Indonesia
NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Bisikan Rawa Tengkorak

Kabut tebal berwarna hijau keunguan membumbung pekat di dasar jurang Rawa Racun Tengkorak. Udara malam terasa sangat berat dan lembab, membawa bau busuk kental dari endapan bangkai pepohonan purba yang membusuk ratusan tahun. Di bawah permukaan air rawa yang hitam kehitaman, gelembung-gelembung gas asam meletup pelan, memercikkan uap racun yang sanggup melelehkan daging manusia dalam lima hitungan napas.

Di celah tebing basal yang menjulang terjal, dua sosok bergerak tanpa suara. Ma Huang memimpin di depan dengan jubah kulit serigala kelabu yang terikat kencang di pinggang. Di belakangnya, Lu Gang merayap kaku, melangkah sangat hati-hati di atas akar-akar pohon rawa yang licin berlapis lendir beracun. Kain perca tebal meredam setiap gerakan belati panjang di pinggangnya.

Lu Gang menahan napasnya, mengusap peluh dingin yang membasahi dahi. Masker kain tebal berlapis arang kayu yang menutupi hidungnya mulai memanas akibat sengatan uap racun di sekitarnya. Matanya menyipit menatap tumpukan tulang belulang manusia dan binatang raksasa yang menyembul dari dalam lumpur hitam rawa.

"Uap racun di depan dua kali lebih pekat, Tuan Muda," panggil Lu Gang dengan suara setengah berbisik yang tertahan kain masker. "Kulit lengan saya mulai terasa menyengat."

Ma Huang menghentikan langkahnya di atas cabang kayu mati yang melintang di atas air rawa. Ia membuka ikatan kain jubah di lengan kirinya, menyingkapkan permukaan kulitnya yang memucat kaku. Uap racun hijau keunguan di udara merayap mendekati lengan Ma Huang, tertarik secara alami oleh denyut sirkulasi darah di pembuluh tubuhnya.

Saat racun rawa menyentuh pori-pori kulit Ma Huang, rasa panas seperti disiram minyak mendidih membakar lengannya. Namun, Ma Huang tidak menarik lengannya kembali. Wajah kaku pemuda itu tetap tenang tanpa riak kesakitan sedikit pun.

Ma Huang memutar lingkaran tenaga dalam di Dantian Hitam-Keemasan miliknya. Sirkulasi Jalur Darah Pemakan Bencana bergetar kencang, membuka saluran meridian utama di seluruh tubuhnya. Uap racun beracun berkecepatan tinggi tersedot masuk menembus kulit Ma Huang, mengalir deras menyusuri lengan kiri menuju pusar perutnya.

Srettt!

Kabut hijau keunguan di sekeliling panggung kayu mati mendadak berputar membentuk pusaran kecil. Pori-pori kulit Ma Huang menyerap seluruh konsentrasi racun rawa dalam hitungan sekejap. Garis-garis kehitaman yang membeku di pembuluh darah lengannya berubah warna menjadi pendar keemasan redup.

Lu Gang membelalak lebar dari balik maskernya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kabut beracun yang mematikan itu menghilang bersih di sekitar tubuh pimpinan mudanya, menyingkapkan alur jalan berlumpur kering di dasar jurang.

Dantian Hitam-Keemasan Ma Huang bergetar kecil. Rasa hangat yang sangat pekat menjalar cepat memompa jantung dan persendian kakinya. Daya tahan fisiknya memuncak, sementara sisa racun korosif di dalam Pedang Tulang Hitam bertambah kental dan pekat.

Ma Huang menghembuskan napas tipis dari hidungnya. Uap racun dingin menyembur keluar dari sela bibirnya sebelum menghilang di udara malam.

"Pertahankan jarak sepuluh depa di belakangku," kata Ma Huang datar. Suaranya memotong keheningan rawa yang mencekam. "Racun di Rawa Tengkorak ini tidak akan menyentuhmu selama kau berjalan di dalam jejak langkahku."

Lu Gang menundukkan kepalanya penuh hormat. Ia melangkah maju meniti jejak telapak kaki Ma Huang yang telah bersih dari uap racun beracun.

Mereka menyusuri alur bawah rawa selama setengah jam tanpa hambatan. Di ujung celah tebing barat, guratan batu granit alami membentuk tangga terjal menuju menara pengawas bawah Celah Gerbang Hitam.

Suara gelak tawa parau bergema pelan dari balik papan kayu menara pengawas. Dua prajurit Sekte Cakar Iblis duduk bersila di atas panggung kayu yang menggantung sepuluh tombak di atas air rawa. Di tangan mereka, terikat rantai besi penarik gerbang kayu raksasa yang menghubungkan dua tebing perbatasan.

Seorang prajurit berwajah bopeng menenggak tuak keras dari wadah bambu. "Pasukan Serigala Hitam itu pasti kebingungan di Celah Utama. Master Yan Leng sudah menempatkan lima ratus meriam mesiu di gerbang depan."

