"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Sandiwara Rian yang Terdesak
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan rona jingga keemasan yang perlahan tertutup oleh awan kelabu di atas ibu kota. Namun, di dalam rumah berlantai dua tempat tinggal Rian, suasananya terasa jauh lebih kelam dan mencekam.
Bu Rini duduk di sofa ruang tamu dengan wajah tertekuk tajam. Di sampingnya, Sisil sibuk mengusap layar ponselnya dengan raut wajah amat kesal. Seharian ini, Sisil menjadi bahan gunjingan di grup percakapan kampusnya gara-gara insiden kartu kredit yang ditolak kemarin siang. Nama baiknya sebagai mahasiswi borjuis hancur berantakan dalam semalam.
"Sisil! Coba kamu telepon abangmu lagi!" perintah Bu Rini dengan suara melengking. "Jam segini kok belum pulang juga?! Ibu mau minta uang lima ratus ribu buat beli kebutuhan dapur yang habis! Rumah ini makin hari makin tidak jelas sejak si Nisa itu bikin ulah!"
"Udah Sisil telepon puluhan kali dari tadi sore, Bu! Tapi nomor Mas Rian gak aktif!" sahut Sisil jengkel, melempar ponselnya ke atas meja. "Gara-gara Mbak Nisa memblokir kartu kredit itu, Sisil malu banget di kampus! Temen-temen Sisil pada ngetawain Sisil! Pokoknya nanti malam Mas Rian harus ganti rugi dan kasih Sisil uang tunai sepuluh juta!"
Tepat saat Sisil selesai mendengus, suara derum mesin mobil Rian terdengar memasuki halaman rumah. Tak seperti biasanya, derum mesin mobil itu terdengar agak kasar, disusul bunyi rem yang berdecit nyaring.
Pintu depan terdorong kasar. Rian melangkah masuk dengan tubuh lunglai. Dasi biru gelap yang membelit lehernya sudah kendur tak beraturan, dua kancing teratas kemejanya terbuka, dan wajahnya pucat pasi bagaikan mayat hidup. Tatapan matanya kosong, dipenuhi rona ketakutan dan stres yang luar biasa berat.
Kejadian di kantor tadi siang—di mana wewenang keuangannya dibekukan secara mendadak oleh Fandi Prasetyo dan Pak Danu di depan seluruh anak buahnya—seolah meremukkan seluruh harga diri dan masa depan karier yang selama ini ia agung-agungkan.
"Rian! Akhirnya kamu pulang juga!" seru Bu Rini seraya berdiri dari sofa dan menghampiri putranya. "Kamu ini dari mana saja, sih?! Ibu telepon tidak diangkat-angkat!"
Rian tak menjawab. Ia hanya menghempaskan tubuhnya ke sofa kain, memijit pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut seperti mau pecah.
"Mas Rian!" timpal Sisil tanpa peduli kondisi kakaknya. Ia menyambar lengan jas Rian dengan gusar. "Mana uang sepuluh juta yang Sisil minta?! Mas harus tanggung jawab ya! Gara-gara kartu kredit dari si Nisa itu diblokir, Sisil dihina sama temen-temen geng Sisil! Kasih Sisil uang tunai sekarang, Mas!"
Rian menarik lengannya secara mendadak dari genggaman adiknya. "Bisa diam tidak, Sisil?!" bentak Rian dengan suara meninggi. "Mas lagi pusing setengah mati! Jangan makin tambah bebani Mas dengan urusan uang, uang, dan uang terus!"
Sisil tersentak kaget. Bu Rini yang melihat putri kesayangannya dibentak langsung melotot murka.
"Rian! Kamu kok malah membentak adikmu sendiri?!" tegar Bu Rini dengan nada menyemprot. "Sisil itu minta uang kan memang hak dia sebagai adikmu! Kamu itu Manager besar, gaji puluhan juta! Masa kasih uang sepuluh juta buat adik sendiri saja pakai bentak-bentak?! Kamu jangan ketularan pelit dan durhaka seperti si Nisa itu ya!"
Rian memejamkan matanya rapat-rapat. Suara teriakan ibunya dan rengekan adiknya kini terasa seperti jarum-jarum tajam yang menusuk gendang telinganya.
Manager besar? Gaji puluhan juta?
Rian ingin sekali tertawa histeris mendengar kata-kata itu. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa posisi "Manager besar" yang dibanggakan itu kini hanya tinggal nama! Seluruh akses keuangan divisinya disegel, rekening kantornya dibekukan, dan ancaman audit pidana terkait penggelapan dana lima puluh juta rupiah untuk gelang berlian Eriska sedang mengintai di depan mata!
