Indonesia
NovelToon NovelToon
Rencana Bunuh Diri Sang Antagonis

Rencana Bunuh Diri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.

Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..

"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"

Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.

Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Keesokan paginya, Kayna terbangun oleh suara ketukan di pintu.

"Masuk," panggilnya, duduk di dipan.

Rosa masuk dengan nampan sarapan, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Wajah Rosa tidak pucat karena takut. Sebaliknya, ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang jarang terlihat.

"Selamat pagi, Nona Kayna," ucap Rosa, meletakkan nampan di meja.

Kayna menyipitkan mata. "Kau memanggilku Kayna?"

Rosa terkesiap, lalu menutup mulutnya dengan tangan. "M-maaf, Nona! Saya... saya tidak bermaksud.."

"Tidak apa-apa," potong Kayna, mengangkat tangannya. "Kalau Adrian sudah memberitahumu, maka tidak perlu bersembunyi. Tapi kenapa kau tersenyum pagi ini? Biasanya kau terlihat seperti akan pingsan setiap kali masuk ke kamar ini."

Rosa menunduk, tapi senyumnya masih terlihat. "Karena... karena suasana di istana berubah, Nona. Para pelayan lain juga merasa lebih tenang. Kami... kami tahu bahwa Yang Mulia sedang menyelidiki sesuatu. Dan kami tahu bahwa Nona tidak lagi dalam bahaya."

Kayna menatap Rosa dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu?"

Rosa ragu sejenak, lalu mendekat dan berbisik: "Nona, semalam Kapten Roderick dan beberapa pengawal meninggalkan istana dengan tergesa-gesa. Dan pagi ini, saya mendengar bahwa Nona Freya sedang 'diundang' untuk sarapan dengan Yang Mulia di ruang makan pribadi."

Mata Kayna membelalak. Freya diundang sarapan? Setelah semalam Adrian menemukan semua bukti itu?

"Apakah... apakah Yang Mulia akan menghukumnya?" tanya Rosa pelan.

Kayna tidak menjawab. Ia menatap sarapannya.. roti panggang, telur rebus, dan teh. Tapi kali ini, ia tidak memikirkan cara untuk mati. Ia memikirkan Freya. Gadis yang mencoba membunuhnya. Gadis yang manipulasi seluruh kerajaan.

"Rosa," ucap Kayna akhirnya. "Antar aku ke ruang makan pribadi. Aku ingin melihat ini."

"Tapi Nona, Yang Mulia tidak mengizinkan.."

"Aku tidak akan masuk," potong Kayna. "Aku hanya ingin mendengar dari luar. Tolong."

Rosa menatap Kayna, lalu mengangguk. "Baik, Nona."

***

Kayna berdiri di luar pintu ruang makan pribadi, telinganya ditempelkan ke kayu yang dingin. Di dalam, ia bisa mendengar suara samar Adrian dan Freya.

"...tidak mengerti, Adrian," suara Freya terdengar, nadanya bergetar seperti biasa. "Kenapa kau memanggilku pagi-pagi seperti ini? Apakah ada yang salah?"

"Duduk, Freya," suara Adrian terdengar datar. Tidak ada kehangatan yang biasa ia berikan pada gadis itu.

Terdengar suara kursi digeser, lalu Freya duduk.

"Freya," ucap Adrian, suaranya terdengar seperti baja. "Aku punya beberapa pertanyaan untukmu. Dan aku ingin kau menjawab dengan jujur."

"Tentu, Adrian. Aku akan menjawab apa pun.."

"Di mana orang tuamu?"

Hening.

Kayna bisa membayangkan wajah Freya yang pucat di balik pintu.

"A-apa maksudmu, Adrian?" suara Freya terdengar lebih tinggi dari biasanya. "Kau tahu aku yatim piatu. Mereka meninggal saat aku masih kecil.."

