Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Revan benar-benar sedang bokek. Saldo di dompetnya nyaris kosong, bahkan untuk membeli paket data di ponselnya saja dia tidak sanggup. Mau tak mau, dia mencari informasi soal rumah kontrakan lewat komputer kantor.

Setelah melihat puluhan iklan yang bertebaran, Revan asal memilih beberapa tempat yang lokasinya dekat dengan kantor polisi. Tanpa terlalu memikirkan jam kerja, dia mengambil jaket dan langsung meninggalkan kantor.

Sementara soal penyelidikan yang berkaitan dengan pembunuhan, Revan sebenarnya tidak terlalu berharap banyak.

Kalau cuma mengandalkan beberapa perkataan darinya untuk memecahkan kasus lama yang sudah menghantui Unit Reskrim selama sepuluh tahun, itu benar-benar bakal jadi lelucon terbesar abad ini!

Sebelumnya, dia sudah divonis mati dan seharusnya tewas lewat suntikan eksekusi. Namun entah bagaimana, dia justru lolos dari kematian, mendapat kesempatan hidup kedua, dan bahkan memperoleh Sistem Keajaiban.

Semua itu membuat suasana hati Revan sedang bagus-bagusnya.

Saat berjalan menyusuri trotoar Jakarta, matahari siang terasa hangat menyinari tubuhnya. Langkahnya pun terasa ringan, seolah-olah hidup baru saja memberinya kesempatan kedua.

Pelan-pelan Revan mulai berpikir bahwa menjadi penyidik kasus khusus ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan.

Menangkap penjahat, mendapatkan hadiah, ditambah berbagai macam fasilitas dan hak istimewa.

Hidup seperti itu sebenarnya lumayan juga!

Mungkin untuk sementara dia bisa bertahan menjadi polisi. Urusan kembali ke kehidupan lamanya bisa dipikirkan nanti.

Tempat pertama yang dia datangi berada di kawasan pertokoan tidak jauh dari kantor polisi.

Rumah tersebut diiklankan oleh sebuah toko buah bernama Toko Buah Makmur Jaya.

Pemiliknya seorang pria bertubuh tambun bernama Pak Jaya. Wajahnya agak pucat, tetapi orangnya ramah dan gampang tertawa. Begitu melihat Revan datang membawa iklan kontrakan, pria itu langsung menyambutnya dengan antusias.

Ternyata toko buah tersebut menempati sebuah bangunan tiga lantai yang berdiri sendiri.

Lantai satu digunakan sebagai toko.

Lantai dua merupakan tempat tinggal Pak Jaya dan keluarganya.

Sementara lantai tiga berupa ruangan kosong dengan luas sekitar enam puluh meter persegi.

Karena jarang digunakan, Pak Jaya berniat menyewakannya.

Revan berkeliling melihat-lihat.

Semakin diperhatikan, dia semakin suka tempat itu.

Pertama, lokasinya sangat strategis dan dekat dengan kantor polisi.

Kedua, suasana sekitar cukup tenang. Tidak ada warung sate, angkringan, atau tempat nongkrong yang berisik sampai tengah malam. Jadi, tidurnya tidak akan terganggu.

Yang paling penting, ruangan itu sudah dilengkapi perabotan dasar. Kalau cocok, dia bisa langsung pindah tanpa perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli perlengkapan.

Pak Jaya yang bertubuh tambun tiba-tiba menyenggol lengan Revan sambil tersenyum penuh arti.

“Kalau kamu tinggal di sini, sebenarnya ada keuntungan lainnya.”

Revan menoleh.

“Keuntungan apa?”

Pak Jaya menunjuk ke bangunan di sebelah.

“Lihat toko sebelah? Modelnya hampir sama dengan punya saya. Lantai atasnya disewa beberapa mahasiswi.”

Dia menyeringai.

“Anak-anak kuliahan itu cantik-cantik. Kalau kamu tinggal di sini, siapa tahu bisa sekalian dapat teman... buat urusan pribadi.”

Revan mengangkat alis.

Tanpa sadar dia melirik ke arah balkon lantai dua bangunan sebelah.

Di sana memang terlihat beberapa pakaian wanita sedang dijemur.

“Wah...”

Revan langsung merasa tempat ini semakin menarik.

Dia sudah mengambil keputusan.

“Tempat ini saya ambil!”

“Sekarang?”

“Sekarang juga.”

Revan langsung menanyakan harga sewanya.

