Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan yang Tak Bisa Dibeli
Malam turun perlahan di Kuala Lumpur. Dari jendela besar hotel tempat mereka menginap, Mamat memandangi hamparan cahaya kota yang membentang hingga ke kaki langit. Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh, sementara kendaraan bergerak seperti aliran cahaya di jalanan yang tak pernah benar-benar tidur. Di kejauhan, Menara Kembar Petronas memancarkan kemegahannya, menjadi saksi bisu atas perjalanan seorang lelaki yang pernah kehilangan kehormatan, kemudian menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk membangun kembali kepercayaan orang lain.
Di belakangnya, Darto masih sibuk menceritakan kembali kejadian di konferensi pers Jakarta. Sejak sore, lelaki itu seolah belum kehabisan bahan untuk membahas bagaimana Mamat menghadapi puluhan wartawan tanpa berusaha menyembunyikan masa lalunya.
“Kalau dipikir-pikir, Mat, aku masih heran bagaimana kamu bisa setenang itu. Aku yang cuma duduk di sampingmu saja rasanya ingin kabur lewat pintu belakang.”
Bowo yang sedang bersandar di sofa langsung menyahut, “Kamu memang dari dulu begitu, To. Kalau ada masalah, yang pertama kamu cari bukan solusi, melainkan jalan keluar.”
“Enak saja!” Darto menoleh tajam. “Aku mencari jalan keluar supaya kita semua selamat. Kalau mengandalkan keberanianmu, mungkin sekarang kita sudah jadi berita utama.”
Mamat tertawa kecil. Untuk beberapa saat, suasana di ruangan itu terasa ringan. Mereka kembali menjadi tiga sahabat lama yang bisa saling mengejek tanpa perlu menjaga gengsi.
Namun, tawa itu perlahan mereda ketika Mamat meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
“Kalian tahu apa yang paling membuatku takut setelah kejadian kemarin?”
Darto dan Bowo saling pandang.
“Bukan serangan media?” tanya Darto.
Mamat menggeleng.
“Bukan juga ancaman dari orang-orang yang membenci kita. Aku justru takut suatu hari nanti kita mulai percaya bahwa kita sudah menjadi orang baik hanya karena banyak orang memuji kita.”
Kedua sahabatnya terdiam.
Mamat berdiri, kemudian berjalan mendekati jendela. Pantulan wajahnya tampak samar pada kaca, menyatu dengan cahaya kota di belakangnya.
“Dulu, ketika aku menjadi penipu, aku merasa diriku pintar karena berhasil memperdaya orang. Sekarang, ketika orang-orang mulai menghormati kita, ada bahaya lain yang mungkin lebih sulit disadari. Kita bisa merasa paling benar, menganggap semua kritik sebagai serangan, dan mulai melupakan bahwa kita juga bisa melakukan kesalahan.”
Darto tidak langsung menjawab. Ia mengenal Mamat cukup lama untuk memahami bahwa kalimat itu bukan sekadar nasihat. Ada pengalaman pahit di baliknya, pengalaman yang membuat sahabatnya itu jauh lebih berhati-hati dalam memandang keberhasilan.
“Jadi, menurutmu kita harus bagaimana?” tanya Bowo.
Mamat berbalik.
“Kita harus tetap menyediakan ruang bagi orang lain untuk mengoreksi kita. Jangan sampai Brajamukti berubah menjadi sesuatu yang dulu kita lawan.”
Belum sempat Darto menanggapi, telepon genggam Mamat berdering. Nama Rian muncul di layar.
Mamat segera mengangkatnya.
“Assalamualaikum, Rian. Ada perkembangan apa?”
Suara Rian terdengar dari seberang, disertai bunyi angin dan suara orang-orang yang berbicara samar.
“Waalaikumsalam, Pak. Maaf mengganggu malam-malam. Saya menelepon dari posko ekspedisi di Malinau. Ada masalah yang perlu Bapak ketahui langsung.”
Nada bicara Rian membuat Mamat segera meninggalkan jendela dan duduk di kursi.
