Indonesia
NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Dunia yang Berbeda

"Loh Group?" bisik Liana.

Jessy mematikan kompor begitu cepat sampai telur di wajan hampir gosong. "Tunggu. Loh Group yang itu?"

Liana masih menggenggam ponsel. Suara staf di seberang menunggu dengan sopan.

"Iya," jawab Liana pelan. "Saya bersedia datang."

Alamat dikirim melalui WhatsApp beberapa menit kemudian. Gedung utama Loh Group, SCBD, Jakarta Selatan. Liana membaca alamat itu berulang-ulang, seolah huruf-hurufnya bisa berubah kalau ia berkedip.

Keesokan paginya, Jessy meminjamkan satu setelan krem yang sudah lama tergantung di lemari. Ukurannya sedikit longgar di bahu, tetapi setelah disetrika, pakaian itu tampak cukup pantas.

"Kamu kelihatan seperti ibu direktur," kata Jessy sambil merapikan kerahnya.

"Jangan bercanda. Aku sudah gemetar."

"Gemetar boleh. Mundur jangan."

Perjalanan ke SCBD terasa seperti menyeberangi hidup orang lain. Liana naik MRT, lalu berjalan melewati gedung-gedung tinggi yang kaca-kacanya memantulkan langit Jakarta. Orang-orang di sekitarnya bergerak cepat dengan kartu akses di leher, kopi mahal di tangan, dan wajah yang seolah tahu persis ke mana mereka pergi.

Liana menggenggam map CV-nya lebih erat.

Gedung Loh Group berdiri di antara menara lain, tetapi tetap terasa berbeda. Lobi marmernya luas, dingin, dan berkilau. Pintu putar bergerak tanpa suara. Resepsionis berseragam hitam menyapa dengan senyum profesional.

Di sisi kiri lobi, layar besar menampilkan daftar anak perusahaan Loh Group: properti, logistik, energi, rumah sakit, teknologi. Nama-nama itu bergerak pelan seperti dunia yang selama ini hanya Liana baca dari koran. Ia sempat berhenti setengah langkah, merasa sepatu lamanya terlalu berisik di lantai marmer.

Seorang pria muda melewati dirinya sambil bicara dalam bahasa Inggris cepat. Dua perempuan membawa tablet, berdiskusi tentang jadwal investor. Semuanya rapi, cepat, mahal. Liana menelan ludah, lalu mengingat kata Jessy.

Gemetar boleh. Mundur jangan.

"Selamat pagi, Ibu. Ada janji?"

"Saya Liana Liem. Dipanggil untuk wawancara."

Resepsionis memeriksa daftar, lalu ekspresinya langsung berubah lebih hormat. "Silakan, Bu Liana. Oma Loh sudah menunggu di ruang VIP."

Bu Liana.

Sudah lama tidak ada orang menyebutnya dengan nada seperti itu.

Seorang staf HR mengantarnya naik lift. Angka lantai bergerak cepat. Liana melihat pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap. Setelan pinjaman, tas lama, sepatu yang ujungnya mulai aus. Di sebelahnya, staf muda itu berdiri rapi, wangi parfum lembut, kuku terawat.

Liana menurunkan pandangan, lalu mengangkatnya lagi.

Ia tidak datang untuk dibandingkan. Ia datang karena dipanggil.

Di ruang VIP, Oma Loh duduk di sofa, kaki kanannya masih dibalut. Begitu melihat Liana, wajahnya cerah.

"Liana, akhirnya datang juga."

Liana membungkuk sedikit. "Oma... ternyata Oma dari Loh Group?"

Oma tertawa pelan. "Bukan dari Loh Group. Loh Group yang dari keluarga saya."

Kalimat itu membuat Liana hampir kehilangan kata-kata.

Oma menepuk kursi di sebelahnya. "Duduk. Jangan tegang begitu. Kemarin kamu menolong saya tanpa tahu siapa saya. Hari ini giliran saya menolongmu tanpa membuatmu merasa sedang dikasihani."

"Saya tidak ingin merepotkan."

"Kamu tidak merepotkan. Saya butuh orang seperti kamu."

Staf HR membuka berkas. Posisi yang ditawarkan terdengar tidak biasa: asisten pribadi bidang kehidupan sehari-hari untuk CEO. Bukan sekretaris bisnis utama, bukan pengambil keputusan, tetapi orang yang mengatur detail pribadi: jadwal makan, pengingat obat, pakaian perjalanan, preferensi hotel, kebutuhan sehari-hari di sela jadwal yang padat.

"CEO kami sering melewatkan makan," jelas staf HR. "Jadwalnya sangat padat. Banyak kandidat sebelumnya terlalu fokus pada administrasi, tetapi kurang peka pada detail pribadi. Oma Loh meminta seseorang yang bisa membaca kebutuhan sebelum diminta."

Liana memikirkan tiga puluh tahun hidupnya. Ia tahu dari bunyi langkah apakah Albert sedang marah. Ia tahu dari napas Kim Hwa apakah obatnya mulai bekerja. Ia tahu Jason berbohong hanya dari cara anak itu menaruh tas sekolah. Kepekaan yang dulu membuatnya lelah, hari itu tiba-tiba disebut kualifikasi.

Liana mendengarkan dengan cemas.

"Saya harus jujur," katanya akhirnya. "Saya tidak punya pengalaman kantor. Tiga puluh tahun saya hanya di rumah."

Oma Loh menatapnya seperti mendengar jawaban yang sudah ia tunggu.

"Tiga puluh tahun mengurus rumah tangga itu pengalaman terbaik untuk pekerjaan ini. Kamu tahu cara melihat hal kecil yang orang lain lewatkan. Orang yang hanya bisa mengetik cepat belum tentu bisa memastikan seseorang makan sebelum maag-nya kambuh."

Liana terdiam.

Selama ini, tiga puluh tahun di rumah selalu dipakai orang untuk mengecilkannya. Di mulut Oma Loh, tahun-tahun itu berubah menjadi keahlian.

"Tapi CEO pasti orang penting. Saya takut membuat kesalahan."

"Orang penting juga manusia. Kadang justru lebih tidak terurus."

Oma memberi isyarat kepada staf HR. Kontrak kerja diletakkan di depan Liana. Angka gaji di halaman kedua membuat Liana menahan napas. Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan, cukup untuk menyewa kost layak dan tidak lagi menghitung ongkos pulang pergi setiap hari.

"Oma, ini terlalu besar."

"Itu standar kami."

"Saya belum tentu mampu."

"Maka buktikan kamu mampu."

Liana menatap kontrak itu lama. Ia teringat Albert yang berkata ia bukan siapa-siapa tanpa rumah Phua. Ia teringat manajer toko yang menolaknya karena usia. Ia teringat map CV yang basah di halte.

Lalu ia mengambil pena.

"Saya akan bekerja sebaik mungkin, sungguh."

Tangannya tidak lagi gemetar seperti saat melamar di toko dan klinik. Kertas di depannya tidak menolak usianya. Untuk pertama kalinya, sebuah tempat kerja melihat masa lalunya sebagai kemampuan, bukan beban yang harus disembunyikan dari siapa pun.

Ketika tanda tangannya selesai, pintu ruang VIP terbuka sebentar. Seorang pria berkemeja putih dan jas gelap lewat di koridor bersama dua staf. Wajahnya tegas, langkahnya cepat. Ia hanya melirik ke dalam satu detik.

Arman Kang, staf HR berbisik, "Asisten utama Boss."

Pria itu sempat mengernyit melihat Liana, lalu pergi.

Oma Loh pura-pura tidak melihat. "Dia memang begitu. Nanti juga terbiasa."

Setelah semua berkas selesai, Liana diantar turun. Di depan gedung, suasana tiba-tiba berubah. Beberapa satpam bergerak lebih sigap. Karyawan yang keluar masuk otomatis memberi jalan.

Sebuah Rolls-Royce hitam berhenti di depan lobi.

Pintu belakang terbuka. Seorang pria tinggi turun, mengenakan setelan gelap tanpa cela. Rambutnya hitam dengan sedikit perak di pelipis. Wajahnya tidak muda, tetapi justru karena itu auranya terasa kuat dan dingin.

Liana terdorong sedikit ke samping oleh arus orang yang memberi jalan. Ia tidak melihat wajah pria itu dengan jelas, hanya profilnya, cara semua orang menunduk, dan keheningan singkat yang mengikuti langkahnya.

Di belakang Liana, suara Oma Loh terdengar pelan.

"Itu bosmu. Anakku, CEO Loh Group."

1
Lintang Rini
berjuang utk harga diri
SHLDC’s Company
Luar biasa
Neng Tuti
mungkin itulah yang disebut ikatan batin antara ibu dan anak,semangat ibu liana
Joice Sandri
Hui musuh dalam selimut...
Neng Tuti
manis banget percintaan orang dewasa😍
Magdalena Sarkol
semoga edwin jadian Deng ci Liana.
Magdalena Sarkol
pa Edwin romantis bangat sih tapi romantis nya berwibawa.
Magdalena Sarkol
kalau dari cerita nya. Kevin anak ci Liana ya.
Dokkan Battle
AWOKAWOK MAMPUS TUA BANGKA
Dcy Sukma
Pak Dennis selalu bikin nyengir2 sendiri..🤭
Dcy Sukma
😄😄 ko Dennis..ssttt..🤣
Magdalena Sarkol
sudah kuduga dari awal cerita Edwin ada mau nya. ci Liana bahagia.
Magdalena Sarkol
sang penulis orang yang brilian. banyak ilmu yang kita dapat aku suka ceritanya dan kata kata nya yang bagus bisa di mengerti dan bahasa nya tingkat tinggi seperti mahasiswa yang sedang belajar bisnis internasional 👍👍
aridah hati
loh loh... ini hamil duluan kah...trus hijabnya bagaimana. apa sudah nikah siri 🤭
Anggraini “Beby” Lubis
baru ini baca cerita sampai tamat dan ngga skip bab
EMINEM Resi
belajar mencintai tanpa paksaan..
EMINEM Resi
ungkapan perasaan cinta yg tulus
EMINEM Resi
perlahan mulai membuka hati
EMINEM Resi
kencan di usia 50 tahun
Nona Yakiniku
ya. aq jg tdk setuju.. apalg nikah 2 agama berbeda, menurutku tdk memberi contoh yg baik, maaf ya thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!