Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Untuk beberapa saat, Arga hanya terdiam. Tatapannya masih tertunduk, seolah tengah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan seorang diri.

Namun, karena sebuah tekad dan kejujuran kuat yang selama ini ia pendam, Arga mulai menarik napas dalam. Perlahan, tangannya merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Tuan, saya tahu ini cukup lancang. Tapi… saya sudah cukup lama menahan semua ini. Di dalam sini ada semua bukti kecurangan kepala keuangan. Dan untuk yang lainnya… nanti anda akan tau sendiri setelah melihatnya. Itu akan lebih baik dari pada anda mendengar dari mulut saya.”

Faresta menatap benda kecil itu cukup lama. Ia sebenarnya tidak ingin mempercayai perkataan Elara. Tapi melihat situasi saat ini yang cukup membuatnya tidak punya pilihan akhirnya ia berani menerima flashdisk itu.

Setelah memastikan barang itu ada di tangan Faresta, Arga segera pergi agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Pintu ruangan itu akhirnya tertutup rapat, menyisakan Faresta yang masih berdiri dengan menggenggam benda kecil itu.

Segera ia kembali ke meja kerjanya. Pria itu duduk dengan tegang, menancapkan flashdisk itu ke laptop.

Layar monitor menyala menampilkan beberapa folder yang cukup mencurigakan. Laporan keuangan rahasia, transfer dana, dan peluncuran proyek.

Tangannya dengan cepat membuka satu persatu file yang ada di dalamnya. Semakin lama wajahnya semakin menggelap.

Nominal uang yang fantastik, manipulasi dokumen, hingga kebocoran data perusahaan. Dan yang paling membuat darahnya semakin mendidih adalah ada nama Liya dan Dio di setiap transaksi dan data disana.

“Brengsek…”

Tangannya kembali membuka file yang ternyata berisi beberapa video dan bukti percakapan. Disana bukti nyata memperlihatkan bagaimana proyek perusahaan yang sengaja dibocorkan pada pesaing.

Faresta langsung menyandarkan tubuhnya di kursi. Dadanya naik turun menahan emosi yang mulai sulit dikendalikan.

Ia kembali teringat dengan perkataan Elara. Ucapan gadis itu semua benar, tentang asisten dan sekretarisnya yang bermasalah.

“Jadi, selama ini… kalian main di belakangku, ya?”

Untuk pertama kalinya Faresta merasa dirinya benar-benar dipermainkan.

***

Malam semakin larut, suasana rumah mulai sepi dan gelap, hanya ada lampu pijar yang menerangi beberapa titik sudut rumah.

Di balik kesunyian itu, lampu dapur masih menyala. Lucas baru saja berkutat dengan mesin pemanas makanan.

Kali ini tangannya dengan telaten mengiris beberapa rempah lalu di masukkan kedalam gelas dan di seduh dengan air panas.

Matanya tampak sayu, kantung mata terlihat sangat jelas, sangat mencerminkan rasa lelah dan ngantuk.

“Baru pulang juga?”

Faresta yang baru datang segera duduk di kursi meja makan, melonggarkan dasi yang disertai helaan nafas.

“Hm… dokter Tirta itu entah sejak kapan mengajukan cuti, tiba-tiba dia tidak masuk hari ini. Jadi, mau tidak mau aku yang keteteran menggantikan perannya.”

Lucas menyerahkan secangkir minuman hangat yang baru saja dibuat ke arah Faresta. Melihat wajah sang kakak yang bahkan jauh lebih mengenaskan dari pada dirinya, Lucas jadi tidak tega jika menikmati minuman itu sendirian.

“Bagaimana masalah di kantor?”

Mendengar pertanyaan itu, Faresta segera menegakkan tubuh. Menatap Lucas cukup dalam.

“Benar. Semua benar.”

Lucas mengernyit bingung, otaknya tidak bisa mencerna maksud dari pernyataan faresta barusan.

“Maksudnya?”

“Semua ucapan Elara sebelum aku berangkat tadi, semuanya benar. Dio dan Liya, mereka adalah pengkhianat perusahaan.”

Seketika Lucas melebarkan matanya, logikanya tidak masuk ketika memikirkan ucapan Elena yang tiba-tiba dibenarkan oleh Faresta.

“Sekarang proyek yang aku rancang sendiri dari nol, sudah ada di tangan pesaing. Kalau aku paksa untuk meluncurkannya, yang ada reputasi perusahaan akan hancur. Tapi jika tidak, kerugian yang dicapai bisa ratusan miliar.”

Faresta menekan pelipisnya kuat-kuat. Wajahnya terlihat sangat lelah dan penuh tekanan dan sepertinya pria itu hampir putus asa. Hari ini ia nobatkan sebagai hari terburuk yang ia jalani selama dua puluh delapan tahun hidupnya.

Lucas yang sejak tadi duduk di depannya sambil menyesap minuman hangat itu merasa ikut prihatin dengan nasib kakaknya hari ini.

