Indonesia
NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:21.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Kebenaran di Balik Pintu

Zinnia tahu Arvid berasal dari keluarga kaya. Ia juga tahu bahwa dirinya tidak berasal dari dunia yang sama. Namun, mendengar pria itu mengucapkan kata-kata tersebut dengan nada jijik membuat ketakutannya semakin nyata.

“Urus masalah ini sampai tuntas,” lanjut Arvid. “Aku mau semua bukti dikumpulin. Periksa CCTV yang masih bisa diakses, cari saksi, dan telusuri semua informasi yang bisa didapat dari pihak resort. Aku gak mau ada satu pun bagian yang kelewat. Kalo dia memang terbukti melakukan ini, dia harus nanggung konsekuensinya.”

“Baik, Bos.”

Zinnia menunduk. Ia tidak tahu siapa perempuan yang sedang mereka bicarakan. Ia juga tidak tahu sejauh mana perempuan itu terlibat dalam kejadian yang membuat Arvid kehilangan kesadaran.

Namun, satu hal membuatnya takut. Arvid begitu marah kepada perempuan yang dianggapnya berusaha memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan dirinya.

Bagaimana jika Arvid menganggap Zinnia juga perempuan yang ingin mengambil keuntungan dari kejadian malam itu?

Bagaimana jika ia mengira kehamilan Zinnia hanyalah cara untuk memaksanya menikah?

Zinnia memejamkan mata sejenak. Ia tidak pernah berniat menjebak Arvid. Ia bahkan tidak tahu siapa pria itu ketika malam tersebut terjadi. Namun, apakah Arvid akan memercayainya jika ia menceritakan semuanya?

“Ngomong-ngomong, Bos,” suara Juki kembali terdengar, kali ini dengan nada lebih santai. “Desain yang dipresentasikan Zinnia tadi menarik juga. Konsepnya kerasa segar, beda dari koleksi sebelumnya. Menurut saya, dia punya potensi.”

Zinnia membuka mata. Namanya disebut.

“Pak Damar juga kelihatan puas sama hasil kerjanya,” lanjut Juki. “Dan kalo boleh jujur, dia juga cantik. Saya sampai penasaran, kenapa dia gak bisa ngomong? Apa emang dari lahir?”

“Juki.”

Satu kata dari Arvid membuat Juki terdiam sesaat. “Apa, Bos? Saya cuma penasaran, kok.”

“Kalo mau tau, tanyain langsung sama orangnya dengan sopan. Bukan ngomongin dia seolah dia gak punya hak ndenger.”

Zinnia tertegun. Ia tidak menyangka Arvid akan menegur asistennya karena hal itu.

“Siap, Bos,” sahut Juki. “Saya cuma teringat masa sekolah dulu. Bos ingat gak? Sekolah kita dekat SLB. Dulu kita pernah belajar bahasa isyarat karena penasaran lihat cara mereka berkomunikasi.”

Arvid terdiam sebentar. “Ya, aku ingat.”

“Sudah lama banget kita gak mempraktikkannya. Saya bahkan gak tau masih ingat apa gak.”

Zinnia meremas tali tasnya. Jadi, Arvid pernah belajar bahasa isyarat?

Entah mengapa, informasi itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Pria yang selama ini ia bayangkan mungkin tidak akan memahami dirinya ternyata pernah mempelajari cara berkomunikasi seperti dirinya.

Untuk sesaat, muncul harapan kecil bahwa ia mungkin bisa menjelaskan semuanya kepada Arvid tanpa harus mengandalkan suara.

Namun, harapan itu segera meredup ketika ia teringat kembali pada kemarahan pria tersebut.

Ia tidak tahu apakah Arvid akan bersedia mendengarkannya.

“Bos, ngomong-ngomong, kenapa belum manggil Zinnia masuk?” tanya Juki. “Tadi Bos sendiri yang minta saya nyampekin agar dia nemuin Bos setelah jam kerja.”

“Lena udah manggil dia?” tanya Arvid.

“Harusnya udah. Biar saya periksa.”

“Nggak perlu. Tunggu bentar lagi.”

Terdengar bunyi kursi bergeser.

Lalu Arvid berkata, “Aneh. Harusnya dia udah dateng.”

Zinnia menahan napas. Ia memang dipanggil ke ruangan itu. Namun, setelah mendengar percakapan mereka, kakinya terasa berat untuk bergerak.

Ia ingin pergi. Pura-pura tidak mendengar apa pun, lalu pulang seolah tidak ada sesuatu yang baru saja mengubah seluruh keyakinannya. Namun, sebelum ia sempat menjauh, suara Juki kembali terdengar.

“Bos, jari Bos kok kosong? Cincin Bos mana? Bukannya itu cincin kesayangan Bos? Bos sendiri yang mendesainnya dan selalu memakainya selama bertahun-tahun.”

Zinnia menahan napas.

Cincin.

Tangannya refleks menyentuh tas, tempat cincin itu tersimpan di dalam dompet.

“Aku kasih sama perempuan yang kutemui di tepi pantai resort malam itu,” jawab Arvid.

Dunia seolah berhenti.

