Indonesia
NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: BENIH BENIH BARU

Beberapa minggu kemudian, situasi di jurusan mulai terasa lebih tenang, meski Bang Tua tahu betul ini bukan akhir dari segalanya. Dr. Yosia tetap menjabat sebagai Ketua Program Studi, kemenangannya sah secara prosedural meski dengan selisih suara yang tipis, tapi sikapnya terhadap Bang Tua berubah jauh lebih berhati hati, tidak lagi seramah dan sepercaya diri seperti sebelumnya, sebuah perubahan kecil yang menandakan setidaknya dia tahu ada yang mengawasinya sekarang.

Kebijakan redistribusi beban bimbingan yang sempat dijanjikan Dr. Yosia semasa kampanye, ternyata benar benar direalisasikan, meski Bang Tua yakin itu bukan murni karena niat baik, melainkan karena tekanan dari berbagai pihak yang mulai lebih kritis mengawasi kinerjanya sejak insiden rapat pemilihan itu. Dalam hati dia bergumam, "yah, nggak apa apa juga, yang penting hasilnya baik buat dosen dosen sama mahasiswa, biar motivasinya apa pun, yang penting realisasinya nyata, kalau kata orang, better something than nothing".

Sore itu, Bang Tua duduk sendirian di warung kopi Bu Rohana, tempat yang selama berbulan bulan terakhir jarang sekali sempat dia kunjungi karena kesibukannya menyelidiki kasus tiga mahasiswanya. Bu Rohana menyambutnya dengan gembira, "lama kali nggak nongol, Bang, kemana aja? Kirain udah pindah langganan kopi."

"Sibuk kali, Bu, urusan kampus," jawab Bang Tua sambil tersenyum, dalam hati menambahkan, "sibuk jadi detektif dadakan maksudnya, Bu, tapi nggak enak juga kalau diceritain, panjang kali ceritanya, bisa jadi novel bersambung".

Bu Rohana tertawa mendengar jawaban singkat itu, tidak curiga sedikit pun akan makna tersembunyi di baliknya, "urusan kampus emang nggak abis abis ya, Bang, tiap kali ketemu Abang, mesti sibuk kali kelihatannya, tapi kopinya tetap sempat diminum toh, itu yang penting".

Sambil menyeruput kopinya, ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari grup dosen jurusan. Dia membukanya dengan santai, tapi begitu membaca isinya, alisnya langsung terangkat. Pesan itu mengabarkan bahwa akan ada audit internal mendadak dari pihak Rektorat terkait pengelolaan dana penelitian di beberapa program studi, termasuk jurusannya sendiri, menyusul beberapa laporan yang masuk belakangan ini.

Bang Tua membaca pesan itu berulang kali, dalam hati merasakan campuran antara was was dan penasaran. Jangan jangan, laporan laporan yang dia dengar samar samar selama penyelidikannya kemarin, soal dana penelitian, soal komisi tidak resmi, soal jaringan kepentingan yang lebih besar dari sekadar kursi Ketua Prodi, mulai bergulir jadi sesuatu yang lebih besar dari yang pernah dia bayangkan sebelumnya.

"Wah, kayaknya ini baru pemanasan doang," gumamnya pelan sambil menatap layar ponselnya, dalam hati menambahkan dengan nada setengah waswas setengah bersemangat, "kalau kata orang bule, we're just getting started, atau kalau versi bapak, ini baru episode pembuka, season selanjutnya kayaknya bakal lebih seru lagi, semoga bapak nggak kena serangan jantung duluan sebelum ceritanya kelar".

Dia sempat tertawa kecil sendiri membaca ulang gumamannya sendiri dalam hati, merasa geli dengan caranya sendiri menyikapi situasi yang sebenarnya cukup serius dengan analogi analogi konyol semacam itu, tapi entah kenapa, cara itulah yang selalu berhasil membuatnya tetap waras menghadapi kejutan demi kejutan yang datang bertubi tubi dalam hidupnya belakangan ini.

Bu Rohana yang kebetulan lewat sekali lagi sempat bertanya, melihat Bang Tua tersenyum sendiri sambil menatap ponselnya, "senyum senyum sendiri, Bang, ada gebetan baru kah?" candaan yang membuat Bang Tua tergelak, "bukan gebetan, Bu, ini mah urusan yang lebih rumit dari cinta cintaan, kalau cinta paling patah hati doang, ini bisa bikin jantungan beneran".