“Perlu bantuan?”

Degh.

Tubuh keduanya menegang saat suara lirih itu tiba-tiba melintas di pendengaran, dan perlahan menoleh dengan gerakan kaku

“Astagaaa!”

Lucas hampir saja menjatuhkan gelas karena serangan mendadak itu, beruntungnya gelas itu tidak benar-benar jatuh. Jika sampai hal itu terjadi besok Livia akan mengomel seharian, hanya perkara gelas. Ia segera mengelus dada untuk menetralkan detak jantungnya.

Sedangkan Faresta, menggenggam erat tangannya menahan untuk tidak lepas kendali. Ia sungguh lelah hari ini dan adegan terkejut semakin menambah bumbu-bumbu kemarahan dalam hatinya.

“Elaraaa!” geramnya tertahan. “Sejak kapan kamu disini?”

“Baru saja.”

“Pergi. Kembali ke kamarmu!”

Dengan tangan bersedekap, Elara menatap datar ke arah Faresta. “Aku sedang menawarkan bantuan untuk kakak. Tidak mau?”

“Tidak.”

Jawaban itu cepat dan tegas, seolah ia benar-benar tidak memberi celah untuk Elara masuk ke kehidupannya.

Elara menyipitkan mata, menatap Faresta cukup lama lalu mengedikkan bahunya. Kali ini tatapannya beralih pada Lucas yang sejak tadi memperhatikannya. Mata hijaunya kembali terlihat lebih terang dari biasanya.

“Dokter Tirta itu tidak sedang cuti. Ada yang sengaja menyekapnya di gudang kecil dekat ruangan direktur rumah sakit.”

Lucas baru saja hendak membuka mulutnya namun Elara sudah kembali berbicara dengan nada yang seolah memancing rasa penasarannya.

“Kalau tidak percaya, ya sudah.”

“Elara," panggil Faresta yang berusaha untuk menghentikan gadis itu.

“Tiga hari lagi akan ada salah satu anggota keluarga orang penting dari pemerintahan, dia mengalami kondisi kritis, tapi karena Dokter Tirta tidak ada maka kamu yang akan dipaksa untuk menanganinya. Tapi sayangnya semua itu sudah diatur oleh seseorang, ketika pasien itu meninggal Kak Lucas lah yang akan disalahkan.”

“Elara, berhenti berbicara sesuatu yang buruk. Saya sedang tidak ada waktu meladeni permainan kamu saat ini,” sahut Faresta kesal, karena ia menganggap ucapan gadis itu seperti tengah menyumpahi Lucas terkena masalah.

Elara lagi-lagi mengedikkan bahunya, ia berbalik dan dalam hitungan detik gadis itu sudah tidak terlihat lagi disana.

Lucas yang memperhatikan kejadian itu segera terpaku, matanya terbuka lebar begitu juga dengan mulutnya, wajahnya pucat seolah baru saja melihat sesuatu yang menakutkan.

“Kenapa?” tanya Faresta.

“Kak, Elara… Elara dia… dia hilang.”

“Apa maksud kamu?”

Faresta segera menoleh dan tidak mendapati Elara yang seharusnya masih terlihat berjalan menjauh, karena jarak meja makan dan tangga menuju lantai atas tidak terhalang oleh apapun.

“Kemana dia?” gumamnya heran.

“Kalian mencariku?”

"Aaaaa..." keduanya kom[ak berteriak ketika Elara kembali muncul di sudut lain meja makan.

“Kamu... kamu… kenapa ada disitu?” Lucas bertanya dengan ketakutan.

“Karena aku ingin,” jawabnya santai. “Tawaranku untuk membantu masih berlaku. Kalau Kak Faresta mau bantuan bilang aja. Setidaknya sebelum perusahaan pesaing itu benar-benar mempublish hasil pemikiranmu di depan wartawan, dan kamu… selesai.”

Sudut bibir Elara terangkat membentuk senyuman manis tapi menakutkan.

Faresta menatap Lucas seolah meminta saran untuk langkah apa yang harus diambil. Haruskah ia mempercayai lagi ucapan Elara kali ini, atau ia harus memikirkan sendiri solusi dari masalah besar akibat pengkhianatan itu.

Lucas menggeleng tanda tidak tau harus berbuat apa. Pria itu menghela nafasnya, ia sendiri tengah dilanda kebingungan atas ucapan Elara sebelumnya.

Saat kedua saudara itu kembali menoleh ke tempat Elara, dan tempat itu kosong hanya terasa sisa sisa udara dingin disana.

“Tuh kan, Kak. Dia hilang lagi. Jangan-jangan yang barusan itu hantu, bukan Elara.”

“Pikiranmu sedang kacau, Lucas.”

Lucas kesal sebab Faresta tidak bisa memahami ketakutannya. Tanpa sengaja ia menoleh ke anak tangga.

Elara berdiri mematung di tengah sana. Namun tiba-tiba gadis itu tersenyum dan…

“Hai!”

“Hantuuuuuu!”

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!