Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Garis Depan
Gelombang api hitam yang disemburkan sang naga meluncur deras seperti air bah yang siap menelan apa saja di hadapannya. Udara terasa begitu panas hingga dedaunan di sekitar langsung mengering dan hangus menjadi abu sebelum sempat tersentuh api.
"Reno, sekarang!" teriak Monica seraya mengarahkan ujung tongkat safirnya ke punggung Reno untuk menyalurkan cadangan mana.
Reno menghentakkan kaki kirinya ke tanah, menancapkan perisai raksasanya dengan sudut miring. "Aegis Domain: Bastion of Light!"
Pelindung cahaya emas berukuran raksasa mengembang dari permukaan perisainya. Di saat bersamaan, Kazuma menghantamkan kedua telapak tangannya ke tanah di belakang Reno.
"Glacial Wall!" Sebuah dinding es tebal membeku tepat di belakang lapisan cahaya milik Reno, memperkuat struktur pertahanan mereka.
BOOM!
Semburan api hitam menghantam gabungan perisai itu dengan dentuman yang menggetarkan bumi. Reno menggeram menahan beban luar biasa yang mendorong tubuhnya hingga kakinya terperosok beberapa sentimeter ke dalam tanah.
Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya, namun pandangannya tetap mengunci ke depan.
"Tahan... sedikit lagi...!" seru Reno dengan urat-urat leher yang menegang.
"Elena, Danis, bidik prajurit zirah di sayap kiri!" perintah Monica cepat.
Elena menarik tali busurnya hingga maksimal, tiga anak panah berselimut sihir angin meluncur cepat membelah udara. "Windpiercer Shot!" Panah-panah itu menembus sendi-sendi zirah besi hitam, memutus aliran energi yang menggerakkan mereka.
Tanpa membuang kesempatan, Danis melompat tinggi dari pundak prajurit zirah yang tumbang, memutar tubuhnya di udara lalu menancapkan kedua belatinya tepat di celah leher prajurit zirah lainnya. Dengan gerakan lincah, ia menarik inti kristal gelap di balik helm zirah tersebut hingga prajurit itu hancur menjadi tumpukan besi tua tak bernyawa.
"Bagus! Fokus kita tinggal menghalau naga itu!" puji Monica.
Namun, di atas sana, perempuan bertopeng perak itu hanya menyunggingkan senyum dingin. Ia mengangkat tangan kirinya, memetik jarinya dengan pelan.
Snap!
Tiba-tiba, dari dalam pusaran awan hitam di atas mereka, lima rantai energi kegelapan meluncur turun dengan kecepatan kilat. Rantai-rantai itu menyambar ke arah tempat Tim Vanguard berdiri.
"Awas!" Monica melempar gelombang sihir dorongan untuk memindahkan Elena dan Danis dari posisi mereka berdiri.
Srak! Srak!
Rantai-rantai tersebut menghantam tanah tepat di tempat mereka berdiri beberapa detik lalu, membelah bebatuan keras menjadi serpihan kecil. Perempuan bertopeng itu melayang turun dari atas kepala naga, mendarat anggun beberapa meter di depan Monica.
"Kalian memang memiliki kerja sama yang menarik," bisik perempuan itu, suaranya bergema halus di dalam kepala mereka masing-masing. "Tapi keberanian saja tidak cukup untuk mengubah takdir yang sudah tertulis."
Monica melangkah maju memposisikan dirinya di paling depan, menutupi teman-temannya. Ia menegakkan tubuhnya dan menatap lurus ke dalam sepasang mata merah di balik topeng perak tersebut.
"Takdir belum ditentukan," tegas Monica, energi sihir biru dari tongkat safirnya meluap kembali dengan lebih terang.
"Selama kita berdiri bersama sebagai Tim Vanguard, kami tidak akan membiarkanmu melangkah lebih jauh!"
Perempuan itu tertawa pelan, lalu merentangkan kedua tangannya. "Kalau begitu, tunjukkan padaku... sejauh mana cahaya kecil kalian bisa bertahan di tengah kegelapan yang tak bertepi ini."
Pertarungan jarak dekat antar-penyihir tingkat tinggi pun baru saja dimulai di gerbang Lembah Kelam.
Dengan satu gerakan tangan dari perempuan itu, tekanan sihir di sekitar mereka melonjak hingga sepuluh kali lipat. Pertarungan jarak dekat antar-penyihir tingkat tinggi pun resmi meletus di depan gerbang Lembah Kelam, menguji batas kemampuan anak-anak akademi tersebut hingga titik terujung.