Indonesia
NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Nasihat Jinwoo

Ruang kerja Jinwoo berada di sisi kanan rumah—sebuah ruangan dengan jendela besar yang menghadap taman kecil di belakang. Rak buku memenuhi salah satu dinding, sebagian besar berisi laporan bisnis, jurnal industri, dan beberapa buku seni yang disusun rapi. Sebuah meja kayu solid berdiri di tengah ruangan, dengan dua kursi empuk di depannya. Cahaya dari lampu meja menyala hangat, cukup untuk menerangi percakapan malam itu tanpa membuat suasananya terasa terlalu formal.

Mereka duduk berhadapan.

“Sudah lama kita tidak benar-benar duduk begini. Biasanya cuma rapat singkat atau makan cepat,” ujar Jinwoo sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Waktu selalu punya cara sendiri untuk memisahkan... lalu mempertemukan kembali saat kita paling butuh bicara,” jawab Junho tenang.

Jinwoo terkekeh pelan, matanya menyipit geli.

“Kau makin filosofis semenjak pensiun,” balasnya.

“Atau mungkin aku hanya kelelahan,” jawab Junho ringan.

“Aku pikir setelah berhenti dari industri itu hidup kita akan damai. Ternyata... sama saja,” balas Jinwoo, membuat Junho mengangguk kecil.

“Kita berharap hidup seperti di spa, padahal dunia ini tempat gym,” ucap Junho.

Jinwoo kembali terkekeh kecil membuat suasana yang sempat serius pun mencair sejenak.

“Aku di luar... Oppa bisa panggil kalau perlu,” ucap Mira masuk membawa nampan berisi dua cangkir teh dan sebuah piring kecil berisi kudapan sederhana.

“Tolong awasi anak-anak,” pinta Jinwoo sembari menatap istrinya.

“Eum... Tenang saja.”

Mira meletakkan nampan itu dengan rapi di atas meja, lalu tersenyum tipis sebelum meninggalkan ruangan. Pintu ditutup perlahan, memberi ruang privat bagi dua pria dewasa yang sudah lama saling mengenal, tetapi jarang memiliki kesempatan untuk benar-benar berbagi cerita di luar urusan pekerjaan.

“Bagaimana KIM Holdings? Aku dengar ekspansi ke Asia Tenggara akhirnya berjalan,” tanya Jinwoo sembari mengaduk tehnya perlahan.

“Tertunda setahun. Regulasi dan dinamika lokal lebih kompleks dari yang kami perkirakan. Tapi untung nya stabil... Tidak masalah jika pelan, asal aman,” jawab Junho.

Jinwoo mengangguk kecil, senyum tipis terbit di wajahnya. “Pelan, tapi aman” terdengar seperti jawaban yang sederhana, tetapi ia tahu Junho tidak pernah memilih kata tanpa alasan.

“Gaya khasmu tidak pernah terburu-buru,” komentar Jinwoo.

“Terburu-buru hanya memberi ilusi kecepatan, bukan hasil, Hyung,” jawab Junho.

Jawaban itu berhasil membuat Jinwoo tersenyum. Namun, beberapa detik kemudian, tatapannya berubah lebih dalam, seolah ia sedang melihat sesuatu yang jauh melampaui jawaban tentang bisnis.

“Dan kau? Bukan perusahaannya—kau.”

Pertanyaan itu menggantung sesaat di antara mereka Junho menyesap tehnya, membiarkan hangatnya perlahan turun melewati tenggorokan. Cangkir itu kemudian ia letakkan kembali di atas tatakan, sementara tatapannya beralih pada jendela besar di samping ruangan. Taman di luar tampak tenang di bawah cahaya lampu-lampu kecil.

“Aku belajar menata ulang prioritas. Beberapa keputusan tidak bisa lagi ditunda,” katanya akhirnya.

“Ah...” Jinwoo mengangguk pelan. “Aku mengerti nada itu.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, kedua tangannya bertumpu santai di atas meja. “Di HYGIN, kami juga sedang menata ulang. Bukan soal keuntungan, melainkan soal keberlanjutan. Aku tidak ingin Yul mewarisi sesuatu yang besar, tetapi rapuh,” lanjutnya.

Junho mengangguk setuju.