“Ceritakan.”
“Selama dua bulan terakhir, tim kami mendampingi kelompok pengrajin dan petani di beberapa desa. Perkembangannya cukup baik. Mereka sudah mulai mengatur pencatatan keuangan dan membentuk kelompok usaha. Namun, tiga hari lalu muncul seorang pengusaha dari luar daerah yang menawarkan kontrak pembelian hasil produksi dalam jumlah besar.”
“Lalu?”
“Awalnya warga senang, Pak. Harga yang ditawarkan lebih tinggi daripada harga pembeli sebelumnya. Tetapi setelah kami memeriksa isi perjanjiannya, ada beberapa ketentuan yang berpotensi merugikan mereka. Pembayaran baru dilakukan setelah seluruh barang diterima dan dinyatakan lolos pemeriksaan sepihak oleh pembeli. Tidak ada kejelasan mengenai batas waktu pemeriksaan maupun mekanisme keberatan jika barang ditolak.”
Mamat mengernyitkan dahi.
“Apakah warga sudah menandatangani kontrak?”
“Belum semuanya, Pak. Sebagian besar masih menunggu pertemuan besok. Namun, ada satu kelompok yang telanjur menyetujui kesepakatan awal.”
Mamat mengembuskan napas perlahan.
“Siapa nama pengusahanya?”
Rian menyebutkan sebuah nama perusahaan yang belum pernah didengar Mamat sebelumnya. Ia kemudian menjelaskan bahwa perusahaan tersebut berencana mengumpulkan hasil produksi dari sejumlah desa untuk dipasok kepada jaringan perdagangan yang lebih besar.
“Pak, saya khawatir kalau kami terlalu keras menentang kontrak ini, warga akan menganggap kami menghalangi kesempatan mereka mendapatkan penghasilan lebih baik,” lanjut Rian. “Mereka sudah lama menunggu pembeli dengan harga layak.”
Mamat memahami kegelisahan itu. Baginya, persoalan tersebut tidak sesederhana menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Warga membutuhkan pasar. Pengusaha membutuhkan pemasok. Di antara keduanya, harus ada kesepakatan yang memberikan kepastian dan perlindungan bagi semua pihak.
“Jangan menuduh perusahaan itu berniat buruk sebelum kita mengetahui seluruh faktanya,” kata Mamat. “Besok, minta tim mengumpulkan salinan perjanjian, mencatat keberatan warga, dan mengundang perwakilan perusahaan untuk berdiskusi. Kita harus memastikan semua pihak memahami hak dan kewajibannya.”
“Baik, Pak.”
“Dan satu lagi, Rian. Jangan mengambil keputusan atas nama warga tanpa melibatkan mereka. Kita mendampingi, bukan menggantikan suara mereka.”
Rian terdiam sejenak sebelum menjawab, “Saya mengerti, Pak.”
Setelah panggilan berakhir, Mamat masih memandangi layar teleponnya. Darto yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu akhirnya angkat bicara.
“Baru saja kita menyelesaikan urusan Malaysia, sekarang masalah baru muncul di Malinau.”
“Memang begitu pekerjaan kita, To,” jawab Mamat. “Masalah orang tidak menunggu sampai kita selesai beristirahat.”
Bowo mengusap dagunya.
“Kalau kontrak itu benar-benar merugikan warga, kita harus bergerak cepat. Jangan sampai enam bulan pendampingan rusak hanya karena satu perjanjian.”
“Betul,” sahut Mamat. “Tapi jangan sampai kita merasa berhak menentukan pilihan mereka. Kita harus memberikan informasi yang cukup supaya mereka bisa mengambil keputusan dengan sadar.”
Malam itu, Mamat meminta Darto menghubungi bagian hukum Brajamukti Center. Ia juga memerintahkan agar tim independen meninjau dokumen kontrak sebelum memberikan rekomendasi. Tidak ada pernyataan terbuka yang dikeluarkan, tidak ada tuduhan yang disebarkan, dan tidak ada keputusan yang dibuat berdasarkan dugaan semata.