Begitu mendengar jawabannya, wajah Revan seketika berubah.

“Berapa?”

“Dua juta per bulan.”

Revan terdiam.

“Dan bayarnya enam bulan di depan.”

“...”

Seketika senyum Revan menghilang.

Dua juta sebulan saja sudah berat. Apalagi harus membayar enam bulan sekaligus.

Dengan kondisi keuangannya sekarang, jangankan dua belas juta, membayar satu bulan saja dia masih harus berpikir keras.

“Ada diskon?”

Pak Jaya langsung mengangguk santai.

“Kalau mau saya kasih harga khusus. Satu juta sembilan ratus delapan puluh ribu.”

Revan menatapnya tidak percaya.

“Bedanya dua puluh ribu doang?”

“Lumayan, kan?”

“Lumayan apanya?!”

Revan hampir meledak.

“Tempat begini mahal banget! Ini nyewa rumah apa beli apartemen? Jangan-jangan Bapak sekalian mau merampok saya?”

Pak Jaya tetap santai.

“Lho, saya menyewakan properti saya sendiri. Apa salahnya?”

“Sebagai polisi, saya bisa menangkap Bapak kalau berani macam-macam!”

“Kalau saya tidak melakukan kejahatan, kenapa harus takut?”

Pak Jaya menunjuk ke sekitar.

“Ini daerah pusat kota, lokasinya strategis, dekat kantor polisi, akses ke mana-mana gampang. Belum lagi pemandangan gratis setiap hari.”

Dia kembali menyeringai.

“Harga segitu sudah murah. Kalau tidak mau, ya tidak masalah. Yang antre masih banyak.”

“Dasar!”

Revan mendengus kesal.

“Kalau begitu saya nggak mau!”

Dia langsung berbalik meninggalkan toko buah.

Sambil berjalan, Revan terus mengomel dalam hati.

Kalau ini terjadi di kehidupan gue yang dulu, sudah gue kerahkan orang-orang buat mengacak-acak toko itu.

Bukannya gue yang bayar sewa, malah gue yang harusnya dibayar karena mau tinggal di sana!

“Huh!”

Revan meninggalkan toko buah dengan wajah kusut.

Suasana hatinya yang semula bagus langsung hancur gara-gara pemilik toko buah yang pelit itu.

Karena kesal dan lapar, dia masuk ke sebuah mie ayam di pinggir jalan.

Satu mangkuk.

Dua mangkuk.

Tiga mangkuk.

Setelah menghabiskan tiga mangkuk mie ayam, barulah emosinya sedikit mereda.

“Kalau yang tadi nggak cocok, masih ada pilihan kedua.”

Revan mengambil napas panjang.

Rumah berikutnya merupakan kamar kos yang disewakan.

Untuk menuju ke sana, dia harus melewati gang-gang sempit di kawasan padat Jakarta.

Daerah itu entah kenapa terasa sangat familiar.

Bahkan sekilas seperti mengingatkan Revan pada kehidupan lamanya.

Dulu dia sering berkelahi di gang-gang semacam ini. Karena itu, dia hafal betul jalan tikus dan jalan pintas di kawasan tersebut.

Tanpa kesulitan, Revan memilih jalur tercepat.

Saat itu matahari sudah tepat berada di atas kepala.

Sebagian besar warga sudah sibuk menyiapkan makan siang atau duduk makan bersama keluarga.

Gang tersebut pun relatif sepi.

Revan berjalan santai.

Namun tiba-tiba...

Dari ujung gang, dia melihat seseorang berlari dengan gerakan mencurigakan.

Revan berhenti.

Entah kenapa, tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Dia langsung menepi dan bersembunyi sebelum orang itu menyadari keberadaannya.

Orang tersebut mengenakan topi hijau tua.

Tubuhnya kurus dan tingginya biasa saja. Dari kejauhan, dia bahkan terlihat seperti anak sekolah.

Namun gerak-geriknya sangat mencurigakan.

Dia berkali-kali menoleh ke kiri dan kanan.

Seolah-olah takut ada seseorang yang mengikutinya.

Revan menyipitkan mata.

Menarik.

Dulu dia memang sering berurusan dengan anak-anak jalanan dan orang-orang semacam ini. Rasa penasarannya langsung muncul.

Dia pun mengikuti orang tersebut dari belakang.

Meski orang itu sangat waspada dan berkali-kali memastikan tidak ada yang mengikutinya, Revan cukup berpengalaman dalam membuntuti seseorang.