“Warisan terbaik bukan aset, melainkan arah. Aku juga berusaha menanamkan itu pada Jun-seok, walaupun aku melihat ada potensi lain di matanya,” balasnya tenang.

“Kurasa anak-anak itu lebih condong ke seni daripada ke bisnis. Aku mulai khawatir,” ucap Jinwoo.

Senyum tipis muncul di wajah Junho.

“Kita harus membuat mereka terbiasa hidup di lebih dari satu zona. Jangan sampai seperti kita yang terlambat keluar dari zona nyaman,” ucapnya.

Jinwoo mengangguk setuju ada senyum kecil yang tersisa di wajahnya, seolah ia menyadari bahwa perkataan Junho bukan sekadar nasihat untuk anak-anak mereka, tetapi juga pengakuan tentang kehidupan yang telah mereka jalani sendiri.

Percakapan mengalir tenang tentang akuisisi yang gagal, tetapi memberi pelajaran; tentang mitra lama yang memilih pensiun; tentang dunia bisnis yang perlahan menjadi semakin sunyi bagi mereka yang terlalu keras pada diri sendiri. Tidak ada nada kompetitif di antara keduanya, tidak juga ada keinginan untuk menunjukkan siapa yang lebih berhasil hanya dua pria yang telah melewati cukup banyak hal untuk memahami bahwa di balik angka, jabatan, dan keputusan besar, ada beban yang tidak selalu bisa dibicarakan kepada semua orang.

“Seok tampak tenang malam ini. Biasanya, anak-anak menyimpan sesuatu di balik ketenangan seperti itu,” ucap Jinwoo.

Perkataan itu membuat Junho terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk tipis.

“Dia peka, Hyung,” jawabnya.

Jinwoo mengangguk pelan.

“Seperti ibunya... Nala wanita seperti itu,” katanya lirih—tidak menuduh, tidak pula mengorek. Sekadar sebuah pernyataan yang jatuh lembut di antara mereka. Junho tidak menyangkal dia hanya mengangkat cangkirnya, lalu menatap permukaan teh yang beriak kecil akibat gerakan tangannya.

“Ya,” jawabnya singkat.

Hening kembali hadir diantara mereka bukan hening yang canggung, melainkan hening yang memberi izin untuk tidak segera menjelaskan. Jinwoo memahami itu. Ia tidak mendesak. Ia tahu, ada percakapan yang membutuhkan jalan memutar sebelum akhirnya sampai pada inti.

“Ngomong-ngomong... aku dengar ORIONA sedang naik daun. Pendekatannya berbeda. Lebih... manusiawi. Aku juga dengar LYNX sedikit kewalahan menyaingi artis-artis dari ORIONA. Menurutmu bagaimana?” Jinwoo memecah suasana.

Sudut bibir Junho terangkat sedikit.

“Mereka lebih paham cerita, bukan hanya angka. Kita tahu bagaimana ambisi LYNX terhadap angka... Mereka rela menjual cerita demi angka di layar. ORIONA memilih jalan lain,” jawabnya.

“Tepat... Perusahaan memilih direktur kreatif yang cerdas. Terlihat dari arah mereka melangkah,” lanjut Jinwoo sambil menatap Junho dengan saksama. Junho mengangguk perlahan, tatapannya kembali jatuh pada cangkir di hadapannya.

“Dia selalu begitu... tetapi kadang aku menyesali sesuatu,” ucapnya pelan.

Ada penekanan halus dalam kalimat itu sesuatu yang tidak biasa dari cara Junho berbicara tentang pekerjaan. Jinwoo menangkapnya seketika, dia meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya kembali.

“Kau datang malam-malam begini bukan hanya untuk membahas bisnis, kan?” ucapnya dengan keyakinan tenang, seolah sejak awal sudah tahu bahwa ada alasan lain di balik kedatangan Junho malam itu.

Junho tidak langsung menjawab saat itu, iya menatap jendela, memandangi pantulan cahaya taman yang tenang di balik kaca. Napasnya tetap teratur, tetapi pikirannya jelas sedang menyusun kata-kata yang tepat.

“Aku butuh saranmu, Hyung,” katanya akhirnya.

