Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Pertemuan
"lalu mengapa?" jawabnya santai sambil menarik pinggang Clare lagi
Langkah pelan terdengar mulai mendekat ke arah mereka. Jantung Clare berdebar kencang sampai terdengar
langkah itu semakin dekat, Clare berusaha melepas ciumannya
Clare menggigit Jhon, kuat "tuan, Jhon!" teriakannya
"biarkan saya pergi sekarang, saya akan memberikan nomor saya, dengan itu kamu bisa menghubungi saya untuk meminta ganti rugi!" ujarnya tergesa
Jhon menatap lantai, tangannya mengusap darah di bibirnya, halus
"oke" Jhon meraih ponselnya "tapi awas kalau kamu berbohong. gadis kecil!"
"aku tak akan berbohong" Clare juga mengambil ponselnya, lalu ia segera seken nomor Jhon, lalu lari terbirit-birit
*hmph, kamu nggak akan bisa kabur lagi dariku, gadis kecil* batinnya, sambil terus menatap punggung Clare yang hampir hilang
Hans datang dari pintu, ia melihat Clare yang berlari, lalu menghampiri Jhon
"maafkan asisten saya, tuan" Hans menunduk kepada Jhon
"mengapa minta maaf, memang kamu mengetahui apa yang dia lakukan!?" ujar Jhon, ia mengelus lagi bibirnya, menunjukkan nya kepada Hans
"tidak, tuan. Namun saya mengetahui sifatnya yang sedikit ceroboh, saya hanya menebak mungkin dia berbuat salah kepada, anda"
"ya, dia sedikit nakal" ungkapnya
Hans melirik wajah Jhon, sedikit terkejut *apa yang dia lakukan!? Apa itu perbuatannya, tapi yasudah kalau itu memang membuat hati tuan Jhon bahagia, itu pun akan menguntungkan untuk ku* batinnya, nyaris tanpa rasa. Yang ia pikirkan hanya dirinya sendiri
*haduh, bagaimana bisa tuan berbicara hal seperti itu di depan suaminya!* batin Bima
Jhon melangkah pergi dari ruangan meeting itu diikuti Bima, meninggalkan Hans yang masih terdiam sambil tersenyum kecil
Di kantor Ayana
Clare masuk tanpa mengetuk pintu, jalannya cepat terdengar keras, wajahnya terlihat kesal. Ayana sedang terduduk di kursi, tangannya memegang dokumen namun matanya menatap ke arah pintu
"ada apa!? Mengapa wajahmu di tekuk seperti itu, apa Hans berbuat sesuatu?" Ayana berdiri
"bukan" Clare berjalan ke arah sofa, lalu duduk
Ayana melangkah mengikuti Clare
"itu Jhon. Dia mengenaliku, aku tidak tau apa yang dia inginkan padahal aku tak mempunyai apapun sekarang, aku hanya memiliki nyawaku, apa dia menginginkan nya!?" ujarnya, cepat
"mungkin" Ayana duduk di sebelah Clare, menatap tak sengaja wajah Clare dan melihat keanehan di dalamnya. Ia mengangkat tangannya, memegang dagu Clare, membaliknya perlahan ke arahnya "mengapa bibirmu bengkak" tanya nya
Clare hanya diam
"apa itu!?" ujarnya sembari membolak balikan mata
Clare mengangguk
"aku tahu sekarang..." Ayana melepaskan tangannya, lalu berdiri melangkah ke arah jendela "apa yang bos itu inginkan"
"apa kamu sama sekali tak menyadari itu" ujar Ayana sembari melirik ke bawah gedung
"memang apa?" tanya Clare, lalu menghampiri Ayana
"pantas sekali" Ayana tersenyum "kamu di bohongi oleh Hans, ternyata kecerdasanmu soal cinta itu sangat rendah!" Ayana menggelengkan kepalanya
"apa hubungannya dengan itu!"
