Indonesia
NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Ketika Alya Ingin Pulang

Pukul dua dini hari, monitor berbunyi.

Bukan bunyi pelan yang biasanya mengiringi tidur. Bunyi panjang, melengking, tinggi. Bunyi yang bahkan perawat di nurse station langsung berdiri.

Arga yang tertidur di kursi dengan kepala di tepi kasur langsung terbangun. Matanya merah.

Di layar monitor, angka yang sejak sore stabil di 95, sekarang 89. Lalu 86. Lalu 84.

Alya mengerang. Tangannya mencengkeram selimut. Dadanya naik turun cepat, tidak teratur. Seperti orang yang berlari tapi tidak maju.

"Al? Alya?" Arga mengguncang bahunya. "Alya, kamu kenapa?"

Alya membuka mata, tapi tidak fokus. Bibirnya pucat. "Sesak... Mas... nggak bisa..."

Arga menekan tombol merah di dinding sekeras-kerasnya. "SUSTER! DOKTER!"

Perawat jaga malam masuk setengah berlari. Melihat monitor, wajahnya berubah.

"Saturasi 82, Dok!" teriaknya ke koridor.

Dalam sepuluh detik, kamar yang tadi sunyi jadi penuh. Dokter jaga malam, dua perawat, membawa troli, membawa tabung oksigen besar, membawa alat.

"Bu Alya, tarik napas pelan ya! Kita bantu!" kata dokter.

Masker oksigen kecil yang selama ini di hidung Alya dilepas. Diganti masker besar bening yang menutupi seluruh mulut dan hidung. Uap langsung memenuhi masker itu karena napas Alya yang pendek-pendek.

"Tekanan 88/60, Dok! Turun!"

"Kita pindah ICU sekarang! Siapkan brankar!"

Brankar didorong masuk. Alya dipindahkan dengan cepat. Infus, kabel monitor, selang oksigen — semua ikut pindah. Arga ikut memegang tiang infus, ikut mendorong.

"Pak, Bapak mendorong dari belakang saja," kata perawat.

Koridor jam 2 pagi sepi. Lampu koridor diredupkan. Hanya bunyi roda brankar dan bunyi napas Alya yang tertahan di balik masker.

Bu Ratna dan Pak Pramono yang tidur di ruang tunggu keluarga di ujung koridor terbangun karena ribut. Bu Ratna langsung berlari.

"Alya! Alya kenapa?!"

"Nafasnya drop, Bu, kita bawa ke ICU biar alatnya lengkap!" jawab perawat sambil terus mendorong.

Sampai di depan lift khusus ICU. Lift itu beda. Lebih besar, ada tulisan merah: ICU - AKSES TERBATAS.

Pintu lift terbuka. Brankar Alya didorong masuk. Perawat dan dokter masuk.

Arga ikut masuk.

"Maaf Pak," perawat menahan bahunya pelan. "Maksimal dua petugas di dalam lift. Bapak lewat tangga, tunggu di depan ICU lantai 3 ya."

Arga terpaku.

Tangan Alya yang dari tadi ia genggam harus ia lepas karena brankar semakin masuk ke dalam lift.

"Mas..." suara Alya pelan dari balik masker.

"Aku nyusul! Aku nyusul lewat tangga!" kata Arga.

Pintu lift tertutup.

Ting.

Angka lift naik. Lantai 2... lantai 3.

Arga berdiri di depan pintu lift yang tertutup. Tangannya masih menggantung di udara, masih terasa hangat tangan Alya.

Untuk pertama kalinya sejak Alya sakit, Arga benar-benar merasa takut. Bukan takut dimarahi, bukan takut disalahkan, tapi takut kehilangan.

"Arga!" Bu Ratna menyusul dengan napas terengah. "Alya gimana?"

"Dibawa ke ICU, Bu," kata Arga, suaranya serak.

Pak Pramono menyusul, masih membawa mukena Bu Ratna.

"Liftnya sudah naik," kata Pak Pramono pelan.

Arga langsung lari lewat tangga darurat. Tangga tiga lantai ia naiki dua-dua anak tangga. Napasnya terengah, tapi ia tidak peduli.

Sampai di depan ICU lantai 3, pintu kaca besar tertutup. Ada tulisan: RUANG ICU - HANYA PASIEN DAN PETUGAS.

Di balik kaca, ia melihat brankar Alya baru keluar dari lift seberang, didorong masuk ke dalam ruangan ICU yang lebih terang.

Perawat melihat Arga dari dalam dan memberi isyarat: tunggu di luar.

Arga menempelkan tangannya ke kaca.

Di dalam, dokter ICU sudah menunggu. Mereka langsung memindahkan Alya ke bed ICU nomor 4. Monitor yang lebih besar dipasang. Selang yang lebih banyak.

Dari luar kaca, Arga hanya bisa melihat punggung dokter dan perawat yang bergerak cepat.

Bu Ratna sampai di depan ICU, langsung menangis. "Ya Allah, anak saya..."

Pak Pramono memeluk Bu Ratna, tapi matanya menatap Arga.

"Arga," panggil Pak Pramono.

Arga menoleh.

"Di dalam kamar tadi, waktu Alya sesak, kamu pencet tombol duluan atau perawat yang lihat duluan?"

"Aku duluan, Pak," jawab Arga.

Pak Pramono mengangguk. "Bagus."

Satu kata bagus itu membuat dada Arga sesak.

Selama tiga tahun, Pak Pramono tidak pernah memujinya. Tidak pernah mengatakan bagus. Sekarang, di depan ICU jam 2 pagi, kata bagus itu keluar karena Arga melakukan satu hal yang seharusnya memang dilakukan suami: melihat istrinya sesak dan minta tolong.

Jam 2.30, dokter ICU keluar.

"Pak Arga, Bu Ratna, Pak Pramono?"

Mereka bertiga mendekat.

"Kondisi Bu Alya drop karena trombosit dan Hb-nya turun mendadak sore tadi, ditambah kelelahan. Saturasinya turun karena paru-parunya terisi cairan sedikit, karena jantungnya bekerja terlalu keras. Kami sudah pasang oksigen high flow, sudah stabil di 92 sekarang."

"Stabil?" tanya Bu Ratna.

"Untuk sementara. Kami akan pantau ketat malam ini di ICU. Keluarga tunggu di luar dulu. Kalau ada apa-apa kami panggil."

"Bisakah saya masuk?" tanya Arga.

"Belum bisa, Pak. Satu jam lagi baru boleh besuk 15 menit. Gantian."

Dokter masuk lagi. Pintu ICU tertutup lagi.

Ruang tunggu ICU jam 2.30 pagi dingin. AC-nya kencang. Hanya ada mereka bertiga dan satu keluarga lain yang menunggu.

Bu Ratna duduk di lantai, tidak mau duduk di kursi. Ia membuka mukena dan sholat di pojok ruang tunggu. Sholat tahajud. Suaranya pelan, tapi isaknya terdengar.

Pak Pramono duduk di kursi, tasbihnya tidak berhenti berputar.

Arga berdiri di depan kaca ICU, tidak duduk.

Dari kaca itu, ia bisa melihat samar bed nomor 4. Alya terbaring dengan masker besar, kabel di mana-mana, lampu di atasnya terang.

Di jam 2 pagi itu, Arga baru sadar. Selama ini ia selalu takut Alya akan pergi meninggalkannya. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia takut ia yang tidak sempat bilang bahwa ia sudah tinggal.

Jam menunjukkan pukul 3.12 dini hari. Lampu koridor ICU masih terang. Dan di balik kaca, monitor Alya berbunyi stabil: 92... 93... 92...

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!