Jinwoo mengangguk tanpa memotong. Ia tahu, ketika Junho memilih kata saran, percakapan ini akan melangkah ke wilayah yang lebih dalam. Dari kejauhan, tawa Jun-seok kembali terdengar lebih keras dan lebih lepas. Sebuah ironi kecil bahwa ketika anak-anak menemukan dunia mereka yang sederhana, dua pria dewasa ini justru sedang bersiap membuka lapisan paling rumit dari kehidupan.

Junho menarik napas lebih dalam kali ini. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan, seolah suara kecil sekalipun bisa mengacaukan susunan pikiran yang sejak tadi berusaha ia rapikan.

“Nala...” ucapnya akhirnya. Suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Bukan ragu, melainkan hati-hati. Jinwoo tidak menyela dia hanya mengangguk tipis, memberi isyarat agar Junho melanjutkan dengan ritmenya sendiri.

“Sejak ia bekerja penuh di ORIONA, waktunya nyaris tidak pernah benar-benar kosong. Pagi dimulai lebih awal, malam sering berakhir larut. Bahkan ketika ia di rumah, pikirannya masih tertinggal di ruang rapat, pada naskah, dan konsep yang belum selesai.” Junho berhenti sejenak.

Tatapannya turun pada kedua tangannya yang terlipat di atas meja.

“Kemarin malam kami bertengkar karena dia pulang larut, melewati waktu yang sudah kami sepakati. Tapi bukan itu yang membuatku marah...” Ia tersenyum kecil, getir. “Dia mengabaikanku dengan alasan sibuk.”

Jinwoo tetap diam, membiarkan sahabatnya menyelesaikan apa yang sejak tadi tertahan di dadanya.

“Aku tidak keberatan dengan ambisinya. Aku tahu siapa dia sejak awal. Tapi... ritmenya berubah. Dan aku merasa tertinggal.” Junho menarik napas perlahan. Ada jeda sebelum ia akhirnya mengucapkan bagian yang paling sulit. “Aku merasa dilupakan olehnya... Aku merasa kalah penting dibandingkan ambisinya.”

Jinwoo menyilangkan kedua tangannya di depan dada, tatapannya tetap tenang, tetapi semakin tajam—tatapan seorang sahabat yang sudah terlalu lama mengenal Junho untuk sekadar mendengarkan kata-kata yang terucap. Ia sedang membaca celah di balik kalimat-kalimat rapi itu, mencari hal yang sebenarnya ingin disampaikan Junho tetapi belum sanggup ia katakan secara langsung.

“Dan kau bukan tipe yang suka mengeluh. Jadi, kalau kau mulai bicara begini, artinya ini sudah lama kau simpan,” ucap Jinwoo.

Junho tidak menyangkal tatapannya tetap tertuju pada meja di hadapannya, seolah kalimat itu terlalu tepat untuk dibantah.

“Nala pergi ke lokakarya hari ini. Hanya tiga hari dan mendadak. Bukan tanpa izin—dia bicara padaku. Menjelaskan alasannya dengan sangat rasional. Kesempatan langka, jejaring internasional, pengembangan diri, dan keuntungan untuk tim.” Ia berhenti sejenak. Rahangnya mengeras tipis, menahan sesuatu yang sejak tadi enggan ia lepaskan.

“Aku mengangguk. Seperti biasa...” Junho mengembuskan napas pelan. “Aku sangat mencintainya sampai rasanya... sulit untuk marah kepadanya. Aku kecewa, tetapi aku tidak bisa melihatnya bersedih.”

“Seperti pria dewasa yang merasa memahami,” sahut Jinwoo datar.

“Atau seperti pria yang terlalu terbiasa mengalah,” jawab Junho jujur.

Keheningan kembali jatuh, kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada suara yang masuk dari luar selain samar tawa anak-anak yang sesekali terdengar dari kejauhan. Jinwoo mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya tetap tertuju pada Junho, tetapi nada suaranya kini lebih tegas—bukan menghakimi, melainkan jernih dan tanpa basa-basi.

“Kau tahu apa masalah kita sebagai pria yang terbiasa mengatur sistem besar? Kita mengira semua hal bisa berjalan dengan sendirinya selama strukturnya rapi. Termasuk hubungan,” katanya.

Junho perlahan mengangkat pandangannya tatapan keduanya bertemu, dan untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara.

“Nala bukan proyek. Dia manusia dengan api sendiri. Tapi kau juga bukan dinding yang hanya berdiri dan menunggu api itu padam. Junho... kau suaminya,” lanjut Jinwoo.