Prajurit kedua mengasah mata cakar besinya menggunakan batu asah kasar. "Siapa pun bocah Ma yang memimpin mereka, kepalanya akan hancur sebelum sempat melintasi alur sungai."

Ma Huang berdiri kaku di balik bayangan pilar kayu menara bawah. Tangan kirinya memegang erat gagang Pedang Tulang Hitam. Tanpa bersuara sedikit pun, ia menyalurkan leburan racun rawa baru dari Dantiannya lurus ke dalam bilah pedang hitam.

Ma Huang menjejakkan kakinya kencang ke atas cabang pohon mati di bawah menara.

Brak!

Kayu mati itu patah berhamburan. Tubuh Ma Huang meluncur naik bagaikan kilat hitam membelah kegelapan malam, mendarat mulus di atas lantai papan menara pengawas tanpa menimbulkan getaran keras.

Prajurit berwajah bopeng tersentak kaget. Wadah bambu di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai kayu. Sebelum ia sempat berteriak memanggil penjaga atas, Pedang Tulang Hitam meluncur miring dari bawah ke atas.

Srettt!

Bilah pedang hitam beracun memotong leher prajurit bopeng itu secara bersih. Darah segar menyembur basah, menyiram dinding papan menara sebelum tubuhnya terkulai kaku tanpa suara.

Prajurit kedua membelalak lebar dalam kepanikan luar biasa. Tangannya bergerak cepat menyambar cakar besi di samping paha, mencoba melancarkan sabetan mendatar ke arah dada Ma Huang.

Ma Huang menggeser tumpuan kakinya setengah jengkal ke kiri. Tebasan cakar besi musuh melintas tipis di udara kosong.

Ma Huang menyambar pergelangan tangan musuh menggunakan tangan kanannya. Hawa dingin pekat dari racun rawa membeku di telapak tangannya, meremukkan tulang pergelangan tangan prajurit itu dalam satu cengkeraman kencang.

Krak!

Jeritan histeris prajurit itu tertahan di tenggorokan saat telapak tangan kiri Ma Huang menghantam kencang tepat di dadanya. Gelombang tenaga dalam Inti Bencana meremukkan zirah besi dan tulang rusuk musuh seketika.

Tubuh prajurit kedua terlempar ke luar menara, jatuh menghantam air rawa yang hitam di bawah sana tanpa sempat membunyikan genta tanda bahaya.

Ma Huang melangkah mendekati pasak rantai besi penarik gerbang utama. Rantai baja tebal empat jari itu terikat rapat pada poros kayu raksasa yang mengunci pintu celah.

Ma Huang mengangkat Pedang Tulang Hitam dengan kedua tangan. Ia menyuntikkan seluruh konsentrasi asam racun rawa yang baru diserapnya ke ujung bilah pedang.

Bilah pedang hitam memancarkan pendar keemasan pekat di dalam kegelapan menara. Ma Huang mengayunkan pedangnya menghantam poros rantai besi penarik gerbang.

Brak! Krak!

Asam racun korosif membakar dan melelehkan pasak baja tua itu dalam satu tebasan dahsyat. Poros kayu raksasa retak terbelah dua, melepaskan ikatan rantai penarik gerbang utama seketika.

Suara dentuman keras bergema di seluruh celah tebing saat jembatan gantung dan gerbang kayu pelindung Celah Gerbang Hitam roboh terbuka kaku ke depan, menyingkapkan jalur masuk utama menuju wilayah Provinsi Lingnan.

Dari arah padang rumput luar celah, tiupan sangkakala tanduk serigala membahana kencang membelah malam. Tie Shan dan tiga ribu prajurit zirah berat Pasukan Serigala Hitam meluncur deras memasuki pintu celah yang telah terbuka lebar tanpa penjaga.

Ma Huang berdiri tegak di ambang jendela menara pengawas yang tinggi. Runtuhan asap kebakaran dan derap ribuan kuda perang menyambut fajar pertama di perbatasan Provinsi Lingnan.

Lu Gang melompat naik ke lantai menara, berlutut dengan satu kaki di hadapan pimpinan mudanya. "Gerbang Utama Lingnan telah terbuka total, Tuan Muda!"

Ma Huang mengusap sisa darah musuh dari bilah Pedang Tulang Hitam dengan kain kelabunya. Ia menyarungkan pedang hitamnya kencang-kencang. Tatapannya membeku dingin menatap hamparan kota tambang Lingnan yang membentang luas di bawah gumpalan awan hitam.

1
B. Toon
Wah, baru lagi thor. Suka bgt sama karya-karyanya. Kalau bikin MC selalu sadis dan kejam. Hahaha... seleraku bgt 😄
Restu Agung Nirwana: wkwkwk... trims bang, dukung trs biar saya semangat nulisnya 😀😀🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!