"Jangan berbohong!" suara Adrian menggelegar, membuat Kayna tersentak. "Aku tahu semuanya, Freya. Aku tahu orang tuamu masih hidup. Aku tahu mereka menjualmu pada sindikat. Aku tahu mereka melatihmu untuk menjadi... apa yang kau lakukan sekarang."

Hening yang panjang.

Kemudian, suara Freya berubah. Tidak ada lagi getaran. Tidak ada lagi kepura-puraan. Yang tersisa adalah suara yang dingin, datar, dan penuh kebencian.

"Jadi kau sudah tahu," ucap Freya, suaranya terdengar hampir... lega? "Lalu kenapa kau masih memanggilku sarapan? Kenapa kau tidak langsung menangkapku?"

"Karena aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri," balas Adrian dingin. "Aku ingin tahu kenapa. Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau mencoba menghancurkan Kayla?"

Tawa pelan terdengar dari dalam ruangan. Tawa yang terdengar sangat tidak cocok dengan wajah polos Freya.

"Menghancurkan Kayla? Adrian, kau salah. Aku tidak mencoba menghancurkannya. Aku mencoba mengambil apa yang seharusnya milikku."

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu kenapa aku mendekati para bangsawan itu, Adrian? Karena aku lelah. Aku lelah menjadi boneka. Aku lelah dijual dari satu pria ke pria lain. Aku ingin memiliki sesuatu yang benar-benar milikku. Dan kau... kau adalah Pangeran Mahkota. Kau adalah tiketku untuk keluar dari kehidupan ini."

"Dan Kayla?"

"Kayla adalah penghalang," jawab Freya tanpa emosi. "Dia adalah tunanganmu. Dan selama dia masih hidup, aku tidak akan pernah bisa menjadi Duchess. Jadi ya, aku mencoba membunuhnya. Dan aku akan terus mencoba sampai dia mati atau aku yang mati."

Kayna yang mendengarkan dari luar pintu merasa napasnya tercekat.

Ini... Ini adalah suara seseorang yang sudah mati dari dalam. Seseorang yang sama hancurnya denganku.

"Kau gila," ucap Adrian, suaranya terdengar jijik. "Kau pikir dengan membunuh Kayla, kau akan bahagia? Kau pikir aku akan menikahimu setelah kau membunuh tunanganku?"

"Aku tidak peduli apakah kau menikahiku atau tidak," balas Freya dingin. "Yang aku peduli adalah gelar. Kekayaan. Kekuasaan. Dan aku akan mendapatkannya, dengan cara apa pun."

"Kau tidak akan mendapatkannya," ucap Adrian, suaranya terdengar final. "Mulai hari ini, kau akan diasingkan ke biara di perbatasan utara. Kau akan tinggal di sana sampai akhir hidupmu. Dan jika kau mencoba kabur, kau akan digantung sebagai pembunuh."

Terdengar suara Freya berdiri, kursinya terjatuh ke belakang. "Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Adrian! Aku sudah melakukan semuanya untukmu! Aku sudah—"

"Keluar," potong Adrian dingin. "Sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan untuk menggantungmu sekarang juga."

Terdengar suara langkah kaki yang cepat, lalu pintu ruang makan pribadi terbuka dengan kasar. Freya keluar dengan wajah pucat, matanya merah karena menangis—tapi kali ini, air mata itu terasa palsu. Tidak ada lagi kepura-puraan. Hanya ada kebencian murni.

Freya menatap Kayna yang berdiri di luar pintu, dan untuk sesaat, kedua wanita itu saling menatap.

"Kau menang," bisik Freya, suaranya terdengar seperti racun. "Tapi ini belum berakhir, Kayla. Aku akan kembali. Dan saat itu, aku akan memastikan kau mati dengan sangat, sangat perlahan."

Kayna menatap Freya. Ia tidak merasa takut. Ia tidak merasa marah. Yang ia rasakan adalah... lelah. Lelah melihat seseorang yang sama hancurnya dengannya memilih untuk menjadi monster.