Zinnia menutup mulut dengan kedua tangan. Tidak ada lagi yang perlu ia ragukan.

Cincin itu. Pengakuan Arvid. Malam di resort. Pria di balik pintu itu benar-benar pria yang sama.

Pria yang memberinya cincin setelah kejadian yang merenggut rasa aman dan mengubah hidupnya. Pria yang berkata agar ia mencarinya.

Air mata menggenang di pelupuk mata Zinnia, tetapi ia buru-buru menahannya.

Ia akhirnya menemukan Arvid. Namun, alih-alih merasa lega, ia justru ingin melarikan diri.

Sebab kini ia tahu bagaimana Arvid memandang perempuan yang dianggapnya berusaha memanfaatkan dirinya. Ia bisa membayangkan betapa buruknya prasangka pria itu jika mengetahui Zinnia datang membawa kabar kehamilan.

Dan jika Arvid menganggapnya sama seperti perempuan yang sedang mereka bicarakan, ia mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan kebenaran.

Lebih buruk lagi, ia takut keluarga Danendra akan menganggap anak yang dikandungnya sebagai bagian dari masalah yang harus mereka selesaikan.

Seperti cerita yang didengarnya di kantin siang tadi. Seorang ibu dipisahkan dari anaknya. Uang diberikan sebagai pengganti, sementara sang ayah menikah dengan perempuan yang dianggap lebih sepadan.

Zinnia menggeleng pelan.

Tidak. Ia tidak sanggup membayangkan melahirkan anak ini, menggendongnya untuk pertama kali, lalu harus menyerahkannya kepada orang lain hanya karena mereka merasa lebih berhak.

Ia tidak akan menukar kesempatan membesarkan anaknya dengan uang atau janji kehidupan yang lebih baik.

Zinnia mengusap pipinya, menarik napas panjang, lalu menjauh dari pintu sebelum siapa pun keluar dan mendapati dirinya berdiri di sana.

Tak lama kemudian, pintu ruangan CEO terbuka.

Juki keluar sambil membawa beberapa berkas. Ketika melihat Zinnia berdiri tak jauh dari sana, ia menghentikan langkah.

“Zinnia? Kamu udah dateng?”

Zinnia segera mengangguk.

“Pak Arvid nunggu kamu di dalam. Silakan masuk.”

Zinnia membalas dengan anggukan sopan.

Juki berlalu menuju lift, sementara Zinnia berdiri di depan pintu yang kembali tertutup.

Ia ingin pergi. Sungguh. Namun, jika ia melarikan diri sekarang, ia akan terus hidup dengan pertanyaan yang sama. Ia sudah mengetahui identitas pria itu. Setidaknya, ia perlu melihatnya sekali lagi dan memastikan apakah Arvid masih mengingat pertemuan mereka di rumah sakit.

Tangan Zinnia terangkat, lalu mengetuk pintu.

 

...🔸🔸🔸...

...“Terkadang, menemukan jawaban justru melahirkan ketakutan baru. Namun, kita tidak bisa selamanya bersembunyi dari kenyataan hanya karena takut pada kemungkinan terburuk yang mungkin belum tentu terjadi.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
sunshine wings
Bagus certanya aku suka..
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
siti irnani
akhirnya 👍👍👍
Ass Yfa
akhirnya uneg2 Zinnia dikeluarkan..meski dgn rssa takut..jujurlah Zinnn
tse
ya jujur aja Zinnia... jangan ada yang di sembunyiin lagi...
biar Arvid mencari jalan keluarnya...
kamu berhak bahagia Zinnia.....
semoga kalian berdua bahagia....
tapi hati2 ya sama nita.. nanti dia ngompprin mama kamu lagi...
abimasta
ketakutan zinnia sangat wajar
Anitha
Bagus degan sikap Arvid berbicara pada Zinnia....dan akhirnya Zinnia menanyakan yang selama ini ia takutkan....tuh Arvid tinggal jawab
Anitha
ayolah Zinnia jujur sama Arvid jangan di pendam sendiri,Arvid laki² yang baik dan bertanggung jawab
bumi rose
kutunggu lanjutannya... /Heart/
Siti Jumiati
syukurlah zinia sudah mau jujur...

penasaran kelanjutannya semoga kedua orang tua Arvid mau menerima zinia dengan senang hati.
Puji Hastuti
akhirnya 😍
Sastri Dalila
👍👍🥺🥺
Dek Sri
lanjut
Sastri Dalila
🤭🤣🤭💪💪💪
Hanima
👍👍
Hanima
👍👍👍
Eka Burjo
lanjut lagi, lagi-lagi 😁👍
abimasta
akui saja zinnia biar arvid bertanggung jawab
Eka Burjo
lanjut 👍
Sugiharti Rusli
meski Arvid belum tahu reaksi kedua ortunya dengan kabar ini, paling tidak dia bisa memberi jaminan kalo Zinnia tetap bersama calon anaknya kelak,,,
Sugiharti Rusli
dan pada akhirnya tentang ketakutannya kelak kalo keluarga Arvid hanya akan menerima anaknya, tapi dirinya dijauhkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!