Bagi Mamat, kehati-hatian merupakan bagian dari kejujuran.
Keesokan paginya, ia mengadakan pertemuan singkat dengan Dato' Azman di ruang makan hotel. Pengusaha Malaysia itu baru saja menyelesaikan sarapannya ketika Mamat menjelaskan perkembangan yang diterima dari Malinau.
Dato' Azman mendengarkan dengan saksama.
“Apakah Anda ingin kembali ke Indonesia sekarang?” tanyanya setelah Mamat selesai berbicara.
“Saya ingin memastikan persoalannya ditangani dengan benar. Namun, saya tidak harus selalu berada di lokasi untuk mengawasi semuanya. Rian dan timnya sudah memiliki wewenang operasional. Saya akan membantu mereka dari sini, kecuali situasinya memang membutuhkan kehadiran langsung.”
Dato' Azman mengangguk.
“Saya menghargai cara Anda melihat persoalan ini. Banyak konsultan akan langsung menyarankan tindakan besar supaya terlihat sigap. Anda justru memeriksa keadaan terlebih dahulu.”
Mamat tersenyum tipis.
“Dulu saya terlalu sering berbicara sebelum memahami masalah. Saya tidak ingin mengulangi kebiasaan itu dalam bentuk yang berbeda.”
Percakapan mereka kemudian beralih pada rencana pengembangan program di Malaysia. Dato' Azman menjelaskan bahwa beberapa direktur telah menyetujui pelaksanaan tahap awal, tetapi ia ingin memastikan bahwa Brajamukti tidak hanya memberikan pelatihan selama beberapa minggu lalu meninggalkan para peserta tanpa pendampingan.
Mamat menyambut gagasan tersebut dengan antusias.
“Kita perlu membangun tim lokal yang mampu melanjutkan program. Pendamping dari Indonesia bisa membantu pada tahap awal, tetapi keberlanjutan harus berada di tangan orang-orang yang memahami lingkungan mereka sendiri.”
“Kalau begitu, kita mulai menyusun program pelatihan pendamping lokal,” ujar Dato' Azman. “Saya akan meminta tim perusahaan menyiapkan calon peserta dari beberapa unit usaha.”
Mamat menyetujui usulan itu. Bagi dirinya, kerja sama tersebut baru benar-benar berhasil jika pengetahuan yang dibawa Brajamukti tidak berhenti pada orang-orang yang datang dari luar negeri.
Siang harinya, setelah pertemuan resmi selesai, Mamat menerima pesan dari Pak Bintoro.
Pesan itu singkat, tetapi cukup membuatnya terdiam lama.
Mat, saya membaca berita tentang keberhasilanmu di Malaysia. Saya bangga melihat perubahanmu. Namun, ingatlah bahwa ujian terberat bukan ketika orang membencimu, melainkan ketika orang mulai mempercayaimu. Jangan biarkan kepercayaan itu membuatmu merasa kebal terhadap kesalahan.
Mamat membaca pesan itu dua kali.
Ia kemudian menelepon Pak Bintoro.
“Pak, saya baru membaca pesan Bapak.”
“Bagus kalau sudah dibaca,” jawab Pak Bintoro dari seberang. “Sekarang tinggal bagaimana kamu menjalankannya.”
Mamat tersenyum kecil.
“Bapak tidak pernah berubah. Selalu saja mengingatkan saya pada hal-hal yang membuat kepala saya sulit beristirahat.”
“Kalau kepalamu terlalu nyaman, biasanya kamu mulai merasa paling pintar.”
Mamat tertawa pelan. Ia teringat masa ketika Pak Bintoro berdiri di hadapannya sebagai sosok yang paling ditakutinya. Kala itu, ia menganggap lelaki tersebut sebagai penghalang yang harus dihindari. Bertahun-tahun kemudian, justru orang yang pernah membongkar kebohongannya itu menjadi salah satu suara yang paling ia percaya.
“Pak,” ujar Mamat setelah tawanya reda, “kalau waktu bisa diputar kembali, saya tidak tahu apakah saya sanggup menghadapi semua kesalahan itu lagi.”
