.. si Gita dan suaminya, orang yang pertama kali bawa Kasih ke panti asuhan ketika Kasih masih bayi, kok nggak di munculin sih..
Apa dia mereka beda kota dengan tempat tinggal Kasih.. 😌