"apa kamu sama sekali tak mengerti! Mungkinkah ini hanya sebuah kebetulan belaka" ujar Ayana
"apa yang ingin kamu katakan, jangan membuatku penasaran!" tanya Clare, panik
"coba kamu pikirkan, mungkinkah tokoh besar seperti tuan, Jhon. Rela datang ke perusahaan kami hanya karena project yang biasa, dan di luar sana mungkin sangat banyak kerja sama yang lebih menguntungkan daripada kerja sama dengan Dewana group yang hanya perusahaan kecil"
"dan ada satu lagi kejanggalan, Dewana group mengajukan kerja sama kepada Anata group sudah sangat lama, mengapa mereka baru menyetujui nya saat kamu!" ungkap Ayana
"jadi maksudmu, tuan Jhon. Menyetujui kerja sama ini karena ku!?" jawab Clare, shock
"mungkin saja"
"tapi itu tidak mungkin, Ay. Di sekitar Jhon banyak gadis-gadis yang sangat sempurna daripada aku, mengapa dia memilihku?" tanyanya
"karena dia hanya tertarik padamu, di banyak drama pendek juga alurnya seperti itu" jawab Ayana
Ekspresi wajah Clare berubah, ia menghela napas pelan "sepertinya aku terlalu serius mendengarkan mu, Ay!" ujar Clare
"aku juga tidak sedang berbicara ngawur, itu berasal dari banyaknya kebetulan"
"sudahlah, lebih baik kamu kurangi menonton drama pendek seperti itu! Kamu terlalu banyak menghalu" ujarnya tegas
"aku tidak, ungkapan itu sangat berdasar–" jawab Ayana, tinggi
ting... Bunyi notif ponsel Clare
Ia membukanya, pesan dari nomor tak dikenal masuk
Pesannya: katanya kamu ingin bertanggung jawab kepada saya, jika begitu malam ini temui saya di Amara suites hotel
Clare membacanya, ia sudah tahu siapa yang mengirimkan pesan itu
Clare: mengapa harus di hotel, itu kurang nyaman bukan. bukankah ini hanya ganti rugi? jawabnya
Pesan terbaca, Jhon sedang mengetik
Jhon: benar, tapi ini ganti rugi yang berbeda
Clare: apa bedanya! Bukankah semua ini hanya Maslah uang?
Jhon: temui saja, nanti kamu akan mengetahuinya
Clare: tapi ini harus jelas sekarang!
Pesan sudah di baca beberapa detik yang lalu, namun balasan tak juga muncul
*aku tidak mengerti apa maksud, Jhon. Apa yang di katakan Ayana itu benar?* batinnya
Ayana yang melihat di samping Clare, penasaran dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah, jiwa ingin tahu nya mulai meronta-ronta
"apa yang sedang kamu bicarakan Bu, Clare" ponsel Clare di rampas nya
Ia panik, mencoba mengambil lagi ponselnya, namun tak bisa. Semua pesan itu sudah di baca Ayana
"siapa ini kok nomor tak dikenal? Apa ini tuan Jhon?" tebaknya sembari terus membaca
"bukan, Ay. Itu bukan Jhon!" sangkal Clare
"jika bukan tuan, Jhon. Lalu siapa lagi!"
"lebih baik kamu kembalikan ponselku!" bentak Clare, pelan
Ayana mengejat, lalu ia mengembalikan ponsel Clare
"kamu ceroboh, Ay. Itu privasi. Dan semua orang butuh privasi itu" ujarnya kesal
"maaf, aku hanya penasaran!" jawabnya
"jangan karena penasaran kamu bertindak seperti itu, bagaimana jika penasaranmu itu menimbulkan kebencian orang lain padamu!"
"oke, aku tidak akan lagi bersikap seperti itu, jangan marah padaku" ujarnya seperti kucing kecil yang memohon agar orang mengasihani nya
"aku harap kamu nggak akan mengulanginya! Aku juga minta maaf atas sikapku tadi yang telah membentak mu " jawab Clare, lalu ia pergi membawa ponselnya