Dia menjaga jarak dan memanfaatkan sudut-sudut bangunan untuk menghindari pandangan.

Akhirnya, orang itu masuk ke sebuah gang kecil yang lebih gelap.

Di sana sudah menunggu seorang pria berambut pirang dengan beberapa tato di lengannya.

Keduanya tidak banyak bicara.

Orang bertopi itu langsung mengeluarkan sebuah flashdisk hitam.

Pria pirang tersebut memberikan sebuah amplop cokelat sebagai gantinya.

Revan yang mengintip dari balik tembok langsung mengernyit.

Hah?

Bahkan orang bodoh pun bisa melihat kalau transaksi itu mencurigakan.

Flashdisk diberikan.

Uang diterima.

Kalau Revan langsung keluar sekarang, dia bisa menangkap mereka basah-basahan dan mungkin mendapat tambahan poin dalam catatan prestasinya.

Namun Revan tidak terburu-buru.

Dia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini.

Menangkap orang di tempat bukan selalu pilihan terbaik.

Jadi, dia hanya diam dan menunggu.

Beberapa saat kemudian, pria pirang itu pergi membawa flashdisk.

Begitu pria tersebut menghilang dari pandangan, Revan keluar dari persembunyiannya.

Dalam beberapa langkah, dia sudah berada tepat di belakang orang bertopi hijau itu.

Tangannya langsung mencengkeram bahu orang tersebut dan membantingnya pelan ke dinding.

“Berhenti!”

Revan menunjukkan lencana polisinya.

“Polisi!”

Dia sengaja memasang wajah galak.

Hmph! Sekarang gue sudah jadi polisi. Nggak perlu takut sama siapa pun!

Orang itu langsung membeku.

Tubuhnya gemetar hebat.

Begitu mendengar kata “polisi”, dia malah mulai menangis.

Topi hijau yang dikenakannya terlepas.

Revan sontak terdiam.

“Lho?”

Ternyata bukan anak laki-laki.

Dia seorang gadis dengan rambut pendek.

Wajahnya masih sangat kekanak-kanakan. Dari penampilannya, paling-paling dia masih duduk di bangku SMA.

Revan sempat terkejut, tetapi ekspresinya segera kembali serius.

“Kamu tahu kenapa saya tangkap?”

Gadis itu gemetar.

Dia mengangkat wajahnya dan menatap Revan dengan mata berkaca-kaca.

“Pak Polisi... saya tahu saya salah. Saya janji tidak akan melakukannya lagi.”

“Sudah, jangan banyak alasan.”

Revan melipat tangan di dada.

“Sekarang jawab yang jujur. Atau...”

Dia sengaja berhenti sejenak.

Kemudian dengan nada serius berkata,

“...saya telepon orang tua kamu.”

“Jangan!”

Gadis itu langsung panik.

“Jangan, Pak! Tolong jangan kasih tahu orang tua saya!”

Dia sampai meraih lengan Revan.

“Kalau ayah saya tahu, saya bisa habis!”

Revan memperhatikan gadis itu.

Tidak terlihat seperti orang berbahaya.

Dia akhirnya melepaskan cengkeramannya.

Namun sebelum gadis itu sempat kabur, Revan mengambil amplop yang tadi diterimanya.

Dia membukanya.

Matanya langsung membesar.

“Buset!”

Ternyata isinya uang tunai dalam jumlah besar.

Revan memang sudah menduga amplop tersebut berisi uang, tetapi dia sama sekali tidak menyangka jumlahnya sebanyak itu.

Dia langsung menatap gadis tersebut.

“Cepat jawab. Uang ini kamu dapat dari mana?”

Begitu mendengar pertanyaan itu, gadis tersebut kembali menangis.

Dia meraih lengan Revan dengan kedua tangannya.

“Pak Polisi, sumpah ini pertama kalinya! Tolong lepaskan saya. Saya tahu saya salah. Saya nggak akan mengulanginya lagi!”

“Eh, eh...”

Revan langsung merasa pusing.

“Jangan nangis!”

Dia menarik lengannya dari pegangan gadis itu.

“Tenang dulu.”

Revan menunjuk ke arah gang tempat pria pirang tadi pergi.

“Sekarang jawab satu hal saja.”

Dia menatap gadis itu tajam.

“Apa yang barusan kamu kasih ke orang itu?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!