“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bujang Lapuk Kualitas Premium
Sejatinya rumah kaca bukanlah area inti untuk penanaman. Rumah kaca merupakan area inti untuk pembibitan. Beberapa varietas baru yang tidak tahan dengan cuaca hujan intens juga ada di sana.
Dan sekarang, semuanya lenyap. Bagaikan tidak pernah ada, kerangka besi baja yang ada di sana, dicabuti secara gaib.
“Pantas saja semalam aku mendengar keributan. Pada awalnya, Aku kira ada setan melahirkan. Tapi ternyata, Tristan yang bagai setan mengambil semua rumah kaca kita.” Ucap Marni, tetangga Tristan terlihat begitu kesal.
“Untuk apa rumah kaca yang tidak berguna itu? Lagi pula itu cuma tempat pembibitan. Anggur-anggur yang katanya varietas baru, harganya memang mahal. Tapi kalau perawatannya susah, lebih baik jual yang sudah ada saja. Memang dasarnya Tristan miskin, bahkan rumah kaca pun dirampok dari kita.” Juni kembali memprovokasi.
Wanita yang begitu cantik, dengan make up tebal, serta body bagaikan gitar Spanyol. Biasanya berpenampilan bagaikan wanita desa yang polos, tapi setelah menjalin hubungan dengan bos Hendra penampilannya jadi ala wanita kota yang norak.
“Apa yang dikatakan oleh pacarku benar. Orang bernama Tristan itu pasti iri pada desa ini. Dia sudah mengambil keuntungan selama 2 tahun berturut-turut dari desa ini. Keuntungan yang diambilnya puluhan miliar, bahkan tega-teganya merampok rumah kaca milik warga desa.” Hendra juga memprovokasi, tentu saja, jalur perdagangan warga desa di sini harus menjadi miliknya sepenuhnya.
Jika Tristan sudah tidak ada, maka dirinya dapat menekan harga serendah-rendahnya.
“Iya! Memang dasarnya kikir! Pantas saja Tristan kemarin memakan sesuatu yang bernama spaghetti. Itu pasti hasil dari merampok darah dan keringat kita!” teriak Nining.
Hendra kemudian maju, menepuk-nepuk dadanya sendiri. Berucap bagaikan tokoh proklamasi kemerdekaan, menggebu-gebu seperti Jenderal perang.”Tapi aku tidak seperti Tristan. Walaupun aku orang luar dari desa ini, aku selalu berpikiran demi kepentingan warga desa. Itu semua karena aku mencintai Juni! Warga desa sekalian, mulai sekarang aku akan memimpin desa ini menuju kemakmuran. Asalkan kalian percaya padaku, anggur anggur kalian akan aku beli dengan harga mahal! Berbeda dengan lintah darat itu!”
Suara sorak sorai dari warga desa terdengar. Warga desa yang percaya begitu saja.
Sedangkan, Ria yang merupakan saudara sepupu Tristan merekam semuanya. Merekam apa yang warga desa lakukan, guna mengirim pada saudara sepupunya Tristan.
“Kan goblok…mana mungkin bisa menjual anggur lebih mahal daripada kak Tristan. Aku bahkan sudah berkeliling mencari tengkulak lain. Paling banter dikasih harga 33.000 per kg. Mereka seperti sekawanan monyet melompat-lompat.” Keluh Ria yang merekam semuanya, bersembunyi di sudut. Benar-benar warga desa di tempatnya, begitu mudah terprovokasi.
Dan yang paling parah…
Kali ini Juni yang maju.”Lintah darat itu, seharusnya tahu diri. Dia sudah merampok desa kita selama 2 tahun. Dan sekarang menghancurkan tempat pembibitan, menghancurkan rumah kaca milik kita. Lebih baik, kita balas dendam hancurkan rumahnya, supaya orang itu tidak kembali ke sini lagi!”
Juni mendekati Hendra yang menggunakan setelan jas, pinggangnya kembali dirangkul oleh Hendra.
Suara teriakan dari warga desa menggema.
“Benar! Dia sudah menghisap darah kita, mengambil semua jerih payah kita. Kita harus menuntut semuanya hingga habis! Rumah itu bahkan tidak berhak menjadi miliknya!”
“Saat kecil aku yang menggendong Tristan. Waktu kecil dia terjatuh, aku juga yang membantunya bangun. Tapi setelah dewasa, dia malah berbuat seperti ini. Ratusan juta selisih harga. Anggur yang seharusnya dibeli 72.000 per kg. Malah dibeli 35.000 per kg. Ayo kita jarah rumahnya…Ayo kita jarah rumah penyamun itu!”
