Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Halaman Belakang
...#...
...Bima menatap telapak tangannya sampai Alessia mengambil serbet dari meja dan menyodorkannya tanpa bicara. Ia mengusap tinta itu. Huruf A memudar jadi noda biru yang melebar ke sela jari, dan tidak mau hilang sepenuhnya....
..."Itu cuma bekas pena," katanya....
..."Iya."...
..."Mbak lihatnya kayak bukan."...
..."Aku lihat apa yang kamu lihat."...
...Wartini sudah duduk di kursi plastik dengan selendang menutup separuh wajah. Dari kamar belakang, papan lantai berderit lagi, lalu pintu terbuka sedikit. Dimas mengintip dengan satu mata....
..."Mereka udah pergi?" bisiknya....
..."Sudah," kata Bima. "Keluar."...
...Dimas keluar dengan langkah ragu. Ia melihat meja, dua map, noda biru di serbet, lalu wajah kakaknya. "Mas tadi hampir tanda tangan."...
..."Hampir."...
..."Kenapa nggak jadi?"...
..."Karena Mbak itu datang."...
..."Bukan." Dimas menggeleng. "Mas berhenti sebelum dia datang. Aku lihat dari celah pintu. Mas liatin titik itu lama banget, terus Mas ngomong soal tangan bau bawang."...
...Bima tidak menyangka adiknya memperhatikan sedetail itu. Ia ingin bilang sesuatu, tapi tenggorokannya macet, jadi ia hanya mengacak rambut Dimas sekali dengan tangan kanan. Dimas mengelak, tapi tidak marah....
... ...
...Alessia sudah berdiri di dekat jendela dengan ponsel di telinga. Ia bicara pendek-pendek, nyaris tanpa kata sambung. Bima menangkap potongan saja. "Mobilnya. Siapa yang jaga. Berapa lama." Lalu ia diam, mendengarkan, dan bahunya mengeras....
...Ia menutup telepon....
..."Ransel itu tidak diambil dari mobil," katanya. "Rico menyetir sendiri ke rumah putih, parkir di bawah kamera. Kamera tidak merekam siapa pun yang mendekat."...
..."Berarti rekamannya diedit," kata Rico....
..."Atau tidak ada yang mendekat." Alessia menoleh ke Bima. "Terakhir kamu pegang ransel itu, di mana?"...
...Bima mengingat. Mobil, kursi belakang, ia yang meletakkannya di sebelah kakinya. Lalu rumah putih, teh manis, Carla, cincin. "Waktu turun di rumah Nenek Mbak, saya nggak bawa apa-apa. Cuma kartu sama..."...
...Ia berhenti. Tangannya masuk ke saku dalam jaket. Cincin perak itu ada. Kartu hitam ada. Ponsel tua ada. Lalu jarinya menyentuh sesuatu yang tipis dan kaku, terselip di lipatan kain yang tadi ia kira lapisan jaket....
...Ia menariknya keluar....
...Selembar kertas yang dilipat kecil, kusam di tepinya. Bukan kertas buku resep. Lebih tebal, seperti halaman yang disobek dengan hati-hati dari sesuatu yang dijilid....
..."Itu bukan punyaku," kata Bima....
..."Siapa yang ngasih?" tanya Alessia....
..."Nggak ada yang ngasih. Saya..." Ia mengingat sofa beludru hijau, Carla yang mendorong cincin dengan ujung jari, perempuan berseragam hitam yang lewat di belakangnya. "Waktu di dapur Nenek, ada yang nyenggol jaket saya. Pembantunya."...
...Alessia melangkah mendekat. Ia tidak mengambil kertas itu. Ia menunggu Bima membukanya sendiri....
...Bima membuka lipatannya satu per satu. Tinta biru, tegak miring, naik ke kanan. Tinta yang tidak luntur....
...*Wa. Kalau Bima membaca ini, berarti aku tidak pulang dan buku itu sudah di tangannya. Jangan marah padanya, dia tidak tahu apa-apa. Jangan marah padamu juga, kamu sudah menjaga semuanya dengan baik.*...
...Wartini menahan napas. Bima menoleh, dan ibunya sudah berdiri dengan tangan di mulut....
..."Baca terus," kata Alessia pelan....
...*Gudang Empat bukan tempat barang. Itu tempat orang. Kontainer ketiga, lepas jam dua, itu bukan kiriman. Itu cara mereka bilang siapa yang harus dilepas dari daftar. Aku menyalin semuanya ke resep. Tiga belas halaman pertama untuk yang sudah hilang. Halaman empat belas ke atas untuk yang masih bisa diselamatkan.*...