Junho menghela napas pelan, dadanya terasa penuh, seolah kalimat sederhana itu justru menyentuh bagian yang selama ini sengaja ia hindari.

“Aku tidak ingin menjadi penghalang. Sejak awal dia meminta izin untuk kembali bekerja, aku melihat sesuatu yang membuatnya kembali hidup... Aku tidak ingin menjadi suami yang menghalangi ambisi istriku sendiri,” jawab Junho tegas.

“Menjadi batas bukan berarti menjadi penghalang,” potong Jinwoo. “Itu dua hal yang berbeda.”

Ia berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju jendela. Langkahnya berhenti di sana, dari balik kaca taman kecil yang sunyi terbentang di bawah cahaya lampu yang temaram. Jinwoo menatapnya beberapa saat sebelum kembali berbicara. Suaranya terdengar lebih dalam dari tempatnya berdiri.

“Kalau kau terus membiarkannya pergi tanpa pernah mengatakan apa yang kau rasakan, suatu hari dia akan mengira kau baik-baik saja dengan jarak. Dan jarak yang dianggap wajar... pelan-pelan menjadi kebiasaan.”

Jinwoo berbalik dan melirik Junho sekilas lalu menunduk, jemarinya bergerak kecil di sisi cangkir yang sudah tidak lagi disentuhnya. Kalimat tersebut mengenai tepat di tempat yang selama ini berusaha ia hindari.

“Kau tahu wanita, kan? Bagaimana mereka berpikir?” lanjut Jinwoo. “Kenyamanan adalah hal yang paling mudah membuat wanita tergelincir ke arah yang salah. Kalau kau tetap diam melihat itu dengan alasan tidak ingin menjadi penghalang, itu sama saja dengan membiarkan istrimu pelan-pelan tergelincir.”

Jinwoo kembali memandang taman di hadapannya wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan keseriusan yang tidak bisa disamarkan.

“Aku bukan tidak percaya padanya. Aku hanya... lelah menunggu versi hidup kami yang selalu nanti.” Junho menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih berat. “Aku merasa Nala... dia sekarang sudah banyak berubah, dan aku tidak tahu siapa penyebabnya.”

Jinwoo perlahan berbalik.

Tatapannya langsung tertuju kepada Junho, kali ini jauh lebih tajam. Seolah kalimat terakhir itu membuka pintu menuju persoalan yang sejak awal sebenarnya ingin dibicarakan Junho.

“Lelaki sering salah di sini. Kita pikir diam itu dewasa. Padahal, sering kali diam itu hanya ketakutan untuk terlihat membutuhkan.” Jinwoo melangkah mendekat.

“Junho... batas itu bukan mengekang. Dia harus sadar bahwa sekarang dia tidak hidup hanya dengan membawa dirinya sendiri. Ada kamu... ada putra kalian. Jika terus seperti ini, kapal kalian bisa tenggelam karena kau terlalu diam sebagai nakhoda,” lanjutnya.

Junho tersenyum tipis, pahit. Perumpamaan itu terdengar sederhana, tetapi justru terasa begitu dekat dengan keadaan mereka.

“Aku selalu tegas pada Mira. Sekali aku bilang tidak, maka dia harus menerima. Bukan karena aku egois dan tidak ingin dibantah, tetapi karena aku memasang batas yang jelas untuk istriku. Apa pun yang ingin dia lakukan, aku dukung. Namun, dukunganku bukan berarti dia bebas melakukan apa pun tanpa mempertimbangkan yang lain. Perempuan harus ingat, dia bukan hanya punya ambisi, tetapi juga punya keluarga yang harus dijaga bersama,” kata Jinwoo lagi.

“Dan kau menyarankan aku apa? Menjadi lebih keras?” tanya Junho.

Jinwoo menggeleng pelan.

“Bukan keras,” jawabnya tegas. “Lebih jujur. Lebih tegas pada batas, bukan pada orangnya... Kau perlu ingat satu hal, Junho. Keras dan tegas itu berbeda. Wanita tidak bisa diperlakukan dengan keras... Mereka mudah terluka, lalu membawa luka itu seumur hidup.”

Ia kembali duduk, menyandarkan tubuhnya pada kursi.