“Dia bisa hidup enak! Sementara kita hidup susah, setiap hari menggarap lahan anggur! Bongkar!”
Kata demi kata yang diucapkan oleh semua orang. Hal yang membuat Ria membulatkan matanya. Tangannya bergerak cepat menghubungi saudara sepupunya. Siapa tahu saja saudara sepupunya masih berada di rumah.
Rekaman sudah dikirimkan terlebih dahulu oleh Ria. Barulah mulai menghubungi saudara sepupunya. Tidak lama panggilannya diangkat.
***
Sementara Tristan masih berada di dalam mobil pindahan. Pemuda yang menyetir mobil pick up, handphone Android miliknya berbunyi. Perlahan menggunakan earphone-nya.
“Kak Tristan gawat! Juni dan Hendra, orang kota itu. Datang ke rumahmu, mereka memprovokasi seluruh warga desa untuk membakar rumahmu!” Suara teriakan Ria dalam kepanikan.
“Oh …”Tristan mengangkat sebelah alisnya.
“Oh? Itu rumahmu yang akan dirusak! Apa kamu masih ada di dalam rumah? Aku hanya tidak mau kamu di amuk masa. Mereka itu sudah gila, Bagaimana bisa anggur dijual 72.000 per kilo. Mereka ingin jadi Sultan dadakan, sudah miskin tidak tahu diri.” Komat kamit Ria berucap.
“Mereka sekarang sudah tidak miskin lagi. Memangnya ada di antara mereka yang masih tinggal di rumah berlantai semen? Memangnya masih ada di antara mereka yang bahkan memakan nasi aking seperti dulu? Mereka itu sekarang makanannya sudah ayam goreng. Mereka bukan orang miskin lagi.” Sebuah jawaban tenang dari Tristan. Menyetir mobil pick up miliknya dengan santai.
“Kak…kamu yang membuat mereka menjadi orang kaya dadakan. Bukan orang kaya lebih tepatnya, orang yang tumben pegang uang. Tapi sekarang mereka tidak tahu diri, kamu masih saja membela mereka. Aku tidak mengerti dengan hati malaikatmu, hapi malaikatmu ingin aku injak-injak.” Ria menekankan kata-katanya.
“Tugasmu hanya satu, rekam orang-orang yang merusak dan membakar rumahku. Aku sekarang sedang pindah ke desa sebelah. Ibu dan ayahku sudah aku bawa ke sana. Lagi pula…orang bernama Hendra begitu pintar dan licik. Mana mungkin dia akan memberikan harga yang lebih tinggi daripada hargaku. Perlahan, Hendra akan mencekik leher mereka. Lagi pula tanpaku, yang mengetahui Bagaimana sifat tanaman anggur, siapa yang akan membantu mereka bertani nanti.” Tristan tertawa kecil.
“Tapi Kak…anggur mereka sudah siap panen. Nanti Hendra akan mengambil keuntungan yang besar. Mereka juga bisa bertahan, padahal mereka sudah menginjak-injakmu. Rumah kacamu itu, bukannya tutup modal, malah tekor sebenarnya kan?” Ria menghentak-hentakan kakinya gemas.
Wanita yang masih bersembunyi di balik pohon beringin.
“Ria…kamu tidak mengerti sama sekali. Yang mereka tahu, tanam…berikan pupuk. Entah itu pupuk merk apa, entah PH tanahnya berapa, anta seharusnya suhu berapa, kapan daun dipangkas, dan Apa seharusnya bakal buah akan dipotong. Mereka tidak tahu…apa yang harus aku cemaskan. Untuk memelihara anggur lokal, caranya relatif lebih mudah. Tapi untuk memelihara anggur varietas unggulan, itu seperti memelihara kucing anggora. Makanannya khusus, harus dirawat sering-sering, harus dicintai agar tidak mati.” Tristan masih saja tertawa menjelaskan kepada Ria.
“Usiamu sudah 33 tahun, tapi kamu belum menikah sama sekali. Sehingga, kamu membicarakan tanaman anggur seperti membicarakan pacar saja. Cari pacar sana! Move on dari Juni yang tukang selingkuh itu. Jangan mengharapkan Juni lagi, keperawanannya pasti sudah direbut oleh Hendra. Kasihan…” Ria mengejek Kakak sepupunya.
mimpi basah🫣
Suka gitu author mah, setengah² ngasih clue na teh 😄
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