Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Rahasia Sang Donatur dan Apron yang Terhempas
"Aku akan mencuci piring seumur hidupku jika itu bisa membuatmu terus tersenyum padaku seperti ini, Bidadari," bisik Arga tulus, sebelum meneguk air putih itu dengan rakus, mengalirkan kehidupan baru ke dalam jiwanya yang sempat mati.
Air dingin itu melewati tenggorokannya, memadamkan dahaga fisiknya, namun senyuman Senja-lah yang benar-benar memadamkan api neraka di dadanya. Selama tiga puluh hari ia hidup bagaikan mayat berjalan, dan hari ini, di dapur sempit yang dipenuhi aroma ragi dan arang ini, Arga merasa telah kembali pulang.
Senja menatap pria yang masih memegang gelas plastik itu. Rona merah tipis menjalar di kedua pipinya. Ia buru-buru memalingkan wajah, mengambil kembali gelas dari tangan Arga, dan meletakkannya di wastafel.
"Jangan menggombal di jam kerja, Tuan Asisten Dapur," gerutu Senja pelan, berusaha menutupi salah tingkahnya. "Sekarang cepat lap sisa air di lantai itu. Mbah Uti bisa terpeleset nanti."
"Siap laksanakan, Nyonya Manajer," sahut Arga dengan senyum lebar yang tak mau luntur. Sang miliarder itu dengan patuh berjongkok, mengambil kain pel, dan mulai mengepel lantai dapur dengan semangat seorang prajurit yang baru saja memenangkan perang.
Melihat Arga Danendra—pria yang bisa membuat bursa saham anjlok hanya dengan satu dehaman—kini berjongkok mengepel lantai demi dirinya, hati Senja terasa menghangat. Dinding es yang ia bangun susah payah perlahan mulai runtuh. Mungkin, batin Senja, mungkin Arga benar-benar serius ingin berubah dan masuk ke dunianya.
Namun, di dunia ini, kebahagiaan Arga Danendra sepertinya memang dikutuk untuk tidak pernah bertahan lebih dari lima menit jika ada sosok Raka Narendra di sekitarnya.
Brummm... CITTT!!
Suara rem truk engkel yang berhenti mendadak di depan kedai memecah keheningan alun-alun desa.
Dari arah depan, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dan berisik. Raka menerobos masuk ke dalam kedai, berlari menembus ruang etalase, dan langsung menyembulkan kepalanya ke pintu dapur dengan wajah semringah tak berdosa.
"BOS!! Horeee! Akhirnya penderitaan kita berakhir!" teriak Raka heboh, suaranya menggema di seluruh ruko.
Arga yang sedang mengepel langsung menoleh, menatap asistennya dengan dahi berkerut tajam. "Berisik kau, Raka. Penderitaan apa maksudmu?"
Raka menyeka keringat di dahinya, lalu menunjuk ke luar dengan ibu jarinya bangga.
"Itu lho, Bos! Truk dari toko elektronik kota sudah datang bawa mixer raksasa otomatis sama oven listrik industri yang Bos beli pakai nama anonim tadi malam! Orang tokonya tanya, bon seharga lima ratus juta atas nama Danendra Group ini mau ditandatangani di mana?!" oceh Raka dengan kecepatan kilat, merasa dirinya telah bekerja dengan sangat efisien.
Hening.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Udara di dalam dapur itu mendadak berhenti mengalir. Suhu ruangan serasa anjlok menembus titik beku.
Arga mematung di posisinya. Gagang kain pel di tangannya nyaris patah karena cengkeramannya yang tiba-tiba menguat. Mata elang sang CEO membelalak ngeri, menatap Raka seolah ingin mencincang asistennya itu hidup-hidup dan menjadikannya pakan buaya.
Di ambang pintu, Raka yang menyadari tatapan 'aku akan membunuhmu' dari bosnya, perlahan menurunkan tangannya. Senyum semringahnya memudar. Otak lulusan Harvard-nya baru saja memproses situasi.
Mati aku. Keceplosan, batin Raka merana, wajahnya seketika sepucat kertas.
Di depan meja adonan, punggung Senja membeku.
Gadis itu berdiri kaku, tangannya yang sedang memegang spatula kayu terhenti di udara. Kepalanya menoleh dengan gerakan slow motion yang sangat mengerikan, menatap wajah Arga dan Raka secara bergantian.
"Danendra Group...?" gumam Senja pelan. Suaranya terdengar sangat rapuh, namun mengandung ketajaman yang menyayat.
"Senja, dengarkan aku, ini tidak seperti—" Arga melempar kain pelnya, buru-buru berdiri dan melangkah mendekati gadis itu dengan wajah panik.
"Berhenti di sana!" bentak Senja, mengangkat spatulanya sebagai isyarat agar Arga tidak mendekat satu sentimeter pun.