“Tidak perlu memutar waktu, Mat. Kamu tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Yang bisa kamu lakukan adalah memastikan orang lain tidak menjadi korban dari kesalahan yang sama.”
Kalimat itu melekat dalam pikiran Mamat bahkan setelah percakapan berakhir.
Sore menjelang ketika ia kembali ke kamar hotel. Darto sedang merapikan barang-barang mereka, sementara Bowo memeriksa jadwal penerbangan untuk perjalanan pulang ke Indonesia.
“Jadi, kita langsung kembali ke Bali?” tanya Darto.
“Ya. Setelah itu kita akan mengadakan rapat dengan seluruh koordinator ekspedisi. Saya ingin memastikan setiap tim memiliki prosedur pemeriksaan kerja sama usaha yang jelas.”
Bowo menutup tasnya.
“Bagus. Kita perlu membuat pedoman supaya warga tidak terjebak dalam perjanjian yang tidak mereka pahami.”
“Bukan hanya itu,” kata Mamat. “Kita juga harus memastikan tim kita tidak menggunakan kedudukannya untuk memengaruhi keputusan warga demi kepentingan lembaga. Mereka berhak menolak saran kita, selama mereka memahami risiko dan konsekuensinya.”
Darto menatap sahabatnya sambil mengangguk perlahan.
“Sekarang kamu benar-benar berbeda, Mat. Dulu kamu ingin orang percaya karena kamu pandai meyakinkan mereka. Sekarang kamu justru ingin mereka memeriksa sendiri sebelum percaya.”
Mamat tidak segera menjawab. Ia memandang keluar jendela, ke arah kota yang mulai berubah warna di bawah cahaya senja.
“Mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya dapatkan,” katanya akhirnya. “Kepercayaan yang dibangun melalui kata-kata bisa runtuh ketika seseorang menemukan kebohongan. Tetapi kepercayaan yang dibangun dengan keterbukaan memberi orang lain kesempatan untuk menilai kita secara adil.”
Beberapa jam kemudian, pesawat yang membawa mereka kembali ke Indonesia lepas landas dari Bandara Internasional Kuala Lumpur. Mamat duduk di dekat jendela, menyaksikan lampu-lampu kota mengecil hingga akhirnya tertutup awan.
Ia memikirkan Brajamukti Center, para alumni yang sedang bekerja di pelosok negeri, serta warga yang menaruh harapan pada pendampingan mereka. Ia juga memikirkan dirinya sendiri, seorang lelaki yang masih memiliki banyak kekurangan meskipun hidupnya telah berubah jauh dari masa lalu.
Mamat tahu bahwa keberhasilan tidak membuat seseorang terbebas dari kemungkinan melakukan kesalahan. Justru semakin besar tanggung jawab yang dipikul, semakin besar pula kewajiban untuk menjaga diri agar tidak menyalahgunakan kepercayaan.
Di dalam tasnya tersimpan dokumen kerja sama internasional yang nilainya jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan pada masa mudanya. Namun, yang paling ia jaga bukanlah kontrak itu, melainkan keyakinan bahwa setiap pekerjaan harus memberikan manfaat nyata bagi orang lain.
Ketika pesawat mulai menembus lapisan awan, Mamat memejamkan mata sejenak.
Ia tidak tahu persoalan apa lagi yang menunggunya di Indonesia. Ia tidak tahu apakah seluruh program Brajamukti akan berjalan sesuai rencana. Yang ia tahu, perjalanan mereka belum selesai.
Sebab, membangun sebuah lembaga mungkin membutuhkan modal, jaringan, dan kemampuan mengelola pekerjaan. Namun, membangun sesuatu yang tetap berdiri di atas kejujuran membutuhkan keberanian yang harus diperbarui setiap hari.
Dan bagi Mamat, itulah warisan yang sesungguhnya.
Bukan nama besar. Bukan kekayaan. Bukan pula tepuk tangan orang banyak.
Melainkan keberanian untuk terus melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.