"Freya," ucap Kayna pelan. "Kalau kau benar-benar ingin mati, kenapa tidak melakukannya dengan tenang? Kenapa harus menyakiti orang lain?"

Freya menatapnya dengan tatapan membunuh, lalu berbalik dan berlari pergi.

Kayna menghela napas panjang, lalu mendorong pintu ruang makan pribadi dan masuk.

Adrian duduk di kursinya, menatap Kayna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau mendengar semuanya?"

"Ya," jawab Kayna, duduk di kursi di hadapan Adrian. "Dan aku punya satu pertanyaan."

"Apa?"

"Kenapa kau tidak langsung menangkapnya semalam? Kenapa kau menunggu sampai pagi ini?"

Adrian menatap Kayna. Lalu, dengan suara yang pelan, ia berkata: "Karena aku ingin kau mendengarnya sendiri. Aku ingin kau tahu bahwa ada orang lain di dunia ini yang sama hancurnya denganmu. Tapi yang memilih untuk menjadi monster."

Kayna terdiam. Kata-kata itu... kata-kata itu terasa seperti tamparan. Tapi juga seperti pelukan.

"Terima kasih," bisik Kayna akhirnya. "Untuk semuanya."

Adrian tersenyum tipis. Senyum yang tulus. "Kau tidak perlu berterima kasih, Kayna. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak awal."

***

Tiga hari setelah Freya diasingkan, Kayna menemukan dirinya dalam situasi yang sangat membingungkan.

Ia duduk di meja makan di kamar batu pualam, menatap piring sarapannya. Roti panggang, telur rebus, dan teh. Sama seperti setiap pagi selama seminggu terakhir. Tapi ada satu perbedaan besar bahwa

Kayna tidak lagi memikirkan cara untuk mati dengan makanan ini.

Ini masalah besar, batin Kayna, menusuk telur rebusnya dengan garpu.

Aku seharusnya sedang merencanakan cara untuk menelan telur ini bulat-bulat dan tersedak. Tapi aku malah... memakannya dengan normal.

1
Luna
😣😣ikut tegang 😮😮😱😱😱😱
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Luna
nah gini kan enak sama sama kerja sama mau menghabisi pemberontak🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣 bahasa Jawa nya di bantu mamah alias di hancurin dalam. mulut trs di pindah🤣🤣🤣 muntah q
falea sezi
mending cari jalan buat kabur dr Duke. dripada mati bundir🤣
Wahyu Ningsih
mungkin dia terlalu lelah dgn dunia yg kejam
Wahyu Ningsih
sending banget ceweknya
Luna
coba kau cari kegiatan baru contoh belajar berperang berperang dan membasmi ayahmu sendiri,mungkin itu bisa membuat keputusasaan mu sedikit berkurang
Luna
kalo dibilang capek semua orang juga capek termasuk aku, apalagi capek hidup mau mati rasanya tapi ngebayangin dampaknya mikir dua kali gimana nasib orang yg kutinggalkan ,jika aku mati bunuh diri nambah dosa iya masuk surga juga enggak,yh dijalanin aja sih hidup sampai tuhan sendiri yg manggil aku.
Luna
diberi kesempatan hidup malah ingin mati terus 🤣🤣🤣🤣,
Luna
ngaku ajalah ,,,GK bakalan dieksekusi kok ,,,,mau bunuh diri tapi kalo dewa atau tuhan belum ngasih cap stempel lulus surga yg ada kau ditime travel ke dimensi 2 lain🤣🤣🤣, jangan ngeluh ah . coba kau pergi dari tempat itu berkeliling dunia dengan Rosa cari pengalaman hidup .
ita aja
shock pasti kayna..tdk sesuai ekspektasi
ita aja
cem mana kau kayna
..gagal terus🤣
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 balita katanya🤣🤣🤣🤣
Emalia
😄😄
Emalia
Lagi kk,up yang banyak 🤭🤭
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣mungkin karena berbeda jiwa,Duke Adrian mulai suka ,,,,,
ita aja
lagiii
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!