Napas Senja mulai memburu. Otaknya yang cerdas dengan cepat menghubungkan titik-titik kejadian yang janggal sejak tadi pagi.
Mbah Uti yang tiba-tiba histeris mendapat 'investor anonim'. Aturan baru yang konyol bahwa Senja tidak boleh mengangkat barang lebih dari dua kilogram. Gaji yang mendadak dijanjikan naik tiga kali lipat. Dan pria raksasa ini, yang tiba-tiba datang mengenakan kemeja lusuh, berakting memelas sebagai pengangguran di depan Mbah Uti.
Semuanya adalah rekayasa!
"Kau... kau pemilik baru kedai ini?" suara Senja bergetar, air mata kekecewaan kembali menggenang di pelupuk matanya.
Arga menelan ludah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia tidak pernah merasa seketakutan ini bahkan saat perusahaannya diancam kebangkrutan. "Senja, aku bisa menjelaskannya. Aku tidak bermaksud membohongimu—"
"Kau membelinya?!" jerit Senja histeris, meledakkan amarahnya. "Kau membeli kedai ini, Arga Danendra?!"
Mendengar keributan itu, Mbah Uti yang baru terbangun dari tidur siangnya keluar dari kamar belakang dengan wajah kebingungan. "Ada apa ini, Nduk Senja? Kok teriak-teriak? Dan ini truk di depan bawa oven besar punya siapa?"
Senja menoleh pada wanita tua itu dengan tatapan hancur, lalu kembali menatap Arga dengan kebencian yang menyala-nyala.
"Tanya saja pada pria ini, Mbah!" tunjuk Senja dengan tangan gemetar. "Tanya pada 'pengangguran' yang sedang berdiri di dapur kita ini! Dia adalah CEO perusahaan raksasa dari Jakarta! Dia-lah 'investor anonim' yang Mbah banggakan tadi pagi!"
Mbah Uti membelalakkan matanya tak percaya. Ia menatap Arga dari atas ke bawah. "M-Mas Arga...? B-Benar begitu?"
Arga menundukkan kepalanya, rahangnya mengeras. Ia tidak bisa lagi mengelak. Topeng pria miskinnya baru saja dikoyak habis oleh asistennya sendiri.
Melihat kebisuan Arga, Senja tertawa sumbang. Sebuah tawa penuh kepahitan yang merobek dada siapa pun yang mendengarnya.
"Kau benar-benar luar biasa, Tuan Arga. Luar biasa licik," desis Senja, matanya menatap tajam dipenuhi air mata kemarahan. "Kau berjanji akan memulai dari nol. Kau bilang akan membuang kekuasaanmu. Tapi apa yang kau lakukan?! Kau membelinya! Kau membeli tempatku bernaung!"
"Aku melakukannya agar kau tidak perlu mengangkat karung tepung berat itu, Senja!" raung Arga putus asa, mencoba maju namun Senja mundur menjauh. "Aku tidak tahan melihatmu bekerja tersiksa sejak jam dua pagi sementara aku diam saja! Aku hanya ingin meringankan bebanmu!"
"Meringankan bebanku atau memonopoli hidupku?!" bantah Senja dengan suara pecah. "Aku lari dari Jakarta untuk mencari tempat di mana aku bisa mandiri, bebas dari uangmu dan bayang-bayangmu! Tapi kau malah mengejarku, merangkai skenario konyol, dan diam-diam menjajah tempatku bekerja! Kau pikir dengan mempekerjakanku di bawah perusahaanmu, kau bisa mengontrolku sesukamu?!"
"Itu tidak benar! Aku tidak pernah ingin mengontrolmu!"
"LALU INI APA?!" jerit Senja menunjuk ke arah Raka dan truk di luar. "Kau tidak bisa berhenti menyelesaikan masalah dengan uang, Arga! Kau tidak bisa! Di matamu, dunia ini dan semua isinya hanyalah barang yang bisa kau beli jika kau menginginkannya. Termasuk diriku."
Kata-kata Senja menghujam sangat dalam. Tuduhan itu begitu absolut. Arga mematung, dadanya naik turun dengan cepat. Ia hanya ingin melindungi, namun di mata gadis yang sangat menjunjung tinggi kebebasan dan harga dirinya, perlindungan dari seorang miliarder adalah bentuk monopoli yang merendahkan.
"Senja, kumohon..." suara Arga merendah, nyaris berbisik. Ia menatap gadis itu dengan tatapan memohon yang sangat rapuh. "Aku salah. Aku akan membatalkan transaksinya. Aku akan menyuruh truk itu kembali. Tapi tolong, jangan tatap aku dengan kebencian seperti itu lagi."