Jika audit itu terbukti besok, Rian tak hanya akan dipecat secara tidak hormat, tetapi juga akan langsung diseret ke dalam sel tahanan kepolisian!
"Ibu ... Sisil ... mengerti keadaan aku sebentar saja, kenapa sih?" gumam Rian dengan suara parau yang gemetaran. "Uang aku lagi habis. Tabungan aku benar-benar kosong sekarang."
Bu Rini mengerutkan keningnya, menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa tidak percaya. "Habis?! Konyol kamu, Rian! Gaji kamu kan baru turun dua minggu lalu! Belum lagi bonus bulananmu! Bagaimana bisa uang puluhan juta di rekeningmu habis begitu saja?!"
Rian membisu. Ia tak mungkin jujur pada ibunya bahwa sebagian besar gajinya bulan ini terkuras untuk membayar Down Payment perhiasan Eriska, merawat mobil sedan mewah yang ia pamerkan, dan menutupi utang-utang gaya hidup tingginya. Selama ini, seluruh biaya hidup rumah tangga ini berjalan lancar hanya karena sokongan dana tersembunyi dari Annisa!
Saat suasana di ruang tamu makin memanas oleh ketegangan, suara langkah kaki yang teratur dan anggun terdengar dari arah lantai dua.
Annisa Septiani melangkah turun menuruni anak tangga satu per satu. Ia mengenakan gaun katun berwarna biru yang sederhana namun sangat bersih dan rapi. Wajah cantiknya tampak tenang, memancarkan keanggunan yang kontras dengan kekacauan yang sedang dialami Rian dan keluarganya.
Mata Rian seketika menajam begitu melihat sosok istrinya. Rasa panik, bingung, dan amarah yang menumpuk seharian ini mendadak meledak begitu menemukan tempat untuk meluapkan kekesalannya.
"Annisa!" jerit Rian seraya berdiri mendadak dari sofa. Ia melangkah lebar menghampiri Annisa di kaki tangga. "Ini semua gara-gara kamu, kan?! Jawab jujur sama Mas!"
Annisa menghentikan langkahnya, menatap Rian lurus-lurus dengan pandangan mata yang sangat dingin. "Gara-gara Nisa? Maksud Mas Rian apa?"
"Gak usah pura-pura bodoh kamu ya!" maki Rian dengan muka memerah padam, menunjuk wajah Annisa dengan telunjuknya yang gemetaran. "Kenapa hari ini tim audit dari kantor pusat Vantara Group mendadak datang ke divisiku?! Kenapa Pak Danu dan pria bernama Fandi Prasetyo itu membekukan seluruh wewenang keuanganku di kantor?! Kamu yang membocorkan hal-hal tidak benar ke kantor pusat, kan?! Karena sakit hati sama Mas, kan!"
Bu Rini dan Sisil tersentak mendengarnya.
"Apa?! Wewenang keuangan Rian dibekukan?!" pekik Bu Rini dengan wajah pucat pasi. "Maksudnya bagaimana, Rian?!"
Annisa tidak menjawab pertanyaan Rian secara langsung. Ia justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat halus—sebuah senyuman penuh rasa kasihan yang membuat dada Rian makin terbakar.
"Mas Rian ini aneh sekali," ucap Annisa dengan suara lembut namun tegas. "Nisa ini kan cuma wanita bodoh yang di rumah saja, tidak tahu apa-apa soal pekerjaan seorang Manager. Bagaimana mungkin Nisa punya wewenang untuk mengatur tim audit dan pengacara eksekutif dari Vantara Group?"
"Tapi dari mana Fandi Prasetyo itu tahu soal pembelian gelang berlian dan transaksi pribadi Mas, Nisa?!" bentak Rian lagi, suaranya bergema di seluruh ruangan. "Pasti kamu yang sengaja mencari tahu dan melaporkan Mas ke kantor pusat! Kamu mau menghancurkan karier suamimu sendiri, hah?!"
"Mas Rian," panggil Annisa pelan, melangkah satu tapak mendekat ke arah suaminya. "Kalau Mas Rian tidak melakukan kecurangan atau penggelapan dana kantor, buat apa Mas Rian takut pada audit mendadak? Pria yang jujur tidak akan gemetaran hanya karena tim pengawas datang memeriksa laporan keuangan."
Jleb!
Kata-kata Annisa menghantam ulu hati Rian dengan sangat telak. Rian membeku di tempatnya, lidahnya mendadak terasa kelu.
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu