Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANGKAR EMAS DI DHARMAWANGSA

Langit malam di atas kawasan elite Dharmawangsa menggantung pekat, menyelimuti deretan pepohonan rindang dan benteng-benteng rumah megah yang berdiri angkuh.

Sebuah sedan hitam meluncur pelan melewati pintu gerbang besi bertempa ukiran rumit yang terbuka secara otomatis, lalu berhenti tepat di bawah carport beratap marmer sebuah kediaman bergaya tropis modern.

Rumah itu tampak terisolasi, megah, namun menyebarkan aura dominasi yang teramat dingin sebuah sangkar emas yang baru saja selesai disiapkan untuk menyambut penghuni tunggalnya.

Pintu sedan terbuka.

Ziva melangkah keluar dengan tubuh kaku dan tatapan mata yang hampa.

Di tangannya, sebuah koper berukuran sedang tergenggam erat, menjadi satu-satunya barang bawaan yang menandai pelariannya atau lebih tepatnya, penyerahan dirinya dari kehidupan lama yang telah dihancurkan oleh kekuasaan Letnan Jenderal Gibran Mahendra.

Hanya delapan belas jam setelah Aris resmi membelah angkasa menuju Eropa Timur untuk menjalani tugas bisnis berdurasi enam bulan, ancaman Gibran berubah menjadi kenyataan yang tak bisa dielakkan.

Sebuah instruksi tertulis dan pengawalan ketat dari ajudan sang Jenderal telah memastikan Ziva mengepak barang-barangnya, meninggalkan apartemen lamanya, dan melangkah masuk ke dalam batas wilayah kekuasaan pria itu.

Seorang wanita paruh baya berseragam rapi menyambutnya di ambang pintu kayu jati yang menjulang tinggi, membungkuk penuh hormat tanpa berani menatap langsung sepasang mata Ziva yang sembap.

"Selamat datang, Mbak Ziva.

Saya Mbok Nah," sapa wanita itu lembut namun terkesan sangat berhati-hati.

"Bapak Jenderal sudah berpesan agar saya menyiapkan seluruh kebutuhan Mbak.

Mari, saya antarkan menuju kamar utama di lantai dua."

Ziva tidak menjawab.

Tenggorokannya terasa tersumbat oleh gumpalan keputusasaan yang menyiksa.

Ia hanya mengekor di belakang Mbok Nah, melintasi ruang tengah berlantai marmer impor yang luas, di mana aroma khas kayu cendana dan bunga lili segar menyeruak masuk ke indra penciumannya—aroma yang persis sama dengan aroma tubuh pria yang kini memenjarakannya.

Begitu pintu kamar utama di lantai dua dibuka, Ziva tertegun di ambang pintu.

Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh warna-warna netral yang elegan dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah kolam renang pribadi di halaman belakang.

Di atas tempat tidur berukuran king-size yang terbalut sprei sutra abu-abu, terdapat sebuah kotak perhiasan beludru hitam dan selembar kartu ucapan bertuliskan tangan dengan garis tegas yang teramat kukuh:

"Selamat datang di rumah baru kita, Ziva. Kamu tidak perlu lagi bersembunyi di balik bayang-bayang siapa pun."

Ziva memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kertas tebal itu hingga remuk di dalam genggamannya.

Air mata panas kembali menetes membasahi pipinya.

Di rumah ini, tidak ada satu pun jejak Aris.

Tidak ada foto kenangan mereka, tidak ada kehangatan yang jujur hanya ada jejak cengkeraman kepemilikan mutlak dari seorang pria yang siap melanggar seluruh batas etika demi memuaskan dahaga cintanya yang terlarang.

Waktu bergeser melintasi tengah malam.

Suara deru mesin mobil yang familier memecah keheningan kompleks Dharmawangsa sekitar pukul satu dini hari.

Ziva, yang sejak tadi duduk mematung di sudut sofa kamar tanpa menyentuh makan malamnya, seketika menegang saat mendengar ketukan langkah sepatu pantofel bertumit keras menggema ritmis di atas lantai kayu koridor.

Cklek.

Pintu kamar terdorong terbuka pelan.

Sosok Gibran Mahendra berdiri tegak di sana.

Pria itu sudah menanggalkan jas dinas militernya, hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka dan lengan kemeja yang digulung hingga batas siku.

Wajahnya yang tegas memancarkan kelelahan fisik seusai memimpin rapat panjang di Markas Besar, namun di balik sepasang manik mata hitamnya, pendar kepemilikan dan gairah posesif membakar tanpa ampun.

Gibran melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya lalu memutar kunci ganda dengan suara denting logam yang tegas sebuah penegasan bahwa tidak ada jalan keluar lagi dari ruangan ini.

"Kenapa kamu belum tidur, Ziva?" suara Gibran mengudara, rendah dan sarat akan dominasi yang mengintimidasi.

"Dan kenapa makan malammu tidak disentuh sama sekali?"

Ziva berdiri dari sofa, dadanya naik-turun menahan emosi yang meletup-letup.

"Om pikir aku bisa tidur nyenyak di tempat ini?!

Om pikir aku bisa makan dengan tenang setelah Om memaksa aku pindah dan mengisolasi aku dari dunia luar?!"

Gibran tidak membalas jeritan histeris itu dengan amarah.

Pria tegap itu justru melangkah mendekat secara perlahan, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma maskulin dan sisa aroma alkohol tipis dari napasnya mengepung seluruh indra Ziva.

Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, membelai garis rahang Ziva yang gemetar dengan telapak tangannya yang kasar.

"Saya tidak mengisolasimu, Ziva," bisik Gibran lembut, namun nada suaranya mengunci seluruh pergerakan gadis itu.

"Saya hanya mengembalikanmu ke tempat yang seharusnya.

Ke sisiku.

Tempat di mana kamu tidak perlu lagi bersandiwara pura-pura mencintai keponakanku."

"Aku mencintai Aris!" tegas Ziva dengan sepasang mata yang menyalang marah, meski bibirnya bergetar hebat.

"Aku mencintai dia, dan aku benci sama Om!"

Mendengar penegasan itu, rahang Gibran mengeras seketika.

Binar mata sang Jenderal berubah menjadi sangat gelap dan mematikan.

Tanpa memberi jeda untuk Ziva bergeming, Gibran melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Ziva, menarik tubuh mungil itu rapat-rapat ke dalam dekapannya hingga tak ada lagi celah udara di antara dada mereka.

"Katakan sekali lagi," bisik Gibran tepat di depan bibir Ziva, napasnya memburu panas mengikis sisa pertahanan gadis itu.

"Katakan kalau kamu mencintainya saat tubuhmu gemetar hebat setiap kali saya menyentuhmu seperti ini."

"Gibran... lepaskan—"

Bungkaman bibir Gibran mendarat secara brutal dan mendalam, memutus protes Ziva seutuhnya.

Ciuman itu tidak lagi sarat akan kelembutan, melainkan tuntutan mutlak dari seorang penguasa yang menuntut penyerahan total dari tawanannya.

Jemari kekar Gibran mencengkeram tengkuk Ziva, menahan kepala gadis itu agar tidak bisa menghindar, sementara tangan lainnya mengunci pinggang Ziva dengan tekanan yang makin posesif.

Ziva sempat mencoba memukul dada tegap berselimut kemeja putih itu, namun kekuatannya menguap bagaikan embun tersapu terik matahari.

Lidah Gibran menuntut balasan, menelusuri setiap sudut sensitif yang membuat persendian Ziva meluruh pasrah.

Sebuah desahan kelelahan dan kepasrahan yang teramat dalam akhirnya lolos dari celah bibir Ziva, tenggelam di dalam pergulatan emosi yang membakar malam yang sunyi itu.

Gibran mengurai ciumannya secara perlahan, membiarkan dahi mereka saling bertumpu dengan napas yang saling memburu.

Tatapan mata pria itu menancap lurus ke dasar jiwa Ziva yang telah hancur berkeping-keping.

"Mulai malam ini, Ziva... rumah ini, kamar ini, dan seluruh helai napasmu adalah milik saya," bisik Gibran rendah dan dingin.

"Aris boleh memiliki dunianya di Eropa, tetapi di tempat ini... kamu adalah milik saya sepenuhnya."

Di balik jendela kaca kamar megah di Dharmawangsa yang terisolasi dari dunia luar, Ziva menyadari dengan teramat pahit bahwa perlawanannya telah menemui jalan buntu.

Sang Jenderal telah mengunci sangkarnya, dan perang ini baru saja memasuki babak paling berbahaya di mana kehancuran tak lagi bisa dihindari oleh siapa pun.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!