Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bayu berdiri di depan Lamborghini Aventador hitamnya dengan senyum bangga.
Keenam keponakannya sudah mengerumuni mobil mewah itu seperti lalat yang melihat gula.
"Om Bayu, pintunya bisa terbuka ke atas seperti sayap kelelawar," seru Cika sambil melompat-lompat girang.
"Ini keren sekali, aku mau duduk di depan bersama Om," sahut Kania tidak mau kalah.
Bayu menekan tombol di kuncinya lagi untuk mematikan alarm.
Bip bip.
Pintu mobil terbuka lebar memperlihatkan interior kulit berwarna merah menyala yang sangat mewah.
Namun senyum bangga di wajah Bayu perlahan memudar saat dia melihat ke dalam mobil.
"Tunggu sebentar, mobil ini hanya punya dua kursi penumpang di depan," gumam Bayu kebingungan.
"Lalu bagaimana caranya aku membawa pulang enam anak curut ini sekaligus?"
Sinta yang memiliki tubuh paling tinggi menyadari masalah tersebut lebih dulu.
Dia melipat tangannya di depan dada dan menatap Bayu dengan tatapan mengejek.
"Om Bayu yang kaya raya, tolong jelaskan padaku bagaimana kita semua akan masuk ke dalam sana."
"Apakah Om mau mengikat kami di atas atap mobil seperti koper?"
Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meringis canggung.
"Ah itu, Om juga baru ingat kalau mobil sport memang hanya untuk dua orang Sinta."
Rara yang sudah siap masuk ke dalam mobil langsung cemberut.
"Rara mau naik mobil robot Om, Rara tidak mau naik taksi lagi."
Bayu mulai panik melihat mata Rara yang mulai berkaca-kaca siap untuk menangis.
"Sistem, apa kau punya solusi untuk masalah memalukan ini?" tanya Bayu dalam hati.
[Ding!]
[Sistem menyarankan Tuan untuk menggunakan Kartu Blackcard guna membeli kendaraan keluarga yang lebih besar.]
[Ada pameran mobil mewah yang sedang berlangsung di lantai dasar mall ini.]
Mata Bayu langsung berbinar cerah mendengar saran dari sistem tersebut.
"Benar juga, kenapa aku harus pusing jika aku punya uang tanpa batas sekarang."
Bayu bertepuk tangan sekali untuk menarik perhatian keenam keponakannya.
Plok.
"Anak-anak dengarkan Om, mobil ini terlalu sempit untuk kita semua."
"Jadi Om memutuskan untuk membeli satu mobil lagi yang lebih besar agar kalian bisa tidur nyenyak di jalan."
Mata Sinta langsung terbelalak lebar mendengar ucapan santai pamannya itu.
"Om mau beli mobil lagi sekarang juga? Om tidak sedang bercanda kan?"
"Tentu saja tidak Sinta, Om adalah pria paling serius jika menyangkut kebahagiaan kalian."
"Ayo kita kembali ke dalam mall sebentar, Om melihat ada pameran mobil di dekat lobi utama tadi."
Mereka akhirnya berjalan kembali memasuki area dalam mall dengan formasi yang sama.
Bayu memimpin di depan sambil sesekali melirik deretan mobil yang dipamerkan di sana.
Langkahnya berhenti di depan sebuah booth pameran yang menampilkan mobil keluarga berukuran besar.
Itu adalah mobil Toyota Alphard keluaran terbaru berwarna putih mutiara.
"Nah ini dia, mobil ini terlihat sangat nyaman dan muat untuk kita bertujuh."
Bayu segera menghampiri seorang sales pria yang sedang berdiri di dekat mobil tersebut.
"Permisi Mas, apakah mobil putih ini stoknya tersedia hari ini juga?" tanya Bayu sopan.
Sales pria itu menatap Bayu dan rombongan anak kecil di belakangnya dengan tatapan ragu.
Penampilan Bayu yang hanya memakai kaos oblong dan celana jeans memang tidak terlihat seperti orang kaya.
"Tersedia Tuan, tapi harganya mencapai satu setengah miliar rupiah," jawab sales itu dengan nada sedikit malas.
"Apakah Tuan ingin melihat brosurnya dulu untuk mengecek cicilan per bulannya?" Bayu tersenyum tipis melihat sikap meremehkan dari sales tersebut.
Dia langsung mengeluarkan Kartu Blackcard dari dalam saku jasnya dan menyerahkannya kepada sales itu.
"Aku tidak butuh cicilan, aku ingin membeli mobil ini secara tunai sekarang juga."
Mata sales pria itu nyaris copot saat melihat fisik Kartu Blackcard di tangan Bayu.
Tubuhnya langsung gemetar hebat karena dia sangat tahu kartu apa yang sedang dipegangnya itu.
"B-blackcard? Ya ampun, m-maafkan ketidaksopanan saya tadi Tuan yang terhormat."
"Saya akan segera memproses pembayarannya dan menyiapkan kunci mobil ini dalam waktu sepuluh menit."
Sales itu langsung berlari terbirit-birit menuju meja administrasi dengan wajah pucat pasi.
Sinta kembali menyenggol lengan Bayu dengan sikunya.
"Om, kartu hitam itu benar-benar sangat ajaib ya."
"Kenapa semua orang langsung ketakutan seperti melihat hantu saat Om mengeluarkannya?"
"Sudah Om bilang kan, ini adalah kartu sakti dari bos besar Om."
"Kalian cukup duduk manis dan menikmati fasilitasnya saja tanpa perlu banyak bertanya."
Tidak sampai sepuluh menit, sales pria itu kembali dengan membawa sebuah kunci mobil di tangannya.
Dia membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat saat menyerahkan kunci tersebut kepada Bayu.
"Semua surat menyurat sudah kami urus dan mobil ini siap digunakan sekarang juga Tuan."
"Terima kasih banyak atas pembelian luar biasa Anda hari ini."
Bayu mengambil kunci mobil itu dan segera menekan tombol pembuka pintunya.
Cklik.
Pintu geser otomatis di bagian samping Alphard putih itu terbuka dengan halus.
Deretan kursi kulit berwarna krem yang sangat empuk langsung menyambut pandangan mereka.
"Wah kursinya besar sekali dan terlihat sangat empuk," puji Kania kegirangan.
"Ayo semuanya naik, kita akan pulang sekarang juga," perintah Bayu dengan nada layaknya seorang kapten kapal.
Keenam gadis kecil itu segera berhamburan masuk dan berebut kursi yang paling nyaman.
Rara dan Luna langsung mengambil kursi paling belakang dan mulai melompat-lompat di atasnya.
"Hei jangan melompat di dalam mobil, nanti kalian bisa terbentur atapnya," tegur Bayu sambil tertawa pelan.
Bayu lalu berjalan menuju kursi kemudi dan menyalakan mesin mobil mewah tersebut.
Brumm.
Suara mesinnya sangat halus hingga nyaris tidak terdengar dari dalam kabin.
"Lalu bagaimana dengan mobil robot hitam di luar sana Om?" tanya Sinta dari kursi penumpang depan.
"Om sudah menyuruh jasa sopir dari pihak mall untuk mengantarkannya ke apartemen kita nanti."
Bayu menginjak pedal gas dan mobil keluarga yang mewah itu perlahan melaju meninggalkan area mall.
AC yang dingin dan suspensi yang sangat empuk membuat perjalanan mereka terasa sangat nyaman.
Hanya butuh waktu lima belas menit sebelum dengkuran halus mulai terdengar dari arah belakang.
Bayu melirik dari kaca spion tengah dan melihat kelima keponakannya sudah tertidur pulas.
Rara tidur sambil memeluk bonekanya sementara Cika menyandarkan kepalanya di bahu Bella.
Hanya Sinta yang masih terjaga sambil menatap jalanan kota Jakarta dari balik jendela kaca.
"Om, apakah besok pagi kami harus makan mie instan lagi?" tanya Sinta tiba-tiba memecah keheningan.
"Tadi Tante Vanya bilang Om menunggak uang sewa, apakah kita akan diusir dari apartemen?"
Bayu merasakan sedikit rasa sakit di dadanya mendengar pertanyaan polos namun menusuk dari keponakan tertuanya itu.