...Bima berhenti membaca. Suaranya tidak keluar, jadi ia hanya menggerakkan mata. Alessia membaca dari balik bahunya, dan ia merasakan napas perempuan itu terhenti di tengah baris....
...*Satu nama di halaman empat belas bukan orang asing. Kalau kamu cari G yang dicoret di halaman tiga belas, jangan cari di pelabuhan. Cari di meja makan keluarga yang menyuruhku diam.*...
...Tidak ada tanda tangan. Hanya satu kalimat terakhir yang ditulis lebih kecil, seperti ditambahkan tergesa....
...*Dan Wa, kalau Alessia Vieri datang ke warung, beri dia sate. Jangan bilang apa-apa. Dia akan mengerti sendiri.*...
...Sunyi menutup ruangan. Kipas berderit. Di luar, entah dari mana, ayam berkokok sekali....
...Bima mengangkat kepala pelan. Alessia tidak lagi di belakang bahunya. Ia sudah mundur dua langkah, punggungnya menyentuh dinding, dan satu tangannya menutup mulut sama seperti Wartini tadi. Matanya tidak melihat siapa pun. Bukan marah, bukan dingin. Ia tampak seperti orang yang baru dipanggil namanya oleh seseorang yang sudah lama mati....
..."Mbak," kata Bima....
..."Aku datang ke warung," katanya, suaranya tipis, tidak seperti suaranya yang biasa. "Aku pesan sepuluh tusuk. Tanpa lontong."...
..."Iya."...
..."Bumbu yang biasa." Ia menurunkan tangan dari mulut. "Aku bilang rasanya berbeda dari yang kuingat. Aku bilang itu ke kamu."...
..."Mbak bilang belum pernah makan di sana."...
..."Belum." Matanya akhirnya mencari mata Bima. "Tapi aku pernah makan sate itu. Waktu aku kecil. Ayahku membawanya pulang dari pelabuhan, dibungkus daun pisang, dan bilang dari temannya yang pandai hitung."...
...Wartini terduduk. Dimas buru-buru menahan lengannya....
..."Ayahmu dan ayahku berteman," kata Alessia. Kalimat itu keluar datar, dan justru karena datar, Bima merasa lantai di bawahnya bergeser. "Bukan rekan kerja. Bukan kurir dan atasan. Teman. Dan aku tidak tahu itu sampai hari ini."...
..."Tapi Mbak tahu nama Ardhana."...
..."Dari catatan ayahku. Satu nama, tanpa keterangan." Ia menggeleng pelan. "Aku mendatangi warungmu karena penasaran, dan karena kamu tidak terlihat seperti orang yang pernah disentuh dunia kami. Hanya itu yang kupikirkan. Aku tidak tahu..." Ia berhenti, menelan sesuatu. "Aku tidak tahu aku pulang membawa pesan untuk diriku sendiri."...
...Bima menggenggam kertas itu lebih erat. *Cari di meja makan keluarga yang menyuruhku diam.* Meja makan. Ia baru satu kali melihat meja itu, dengan taplak putih, teko perak, dan dua cangkir porselen....
..."Mbak," katanya hati-hati. "Siapa yang duduk di meja makan keluarga Mbak?"...
...Alessia tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai, lalu jendela, lalu Rico, yang berdiri kaku di pintu dengan wajah yang tidak bisa dibaca....
..."Nenekku," katanya. "Ibu tiriku. Adik tiriku. Dario, sepupuku." Ia berhenti sebentar. "Dan satu kursi untuk konsigliere keluarga, yang sudah duduk di sana sejak sebelum aku lahir."...
..."Huruf G."...
..."Iya."...
..."Namanya?"...
...Alessia mengangkat dagu. Wajahnya sudah kembali tertata, tapi Bima bisa melihat harganya, tulang rahang yang terlalu tegang, jari yang menekan lipatan mantel sampai kukunya memutih....
..."Giovanni," katanya. "Kamu memanggilnya Om Gio."...
...Bima tidak ingat kapan ia berdiri. Yang ia ingat hanya kopi plastik di atas kap mobil, senyum ramah di pagi berkabut, dan kalimat yang dulu terdengar biasa. *Dia pakai gula dua sendok, aku tidak pernah bisa minum itu.*...
...Dari saku jaketnya, ponsel tua bergetar sekali....
...Bima mengeluarkannya. Satu pesan baru, tanpa nomor, dan kali ini hanya satu kata....
...*Terlambat.*...
...Di luar, di depan rumah Pak Darto, terdengar bunyi mobil berhenti, lalu pintu dibuka, lalu suara laki-laki berumur yang sangat ramah memanggil dari balik pagar....
..."Bima? Wartini? Aku bawa sarapan."...