Senja memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh menuruni pipinya. Hatinya sudah terlalu lelah dengan permainan rollercoaster ini. Baru lima menit yang lalu ia merasa bahagia, dan sekarang ia kembali dihempaskan pada realita betapa berbedanya cara kerja otak mereka.
Dengan gerakan lambat namun sangat pasti, Senja menarik tali celemek di lehernya. Ia melepaskan celemek cokelat yang menjadi seragam kebanggaannya di kedai itu, lalu meletakkannya di atas meja kayu.
"Mbah Uti," Senja menoleh pada wanita tua yang masih shock itu. "Terima kasih banyak karena sudah menolong Senja sebulan ini. Mbah orang yang sangat baik. Tapi maafkan Senja... Senja tidak bisa bekerja di bawah payung pria ini."
"N-Nduk... kamu mau ke mana?" Mbah Uti mulai menangis, menahan lengan Senja.
"Senja pamit resign hari ini juga, Mbah," ucap Senja tegas, menghapus air matanya dengan kasar.
Kata 'resign' yang keluar dari mulut Senja menghantam Arga layaknya petir di siang bolong.
"Tidak. Kau tidak akan pergi ke mana-mana," geram Arga, insting diktatornya nyaris mengambil alih saking paniknya. Ia melangkah maju berniat menghadang.
Namun Senja mendongak, menatap mata elang itu dengan sorot yang menantang maut.
"Apa yang akan kau lakukan, Tuan CEO?" tantang Senja dingin. "Mau mematahkan kakiku? Mau mengerahkan seratus pengawal berjas hitam untuk menyeretku ke mobilmu lagi? Lakukanlah. Tunjukkan padaku monster yang sebenarnya, agar aku tidak perlu lagi menangisimu dan bisa membencimu dengan sepenuh hatiku."
Ancaman itu adalah titik kelemahan absolut Arga.
Pria raksasa itu membeku. Langkahnya terhenti. Tangannya yang hendak meraih Senja, jatuh terkulai di sisi tubuhnya. Ia tidak berani menyentuh gadis itu. Ia tidak berani memicu kembali ketakutan Senja padanya. Arga kalah telak oleh perasaannya sendiri.
Mengambil kesempatan dari kebisuan Arga, Senja melangkah melewati pria itu. Ia berjalan cepat menuju kamarnya di belakang, mengambil tas ranselnya yang memang belum sempat dibongkar banyak, dan kembali keluar menuju pintu depan kedai.
Arga hanya bisa menatap punggung kecil itu pergi dengan dada yang seolah robek tercabik-cabik. Ia telah menembak kakinya sendiri dengan egonya.
"B-Bos..." Raka yang masih berdiri di ambang pintu, menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa nyawanya sudah tidak ada artinya lagi saat ini. "Maafkan aku, Bos. Aku benar-benar lupa soal settingan pura-pura miskinmu."
Arga menoleh pada asistennya dengan tatapan kosong, lalu perlahan tatapan itu berubah menjadi aura membunuh yang paling gelap.
"Raka."
"I-Iya, Bos?" Raka mulai mundur perlahan, bersiap lari dari amukan sang Tiran.
"Gajimu, bonusmu, dan sahammu di perusahaan," desis Arga dengan suara dari dasar neraka, "aku potong seratus tahun."
Raka merosot jatuh ke lantai, memeluk lututnya meratapi nasib. "Mati aku. Lebih baik aku jadi tukang cuci wajan saja sekalian."
[Pesan Author:]
(Ada sebuah perbedaan mendasar antara "Mencintai" dan "Memonopoli". Ketika kita mencintai seseorang, kita memberikannya ruang untuk tumbuh, mandiri, dan merasa berharga atas usahanya sendiri.
Arga melakukan kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan: ia merampas ruang juang pasangannya. Dengan membeli kedai itu, Arga mungkin bermaksud memberikan perlindungan, namun bagi Senja, Arga baru saja membeli kemerdekaannya. Ia membuat Senja merasa bahwa ke mana pun ia berlari, ia hanyalah seekor burung yang terbang di dalam sangkar raksasa milik Arga. Menyatukan dua dunia tidak bisa dilakukan dengan cara salah satu pihak menjajah dunia pihak lainnya. Arga harus belajar menahan hasrat protektifnya, karena cinta sejati membutuhkan rasa saling percaya, bukan dominasi finansial yang mencekik.)
Di luar kedai, panas matahari siang membakar aspal alun-alun.
Senja Kirana melangkah cepat dengan ransel di punggungnya, berjalan menyusuri trotoar menjauhi kedai Mbah Uti. Air matanya mengalir deras, mengaburkan pandangannya.
Ia tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Dunia ini terasa terlalu sempit untuk bersembunyi dari bayang-bayang kekuasaan pria bernama Arga Danendra.
Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa berlari mengejarnya.
"Senja! Berhenti!"
Senja tidak menghiraukan panggilan itu. Ia justru mempercepat langkahnya. Namun, dengan postur tubuh dan panjang kaki yang berbeda jauh, pria itu berhasil menyusulnya hanya dalam hitungan detik.
Arga berlari ke depan Senja, merentangkan kedua tangannya yang masih kotor oleh sabun cuci untuk menghalangi jalan gadis itu. Dada bidangnya naik turun dengan cepat akibat berlari.
"Kumohon... jangan pergi lagi," mohon Arga, napasnya memburu. Pria yang menguasai perekonomian negara itu menundukkan kepalanya, berdiri bagaikan seorang pengemis di tengah jalanan desa yang berdebu.
"Biarkan aku lewat, Arga. Aku sudah muak dengan permainan uangmu," ucap Senja tanpa menatap pria itu, mencoba bergeser ke kiri, namun Arga ikut bergeser menghalanginya.
"Senja, dengarkan aku sekali ini saja!" suara Arga meninggi, dipenuhi oleh keputusasaan yang meremas dada. "Katakan padaku! Katakan padaku apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku?! Aku bersumpah akan menjual kembali kedai itu pada Mbah Uti! Aku akan membuang dompetku! Aku akan melakukan apa pun yang kau mau!"
Senja akhirnya menengadah, menatap Arga dengan air mata yang berderai.
"Yang kumau adalah kau berhenti mengontrol hidupku, Arga!" jerit Senja di tengah jalan raya, tidak peduli pada beberapa penduduk desa yang mulai menoleh menatap mereka.
"Kau tidak mengerti! Kau bilang kau mencintaiku, tapi caramu mencintaiku membuatku merasa tidak berharga! Kau selalu menempatkan dirimu sebagai dewa penyelamat yang bisa membeli segalanya! Bagaimana aku bisa merasa setara denganmu jika hidupku, tempat kerjaku, dan keselamatanku berada di bawah kendali buku cek-mu?!"
Arga mematung. Kata 'tidak berharga' yang diucapkan Senja menghantam relung terdalam hatinya. Ia akhirnya menyadari bahwa perlindungannya justru telah menghancurkan harga diri gadis yang paling ia puja itu.
Arga menurunkan kedua tangannya perlahan. Keputusasaan tergambar jelas di wajahnya yang tampan.
"Lalu... apa aku tidak boleh melindungimu?" bisik Arga serak, setetes air mata pria itu akhirnya jatuh menuruni pipinya, sebuah pemandangan yang sangat langka. "Apakah salah jika aku ingin menggunakan semua yang kumiliki untuk memastikan wanita yang kucintai tidak terluka?"
"Tidak ada yang salah dengan perlindungan, Arga," jawab Senja, suaranya melemah menjadi isakan, hatinya ikut hancur melihat pria raksasa ini menangis di depannya.
"Tapi cinta adalah tentang berjalan berdampingan, bukan tentang satu orang memikul yang lainnya hingga yang dipikul merasa lumpuh. Aku ingin kau mencintaiku sebagai Senja yang mandiri, bukan Senja yang kau beli keamanannya."
Senja mengusap air matanya, membetulkan tali ransel di bahunya.
"Beri aku waktu, Arga," ucap Senja pelan namun tegas. "Beri aku waktu untuk menata kembali hidupku dengan tanganku sendiri. Jangan ikuti aku. Jangan awasi aku dengan agen bayanganmu. Dan jangan pernah, sepeser pun, menggunakan uangmu untuk membantuku. Jika kau benar-benar mencintaiku, buktikan dengan menghargai keputusanku kali ini."
Setelah mengucapkan kalimat yang merupakan vonis terakhir itu, Senja melangkah menyamping, melewati Arga yang berdiri membeku bagaikan patung batu.
Kali ini, Arga tidak mencegahnya. Pria itu mengunci kakinya sendiri di atas aspal dengan seluruh sisa kekuatan mental yang ia miliki. Menahan insting predatornya yang berteriak untuk menyeret gadis itu kembali.
Arga menatap punggung kecil Senja yang semakin menjauh di ujung jalan. Hatinya berdarah, jiwanya meronta. Namun untuk pertama kalinya, sang penguasa dunia bisnis itu memilih untuk kalah. Ia memilih untuk menelan egonya bulat-bulat, memberikan kebebasan mutlak yang diminta oleh bidadarinya, meski itu berarti ia harus hidup dalam siksaan rindu yang tidak berkesudahan.
Di tengah terik matahari desa, Arga Danendra belajar tentang bentuk cinta yang paling murni dan paling menyakitkan: Melepaskan kendali, demi melihat orang yang dicintai tumbuh memiliki sayapnya sendiri.