Dia menyimpan ponselnya, meneguk kopinya yang mulai dingin, menatap jalanan Medan yang ramai di sore hari, motor motor lalu lalang, pedagang kaki lima berteriak menawarkan dagangan, kehidupan kota yang terus berjalan seperti biasa, tanpa tahu bahwa di tengah keramaian itu, seorang dosen matematika yang selama ini dikenal kalem, diam diam sedang menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar urusan akademik semata.

Dia sempat membayangkan, seandainya suatu hari nanti semua rahasia ini terbongkar, bukan cuma soal kekuatannya, tapi juga soal jaringan kepentingan yang dia curigai jauh lebih besar dari yang terlihat sekarang, bagaimana reaksi orang orang di sekitarnya, Bu Rohana, Pak Ferdinand, ketiga mahasiswanya, bahkan keluarganya sendiri. Bayangan itu membuatnya sedikit merinding, tapi juga diam diam menantikan, seperti seseorang yang sedang membaca novel misteri dan tidak sabar menunggu babak berikutnya, hanya saja kali ini, dia sendiri yang jadi tokoh utamanya.

Bu Rohana yang lewat membawa pesanan lain sempat menegurnya, "ngelamun aja dari tadi, Bang, ada masalah lagi?" Bang Tua menggeleng sambil tersenyum lebar, "nggak ada, Bu, cuma lagi mikirin mau pesan gorengan tambahan apa nggak", jawaban asal yang berhasil membuat Bu Rohana tertawa geli sebelum kembali sibuk melayani pelanggan lain.

Dia meneguk sisa kopinya, memesan sepiring pisang goreng untuk menemani lamunannya, sambil sesekali menatap ke arah jalanan yang mulai ramai oleh orang orang pulang kerja. Dalam hati dia merenung, betapa banyak yang sudah terjadi sejak arc pertama hidupnya yang aneh ini dimulai, dari sekadar gerutuan soal antrian BBM, sampai sekarang dia terlibat dalam intrik kampus yang ternyata jauh lebih besar dan lebih kompleks dari yang pernah dia bayangkan.

Malam itu, sebelum tidur, dia menuliskan satu kalimat penutup di buku catatan kecilnya, menutup babak yang sudah dia lalui dengan penuh perjuangan, air mata, dan tentu saja, tawa tawa kecil yang selalu berhasil dia selipkan bahkan di tengah situasi paling berat sekalipun. "Tiga mahasiswa selamat, satu kursi Ketua Prodi tetap di tangan orang yang salah, tapi setidaknya sekarang semua orang tau, ada yang mengawasi. Round satu selesai, tapi kayaknya round dua bakal jauh lebih besar."

Dia menutup buku itu, mematikan lampu, dan tersenyum tipis dalam gelap, sebuah senyum campuran antara lelah dan puas, sebelum akhirnya benar benar terlelap, siap menghadapi apa pun yang menanti di babak berikutnya dari hidupnya yang, entah kenapa, semakin lama semakin terasa seperti serial drama yang tidak pernah dia duga akan dia jalani sebagai peran utamanya sendiri.

Di luar jendela kamar kosnya, langit Medan malam itu tampak cerah, beberapa bintang berhasil menembus polusi cahaya kota, berkelip kelip seolah menyaksikan diam diam perjalanan seorang dosen matematika yang, tanpa pernah dia rencanakan sebelumnya, kini mulai menapaki jalan yang jauh lebih besar dari sekadar mengajar dan menulis disertasi, jalan yang akan membawanya menghadapi lebih banyak lagi kejutan, tawa, dan perjuangan di babak babak berikutnya yang masih menanti.

Dan begitulah, Arc kedua dari perjalanan Bang Tua pun berakhir, meninggalkan jejak perubahan kecil di kampus, tiga mahasiswa yang selamat dari jalan yang salah, satu jaringan kepentingan yang mulai retak meski belum sepenuhnya runtuh, dan satu dosen matematika yang, pelan pelan, mulai menemukan makna baru dari kekuatan yang dulu dia takuti, sekarang mulai dia rangkul sebagai bagian dari dirinya sendiri.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!