“Jadi, bukan keras solusinya, tetapi jujur dan tegas. Katakan padanya: aku bangga padamu, tetapi aku juga ingin hadir di hidupmu. Itu bukan tuntutan. Itu posisi. Dan kau punya hak atas hidupnya karena kau suaminya. Itu mutlak, mau dia terima atau tidak... Konsekuensi pernikahan adalah hak untuk memiliki hidup bersama.”

Jinwoo mengakhiri kalimatnya dengan ketukan pelan jemarinya di atas meja. Suaranya telah kembali tenang, tetapi tidak ada keraguan dalam setiap kata yang ia sampaikan. Junho memejamkan mata sesaat kalimat sederhana itu terasa jauh lebih sulit daripada menandatangani kontrak bernilai miliaran.

“Aku takut... takut kalau aku bicara, ia merasa dikekang,” aku Junho pelan.

“Dan aku takut kalau kau terus diam, kau akan perlahan menghilang dari hidupnya tanpa pernah benar-benar pergi. Junho, ini belum terlambat... Pikirkan masa depan Jun-seok juga. Apa kalian akan tetap hidup seperti ini selamanya?” balas Jinwoo tenang.

Dari ruang lain, terdengar tawa Jun-seok dan Yul—riuh, lepas, tanpa beban. Suara itu terasa kontras dengan percakapan dua ayah yang sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih berat di ruangan ini.

“Kau ayah yang hadir. Jangan menjadi pasangan yang hanya tersedia secara administratif. Nala harus hadir sebagai ibu... Dia tidak cukup hanya dengan melahirkan Jun-seok. Anak itu membutuhkan kalian berdua, dan kau yang bisa mengubah Nala... hanya kau,” lanjutnya.

Junho membuka mata. Ada kilat kecil di sana—bukan amarah, bukan pula kesedihan. Sebuah kesadaran yang perlahan menemukan bentuknya.

“Aku harus bicara padanya,” katanya akhirnya.

Jinwoo mengangguk.

“Bicaralah sebelum dunia mengambil terlalu banyak ruang di antara kalian. Aku tidak pernah berharap hal buruk terjadi. Aku ingin semua sahabatku hidup bahagia... Yang berada di fase ini bukan hanya kau. Kemarin Hoseung datang... Yoohan bahkan datang. Aku harap kalian bisa berpikir lebih jauh daripada sekadar mengikuti kesibukan istri kalian,” ucap Jinwoo lagi.

Junho terdiam pandangannya sempat jatuh pada cangkir teh yang mulai kehilangan uap, lalu beralih ke pintu ruangan. Dari balik sana, tawa kedua anak masih terdengar samar. Ia kemudian berdiri perlahan punggungnya masih tegak, sikapnya tetap tenang—tetapi ada sesuatu yang bergeser dalam dirinya malam itu. Seolah untuk pertama kalinya ia memahami bahwa menjaga tidak selalu berarti membiarkan, dan mencintai tidak selalu berarti terus mengalah.

“Terima kasih, Hyung... Aku sangat menghormati saranmu,” ucap Junho.

“Sama-sama. Aku harap kita bisa berkumpul lagi lain waktu... dengan lengkap, dalam keadaan yang jauh lebih nyaman,” balas Jinwoo.

Junho mengangguk pelan ada senyum tipis yang muncul di wajahnya, kali ini tanpa kepahitan.

“Semoga,” jawabnya singkat.

Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri dalam diam. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan malam itu, percakapan yang semula dimulai dari urusan bisnis telah membawa mereka jauh ke dalam persoalan yang lebih pribadi. Di luar ruang kerja, suara tawa Jun-seok dan Yul masih terdengar samar. Kehangatan rumah itu tetap sama, tetapi bagi Junho, sesuatu di dalam dirinya telah berubah.

Malam itu, ia tidak membawa pulang sebuah solusi ia hanya membawa keberanian untuk akhirnya berbicara.

1
Namira Mara
Nala kaya perempuan zaman batu aja deh lawan ke Nala lawan
Ramapratama
Junho nyebelin nya awet bahkan setelah 13 tahun berlalu 🤭
Namira Mara
🤣🤣🤣🤣🤣 mimpi bisa barengan gitu 😭
Namira Mara
Junho ternyata gak berubah Thor, tetep dia yang sama nyebelin nya. 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!